Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 39 - Bazar Makanan


__ADS_3

Sifa membersihkan piring kotor yang dia gunakan untuk makan malam bersama Abash. Bos-nya itu telah kembali ke apartemennya, setelah menerima telpon dari seseorang.


Sifa menatap jas yang tersandar di kursi makan. Itu milik Abash. Ya iya lah milik Abash, masa milik Sifa! Gadis itu mengambil jas tersebut dan membawanya ke dalam kamar.


Sifa menggantung jas milik Abash, kemudian gadis itu pun berlalu ke dalam kamar mandi untuk mencuci wajahnya dan juga mengganti pakaian kerjanya dengan baju yang lebih nyaman.


Setelah selesai mengganti baju, Sifa meraih ponselnya dan melihat pesan yang baru saja masuk dari ibu pemilik rumah sewanya.


Sifa mengusap wajahnya dengan kasar. Dia tak tahu harus berbuat apa saat ini. Ibu pemilik rumah mengatakan jika telah menjual rumah tersebut, wanita paruh baya itu berharap agar Sifa-lah yang membeli rumah mereka. Tetapi, apa yang mau di kata, Sifa tak memiliki uang sebanyak harga rumah tersebut. Hutangnya saja dengan ibu si pemilik rumah belum juga terbayar.


"Aku harus apa?" lirih Sifa dengan air mata yang mengalir.


*


Pagi ini, Sifa terbangun dengan mata yang sembab. Gadis itu langsung mengambil es batu untuk mengompres matanya.


Semalaman Sifa menangis. Menangisi rumah yang akan dijual. Rumah di mana tempat yang memiliki seluruh kenangan dari orang-orang yang Sifa sayangi.


Sifa memeluk boneka beruang yang terlihat lusuh. Boneka pemberian sang ayah yang telah tiada.


Kenangan yang tetinggal hanyalah boneka, jam tangan milik sang ibu, sweater rajut buatan sang nenek, dan juga shal milik peninggalan sang ibu. Hanya itulah yang Sifa miliki saat ini. Semua kenangan yang dia miliki bersama orang-orang tersayangnya itu, akan hilang dalam sekejap mata.


Ting ...


Sifa menoleh kepada ponselnya. Terdapat pesan dari Amel, sang sahabat.


'Kamu liburkan hari ini? Jalan yuuk.'


Sifa menarik sudut bibirnya. Dengan jarinya yang lentik, Sifa membalas pesan sang sahabat.


"Yuuk, ke mana?"


Sifa menunggu balasan dari Amel.


'Di Jalan Alpukat, ada bazar makanan. Dekat sama rumah kamu kok.'


Sifa mengerutkan keningnya. Bazar makanan? Ah, mungkin ini yang di katakan oleh sang bos tadi malam.


Sifa langsung membalas 'Ok' kepada sahabatnya itu. Lagi pula, Sifa melewatkan sarapannya. Pagi ini dia terlambat bangun, karena sakit perut bulanannya. Biasalah, wanita.


Sifa bergegas membersihkan diri dan bersiap. Tadi Amel menawarkan diri untuk menjemput dia, tetapi Sifa menolaknya. Yaa, bagaimana mungkin Sifa mengatakan jika dirinya tinggal di apartemen mewah seperti ini, bisa pikiran macam-macam ntar Amel.


Sifa pun mengatakan kepada sang sahabat untuk bertemu di depan pintu bazar. Setelah rapi, gadis itu pun bersiap untuk menuju bazar. Kali ini Sifa tak memakai sepedanya, akan merepotkan untuk memarkirkan sepedanya di tempat umu. Gadis itu memilih menggunakan ojek online, lagi pula biayanya tak terlalu mahal, karena jarak yang cukup dekat.

__ADS_1


Sifa telah rapi, gadis itu meraih tas sampingnya dan juga mengenakan jam tangan peninggalan sang mama. Walaupun harganya murah dan terlihat usang, Sifa tak malu dan tetap setia menggunakan jam tangan tersebut.


Bagi Sifa, detak jarum jam bagaikan detak jantung sang mama. Sifa akan langsung mengganti baterai jam tersebut jika di rasa sudah melambat. Terkadang, penjaga toko jam sering menawarkan jam keluaran terbaru yang harganya tidak terlalu mahal kepadanya, akan tetapi Sifa selalu menolaknya. Mereka sangat kagum dengan Sifa yang selalu menggunakan jam peninggalan sang ibu, yang sudah ketinggalan jaman dan juga terlihat usang.


Setelah memesan ojek online, Sifa bergegas turun ke bawah, agar bang ojek tak menunggunya terlalu lama.


"Gila, gue baru tau kalau salah satu keturunan Moza tinggal di sini."


"Trus, emangnya kalo Lo dah tau, Lo mau apa?"


"Ya jelaslah, Gue bakal pindah ke sini dan menjadikannya milik gue."


"Gila Lo, emang dia mau sama Lo?"


"Apapun akan gue lakuin, yang jelas, dia harus jadi milik gue. Lo tau kan seberapa kayanya keluarga mereka, gua bisa jadi nyonya besar di sana, Tanpa capek-capek harus banting tulang kerja keras untuk meraih semua kemewahan ini."


Ponsel Sifa berdering, gadis itu pun mengangkat panggilannya.


"Iya, saya sedang berada di dalam lift sekarang,"


Kedua gadis itu menoleh, entah mereka sadar dengan keberadaan Sifa sedari tadi atau tidak.


Sifa hanya mendengarkan percakapan dua wanita yang berada di dalam lift bersamanya saat ini. Tak perlu bertanya lagi, siapa keturunan Moza yang mereka maksud, Sifa sudah bisa menebaknya jika pria yang sedang menjadi target dari dua wanita di depannya ini adalah Abash, sang bos.


"Tidak,"


"Kamu tinggal di sini?" tanyanya lagi.


"Saya hanya menumpang dengan bos," jawab Sifa jujur.


"Bos? Siapa?"


Sifa berpikir, tak mungkin dia mengatakan nama Abash, bisa tercoreng nama baik Abash nanti jika membawa tinggal seorang wanita bersamanya.


"Amel," jawab Sifa akhirnya.


"Ooh..."


Kedua gadis itu pun tak menghiraukan Sifa lagi, mereka masih berbincang dengan suara pelan mengenai Abash, akan tetapi Sifa berpura-pura jika dia tak mendengarnya.


Tanpa kedua wanita itu ketahui, jika Sifa merekam pembicaraan mereka berdua.


*

__ADS_1


Sifa melirik kearah jam tangannya, sudah 10 menit gadis itu sampai di depan pintu gerbang bazar, akan tetapi sang sahabat tak juga kelihatan. Gadis itu pun celingak celinguk mencari keberadaan sang sahabat yang katanya telah tiba di parkiran bazar.


Sifa melihat sosok yang dia kenali, gadis itu pun melangkahkan kakinya sambil melambaikan tangannya.


"Sifa Awaass ....," pekik Amel saat melihat seorang pengguna sepatu roda melintas kencang.


Sifa menutup matanya, jantungnya berdegup dengan kencang. Hidungnya mencium aroma maskulin yang sangat lembut, Sifa mengenali aroma tersebut. Sifa merasakan tubuhnya dalam dekapan seorang pria.


Perlahan, Sifa membuka matanya hingga manik matanya bertemu dengan si pemilik aroma maskulin.


"Kamu baik-baik saja?" tanyanya.


Tubuh Sifa yang masih bergetar, perlahan dia melepaskan pegangan tangan si pria itu.


"Sa-saya baik-baik saja. Terima kasih, Pak."


"Sifa, kamu baik-baik aja kan?" tanya Amel yang sudah berada di dekat Sifa.


"Iya, aku baik-baik aja."


Amel melirik ke arah pria yang menolong Sifa. Sedari tadi tatapan mata itu tak lepas memandangi sahabatnya.


"Mbak gak papa? Maafin saya, roda sepatu saya goyang, sekali lagi maafin saya." ujar pria yang menabrak Sifa tadi dengan rasa bersalah.


"Lain kali hati-hati, ini tempat umum," ujar pria yang menolong Sifa.


"Iya, Mas, maafin saya. Maafin saya, Mbak."


"Iya, gak papa, lain kali hati-hati, Mas."


Setelah kepergian pria sepatu roda itu, Sifa menatap pria yang berdiri tegap di depannya itu.


"Sekali lagi makasih, Pak."


"Lain kali kamu juga hati-hati,"


"Iya, Pak."


"Kalian mau masuk ke dalam bazar? Saya boleh gabung?"


...Jangan lupa Vote, Like, and komen ya .....


...Salam sayang dari Abash n Sifa...

__ADS_1


...Follow IG Author : Rira_Syaqila...


__ADS_2