Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 270 - Gara-gara Terong


__ADS_3

"Udah lapar?" tanya Arash yang sudah berada di dekat Putri.


"Gak juga, tapi mencium aroma ikan bakar ini perut aku jadi lapar," jawab Putri jujur.


"Oke, sebentar aku lihat jagungnya." Arash pun beralih menuju ke tempat pemanggangan, di mana tusuk-tusuk sate sayuran sudah terlihat matang di sana.


"Sudah matang, saatnya kita makan," seru Arash sambil menghidangkan sayuran sate ke atas piring yang sudah di sediakan.


"Huaaa, wanginya enak banget," seru Putri menatap binar ke arah sate sayuran yang telah terhidang.


Arash tersenyum melihat jika dirinya berhasil membuat Putri terkesan dengan apa yang dia lakukan hari ini, walaupun mereka harus memakan ikan gosong. Eh, tapi kan cuma setengahnya aja yang gosong. Bukannya itu lebih romantis? Se-ikan berdua.


"Ayo makan." Arash pun menuangkan nasi ke atas piring dirinya dan juga Putri.


"Biasanya aku yang menuangkan nasi," kekeh Putri pelan.


"Hari ini, aku yang akan melayani kamu," ujar Arash sambil mengedipkan matanya sebelah.


"Dasar tukang gombal," cibir Putri yang masih di dengar oleh Arash.


Mereka pun menikmati ikan panggang yang sudah tersaji di atas piring, lengkap beserta lalapannya.


"Emm, terongnya enak. Masaknya pas. Padahal kan tadi kita tinggal solat," ujar Putri setelah menelan makanan yang telah dia kunyah. "Aku pikir bakal hangus lagi lalapanya," kekeh Putri.


"Jadi, kamu tadi solat sambil memikirkan lalapan?" tanya Arash membuat Putri membulatkan matanya.


"Enak aja, aku fokus ya solatnya," kesal Putri.

__ADS_1


"Fokus ke mana? Ke suara aku yang merdu?" goda Arash dengan pedenya.


"Isssh, dari mana dia tahu?" batin Putri dengan wajah yang merona.


Harus Putri akui, jika suara Arash saat membacakan ayat suci Al-quran tadi sangatlah merdu, sehingga membuatnya merasa tentram dan nyaman di dalam hati, di saat mendengar lantunan surat-surat pendek yang Arash bawakan saat sholat tadi.


Putri pun mengalihkan pembicaraan mereka, agar Arash tidak mencurigai dirinya yang memang terpesona dengan suara merdu pria itu.


"Emm, terong ini enak," ujar Putri sambil mencocol terong ungu bulat itu ke dalam sambal.


Arash pun memperhatikan wajah Putri yang memang  sedang menikmati terong tersebut.


"Kalau lebih besar lebih enak lagi, jadi gak cepat habis," cicit Putri dan mencocol terong tersebut ke dalam sambal, kemudian memasukkannya ke dalam mulut.


Arash menelan ludahnya dengan kasar, tiba-tiba saja empus miliknya bergerak dengan gelisah di saat melihat bibir putri menjilati bekas sambal yang ada di bibirnya.


"Sayang banget terongnya pendek, kalau panjangkan lebih enak," ujar Putri dengan wajah polosnya.


Gadis itu pun kembali mencocol terong ke dalam sambal, kemudian memasukkannya ke dalam mulut.


"Akkh .." ringis Arash pelan di saat merasa sesak pada bagian bawahnya.


"Kenapa?" tanya Putri dengan mulutnya yang penuh, sehingga membuat pipi gadis itu terlihat membesar.


"Tidak, tidak apa-apa," jawab Arash sambil memaksakan senyumnya.


"Kamu gak makan? Terongnya enak loh kalau di cocol sambal," ujar Putri sambil mengambil lagi terong tersebut dari tusukan sate.

__ADS_1


Arash dengan cepat menahan tangan Putri untuk tidak melakukan hal tersebuut.


"Stop, jangan lakukan itu lagi," lirih Arash dengan suaranya yang berat.


Putri mengerjapkan matanya cepat, gadis itu pun hanya menatap wajah Arash yang saat ini sudah terlihat sangat memerah.


"Ada apa? Apa kamu sakit?" tanya Putri merasa khawatir.


"Berhenti memakan terong itu," geram Arash dengan suara yang berat.


"Ooww, oke. Aku akan berhenti," cicit Putri sambil berusaha melepaskan tangannya dari genggaman tangan Arash yang mencengkram pergelangan tangannya erat.


"Kalau kamu mau terong, kan bisa tinggal bilang kalau kamu juga mau. Gak mesti marah-marah gitu," kesal Putri sambil mencebikkan bibirnya.


Setiap Putri menyebut kata terong, maka empus Arash pun akan bergerak semakin mengerass.


"Berhenti menyebut kata terong, Put," geram Arash sambil menahan sesak di bawah sana.


"Oke, aku tidak akan memakan terong kamu," kesal Putri dan mengambil paprika sebagai gantinya.


"Sial," geram Arash yang sudah tidak tahan untuk melepaskan empus dari sangkarnya.


Pria itu pun bangkit dan berlalu menuju villa yang tak jauh dari tempat mereka saat ini. Putri merasa heran dengan perilaku Arash yang berubah secara tiba-tiba.


"Kenapa dia marah?" gumam Putri sambil menatap punggung Arash yang semakin menjauh.


"Jika dia juga suka terong, kan bisa bilang baik-baik, gak mesti marah-marah begitu," lirih Putri yang merasa kesal karena Arash terlihat marah kepadanya gara-gara terong.

__ADS_1


Ya, semua ini gara-gara terong, sehingga membuat Putri salah paham dan Arash tersiksa.


__ADS_2