Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
S2 - Bab. 18 - Aku Masih Di Sini, Menunggumu


__ADS_3

Zia tidak tahu apa yang harus dia katakan kepada Ibra. Apakah gadis itu tidak sadar dengan apa yang dia ucapkan kepada Arash tadi?


Tidak! Zia cukup sadar dengan apa yang dia katakan kepada Arash tadi. Gadis benar-benar dalam keadaan sadar saat mengatakan jika dirinya bersedia menjadi ibu sambung untuk Rayyan dan Yumna.


"Aku harap ini bukan keputusan gegabah yang kamu ambil, Zi," ujar Ibra memecahkan keheningan di antara mereka berdua.


Rayyan, Yumna, Arash, dan Mama Kesya telah kembali pulang ke kediaman Papa Arka, setelah Zia menenangkan dan menidurkan Rayyan yang menangis sesenggukan.


"Aku harap jika apa yang aku dengar tadi adalah sebuah mimpi buruk," ujar Ibra dengan lirih.


Zia menatap Ibra dengan tatapan mata yang berkaca-kaca. Gadis itu benar-benar merasa bersalah atas apa yang telah dia ucapkan kepada Arash, di mana dirinya bersedia menerima tawaran Arash untuk menjadi ibu sambung bagi Rayyan dan Yumna.


"Maafin aku, Bra. Maafin aku," sesal Zia.


Ibra tersenyum kecil. Harapannya jika apa yang terjadi hari ini adalah sebuah mimpi, ternyata hanya sia-sia saja.


Sebelumnya Ibra sudah memiliki filling, jika kejadian ini pasti akan terjadi. Tapi, Ibra menyangkalnya, karena pria itu tahu bagaimana Arash sangat mencintai Putri. Ibra tahu, bagaimana sifat Arash yang tidak akan mudah goyah dan cepat menggantikan posisi Putri pada orang lain.


Tidak, Arash tidak akan pernah melakukan hal itu. Ya, setidaknya itulah yang Ibra yakini tentang Arash.

__ADS_1


Tapi, apa yang dia dengar sore tadi! Nyatanya membuat telinga Ibra seolah mendengar suara petir yang menggelegar dan memekakkan telinga.


"Maafin aku, Bra, hiks ... Maafin aku," ujar Zia dengan sesenggukan.


Ibra menghela napasnya pelan. Pria itu mengulurkan tangannya untuk menggenggam tangan Zia yang ada di atas pangkuan gadis itu.


"Maafin aku!" lirihnya dengan pelan.


"Kamu gak salah, Zi. Aku tahu dan bisa mengerti akan keputusan yang sudah kamu buat. Aku bisa memahaminya, Zi," ujar Ibra sambil tersenyum dengan manis.


Zia mengangkat pandangannya untuk menatap wajah Ibra, di mana mata pria itu terlihat pancaran kesedihan. Kesedihan yang sama dengan apa yang Zia rasakan.


"Maafin aku, Bra!" mohon Zia dengan air mata yang mengalir membasahi pipinya.


Ibra tersenyum, pria itu pun melepaskan genggaman tangannya dari tangan Zia, kemudian menghapus air mata yang mengalir membasahi pipi gadis yang sangat dia cintai itu.


"Kamu gak salah, Zi. Jangan meminta maaf," ujar Ibra dengan suaranya yang lembut dan menenangkan.


"Aku tahu, kalau kamu hanya merasa tertekan dengan keadaan yang terjadi, iya kan?" sambungnya lagi.

__ADS_1


"Kalau keputusan kamu memang sudah bulat untuk menjadi ibu sambung Rayyan dan Yumna, maka itu artinya aku harus melepaskan kamu kan, Zi?" Senyuman di wajah Ibra pun mulai terlihat memudar.


"Asal kamu tahu, Zi. Jika kamu tidak bahagia bersama Arash, aku masih di sini, Zi. Aku masih di sini menunggu kamu. Aku kan menunggu kamu dan memastikan, jika kamu benar-benar bahagia bersama Arash. Aku akan tetap menunggu kamu, Zi, sampai saat itu tiba."


Rasa bersalah pun kembali menggerogoti perasaan Zia. Gadis itu semakin terisak dengan kuat mendengar kalimat yang keluar dari mulut Ibra. Tak seharusnya dia menyakiti pria sebaik Ibra, demi pria keras kepala bagaikan batu seperti Arash.


Tidak, sebenarnya Zia bersedia menikah dengan Arash, bukan karena pria itu, melainkan karena Rayyan dan Yumna. Ya, semuanya yang dia lakukan hanya karena Rayyan dan Yumna.


"Maafin aku, Bra, karena sudah menyakiti perasaan kamu. Hanya ini satu-satunya jalan bagiku untuk menebus rasa bersalahku kepada almarhumah Mbak Putri, di mana aku sempat membencinya, karena mama terlihat lebih perhatian kepadanya," ujar Zia dengan sesenggukan.


"Mungkin inilah jalan yang harus aku tempuh, Bra. Aku harus membalas semua cinta yang almarhumah Mbak Putri berikan untukku, kepada Rayyan dan Yumna. Aku harus membalas kasih sayang tulus yang di berikan oleh almarhumah Mbak Putri kepadaku!"


"Aku tau, dan aku mengerti apa yang kamu rasakan, Zi. Tapi, kamu juga harus ingat, kalau kamu juga berhak untuk bahagia!" sahut Ibra.


"Dan jika Arash tidak bisa membahagiakan kamu, maka kamu berhak mencari kebahagiaan kamu sendiri, Zi. Kamu berhak untuk bahagia."


Ibra mengusap lembut pipi Zia dengan penuh kasih sayang.


"Dan jika kamu tidak menemukan kebahagiaan itu bersama Ibra, maka datanglah kepadaku, Zi. Aku akan membuat kamu hidup dengan bahagia."

__ADS_1


__ADS_2