
Uli berjalan dengan cepat, karena tak sabar rasanya ingin memberi tahu apa yang baru saja dia dengar.
"Gaes .. Gaess ... ada kabar baik nih," seru Uli yang bari saja bergabung dengan timnya yang ada di kantin.
"Kabar apa, Kak?" tanya Bimo pensaran.
"Itu loh, sepertinya salah satu di antara kita berhasil mendapatkan point tertinggi di ujian," seru Uli dengan semangat.
"Oh ya? Siapa ya? Pasti Bimo," ujar Lila dengan tersenyum manis kepada Bimo.
Ya, gadis itu sebenarnya memiliki perasaan terpendam kepada teman satu timnya itu.
"Em ... Em .. Em ..." ujar Uli sambil menggelengkan kepalanya dengan jari telunjuk yang ikut bergerak mengikuti pergerakan kepalanya.
"Jadi siapa? Di antara kita kan cuma Bimo yang paling pintar," puji Lila.
"Itu dulu, tapi kali ini Bimo sudah memiliki saingan," ujar Uli yang mana membuat semuanya mengerutkan kening, kecuali Sifa.
Ya, gadis itu memang tidak tahu menahu soal sehebat apa Bimo di dalam timnya.
"Siapa? Gak mungkin Sifa kan?" ujar Lila dengan nada yang sangat meremehkan.
"Yupss, memang Sifa orangnya," ujar Uli dengan bangga. "Maaf, kenyataan ini membuat kamu kecewa," kekeh Uli seolah mengejek gadis itu.
"Serisu?" tanya Tono.
"Iya, jadi tadi pas aku baru keluar dari kamar mandi. Aku gak sengaja dengar pembicaraan Pak Farhan, Pak Abash, dan yang lainnya," ujar Uli memberi tahu.
"Apa? Mas Abash di sini?" batin Sifa terkejut mendengar nama sang kekasih di sebut.
"Apa .. Apa ..apa ... Bos bilang apa?" tanya Tono penasaran.
"Jadi, tadi mereka bilang, kalau Sifa itu hebat banget. Soal yang paling sulit sekali pun dia mampu menjawabnya." Uli bercerita dengan penuh semangat. "Jadi, intinya, sepertinya Sifa yang akan terpilih dari tim kita," tebak Uli.
"Belum tentu. Kak Uli kan gak dengar penilaian mereka tentang Bimo, kan? Bisa aja kalau Bimo yang terpilih," ujar Lila yang merasa tak terima jika Sifa yang akan terpilih ke tim cobra.
"Kok kamu sewot gitu? Kalau Sifa terpilih kenapa memangnya? Kamu cemburu?" ledek Uli.
"Ih, ngapain cemburu. Lagian, aku sama dia ini jauh banget levelnya," ujar Lila dengan sombong.
"Ya jauh, lah. Secara Sifa baru saja magang tapi sudah di panggil oleh Pak Abash untuk membantunya. Dan kamu? Hadeww ... Emangnya kamu pernah di panggil dengan Pak Abash ke ruangannya untuk membantu beliau?"
Bagaikan kartu mati bagi Lila, membuat gadis itu membungkat beberapa detik dengan perasaan kesal.
"Tapi, setidaknya aku ini----,"
"Hei ..hei .. Udah .. Udah.. Jangan ribut. Siapa pun yang terpilih ke dalam tim cobra, seharusnya kita ikut senang dan banggam karena salah satu dari tim kita berhasil masuk ke tim yang terbaik dari yang terbaik," ujar Bimo menengahkan perdebatan antara Lila dan Uli.
Uli berdecak kesal dan menatap Lila dengan tak suka, begitu pun sebaliknya.
"Emm, ini mau makan apa masih mau lanjut berdebatnya?" tanya Tono yang memang sudah merasa keroncongan pada perutnya.
__ADS_1
"Makanlah," jawab Uli sambil mengambil buku menu yang tersedia.
"Sifa, kamu makan apa?" tanya Uli. "Kita makan soto aja yuuk," ajak nya lagi.
"Emm, itu Kak, Sifa gak makan nasi," cicit Sifa yang mana membuat Uli mendongakkan kepalanya.
"Ah ya, lupa," kekeh Uli. "Jadi, kamu mau pesan apa?" tanya Uli sambil menunjukkan buku menu.
"Emm, gado-gado enak deh kayaknya Kak," ujar Uli.
"Oke," Uli pun mencatat pesanan mereka di buku menu, kemudian memberikan buku tersebut kepada yang lainnya.
Sifa melirik ke arah Lila yang masih terlihat kesal kepada Uli. Tidak, tidak hanya kepada Uli saja, tetapi juga kepada dirinya.
"Salah aku apa? Kenapa Kak Lila sangat membenciku?" batin Sifa.
Atensi Sifa pun kembali buyar di saat mendengar sebuah pesan yang masuk ke dalam ponselnya.
Pacarku: Di mana?
Jangan di tanya siapa yang menyimpan nomor Abash dengan nama ID 'Pacarku' di ponsel Sifa, karena itu adalah ulah dari Abash yang memang sengaja menyimpan namanya, agar jika ada orang yang melihat ID panggilan yang masuk darinya, maka mereka akan berpikri jika Sifa sudah memiliki pacar.
"Lagi di kantin, makan siang rame-rame bareng tim."
Cling ..
Pacarku: Beneran rame-rame, gak berdua kan?
"Iya, beneran. Jangan cemburu ya."
"Kamu sudah punya pacar, Sifa?" tanya Uli yang mana membuat Sifa terkejut dan menyimpan kembali ponselnya.
"Oh, i-itu ..."
"Ohh, pantes aja kamu nolak Bimo waktu itu," jawab Tono dengan cepat.
"Waah, ternyata Sifa diam-diam punya pacar ya," goda Uli yang mana membuat wajah Sifa merona.
"Duh, jangan sampai mereka tahu siapa pacar aku," batin Sifa berdoa.
*
Putri baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Siang ini dia harus ke pengadilan untuk melihat persidangan yang sedang berlangsung saat ini.
"Ribet juga gak ada mobil," lirih Putri dengan pelan dan mencoba menghubungi sang sahabat.
Terdengar beberapa kali nada sambung, hingga panggilan tersebut pun di jawab oleh orang yang berada di seberang.
"Assalamualaikum, Put?"
"Walaikumsalam, Luna, kamu sibuk gak nanti sore?" tanya Putri langsung.
__ADS_1
"Gak, kenapa?"
"Aku mau minat temenin beli mobil," rengek Putri.
"Oh iya, kemarin itu gak jadi ya. Oke deh, nanti sore aja gimana?" usul Luna.
"Oke, aku sepulang dari pengadilan langsung ke tempat kamu, ya."
"Oke, aku tunggu di rumah sakit."
Panggilan pun berakhir. Putri menyimpan kembali ponselnya dan membereskan semua berkas yang akan dia bawa ke pengadilan.
Sesampainya di pengadilan, Putri mengerutkan keningnya di saat melihat pria yang dia kenali.
"Hai, jadi kamu yang jadi pengacara penuntut?" tanya Arash.
Ya, pria yang membuat kening Putri mengkerut adalah Arash.
"Kenapa selalu bertemu dengan dia sih?" batin Putri dengan kesal.
Memang, mereka sepakat untuk berteman, akan tetapi ada rasa kurang nyaman di dalam hati Putri saat berdekatan dengan pria yang menurutnya suka tebar pesona itu.
"Bukan aku yang menjadi pengacaranya," jawab Putri.
"Oh, begitu." Arash pun mengangguk-anggukan kepalanya, kemudian pria itu pamit kepada Putri karena harus memberikan laporan kepada pihak pengadilan.
Putri pun menghela napasnya berat, kemudian dia masuk ke dalam pengadilan dan mengambil tempat duduk di sebelah pengacara penuntut.
Seharusnya bukan Putri yang menjadi pengacara dan memberikan pertanyaan kepada terdakwa, berhubung tiba-tiba pengacara yang seharusnya memberikan beberapa pertanyaan pun sakit perut, Putri sebgai perwakilan pertama naik dan melanjutkan persidangan tersebut.
Setelah sidang berjalan dengan sedikit ketegangan karena ricuh, akhirnya keputusan pun telah di jatuhkan oleh hakim, di mana terdakwa di hukum dengan pasal yang berlapis.
"Huuff, melelahkan sekali," lirih Putri sambil merenggangkan otot lehernya.
"Wah, Put, kamu keren banget tadi," puji Sonia.
"Makasih, Kak."
"Sore ini ada ke mana? Kita duduk di cafe, yuk," ajak Sonia.
"EMm, Maaf Kak, saya sudah janji denga teman."
"Oh ya sudah kalau gitu, semoga lain kali kamu bisa ya di ajak bergabung.'
"Iya, Kak. Maaf ya," sesal Putri.
Setelah Sonia berlalu, Putri pun meraih ponselnya dan menghubungi Luna.
"Put, Maaf ya, ada urgent ini. Ada pasien aku yang tiba-tiba kejang-kejang. Maaf ya." Setelah mengatakan hal itu, Luna pun memutuskan panggilannya.
"Yah, gagal lagi deh. Hmm, padahal aku perlu banget mobil," rengek Putri pada dirinya sendiri.
__ADS_1
"Mau aku temani?"
Putri mendongakkan kepalanya menatap pria yang ada di hadapannya saat ini.