
Sifa berpamitan kepada Mama Kesya dan yang lainnya, karena hari ini dia akan berangkat untuk melakukan perjalanan bulan madunya bersama sang suami.
"Jangan lupa minum vitamin ya, sayang. Biar tahan banting dari pagi sampai pagi," goda Mama Kesya sambil mengedipkan matanya sebelah. Jangan lupakan senyuman jahil yang terbit di bibir sang mama.
Seketika wajah Sifa pun merona, sehingga membuat wajahnya terlihat persis seperti tomat yang sudah masak. Hal itu pun membuat Mama Kesya semakin merasa gemas dan mencubit pipi sang menantu.
"Selamat bersenang-senang, ya," bisik Mama Kesya dan menarik Sifa ke dalam pelukannya.
"Iya, Ma," jawab Sifa dengan suara yang pelan.
"Ingat, jangan terlalu membuat Sifa merasa lelah, Bash. Tujuan honeymoon kali ini berbeda dengan honeymoon kalian saat pertama kali. Kepergian kalian hari ini benar-benar bertujuan untuk membuat Sifa menikmati keindahan alam," ujar Papa Arka kepada sang putra.
"Iya, Pa. Abash akan mengingat pesan Papa."
"Bagus. Kalau soal momongan, kamu juga jangan pernah membahas hal itu kepada Sifa, ya. Karena hal tersebut sangat sensitif bagi seorang wanita. Dan juga, jika Sifa yang memulai untuk membahas ke pembasahan tentang anak, maka sebisa mungkin kamu mencoba mengalihkan pembicaraan secara lembut, ya. Jangan membuat Sifa semakin stress memikirkan tentang kehamilan," tambah Papa Arka lagi memberikan nasehat kepada sang putra.
"Iya, Pa. Abash akan mengingat nasehat Papa."
"Ya sudah kalau begitu, tolong kamu jaga Sifa, ya," ujar Papa Arka yang terdengar seolah Sifa lah anak Papa Arka, bukan Abash.
"Iya, Pa," jawab Abash dengan kening mengkerut. "Tapi, kenapa Papa berkata seolah Sifa anak Papa? Bukan Abash?" tanya Abash dengan wajah polosnya.
Papa Arka melirik tajam ke arah Abash, sehingga membuat pria itu langsung mengembangkan senyumnya.
"Iya .. iya … Abash paham," ujar Abash dan menghambur ke dalam pelukan Papa Arka. "Terima kasih, Pa, karena sudah menganggap Sifa bukan orang lain," bisik Abash dengan mata yang berkaca-kaca.
"Makanya, kamu jaga Sifa baik-baik. Asal kamu tahu saja, jika Papa dan Mama lebih sayang dengan Sifa dari pada kamu," ujar Papa Arka yang mana membuat Abash mencebikkan bibirnya kesal.
"Iya deh, iya …" Abash merelai pelukannya, kemudian dia tersenyum kepada pria yang ada di hadapannya saat ini.
"Jagain Sifa," ujar Papa Arka sekali lagi.
"Iya., Pa."
Panggilan untuk pesawat yang akan di tumpangi oleh Abash dan Sifa pun mulai terdengar, sehingga membuat semua keluarga harus melepaskan Sifa dan Abash untuk pergi berbulan mau yang ke sekian kalinya.
Mama Kesya pun berjalan mendekat ke arah sang suami, memeluk pinggang Papa Arka dengan mesra. Papa Arka pun ikut melingkarkan tangannya ke bahu sang istri. Keduanya melambaikan tangan kepada Sifa dan Abash yang sudah mulai memasuki bandara.
"Kita pulang sekarang?" ajak Papa Arka di saat tidak lagi melihat Sifa dan Abash.
"Yuk, Pa."
"Ah ya, Mama sudah bawakan vitamin yang banyak untuk Sifa kan?" tanya Papa Arka di saat mereka sedang berjalan menuju parkiran mobil.
"Sudah, Pa. Papa tau sendiri bagaimana Abash, kan? Ganas, persis seperti Papa-nya," ujar Mama Kesya sambil tersenyum menggoda.
"Benarkah? Kok Papa gak merasa ya?" ujar Papa Arka sambil tersenyum nakal kepada sang istri. "Bagaimana kalau kita mampir ke hotel dulu? Mencoba keganasan Papa? Apakah masih seganas dulu atau tidak?" ajak Papa Arka yang mana membuat Mama Kesya terkekeh.
"Mama nurut aja sama kemauan Papa," ujar Mama Kesya dengan tersenyum malu-malu tapi mau.
Papa Arka semakin mengeratkan rangkulannya di bahu sang istri, tak sabar rasanya ingin segera tiba di hotel yang akan mereka tuju saat ini.
Di sisi lain, Sifa tersenyum kepada sang suami yang sedari tadi tidak melepas genggaman tangannya. Setelah melakukan chek in, mereka pun berjalan menuju ke ruang tunggu.
"Kenapa Mas senyum-senyum?" tanya Sifa kepada sang suami.
"Memangnya gak boleh tersenyum kepada istri sendiri?" goda Abash.
"Bukan gak boleh, Mas. Tapi, apa Mas tahu kalau wanita-wanita yang sedari tadi berpas-pasan dengan kita, terus saja menatap ke arah, Mas?" ujar Sifa dengan bibir yang sedikit manyun.
Abash menaikkan alisnya sebelah. Apakah dia peduli dengan wanita lain? Tentu saja tidak, karena di mata Abash hanya ada Sifa. Lagi pula, senyuman yang Abash berikan hanya untuk sang istri. Akan tetapi, melihat rasa ketidak sukaan yang ditunjukkan oleh sang istri, membuat Abash harus mengalah.
"Baiklah, aku minta maaf, ya. Aku tidak akan tersenyum di depan umum lagi agar tidak ada yang melihat senyuman yang aku khususkan untuk kamu," bisik Abash.
Pria itu merogoh saku celananya, tangannya mengeluarkan sebuah masker berwarna hitam. Pria itu pun memakai masker untuk menutupi wajahnya, agar tidak ada yang melihat senyuman dan wajah tampannya lagi, kecuali sang istri.
"Kenapa pakai masker, Mas?" tanya Sifa dengan kening mengkerut.
__ADS_1
"Agar kamu tidak merasa kesal lagi, karena ada yang melihat senyuman aku yang aku khusus kan untuk kamu," ujar Abash sambil mengedipkan matanya sebelahnya.
Sifa merasa tersanjung dengan dengan apa yang dilakukan oleh Abash. Pria itu hanya ingin menunjukkan senyum dan wajahnya hanya untuk dirinya saja.
"Kalau kamu semanis ini, Mas, aku akan semakin jatuh cinta sama kamu," cicit Sifa malu-malu.
"Harus itu," bisik Abash yang mana membuat Sifa semakin tersipu malu.
*
Tiga minggu kemudian.
Sifa dan Abash pun kembali dari honeymoonnya. Mereka benar-benar menghabiskan waktu untuk menikmati pemandangan dan keindahan dari berbagai negara. Dari Swiss, Australia, Paris, London, Korea, dan juga Hindia. Ya, semua negara yang terkenal dengan keindahannya, mereka datangi. Dan selama di Paris, Abash mengajak Sifa untuk berlayar selama tiga hari di tengah lautan. Pastinya menaiki kapal besar dan megah yang biasa di sebut dengan kapal pesiar.
Waktu singkat yang mereka jalani selama di dalam kapal pun, membuat kesan manis yang tak akan pernah terlupakan.
"Mas, jangan tinggalin aku. Aku gak bisa berenang, Mas," rengek Sifa.
Setiap Abash ingin keluar dari kamar untuk membeli makanan, Sifa selalu merengek agar sang suami tidak meninggalkannya. Sifa takut jika kapal yang mereka naiki saat ini akan tenggelam. Entah phobia atau apa namanya, intinya Sifa tidak berani berada di tengah lautan.
Saat Abash mengajaknya menikmati udara yang ada di luar kapal pun, menyaksikan matahari terbit dan matahari tenggelam, Sifa selalu memeluk lengan Abash, seolah takut jika pria itu akan meninggalkannya. Bahkan, Sifa meminta kepada sang suami agar dirinya terus memakai pelampung hanya untuk berjaga-jaga. Tentu saja Abash tidak akan mengizinkan hal tersebut, karena pastinya Sifa akan menjadi bahan perhatian dan tawaan bagi orang yang ada di sekitar mereka. Abash tidak akan bisa tinggal diam, jika ada yang berani menghina atau menertawakan istrinya.
"Aku hanya sebentar saja, Sayang," ujar Abash dengan tersenyum.
"Aku ikut, Mas," ujar Sifa dan bergegas bangkit dari tempat tidur.
Walaupun wanita itu merasa sangat lelah, karena mereka habis melakukan pertempuran yang sangat panas, Sifa pun menguatkan dirinya untuk berdiri dan berjalan menuju kamar mandi.
"Sayang, kalau kamu lelah, sebaiknya kamu istirahat saja. Aku gak akan lama kok, hanya sebentar saja," ujar Abash saat Sifa berjalan menuju kamar mandi.
"Gak mau, Mas, pokoknya aku harus ikut," putus Sifa dengan tatapan matanya yang tajam. "Kalau kamu gak mau kasih aku ikut, aku akan adukan hal ini kepada mama, biar kamu di marahi mama," ancam Sifa yang mana membuat Abash terkekeh.
Abash yakin, Sifa tidak akan berani mengadukan apa yang terjadi hari ini kepada sang mama.
"Baiklah, aku tungguin kamu." Abash pun berjalan mendekat ke arah sang istri. "Apa perlu aku temani kamu mandi, sayang?" tawar Abash dengan senyuman nakalnya.
Ya, Abash sangat menyukai menggoda sang istri hanya untuk melihat wajah mengemaskan wanita itu.
Selama tiga hari dua malam di tengah lautan pun, Sifa benar-benar bagaikan perangko yang selalu menempel dengan amplopnya.
Setibanya Abash dan Sifa di Jakarta, kepulangan mereka pun langsung di sambut oleh Mama Kesya. Wanita paruh baya itu membuat pesta kecil-kecilan saja. Seperti biasa yang sering mereka lakukan untuk berkumpul.
"Ini, Ma, oleh-oleh untuk Mama," ujar Sifa sambil memberikan cinderamata untuk mertuanya itu.
Sebuah shal yang begitu indah dan lembut.
"Ini cantik sekali, sayang. Terima kasih banyak," ucap Mama Kesya dan langsung melilitkan shal pemberian sang menantu ke lehernya yang tertutup oleh hijab.
"Sama-sama, Ma."
Semua keluarga pun mendapatkan oleh-oleh dari Sifa, termasuk Oma Laura.
Ah ya, saat ini kondisi Oma Laura sudah tidak sesehat sebelumnya. Semenjak kepergian Kakek Farel, Oma Laura sering jatuh sakit karena tidak berselara makan, terkadang Oma Laura juga jatuh sakit karena merasa kelelahan.
"Ini untuk Oma," Sifa pun memberikan sebuah shal rajut untuk Oma mertuanya itu.
Oma Laura mengembangkan senyumannya, wanita yang sudah lanjut usia itu pun mengulurkan tangannya untuk mengusap pipi Sifa.
"Terima kasih, sayang," bisik Oma Laura.
"Oma mau Sifa pakaikan?" tawar Sifa yang diangguki oleh Oma Laura.
Sifa pun sebelumnya meminta maaf kepada Oma Laura, karena harus menyentuh rambut yang tak lagi panjang milik Oma Laura. Dengan lembut dan hati-hati, Sifa memakaikan shal rajut yang sangat lembut dan hangat itu ke leher Oma Laura.
"Terasa hangat, terima kasih banyak, sayang," ucap Oma Laura sambil mengusap punggung tangan Sifa.
"Sama-sama, Oma. Sifa senang jika Oma menyukai hadiah yang Sifa berikan."
__ADS_1
Setelah memberikan hadiah kepada seluruh keluarga, Sifa mendekati Zia yang terlihat memelih untuk menyendiri sambil menikmati cemilan yang ada di pangkuannya.
"Hai, Zi …" sapa Sifa yang mana membuat Zia sedikit terkejut.
"Eh, Mbak Sifa?" Zia tersenyum dengan begitu manisnya.
"Kenapa menyendiri di sini? Kenapa gak gabung ke sana?" tanya Sifa sambil menunjuk ke arah seluruh keluarga yang tengah bercengkrama sambil menunggu ikan dan daging siap di panggang.
"Enggak, Mbak, aku di sini aja. Lagi pula, di sini banyak makanan," kekeh Zia sambil menunjuk ke arah pangkuannya.
Ya, memang di atas pangkuan Zia terlihat banyak cemilan yang sedang di nikmati oleh gadis itu. Sifa tahu, jika saat ini Zia merasa tidak pantas berada di keluarga Moza, terlihat dari raut wajah gadis itu.
Dan apa yang Sifa pikirkan, memang benar adanya. Zia merasa tidak pantas berada di tempat ini, karena dia takut akan menyusahkan dan mengganggu kesenangan orang-orang yang tengah merayakan kepulangan Abash dan Sifa.
Lagi pula, Zia merasa jika dirinya bukan bagian dari keluarga Moza. Andai saja sang mama dan papa berada di Jakarta, mungkin sang kakak tidak akan memaksanya untuk ikut ke kediaman Mama Kesya. Dan juga, Bara sedang bertugas ke luar negeri, makanya Zia bersama dengan Putri yang menemaninya.
Sebagai seorang kakak, pastinya Putri tidak ingin meninggalkan sang adik, kan? Maka dari itu, Putri mengajak Zia bersamanya. Awalnya Zia sudah menolak dan tidak ingin ikut, akan tetapi Putri mengatakan jika Zia tidak ikut, maka dirinya juga tidak akan ikut. Putri merasa tidak tega meninggalkan Zia sendirian di rumah. Ya, walaupun ada asisten rumah tangga. Tetap saja, Putri merasa tidak tega meninggalkan Zia di rumah sendiri.
Melihat pengorbanan sang kakak yang rela tidak ikut dengan suaminya berkumpul bersama keluarga besar Moza, Zia pun akhirnya memutuskan untuk ikut, walaupun dengan terpaksa.
Dan di sinilah Zia, menatap kebahagiaan orang-orang yang hidup dengan normal.
Zia menatap kakinya, dia tersenyum kecut di saat dokter mengatakan akan butuh waktu yang lama baginya untuk bisa berjalan. Dokter pun tidak bisa memastikan, kapan waktu itu tiba.
"Zi," tegur Sifa yang mana membuat Zia kembali menoleh ke arahnya.
"Kamu jangan bersedih dan merasa kecil hati ya, dengan kondisi kamu saat ini," ujar Sifa tiba-tiba.
Zia mengernyitkan keningnya, dia merasa bingung kenapa Sifa tiba-tiba saja mengatakan hal tersebut.
"Kamu tahu, aku pernah berada di posisi kamu saat ini. Aku tersenyum di saat orang-orang tersenyum kepadaku, padahal senyumku semuanya adalah palsu. Aku tahu, bagaimana rasanya mendapatkan tatapan iba dan rasa kasihan dari orang-orang yang ada menatap ke arah kita. Aku sangat tahu, karena aku pernah merasakannya."
"Apa Mbak pernah mengalami patah kaki juga?" tanya Zia penasaran.
Sifa menggelengkan kepalanya, sehingga membuat Zia mendengus pelan. Zia merasa, jika omongan Sifa hanya untuk menyemangati dirinya, bukan benar-benar pernah merasakan apa yang dia rasakan saat ini. Padahal, dari tatapan mata Sifa dan cara wanita itu berbicara, terlihat jika Sifa seolah benar-benar pernah mengalami hal yang sama seperti apa yang dia rasakan saat ini.
Zia mengernyitkan keningnya, di saat Sifa tiba-tiba mengangkat celana kainnya dan menunjukkan kaki wanita itu yang terlihat tidak sangat tidak mulus.
"Ka-kaki Mbak kenapa?" tanya Zia yang merasa sedih melihat kaki Sifa yang penuh dengan bekas luka parut.
"Dulu, sewaktu aku kecil, aku di kejar oleh seekor anjing. Kakiku di gigit hingga daging yang ada di betis terlepas," jelas Sifa.
Zia mendengarkan dengan seksama apa yang di ceritakan oleh Sifa. Intinya, Sifa hanya mendapatkan perawatan sekedarnya saja, bukan perawatan intensif yang harus menjalani operasi berkali-kali. Sifa hanya menjalani sekali rangkai operasi dan mengharuskan dirinya mengikis kulit pahanya untuk menutupi betisnya yang terluka. Seharusnya Sifa harus menjalani serangkaian operasi lagi, akan tetapi karena terkendala oleh biaya, Sifa pun hanya di rawat dengan obat dan salep sekedarnya saja. Untuk itu, luka parut yang ada di kaki Sifa terlihat begitu sangat mengerikan.
"Dulu awalnya, aku sangat takut jika Mas Abash merasa ilfill dengan kondisiku yang sebenarnya. Tapi, setelah dia mengetahui apa yang membuat aku minder selama ini, Mas Abash sekali pun tidak pernah mempermasalahkan kekurangan aku, Zi."
Zia tersenyum, merasa ikut bahagia mendengar cerita cinta tentang Abash dan Sifa. Akhirnya, Sifa menemukan pengeran yang mau menerima kondisinya.
"Aku hanya ingin mengatakan, jika hal yang paling kamu takutkan adalah kecacatan seumur hidup, Kamu tidak perlu khawatir, Zi, aku yakin jika pasti ada pangeran yang akan menerima kondisi kamu, seperti Mas Abash yang menerima kondisi aku," ujar Sifa.
Zia tersenyum kecil, gadis itu telah lelah bertemu dengan seorang pria yang hanya mengincar dan memanfaatkan harta keluarganya saja. Apa kalian masih ingat dengan teman bule Zia yang bernama Davidson Antonius?
Pria itu beberapa bulan yang lalu kembali ke Indonesia hanya untuk mengungkapkan perasaannya kepada Zia. Akan tetapi, setelah kedekatan Zia dengan Davidson, ternyata Bara mengetahui kebusukan pria itu yang sengaja kembali mendekati adiknya. Bara pun melarang Zia untuk kembali menjalin hubungan dengan David, mau itu hanya sebatas teman atau apapun namanya. Bara tidak akan pernah ikhlas jika ada seorang pria mempermainkan perasaan sang adik.
David tahu, jika Zia menyukainya. Untuk itu, David yang sudah menikah, berpura-pura telah bercerai dengan sang istri dan menceritakan kisah sedih kepada Zia, agar gadis itu merasa iba dan mau menerima cintanya yang terlambat di sadari oleh pria tersebut.
Untungnya hubungan Zia dan David belum terlalu jauh, sehingga mudah bagi Zia untuk melepaskan David dan meminta pria itu untuk pergi dari hadapannya.
Untk itu pula, Zia merasa ragu dengan pria yang datang kepadanya dan menyatakan cinta, termasuk Ibra.
Zia merasa, jika Ibra hanya mengasihani keadaannya saja, walaupun hati kecil gadis itu mengatakan dan berteriak jika Ibra memang tulus mencintainya.
Zia butuh waktu untuk menilai dan mengambil sebuah keputusan, kan?
"Zi, aku harap kamu bisa membuka hati kam untuk Ibra. Percayalah, jika Ibra benar-benar tulus menyukai kamu," ucap Sifa yang mana membuat Zia mengernyitkan keningnya.
"Apa Ibra mengatakan sesuatu kepada Mbak?" tanya Zia yang mana di jawab gelengan oleh Sifa.
__ADS_1