
"Sifa!"
Merasa namanya di panggil, Sifa pun menoleh, seketika senyumnya mengembang saat melihat Farhan yang sedang menghampirinya.
"Bapak?"
"Kamu ngapain di sini?" Farhan langsung menoleh kearah rantai sepeda milik gadis itu.
"Rantainya lepas."
Farhan melihat sepeda Sifa, kemudian dia menatap tak jauh dari tempat mereka ada sebuah bengkel.
"Bawa ke bengkel aja, ayo."
"Eh, gak usah Pak, di benerin juga bisa kok."
"Kalau ke bengkel bisa di ketatin juga rantainya."
Baru saja Farhan ingin menghentikan becak, tiba-tiba saja mobil Abash sudah berhenti di belakang mobil Farhan.
"Kebetulan kamu datang," ujar Farhan saat Abash jalan mendekat.
"Kenapa?"
"Ini, sepeda Sifa rantainya kendor, mobil kamu kan bisa naikin sepedanya, kamu bantuin gih bawa ke bengkel," titah Farhan.
"Eh, gak usah Pak, saya bisa benerin sendiri kok. Cuma lepas aja rantainya."
Abash berjalan mendekati Sifa, gadis itu pun memundurkan langkahnya. Abash berjongkok dan melihat keadaan rantai sepeda dari karyawan magangnya itu.
"Tolong kamu ambilin tisu di mobil," titah Abash.
Sifa yang merasa jika Abash menyuruh dirinya pun, langsung bergegas menuju mobil Abash dan mengambil tisu yang ada di dalam mobil bosnya itu.
"Ini, Pak," Sifa memberikan tisu kepada Abash.
Abash mengambil dua lembar tisu dan menempelkannya di atas rantai, pria itu membenarkan rantai sepeda Sifa hingga bisa kembali berfungsi.
"Woow, gitu aja cara benerinnya?" tanya Farhan.
"Iya, tapi emang ini rantainya harus di potong sedikit, biarbgak kendor."
Sifa menganggukkan kepalanya sambil menyodorkan tisu kepada Abash. Pria itu mengambil beberapa lembar dan membersihkan tangannya.
"Terima kasih, Pak." ujar Sifa sambil membungkukkan sedikit tubuhnya.
"Hmm."
"Udah bereskan? Kamu hati-hati ya pulangnya, Sifa. Kalau begitu saya duluan," ujar Farhan pamit kepada Sifa dan Abash.
"Terima kasih banyak, Pak," ujar Sifa kepada Farhan, pria itu pun mengacungkan jempolnya.
"Ini, Pak, tisunya. Terima kasih banyak sekali lagi atas bantuannya," ujar Sifa kepada Abash.
"Hmm, jangan lupa bawa ke bengkel sepedanya."
__ADS_1
"Iya, Pak, Sekali lagi terima kasih."
Abash pun membalikkan tubuhnya menuju ke arah mobil. Pria itu pun melajukan mobilnya setelah membunyikan klakson kepada Sifa.
Sifa mengusap keringat yang ada di wajahnya dengan tangan, sebelum gadis itu naik ke atas sepedanya.
Dari kantor menuju apartemen, jika Sifa menggunakan sepeda hanya butuh memakan waktu 30 menit. Gadis itu terus mengayuh sepedanya hingga sampai ke tempat tujuan. Setelah memarkirkan sepeda, Sifa masuk ke dalam lobi menuju lift, tak lupa tersenyum kepada resepsionis yang ada di sana dan juga satpam.
Ting ...
Pintu lift terbuka, Sifa masuk ke dalamnya, saat gadis itu ingin menutup pintu, suara Abash terdengar untuk menahan pintu tersebut, Sifa pun kembali membuka pintu lift.
"Bapak kok baru sampai?" tanya Sifa saat Abash masuk ke dalam lift.
"Iya, saya beli ini tadi untuk makan malam," ujar Abash sambil menunjukkan tentengan plastik di tangannya.
Sifa menganggukan kepalanya dan kembali menatap angka yang terus naik. Mendengar kekehan dari sang bos, Sifa kembali menoleh kepada pria itu.
"Kenapa, Pak?" tanyanya bingung.
"Itu, wajah kamu." Abash menunjuk ke arah wajah Sifa yang tercoreng noda hitam.
Sifa menatap dinding besi yang dapat memantulkan wajahnya. Sifa membelalakkan matanya saat melihat kening dan juga di atas bibirnya itu tercoreng noda hitam. Gadis itu pun mencoba membersihkannya, akan tetapi, bukannya semakin bersih, melainkan semakin kotor karena di tangan Sifa masih terdapat noda hitam tersebut.
Abash kembali terkekeh, karena wajah Sifa semakin lucu.
"Sini." Abash mengulurkan tangannya dan membersihkan wajah Sifa.
Masih dengan kekehan di wajahnya, yang mana membuat wajah Abash semakin tampan berkali-kali lipat. Sifa memperhatikan wajah Abash tanpa berkedip. Seiring dengan berjalannya waktu, detak jantung gadis itu pun berpacu semakin cepat.
Abash seolah hanyut ke dalam tatapan mata Sifa. Pria itu seolah-olah betah berlama-lama menatap mata gadis yang ada di hadapannya. Hingga dengan terpaksa, Abash memutuskan kontak mata mereka karena pintu lift yang terbuka.
"Lantai kamu," ujar Abash memecah keheningan yang ada.
"Ah, ya." Sifa yang gugup pun bergerak cepat sehingga hampir saja dia kembali terjatuh.
Jika saja Abash tak cepat menangkap tubuh Sifa, mungkin gadis itu akan merasakan debu-debu yang ada di lantai.
"Hati-hati," lirih Abash saat membantu Sifa berdiri tegak.
"Ma-maaf. Terima kasih, Pak."
Sifa berjalan keluar lift dengan tertatih. Jantungnya berdegup dengan kencang sehingga membuat Sifa enggan untuk kembali menatap sang bos.
"Pelan-pelan aja jalannya."
Sifa kembali terperanjat saat mendengar suara bariton yang ada di belakangnya.
"Ba-bapak? Ke-kenapa bisa ada di belakang saya? Bukannya apartemen Bapak ada di lantai atas?" tanya Sifa dengan gugup.
"Kaki kamu, gak papa kan?" tanya Abash tanpa memperdulikan pertanyaan Sifa.
"Oh, gak papa."
"Yakin?"
__ADS_1
"Iya."
"Tapi kenapa jalannya pincang?"
"Oh, itu__"
Tanpa mendengar perkataan Sifa, Abash langsung memasukkan password pintu apartemennya.
"Ayo masuk," titah Abash.
Sifa menarik napasnya panjang dan menghelanya dengan pelan. Gadis itu pun berjalan tepat di belakang sang bos.
"Duduk," titah Abash.
Sifa pun menurt dan duduk di sofa. Seketika Sifa menyilangkan tangannya di bawah kaki.
"Bapak mau apa?" tanya Sifa dengan terkejut.
"Mau lihat kaki kamu,"
"Saya gak papa. Lagi pula, saya bis surut sendiri kok."
"Kamu yakin?"
"Iya, kaki saya udah gak sesakit saat itu, jadi, saya udah bisa mengurutnya sendiri secara perlahan." Sifa berharap jika Abash mempercayainya dan tak menyentuh kakinya.
Sebenarnya Sifa merasa tak enak. masa iya sang bos besar menyentuh kakinya yang hanya seorang cleaning service? Sungguh tak sopan rasanya bagi Sifa.
"Bapak__" Sifa menahan tangan Abash yang ingin menyentub kakinya.
"Saya hanya ingin melihat saja," ujar Abash.
"Saya beneran gak papa. Saya mohon," pinta Sifa dengan mengiba.
Abash menghela napasnya pelan, kemudian pria itu pun berdiri dan menuju ke dapur. Sifa mengerutkan keningnya dan menatap kepergian sang bos. Tak berapa lama gadis itu mendengar suara Abash memanggilnya.
"Ya, Pak?"
"Ayo makan, saya beli banyak sayur," ujar Abash sambil menunjuk ke arah meja makan.
Benar saja, di meja sudah terdapat gado-gado dan juga pecal. Entah dari mana Abash membeli semua makanan itu, yang jelas itu terlihat lezat dan membuat perut Sifa meronta.
"Bapak sengaja beli semua ini untuk saya?" tanya Sifa dengan pedenya.
"Geer banget kamu, kebetulan di dekat sini ada bazar makanan, saya singgah ke sana dulu dan membelinya. Lagi pula, di sana makanannya enak-enak, saya beli karena saya pingin, bukan karena kamu," gerutu Abash yang mana terdengar sangat lucu di telinga Sifa.
Sifa mengulum bibirnya. Dia merasa malu karena terlalu kegeeran berpikir jika Abash sengaja membeli sayur-sayur itu untuknya.
'Sadar Sifa.. sadar...'
...Jangan lupa Vote, Like, and komen ya .....
...Salam sayang dari Abash n Sifa...
...Follow IG Author : Rira_Syaqila...
__ADS_1