Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 361


__ADS_3

"Cantik banget kan perhiasannya, Rash?" ujar Putri sambil menunjuk mahkota yang baru saja dia lepas dari kepala.


"Hum," gumam Arash dengan malas.


Ya, rasanya sungguh malas sekali jika harus membahas tentang Zia.


"Aku gak nyangka kalau Zia benar-benar sebakat ini," puji Putri sambil menatap perhiasan yang sudah dia lepas dari kepala, telinga, leher, dan tangannya.


"Mau aku bukain resletingnya?" tawar Arash yang ingin mengubah topik pembicaraan Putri.


Putri berbalik dan menatap Arash dengan sebal.


"Dasar mesum," cibir Putri dan berjalan menuju sofa.


Putri menyandarkan tubuhnya di sofa. Kakinya terasa pegal karena harus berdiri terlalu lama di atas panggung, demi menyambut para tamu yang ingin mengucapkan selamat kepadanya dan juga Arash.


"Capek?" tanya Arash yang sudah duduk di sebelah Putri.


"Huum, lumayan pegal juga kakinya," lirih Putri.


"Mau aku pijitin?" tawar Abash dengan tersenyum manis.


"Enggak mau, tapi aku maunya makan sekarang," rengek Putri. "Aku lapar, Rash."


"Lapar? Hmm, baiklah. Mau makan apa?" tanya Arash.


"Emm, makan apa ya? Enaknya makan apa sekarang? Kalau nasi, udah kemalaman banget," ujar Putri.


"Gimana kalau kebab aja? Atau martabak manis?" usul Arash.


"Ide bagus. Tapi, apa di hotel ada menyediakan makan itu?" tanya Putri.


"Jaman sudah canggih, sayang. Kita bisa gofood aja kan?"


Putri tersenyum sambil mengangguk-anggukan kepalanya.


"Ide bagus. Kalau gitu, kamu tolong pesanin kebab spesial dengan telur daging, terus martabak manisnya yang banyak coklat ya?" pinta Putri sambil berdiri dari tempat duduknya.


"Kamu mau ke mana?" tanya Arash, saat melihat Putri menjauh darinya.


"Aku mau mandi dulu," jawab Putri dan berlalu menuju kamar mandi.


Arash menaikkan alisnya sebelah, pria itu pun tersenyum miring dan mengambil ponselnya. Arash akan memesan apa yang ingin istrinya itu makan.


Setelah selesai memesan makanan, Arash membuka vest yang masih melekat pada tubuhnya. Pria itu pun menyisakan kemeja yang dua kancing bagian atas telah di bukanya dengan sempurna.


Arash perlahan masuk ke dalam kamar mandi, pria itu berjalan pelan agar tidak membunyikan suara yang dapat mengejutkan sang istri. Arash tersenyum miring, di saat melihat Putri yang sedang kesusahan membuka resleting bajunya.


Perlahan, Arash terus melangkah mendekati Putri, tangannya terulur untuk membantu dan istri membuka pengait resleting bajunya.


Putri terkejut, akan tetapi gadis itu langsung diam membeku di saat mendengar bisikan dari sang suami.


"Biar aku bantu, sayang."


Napas Putri mulai sedikit memburu, akan tetapi gadis itu berusaha untuk tidak panik dan menetralkan pernapasannya. Jantungnya sudah berdegup dengan kencang, di saat tangan Arash berhasil menarik turun pengait resletingnya. Tangan Putri reflek naik ke atas dada membuat tanda silang, menahan agar gaunnya tidak jatuh terlepas.

__ADS_1


Putri menelan ludahnya dengan kasar, di saat Arash menarik gaun bagian bahu, sehingga menampilkan bahu putih mulusnya itu.


"R-rash?" panggil Putri dengan suara yang bergetar.


"Hmm?" Arash bergumam, sambil menundukkan kepalanya dan mengecup bahu polos Putri.


Putri memejamkan matanya, di saat merasakan sesuatu yang hangat dan juga basah di kulit bahunya.


Arash membalikkan tubuh Putri, sehingga me buat posisi mereka berhadapan saat ini. Pria itu menangkup pipi Putri dengan atau tangannya, sedangkan satu tangannya yang lain menahan pinggang Putri dan mengikis jarak di antara mereka berdua.


Mata Putri terbuka secara perlahan, di saat ini jari Arash mengusap pipinya. Gadis itu dapat melihat, betapa tampan dan menawannya wajah Arash yang sedang tersenyum saat ini kepadanya.


"Aku sangat mencintai kamu, Put," ujar Arash sebelum menempelkan bibirnya ke bibir sang istri.


Sampai sini readers sudah paham kan, apa yang akan terjadi selanjutnya?


Baiklah, emak anggap sudah paham semuanya ya ...


Di tempat lain.


Kang gofood menatap orderan dari layar pipinya. 50 bungkus kebab dengan isi telur + daging, serta martabak manis yang sebanyak 50 bungkus.


Kang ojek sempat berpikir, jika pesanan ini adalah sebuah penipuan. Tapi, melihat cara bayarnya melalui aplikasi bayar kontan,, alias sudah dibayarkan langsung ke aplikasi gofoodnya, membuat keraguan kang ojek pun sirna dengan begitu saja. Kang ojek akhirnya membeli sesuai pesanan yang telah di pesan oleh pelanggan.


Nah loh, Mak? Banyak amat sampai pesan lima puluh kebab dan lima puluh martabak manis?


Ya iyalah, sengaja mah itu si Arash, namanya juga dia mau yang manis-manis dulu. hehehe....


*


"Apa ini masih sakit?" tanya Putri sambil membelai bekas luka operasi yang ada di tubuh Arash.


"Tidak," jawab Arash.


Arash mengambil tangan Putri yang menyentuh lukanya, kemudian pria itu mengecup punggung dan telapak tangan sang istri.


Putri semakin meneteskan air matanya, di saat berapa besar pengorbanan Arash untuk dirinya.


"Saat ini hati aku sudah bersama kamu, Put. Untuk selama, hati aku akan selalu bersama kamu," bisik Arash.


Putri kembali meneteskan air matanya, wanita itu mengangukkan kepalanya pelan.


"Jangan pernah berpikir untuk pergi lagi, Put. Apapun yang terjadi, jangan pernah berpikir untuk pergi."


*


Tiga bulan kemudian.


Putri tersenyum, di saat melihat siapa orang yang ada di hadapannya saat ini.


"Zia?"


Gadis yang bernama Zia pun tersenyum. Dia berjalan mendekat ke arah Sifa.


"Aku tidak percaya kamu di sini," ujar Putri dan langsung memeluk sang adik yang sangat dia rindukan.

__ADS_1


"Aku rindu banget sama kamu, Mbak," bisik Zia sambil menahan air matanya.


"Mbak juga. Mbak sangat merindukan kamu."


Putri merelai pelukannya, kemudian menatap wajah sang adik.


"Kamu terlihat kurus. Apa kamu sengaja diet?" tanya Putri.


"Tidak, Mbak. Aku tidak diet. Mungkin aku hanya kelelahan saja, makanya berat badan ku berkurang."


Putri menghela napasnya pelan. Andai saja Arash masih memberi izin untuknya bekerja, maka dia pasti akan ikut membantu Bara di perusahaan. Seperti dulu, walaupun dia sibuk menjadi seorang pengacara, akan tetapi Putri sesekali pasti akan membantu adiknya itu. Tapi sekarang, semua tanggung jawabnya sudah di ambil alih oleh Bara.


Sebenarnya Papa Satria ingin meminta bantuan Arash untuk membantu Bara, akan tetapi melihat betapa sibuknya Arash, membuat Papa Satria mengurungkan niatnya itu.


"Oh ya, kamu kapan sampai? Kok Mbak gak tau?" tanya Putri.


Ya, saat Putri baru saja turun dari kamarnya, dia dikejutkan dengan keberadaan sang adik yang sudah ada di ruang makan.


"Kemarin. Aku sengaja turun di Jakarta dan datang ke sini dengan Mas Bara," jawab Zia.


"Kenapa gak bilang-bilang kalau kamu mau pulang? Kan Mbak bisa jemput."


Zia terkekeh pelan sambil menggelengkan kepalanya. "Kalau aku bilang, bukan kejutan lagi dong namanya."


Saat ini, Putri dan Arash sedang menghabiskan waktu libur mereka di Bandung.


Arash yang mendengar suara sang istri sedang mengobrol dengan seseorang pun, merasa penasaran, karena sudah lama dia tidak mendengar suara sang istri seceria ini. Kaki Arash pun melangkah menuju ke ruang makan dengan senyuman yang merekah di bibirnya, akan tetapi saat kakinya baru saja memasuki ruang makan dan melihat siapa yang berada di sana, membuat senyuman di bibir Arash pun mengulang, serta langkah kakinya juga itu terhenti.


"Zia? Kapan dia kembali?" batin Arash dengan wajah datarnya.


Tiba-tiba saja ingatan Arash kembali pada saat dirinya menemui Zia dan meminta gadis itu untuk pulang. Ya, saat itu Arash tanpa sengaja mencium Zia dan membuatnya marah besar. Ya kan.


"Sayang, kamu sudah bangun," tegur Putri yang menyadari kedatangan sang suami.


Zia ikut menoleh ke arah orang yang berdiri sedikit jauh di belakangnya, sehingga membuat ekspresi wajah Zia ikut berubah.


Zia menatap Arash penuh kebencian, begitu pun sebaliknya.


Merasa ada yang tidak beres dengan Arash dan Zia, membuat Putri mengambil alih perhatian mereka berdua.


"Emm, kamu mau makan apa, sayang? Biar aku siapkan," ujar Putri yang sudah berdiri dari tempat duduknya.


"Kamu pasti belum makan, kan? Mbak siapkan makanan untuk kamu, ya?" tawar Putri kepada Zia.


"Gak usah, Mbak. Aku sudah makan, kok." tolak Zia dan bangkit dari duduknya.


"Aku ada janji dengan teman, sebaiknya aku bersiap sekarang," ujar Zia dan berlalu meninggalkan Putri.


Putri menghela napasnya pelan, gadis itu pun menatap kepergian sang adik yang semakin menjauh darinya.


"Sebenarnya apa yang terjadi antara Arash dan Zia?" batin Putri yang sampai saat ini masih belum bisa mendapatkan jawabannya.


Jika masalahnya hanya karena Zia berkata dan berharap agar dirinya meninggal, bukankah semua itu sudah di perjelas dengan Mama Nayna, di mana semua kesalahan ada pada Mama Nayna? Dan juga, bukankah Naya juga sudah mengatakan, jika Zia tak sungguh-sungguh mengatakan hal itu?


Zia mengatakan hal itu karena dirinya kesal. Lalu, kenapa Arash seolah tidak bisa memaafkan Zia? Sedangkan yang lain sudah memaafkan sang adik.

__ADS_1


Apa sesuatu telah terjadi di antara mereka?


__ADS_2