Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 463


__ADS_3

Putri akhirnya membuka mata, setelah tak sadarkan diri selama beberapa hari. Arash merasa lega karena sang istri akhirnya membuka matanya kembali yang mana menandakan jika mereka pasti akan bersama lagi. Akan tetapi dari pihak kedokteran malah berpikir lain, mereka saat ini melihat gelagat yang aneh dari pasiennya.


Ya, bukan sekali atau dua kali Lucas melihat seseorang terbangun dari tidurnya dengan kondisi yang terlihat baik-baik saja. Baik-baik saja dalam artian seolah si pasien hanya terbangun dari tidur biasanya. Dan siapa yang menyangka, jika kejadian yang sering Lucas lihat, ternyata terjadi dalam keluarganya.


Lucas melirik ke arah Papa Arka, pria itu menggelengkan kepalanya pelan seolah memberitahu jika waktu Putri tidak akan lama lagi. Papa Arka langsung merangkul sang istri, seolah memberikan tenaganya untuk Mama Kesya agar dapat kuat mendengar dan melihat apa yang akan terjadi dengan Putri selanjutnya.


"A-aku mohon, bawa Yumna dan Rayyan ke sini, sa-yang. A-aku mohon. A-aku i-ingin melihat wajah mereka," pinta Putri dengan tatapan matanya yang sendu.


Putri terbangun dari tidurnya, karena dia sangat ingin melihat anak-anaknya untuk yang terakhir kalinya. Dia berharap, jika masih memiliki kesempatan untuk mellihat buah hatinya, karena waktunya sudah tidak banyak lagi. Putri seolah sudah melihat ada seseorang bertubuh besar yang berdiri di depan pintu, siap untuk menjemput dirinya pulang.


"Aku mohon, Rash, bawa anak-anak kita ke sini. Aku ingin melihat mereka," pinta Putri lagi dengan suaranya yang lemah. Air mata Putri pun terjatuh dari sudut matanya, membuat siapa saja yang melihatnya ikut merasa sedih.


"Iya, sayang. Aku akan meminta Mbak Anggel untuk membawa mereka," sahut Arash menahan tangisnya agar tidak keluar.


Akan tetapi, sekuat apa pun Arash menahannya, bulir bening itu tetap saja lolos dan jatuh membasahi pipinya. Dengan tangan yang bergetar, Arash menghubungi Mbak Angel dan memintanya untuk membawa Rayyan dan Yumna segera ke rumah sakit. Tak lupa pula, Arash memberitahukan kabar tentang keadaan Putri saat ini kepada Mbak Angel, agar wanita itu bisa bergegas membawa anak-anaknya ke rumah sakit untuk bertemu dengan ibu mereka. Arash berharap, jika Putri dapat melihat anak-anak mereka di saat-saat terakhirnya.


Mama Nayna merasa jika kakinya saat ini terasa begitu lemas sekali saat mendengar permintaan Putri, seolah tak lagi mampu menampung tubuhnya untuk berdiri. Untungnya Papa Satria selalu sigap berada di dekat sang istri, memeluk tubuhnya agar tidak jatuh ke lantai.  Tak hanya Mama Nayna saja ternyata yang mengalami hal tersebut. Mama Kesya pun juga mengalami hal yang serupa. Dan untungnya juga, Papa Arka berada di dekat sang istri.


Kata-kata yang di ucapkan oleh Putri bagaikan sebuah isyarat jika dirinya akan pergi jauh dan tak akan pernah kembali. Sungguh sangat mengiris hati siapa saja, merasa jika kejadian ini tidaklah nyata.


Lucas dan tim dokter lainnya sudah memeriksa kondisi Putri. Harapan untuku wanita itu berumur panjang pun sangatlah sedikit. Bahkan, jika Putri kembali tersadar dari tidurnya, ini bagaikan sebuah keajaiban dalam hidup mereka. Biasanya, jika kondisi pasien sudah seperti Putri, di mana saat di bawa ke rumah sakit sudah tidak sadarkan diri, maka sangat kecil kemungkinan untuk kembali tersadar dan dapat berbicara lancar seperti saat ini. Semua ini hanya keajaiban yang di berikan Tuhan, sebagai kesempatan bagi Putri untuk melihat apa yang ingin dia lihat untuk terakhir kalinya.


Allah menciptakan makhluknya untuk di jaga dan di cintai, tapi Allah meminta agar tidak mencintai makhluknya melebihi cinta kepada-Nya. Seperti apa yang dikatakan oleh pepatah, jika di setiap pertemuan, pasti ada perpisahan. Bahkan ada juga kalimat yang mengatakan 'Bukan pertemuan yang aku sesali, akan tetapi perpisahanlah yang aku tidak inginkan'.


Mungkin kalimat tersebut sangat cocok untuk Arash, karena pria itu tidak pernah menyesal bertemu dengan Putri. Akan tetapi, waktu perpisahanlah yang membuatnya belum siap untuk berpisah. Seberapa kuat Arash mencoba berpikir positif, jika setiap makhluk akan kembali kepada-Nya. Akan tetapi egonya sebagai manusia tetap saja membuat Arash merasa marah dan kecewa, seolah-olah pencipta tidak adil kepada dirinya. Bagaimana bisa dia hanya memiliki waktu yang singkat untuk bersama dengan orang yang dia cintai, sedangkan orang lain bisa bersama dalam waktu yang lama dengan orang yang mereka cintai.


Apakah Arash tidak memiliki keberuntungan itu?


Jatuh cinta mungkin bukanlah hal yang sulit bagi siapa saja. Akan tetapi, setiap cinta yang hadir pastinya akan memiliki kisah yang berbeda. Mampukah Arash melupakan kisah cintanya yang begitu manis dan penuh dengan perjuangan saat mendapatkan Putri?


Setelah sebesar apa perjuangannya untuk bersama Putri, kenapa kebahagiaan ini hanya sesaat dia rasakan? Tidak bisakah Tuhan memberikan waktu lebih panjang lagi untuk dirinya dan Putri? Agar bisa mengukir lebih banyak tinta lagi untuk kisah cinta mereka, yang suatu saat nanti bisa mereka ceritakan kepada anak cucu mereka nantinya. Bahwasanya, cinta Arash dan Putri adalah sebuah perjuangan yang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Banyak lika liku dan ujian hidup yang mereka hadapi untuk sampai ke titik ini.


"Mbak Anggel akan segera ke sini. Mereka akan segera tiba ke sini bersama anak-anak kita," ujar Arash memberitahu kepada sang istri.


Putri tersenyum dengan bibir dan wajahnya yang terlihat pucat. Wanita itu menatap lekat wajah sang suami yang telah menerima dirinya apa adanya. Dari segala kekurangan yang dia miliki, bahkan keegosian yang ada pada dirinya. Arash menerima semua kekurangan yang di miliki oleh Putri tanpa ada rasa mengeluh sedikit pun. Betapa beruntungnya Putri bisa di cintai oleh pria yang berwajah tampan dan memiliki hati yang begitu hangat. Serta, cinta sang suami begitu luas untuk dirinya.


Andai waktu dapat di ulang kembali, apakah Putri bisa mendapatkan pria sebaik Arash?


Bagi Putri, tak ada pria yang baik, selain suaminya. Tidak ada pria yang sempurna, selain suaminya. Arash adalah pria dalam paket lengkap yang Putri temui, di mana semua yang ada dalam dan pada diri Arash, sesuai dengan pria yang dia idamkan. Tapi, ada satu hal yang membuat Putri merasa bersalah di akhir hayatnya. Apakah Putri selama ini ternyata telah merebut apa yang seharusnya menjadi milik sang adik?


Andai saja Putri tahu sejak awal, jika pria bermasker yang di cintai oleh Zia dulu adalah Arash, mungkin Putri akan melarang dirinya untuk jatuh cinta kepada suaminya itu. Tapi, nasi telah menjadi bubur. Arash mencintai Putri, begitu pun sebaliknya.


Putri melirik ke arah sang adik yang duduk di kursi roda. Wanita itu membayangkan senyuman bahagia di wajah cantik Zia yang dulu selalu terlihat cerita. Dulu, tak pernah Putri melihat wajah sang adik terlihat murung atau cemberu. Wajah Zia selalu ceria dan tersenyum dalam keadaan apa pun. Bahkan, di saat berada dalam masalah pun, Zia masih bisa tersenyum.

__ADS_1


Tapi, semenjak kejadian beberapa tahun lalu, di mana membuat hubungan Putri dan Zia berubah, dan hal itu pula juga membuat sifat Zia berubah, Putri merasa bersalah. Putri sadar, jika dirinya telah merebut semua apa yang seharusnya di miliki oleh Zia. Putri telah merebut cinta dan perhatian Mama Nayna, kemudian Putri juga telah merebut cinta pertamanya Zia. Dan saat ini, karena kesalahan Arash yang meninggalkan Zia, Putri merasa bersalah karena sudah merebut masa depan Zia yang seharusnya indah dan tak ada meninggalkan bekas sedikit pada diri wanita itu.


"Maafin, Mbak, Zi, maafin Mbak," lirih Putri menatap sayu ke arah sang adik.


Tangan Bara yang menyentuh bahu Zia pun, tiba-tiba di remas pelan oleh sang adik. Bara menundukkan kepalanya, melihat jika saat ini Zia sedang menahan air matanya agar tidak terjatuh dan membuat Putri semakin sedih. Zia mencoba tersenyum kepada sang kakak, akan tetapi, sekuat apa pun gadis itu menahan air matanya dan tetap tersenyum, dudut bibirnya tertarik untuk membuat kerutan kesedihan, bahkan air matanya juga ikut terjatuh membasahi pipi.


Zia ingin tersenyum, tapi senyum itu malah membuat tangisnya semakin menjadi-jadi. Bara pun berpindah tempat untuk memeluk sang adik, membiarkan adik kecilnya itu menangis dan membasahi pakaian mahalnya. Meredam suara tangisnya di dalam pelukan Bara.


"Tolong jaga Zia," pinta Putri dengan gerakan bibirnya yang lemah, di mana kata-kata itu tertuju kepada Bara saat ini.


Bara menganggukkan kepalanya, pria itu pasti akan menjaga sang adik agar tidak ada satu orang pun yang berani menyakitinya lagi.


"R-rash, sudah sampai mana anak-anak kita?"  tanya Putri.


"Sebentar ya, sayang. Aku hubungi Mbak Anggel dulu."


Arash kembali menghubungi Mbak Angel yang sedang membawa Aryan dan Rayyan ke rumah sakit. Pria itu bertanya di mana posisi Mbak Anggel saat ini dan meminta agar mereka segera tiba di rumah sakit. Arash tidak ingin jika hal buruk terjadi kepada Putri, sebelum istrinya melihat kedua anak mereka.


Agak gila memang meminta seseorang yang sedang membawa seorang bayi yang baru berumur hitungan hari malam-malam ke rumah sakit dengan kecepatan yang tinggi, bahkan di dalam mobil itu tidak hanya ada bayi newborn, akan tetapi ada balita juga yang pastinya saat ini masih mengantuk dan tertidur di dalam mobil. Pasti sangat tidak nyaman sekali jika harus berada di dalam mobil yang sedang melaju dengan kecepatan tinggi.


"Mereka akan segera tiba," ujar Arash memberi tahu.


Putri terlihat menghela napasnya pelan dengan susah payah. Wanita itu mengangkat tangannya dengan susah payah untuk menyentuh tangan sang suami. Arash dengan cepat menyambut tangan Putri, mengenggam tangan Putri yang terasa dingin dengan tangannya yang hangat. Di kecupnya punggung tangan Putri dengan penuh rasa cinta.


"Mas, a-aku mo-hon. To-long kabulkan satu permintaan aku, Mas," ujar Putri terbata-bata.


"To-Tolong jaga Zia untuk aku," pinta Putri dengan tatapan memohon.


Tolong jaga Zia untuk Putri. Bukankah itu berarti?


Suara terbata-bata Putri, di saat mengucapkan sebuah kalimat permintaan kepada suaminya itu pun, di dengar jelas oleh semua orang yang ada di dalam ruangan, termasuk dengan Bunda Sasa juga ada di sana.


"To-tolong kamu jaga Zia, sampai dia menemukan pria yang tepat, Rash. Pria seperti kamu," ucap Putri lagi.


Bunda Sasa melirik ke arah Zia, terlihat wanita itu masih memeluk dan menangis di dalam pelukan Bara. Apa Putri ingin Zia menikah dengan Arash?


"Sayang, aku mohon, jangan berbicara lagi, hiks … Kamu harus menyimpan tenaga kamu agar sembuh dan b isa bertemu dengan anak-anak kita, sayang. Aku janji, aku akan mencari pendonor hati secepatnya untuk kamu. Aku akan segera mendapatkan pendonor hati secepatnya, sayang. Percayalah," mohon Arash agar Putri tidak berbicara dan menggunakan tenaganya.


"Tapi kamu harus berjanji, kamu harus janji untuk tetap hidup dan sehat. Kamu harus bertahan, sayang. Kamu harus bertahan demi aku, demi anak-anak kita," pinta Arash sambil terisak.


Putri menggeleng pelan, menolak permintaan sang suami. "Ba-banyak lagi yang ingin aku sampaikan, sayang. A-aku---"


"Sayang, aku mohon, simpan tenaga kamu ya?" pinta Arash. "Anak kita akan segera datang ke rumah sakit. Mereka pasti senang sekali melihat kamu sudah sembuh, sayang," ucap Arash dengan air mata yang berlinang.

__ADS_1


Putri tersenyum. Tangan wanita itu pun terangkat untuk menyentuh pipi sang suami dan mengusap air mata yang membasahi pipi itu dengan tangannya yang terasa dingin.


"Ka-kamu tahu, Sayang. Wajah kamu itu sangat jelek sekali jika menangis," ucap Putri sambil terkekeh pelan.


"Iya, aku tahu sayang. Makanya, kamu harus sembuh agar aku bisa selalu tertawa dan tersenyum," pinta Arash.


"Aku akan segera sembuh, Rash. Aku akan segera sembuhh." Putri menarik napasnya panjang, terlihat wanita itu mulai kesulitan saat mengambil napas.


Sifa tak sanggup melihat dan mendengar apa yang Putri katakan. Sahabatnya itu terlihat sangat kesakitan dan menahan rasa sakitnya dengan tersenyum. Abash sudah menarik Sifa ke dalam pelukannya. Membiarkan sang istri menangis tersedu-sedu di dalam pelukannya yang hangat. Abash tidak menyangka, jika kisah cinta Putri dan Arash akan berakhir seperti ini. Kisah cinta kembarannya terlalu banyak lika liku, menurut Abash, tidak mudah menjadi Arash yang harus memperjuangkan cintanya hanya untuk Putri. Bahkan, di saat Putri menghilang pun, Arash tetap mencari di mana keberadaan orang yang dia cintai.


Arash sampai mendapatkan teguran dari atasannya karena sempat lalai dengan kewajibannya sebagai seorang polisi. Tapi syukurlah, pria itu bisa mengendalikan dirinya kembali dan menjalani tugasnya sebagai seorang polisi dengan baik.


Setiap pertemuan, pasti ada perpisahan. Dan setiap perpisahan, selalu meninggalkan luka yang teramat sangat dalam.


Kehilangan orang yang di cintai ibarat luka yang membutuhkan waktu lama untuk menyembuhkannya. Luka yang tidak bisa di obati dengan apa pun. Sampai kapan pun, luka itu masih akan tetap basah dan menjadi kenangan yang indah dan akan tetap hidup sampai kapan pun.


Abash menghela napasnya pelan. Pria itu dapat merasakan apa yang di rasakan oleh Arash saat ini. Bahkan, sudut hati Abash pun terasa terpukul melihat kembarannya itu harus kehilangan orang yang di cintai.


Arash merasa bersalah atas apa yang terjadi dengan Putri. Pria itu merasa sangat bersalah karena tidak peka dengan penyakit yang Putri derita selama ini. Andai saja Arash lebih peka dan selalu melakukan pemeriksaan rutin, walaupun Putri mengatakan jika dirinya baik-baik saja. mungkin penyakit yang Putri derita saat ini akan segera di ketahui. Mungkin juga kondisi Putri saat ini tidak akan berakhir semenyedihkan ini. Arash benar-benar menyesal dan menyalahkan dirinya sendiri atas penyakit yang di derita oleh sang istri. Arash merasa jika kesalahan ini adalah kesalahan dirinya, atas apa yang terjadi dengan Putri saat ini.


Ya, Arash menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang terjadi dengan Putri.


*


Putri sudah kembali di pemeriksaan oleh Kak Lucas dan tim dokter lainnya, di saat Rayyan dan Yumna tiba di rumah sakit. Mbak Anggel sengaja menutup wajah Yumna dengan kain bedong milik bayi mungil itu, karena kata orang tua dulu tidak boleh melihatkan wajah bayi yang baru lahir tempat terbuka di saat malam hari. Ya, siapa yang tahu kan apa yang akan terjadi. Menghindar lebih baik dari pada harus menanggung akibatnya. Sebelum berada di dalam ruangan yang tertutup, Mbak Anggel tidak akan membuka kain bedong yang menutup wajah Yumna.


Rayyan yang berada di dalam gendongan Sakha yang juga ikut hadir bersama Mbak Anggel pun, terlihat menangis sesenggukan. Entah apa yang membuat anak kecil itu menangis. Mungkin dia merasa takut di saat Kak Lana melajukan mobil dengan kecepatan tinggi, agar segera tiba di rumah sakit.


Mama Nayna menghampiri cucu pertamanya itu, membelai wajah Rayyan dengan penuh kasih sayang dan rasa iba. Tidak bisa di bayangkan, bagaimana anak kecil yang tak berdosa itu harus kehilangan ibunya. Seketika, bayangan tentang kehidupan Putri di masa kecil pun kembali terulang dalam benak Mama Nayna. Purti yang sejak bayi harus kehilangan ibu kandungnya, menjalani kehidupan tanpa sosok seorang ibu di dekatnya.


Putri kecil pun sering di ledek oleh teman-teman sekolahnya, karena tidak memiliki seorang ibu, sehingga membuat sifat Putri kecil menjadi keras dan membenci semua orang yang hanya terlihat baik di depannya saja. Hingga suatu hari, Putri kecil pun bertemu dengan Mama Nayna dan merubah seluruh hidup Putri yang sepi dan merindui kasih seorang ibu.


Mama Nayna berharap, jika apa yang terjadi pada Putri kecil dulu, tidak terjadi dengan cucu-cucunya. Memang, Putri dan cucu-cucunya tidak akan pernah kekurangan kasih sayang, akan tetapi, cinta seorang ibu yang tulus terhadap mereka, sungguh sulit untuk di temukan. Entah siapa yang bisa menggantikan sosok Putri untuk menjadi ibu bagi kedua cucunya.


"Bagaimana kondisi Putri, Kak?" tanya Arash kepada Kak Lucas yang baru saja keluar dari ruangan Putri.


Kak Lucas menghela napasnya pelan dan berat, pria itu bahkan menundukkan kepalanya karena tidak bisa memberikan jawaban sesuai dengan apa yang sang adik sepupunya itu inginkan. Harapan untuk Putri bertahan hidup benar-benar sangat kecil, hanya keajaiban saja yang bisa membawanya kembali berkumpul bersama mereka.


Arash mengepalkan kedua tangannya di saat sisi dalam dirinya meminta agar dia tetap tegar. Seketika, bahu pria itu terlihat jatuh karena merasa jika dirinya begitu lemah saat ini. Arash terlihat mulai melangkahkan kakinya, berjalan dengan gontai saat masuk ke dalam ruangan Putri. Dia ingin menghabiskan waktu yang tersisa bersama dengan orang yang dia cintai.


Putri tersenyum di saat melihat kedatangan sang suami, seolah mengatakan semuanya akan baik-baik saja.


"A-ada apa, Rash? Mana anak-anak kita?" tanya Putri dengan suara yang pelan dan lemah, di saat tidak melihat anak-anaknya ikut masuk ke dalam ruangan.

__ADS_1


"Mereka ada di sini, di luar," jawab Arash mencoba tersenyum.


"Aku ingin melihat mereka, Rash," pinta Putri seolah waktunya benar-benar tidak banyak lagi.


__ADS_2