
Arash tidak bisa tidur malam ini. Pria itu benar-benar kepikiran bagaimana jika Yumna dan Rayyan tidak mau jauh dari Zia, apa yang harus pria itu perbuat?
Arash tahu, jika Rayyan dan Yumna masih membutuhkan sosok seorang ibu ada di samping mereka. Tapi, apakah anak-anaknya itu tidak mengerti? Jika ibu kandung mereka sebenarnya sudah tiada??
Ya, seharusnya bukan Yumna dan Rayyan yang mengerti, tetapi Arash. Tentu saja Rayyan dan Yumna belum memahami arti kehilangan seorang ibu. Tapi, tunggu! Jika Rayyan tidak memahami arti kehilangan seorang ibu?? Kenapa balita menggemaskan itu bisa membedakan Zia dan Putri?? Jelas-jelas Rayyan memanggil Putri dengan sebutan Mama, sedangkan Zia dengan sebutan Uti. Itu artinya, Rayyan sudah paham kan jika ibunya telah tiada?? Setidaknya Rayyan sudah mengerti jika dia tidak lagi bisa melihat ibunya.
Dan satu hal lagi yang membuat Arash heran, kenapa Rayyan tidak pernah bertanya kepadanya di mana ibunya sekarang?? Bukankah itu pertanyaan yang wajar bagi anak yang hampir berumur dua tahun?
Arash menghela napasnya panjang dan berat, pria itu harus mencari cara agar Rayyan dan Yumna terbiasa tanpa Zia. Tapi bagaimana? Apakah dia benar-benar harus melepaskan statusnya sebagai seorang abdi negara? Kemudian membawa buah hatinya jauh dari Zia?
Tok … tok … tok …
Arash menoleh ke arah sumber suara, di mana ternyata Papa Arka yang baru saja mengetuk meja untuk mengambil atensinya.
"Ya, Pa?" Arash pun tersenyum kecil melihat kedatangan sang papa.
"Boleh Papa duduk?' tanya Papa Arka.
"Ya, Pa, silahkan."
Papa Arka pun berjalan pelan dan duduk di sofa single yang bersebelahan dengan Arash.
"Kamu mau kopi?" tawar Papa Arka yang di jawab gelengan oleh Arash.
"Tidak, Pa."
"Okey …." Papa Arka pun menyesap kopi yang di dalam cangkir yang ada di tangannya.
"Apa yang kamu pikirkan, Rash? Dari tadi Papa perhatikan kamu terus saja menghela napas," tanya Papa Arka setelah meneguk kopi pahitnya.
"Tidak ada, Pa," bohong Arash.
Papa Arka tersenyum, pria paruh baya itu pun meletakkan cangkir kopinya di atas meja, kemudian kembali menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa.
"Apa kamu sedang memikirkan Putri?" tanya Papa Arka.
"Tidak, Pa, bukan itu," jawab Arash cepat sambil menggelengkan kepalanya pelan.
"Lalu, apa wanita yang ada di dalam pikiran kamu adalah Zia??' tebak Papa Arka yang mana membuat Arash langsung menoleh ke arahnya.
Papa Arka tersenyum, ternyata dugaan Papa Arka benar, jika sedari tadi Arash pasti sedang memikirkan Zia. Ya, walaupun bukan memikirkan tentang perasaan cinta, tapi memikirkan tentang Zia yang seolah sedang menguasai hak asuh Rayyan dan Yumna.
"Saran Papa, biarkan Rayyan dan Yumna di asuh oleh Zia," ujar Papa Arka memberikan saran, di saat melihat Arash hanya terdiam memandang ke arahnya.
"Ap-apa? Papa bilang apa?" tanya Arash seolah tidak mendengar apa yang di katakan oleh Papa Arka, padahal Arash hanya ingin mendengar sekali lagi apa yang di ucapkan oleh pria yang telah membuatnya ada di dunia ini.
"Papa nyuruh aku membiarkan Rayyan dan Yumna tinggal bersama Zia?" tanyanya yang hanya di jawab senyuman oleh Papa Arka.
__ADS_1
"Apa Papa gak salah?" ujar Arash dengan nada suara yang terdengar kesal.
"Tidak. Lagi pula, Rayyan dan Yumna sepertinya lebih membutuhkan Zia dari pada kamu," sahut Papa Arka.
Arash semakin terlihat kesal, bahkan pria itu sudah mengepalkan tangannya untuk meredam amarahnya agar tidak meledak-ledak.
"Pa, Arash ini ayah kandungnya Rayyan dan Yumna. Jadi, Arash lah yang paling berhak untuk mengasuh mereka. Arash bisa berhenti dari kepolisian demi merawat Yumna dan Rayyan, Pa. Arash bisa menjadi ibu dan ayah sekaligus untuk Yumna dan Rayyan. Jadi, anak-anak Arash tidak lagi membutuhkan sosok seorang ibu, karena Arash bisa memenuhinya," ujar Arash dengan perasaan kesal.
"Jadi, kamu berniat untuk mengundurkan diri dari kepolisian?" tanya Papa Arka.
"Ya, Pa. Arash bisa melakukan apa pun demi anak-anak Arash. "
"Dan setelah kamu keluar dari kepolisian, apakah kamu yakin bisa memenuhi sosok ibu dan ayah untuk Yumna dan Rayyan?" tanya Papa Arka lagi.
"Ya, Arash sangat yakin sekali."
Papa Arka tersenyum, membuat Arash mengernyitkan keningnya bingung.
"Kenapa papa ketawa?" tanya Arash.
"Kamu terlalu percaya diri, Arash. Kamu berkata jika kamu bisa berperan sebagai ibu dan ayah sekaligus. Tapi sebenarnya kamu tidak bisa, Rash. Kamu tidak bisa," jawab Papa Arka.
"Papa jangan terlalu meremehkan Arash."
"Tidak, Papa tidak meremehkan kamu, Rash. Tapi, apa yang Papa katakan adalah sebuah kebenaran. Kamu tidak bisa dan tidak mampu berperan sebagai ibu dan ayah sekaligus untuk Rayyan dan Yumna. Kamu tidak bisa," ujar Papa Arka tanpa ada keraguan sedikit pun.
"Mungkin saat ini Arash tidak bisa, Pa. Tapi, seiring dengan berjalannya waktu, Arash pasti mampu melakukannya," jawab Arash tak mau kalah dari sang papa.
"Silahkan kamu coba, jika kamu tidak percaya dengan apa yang Papa katakan." Papa Arka kembali mengambil cangkir kopi miliknya, kemudian menyesapnya sedikit lagi dan menaruhnya kembali ke atas meja.
"Menikahlah dengan Zia. Lagi pula, bukankah itu permintaan terakhir Putri?" ujar Papa Arka sebelum bangkit dari tempat duduknya.
Arash terdiam, bagaimana Papa Arka bisa tahu jika permintaan terakhir Putri adalah meminta dirinya untuk menikah dengan Zia? Dari mana Papa Arka mengetahuinya? Jika Papa Arka tahu, apakah Mama Kesya juga mengetahuinya?
Arash masih terdiam di tempatnya, berpikir bagaimana Papa Arka bisa tahu tentang apa yang Putri minta saat itu.
"Mas, jika aku tiada. Maukah kamu menjaga Zia untukku? Maukah kamu menikahinya dan menjadikan Zia sebagai ibu dari anak-anakku, Mas?"
"Sayang—"
"Aku harap, kamulah pria yang bisa membuat Zia bahagia, Mas. Dan aku harap, kamu bisa menjadi cinta terakhir bagi Zia, begitu pun sebaliknya."
Arash menghela napasnya berat dan panjang, pria itu kembali teringat apa yang di minta oleh Putri saat sebelum sang istri di larikan ke rumah sakit karena tidak sadarkan diri.
"Aku tidak bisa, Put. Aku tidak bisa menggantikan posisi kamu dengan siapa pun, termasuk Zia. Aku tidak bisa," ucap Arash dengan lirih sambil mengusap wajahnya kasar.
*
__ADS_1
Zia sedang bermain dengan Rayyan, di saat seorang tamu datang untuk bertemu dengannya.
"Siapa, mbok?" tanya Zia tanpa menoleh.
"Aku."
Zia terdiam, gadis itu perlahan menolehkan wajahnya untuk melihat siapa yang datang. Terlihat jika pria yang saat ini sedang berdiri di hadapannya sedang tersenyum lebar dengan begitu manisnya kepada Zia.
"Ibra?"
"Hmm, ini aku." Ibra pun melangkahkan kakinya semakin mendekat ke arah Zia.
"Apa aku boleh bergabung?" tanya Ibra.
Zia tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Ya, silahkan."
Ibra pun semakin tersenyum lebar. Pria itu memberikan sebuah buket bunga mawar yang terlihat begitu indah kepada Zia. Bunga yang dia sembunyikan di belakang punggungnya tadi.
"Untuk kamu."
Zia tersenyum. " Terima kasih banyak, bunganya sangat cantik sekali." Zia mencium aroma bunga yang ada di tangannya. "Harumnya lembut dan masih segar," ucapnya dengan pelan.
"Dan iniii … untuk Rayyan!" Ibra memberikan mainan mobil-mobilan yang berukuran kecil, sekecil genggaman Rayyan.
Terlihat balita menggemaskan itu sangat senang sekali mendapatkan hadiah dari Ibra.
"Rayyan, sayang. Bilang apa ke Om Ibra?" ujar Zia kepada balita menggemaskan itu.
"Aci Omba," ucap Rayyan dengan suaranya yang terdengar menggemaskan.
"Sama-sama, sayang." Ibra pun mengajak Rayyan untuk bermain mobil-mobilan yang dia beli tadi secara bersama-sama.
Zia hanya memandang sambil tersenyum, di saat Ibra dan Rayyan tertawa bersama.
Ah, apa seperti ini gambaran masa depan Zia nantinya jika menikah bersama Ibra?
Tapi, bagaimana nasib Rayyan dan Yumna? Apakah Arash akan tetap memberikan izin kepadanya, jika ingin membawa Rayyan dan Yumna?
Lalu, bagaimana jika Zia tidak berada di Jakarta saat setelah menikah dengan Ibra? Bagaimana jika dia harus ikut di mana pun suaminya di tugaskan? Pastinya Zia harus berpisah dengan Yumna dan Rayyan dalam waktu yang cukup lama, kan?
Apakah Zia mampu berpisah dengan dua balita menggemaskan itu? Apakah Yumna dan Rayyan bisa hidup jauh dari dirinya? Di tinggal ke Singapure beberapa hari saja, Yumna dan Rayyan sudah sakit. Bagaimana jika di tinggal bertahun-tahun?
Atau? Apa Zia mencoba mengambil hak asuh Rayyan dan Yumna saja ya? Tapi atas dasar apa dia mengambil hak asuh Rayyan dan Yumna?
Zia menghela napasnya berat, membuat Ibra menoleh ke arahnya.
"Ada apa?" tanya Ibra menatap dalam mata Zia.
__ADS_1
"Hmm? Tidak ada," jawab Zia sambil menggelengkan kepalanya pelan dan tersenyum kecil.