Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 367


__ADS_3

Bara menatap tajam ke arah Arash, tatapan mata pria itu pun seolah menuntut Arash untuk meminta maaf kepada Zia.


Arash menghela napasnya pelan, sepertinya dia memang harus meminta maaf kepada adik iparnya itu.


"Maafkan saya, karena sudah menuduh kamu mencelakai Putri," ujar Arash kepada Zia.


"Hmm," gumam Zia yang memang malas menanggapi apapun tentang Arash.


Cukup sudah pria itu mengurusi hidupnya. Rasanya sangat lelah menghadapi pria seperti Arash. Dia berharap, jika suatu saat nanti tidak memiliki suami seperti Arash. Hanya satu yang membuat Zia merasa lega tentang Arash, yaitu karena pria itu sangat mencintai sang kakak. Bahkan, Arash benar-benar sangat meratui Putri. Persis seperti di dunia dongeng.


"Lain kali, jangan pernah menuduh seseorang, sebelum tahu kebenarannya,'' kesal Bara dan berlalu meninggalkan Arash.


Arash sadar, jika dirinya memang benar-benar salah. Tapi, entah mengapa rasa benci terhadap Zia seolah tidak bisa dia hilangkan.


Putri menggerakkan jarinya, menandakan jika wanita itu sudah mulai sadar.


"Sayang," panggil Arash, saat melihat respon dari pergerakan tangan Putri.


Arash menggenggam tangan Putri, kemudian mengecup punggung tangan sang istri. Mata Putri pun perlahan mulai terbuka, wanita itu sempat mengernyitkan keningnya di saat melihat cahaya yang baru saja masuk ke dalam matanya.


"Aku di mana, Rash?" tanya Putri dengan suaranya yang terdengar lemas.


"Kamu di rumah sakit, sayang," jawab Arash.


"Rumah sakit?" ulang Putri. Wanita itu pun mencoba mengingat apa yang terjadi dengannya tadi.


Seingat Putri, dia ingin menemui Mbok di dapur, untuk menyiapkan segala bahan masakan untuk membuat kue, karena dirinya akan membuat kue bersama sang adik kesayangan.

__ADS_1


"Zia?" lirih Putri, di saat telah mengingat semua kejadian yang masih melekat di dalam ingatannya.


"Ya, Mbak, aku di sini," ujar Zia dari belakang Arash.


Putri bernapas lega, karena melihat Zia berada di dekat Arash. Itu tandanya, Arash tidak memarahi adiknya itu kan, atas apa yang terjadi dengannya.


"Aku kenapa, Rash, kenapa aku di rumah sakit?" tanya Putri.


Arash tersenyum, kemudian pria itu mengangkat tangan dan meletakkan telapak tangan pria itu ke atas perut Putri.


"Kamu tau, sayang. Saat ini, di sini." Arash mengusap perut Putri dengan lembut. "Di sini, ada anak kita, sayang. Dia sudah hadir di dalam perut kamu," ujar Arash dengan wajah yang penuh dengan kebahagiaan.


Mata Putri terlihat membesar, di saat mendengar kabar yang Arash katakan barusan.


Ap-apa? A-aku hamil?" tanya Putri dengan terkejut.


Putri menoleh ke arah sang mama yang juga berada ruangan tersebut. "Benarkah, Ma?" tanya Putri kepada sang mama.


"Iya, sayang. Kamu sedang hamil. Selamat ya, sayang," ujar Mama Nayna sambil tersenyum lebar.


"Selamat ya, Mbak. Sebentar lagi kamu akan jadi mama, sedangkan aku akan menjadi aunty," ujar Zia yang juga ikut tersenyum lebar.


Air mata Putri pun mulai mengalir. Wanita itu sangat bahagia mendengar kabar yang dia dengar. "Hiks ... aku hamil, Rash? Aku hamil?" seru Putri.


"Iya, sayang. Kamu hamil."


Kabar kehamilan Putri pun langsung sampai kepada keluarga Moza. Mama Kesya sangat senang mendengar kabar kehamilan Putri, sehingga membuat wanita paruh baya itu meminta kepada sang suami untuk membawanya ke tempat sang menantu saat ini juga.

__ADS_1


"Ayo, Mas, kita jenguk Putri," bujuk Mama Kesya dengan segala rayuannya.


"Iya, sayang .. iya. Aku suruh Fadil untuk menyiapkan pesawat, ya."


Tak hanya Mama Kesya yang ikut bahagia mendengar kabar itu, akan tetapi Sifa yang masih berada di London pun, ikut merasa bahagia.


"Alhamdulillah, Mas, aku ikut senang mendengar berita ini," ujar Sifa dari seberang panggilan video call-nya kepada Abash.


"Iya, Putri dan Arash akan segera memiliki anak. Kita kapan, sayang?" tanya Abash sambil menaikan alisnya berkali-kali.


"Maasss .." tegur Sifa dengan malu-malu.


"Kamu harus ingat, Sifa. Sekembalinya kamu dari London. Kamu harus menjadi istri aku. Nyonya Abash," tegas Abash tanpa ingin di tawar-tawar lagi.


"Iya, Mas. Aku janji. Aku akan mengikuti semua perkataan kamu, Mas."


"Terima kasih, sayang. Aku senang mendengarnya."


"Tapi dengan satu syarat, Mas. Aku gak mau pindah kerja ke kantor kamu."


"Loh, kenapa? Aku sudah membahas ini dengan Kak Farhan. Dia bersedia menggantikan kamu dengan Bimo," ujar Abash memberitahu.


"Dan itu tandanya aku tidak profesional dalam bekerja, Mas. Aku gak mau seperti itu. Aku akan tetap berkerja di perusahaan sekarang bersama dengan tim Cobra."


"Tapi, Sifa---"


"Mas, aku hanya ingin bekerja di perusahaan Pak Farhan. Aku tidak ingin---'

__ADS_1


"Ya, aku paham sayang. Aku mengerti. Cepatlah kembali."


__ADS_2