Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 205 - Tawaran Amel


__ADS_3

Di saat Arash sedang menikmati makanannya. Putri pun sibuk dengan laporan yang diberikan oleh Om Martin. Gadis itu memeriksa flashdisk yang diberikan oleh pria paruh baya itu melalui ponselnya.


“Lagi sibuk apa? Serius amat?” tanya Arash yang baru saja selesai makan.


“Huum? Oh, hanya laporan kecil aja,” jawab Putri tanpa menoleh.


Gadis itu masih serius dengan melihat laporan yang diberikan oleh Om Martin. Dia harus mencari tahu sendiri di mana kelemahan Yosi. Cukup sudah bermain-mainnya, saatnya untuk Putri kembali menjadi singa yang garang dalam diamnya.


“Kamu gak ke kantor?” tanya Arash yang mana membuat Putri menoleh ke arahnya.


“Kamu sudah selesai makan?” tanya Putri balik.


“Sudah, sebenarnya sih gak masalah kalau tadi kamu menyetir mobil di saat aku lagi makan,” ujar Arash dengan tersenyum.


“Aku hanya takut kamu mabuk dan muntah seperti tadi malam,” jawab Putri yang mana membuat wajah Arash merona.


“Akh, kenapa kamu harus mengingatkan hal yang memalukan itu sih?” cicit Arash dengan mengusap tengkuknya yang tak gatal.


Putri pun terkekeh pelan melihat wajah menggemaskan Arash. “Kamu lucu banget tau gak sih,” ujar Putri dengan tersenyum manis.


“Oke, kita berangkat sekarang?” tanya Putri yang diangguki oleh Arash.


Putri pun mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, walaupun dia sudah terlambat ke kantor, tetapi gadis itu tidak ingin membuat Arash kembali mengeluarkan nasi yang sudah pria itu makan beberapa saat lalu.


“Ah ya, Tante Kesya bagaimana keadaannya? Sudah baikan?” tanya Putri membuka percakapan untuk mengisi kekosongan dalam perjalanan menuju kantornya.


“Alhamdulillah, sudah.”


“Apa Tante Kesya sudah tau mengenai Abash?” tanya Putri lagi.


“Hum, tadi pagi papa sudah memberitahu mama.”


Arash pun memperhatikan wajah Putri saat gadis itu menyebut nama Abash.


“Lalu, bagaimana keadaan Abash saat ini?” tanya Putri lagi.


Biasa kan kalau kita bertanya tentang keadaan orang yang sakit? Tetapi Arash menangkapnya berbeda, pria itu berpikir jika Putri mengkhawatirkan Abash layaknya seseorang yang memiliki perasaan dengan pria itu. 


Ya, Putri memang mengkhawatirkan Abash, tetapi tidak seperti apa yang Arash pikirkan.


“Abash sudah lebih baik saat aku tinggal pulang subuh tadi. Kalau kamu mau menjenguknya, nanti siang aku akan menjemput kamu,” tawar Arash.


“Tidak, siang ini aku tidak bisa. Bagaimana kalau nanti sore?” ajak Putri.


“Sepulang kamu kerja?” tanya Abash.


“Iya, sepulang aku kerja.”


“Oke, aku akan menjemput kamu. Eh, kamu gak perlu mobil kan siang ini?” tanya Arash yang baru menyadari jika mobil yang dia naiki saat ini adalah mobil Putri.


“Tidak, aku seharian ini akan ada di kantor saja. Banyakk kerjaan yang harus aku kerjai,” jawab Putri.


“Baiklah, kalau begitu aku bawa mobil kamu pulang, ya?” izin Arash.


“Hum, boleh, tapi jangan lupa isi bensinnya ya,” kekeh Putri sambil menoleh ke arah Arash.


Pria itu pun ikut tersenyum dan memberi hormat kepada Putri. “Siap, laksanakan,” ujarnya dengan suara yang tegas, yang mana Putri sangat suka sekali mendengarnya.

__ADS_1


“Manis banget kamu begitu, aku suka dengarnya,” ujar Putri yang mana membuat Arash ikut tersenyum.


“Kalau kamu suka, kenapa gak cari pacar yang berprofesi sebagai seorang abdi negara?”tanya Arash.


“Emm, gak pernah nemu yang abdi negara,” jawab Putri.


“Kalau aku kenalin sama temen aku gimana? Atau atasan aku, beliau masih muda dan lajang, cocok banget sama kamu kayaknya,” tawar Arash.


“Aku gak mau,” jawab Putri cepat dengan wajah kesalnya. 


Arash yang melihat wajah kesal Putri pun berpikir, jika gadis itu pasti tidak menyukai seseorang yang berprofesi sebagai abdi negara untuk menjadi pendampingnya. Apa lagi saat mendengar penolakan dari gadis itu yang langsung berkata ‘gak’ saat penolakannya. Tanpa bertanya sosok dari pria yang ingin di kenalkan kepadanya dan langsung menolak dengan penuh kepastian.


Tapi, kenapa Arash merasa sedih di saat berpikiran jika Putri tidak menyukai pria yang berprofesi sebagai abdi negara?


Mobil yang di kendarai Putri pun tiba di lobi kantornya, gadis itu pun turun dengan membawa semua barang-barangnya, begitu pun dengan Arash, karena dia harus berpindah posisi duduk.


“Terima kasih, aku masuk dulu, ya,” pamit Putri dan langsung berlalu begitu saja, karena dia sudah terlambat tiga puluh menit dari waktunya untuk masuk kerja.


“Hati-hati,” lirih Arash saat Putri berlalu begitu saja.


“Apa dia marah karena aku ingin mengenalkan dia dengan atasanku?” gumam Arash sambil menatap punggung Putri yang semakin menjauh.


“Kalau dia gak suka sama polisi, seharunya dia bilang, gak usah pakai acara ngambek gitu,” gumam Arash dan menghela napasnya denga pelan.


“Ah, kenapa aku malah merasa kecewa Putri gak suka sama polisi?” lirihnya dan berlalu masuk ke dalam mobil.


Arash pun melajukan mobil Putri dengan kecepatan sedang.


Di tempat lain, Putri harus menahan telinganya untuk mendengar sindiran dan ceramah dari atasannya karena dia terlambat pagi ini.


Ini semua karena siapa? Kalau bukan karena menunggui Arash selesai makan di dalam mobilnya. Ya, sebenarnya gak salah Arash sih, salah dia sendiri yang siapa suruh malah menunggu Arash selesai makan, baru dia melajukan mobilnya menuju kantor. Udah begitu, bawa mobilnya dengan kecepatan sedang lagi, jadi wajar saja jika dirinya terlambat kerja.


*


Sifa benar-benar tak habis pikir dengan gadis bernama Putri. Dalam pikiran Sifa, Putri itu terlihat seperti gadis bermuka dua. Di depan baik, tetapi di belakang menusuk. 


“Ck, kenapa aku harus di kelilingi oleh orang-orang yang bermuka dua, sih?” gumam Sifa dengan kesal.


“Apa salah aku dengannya? Sehingga dia merebut Mas Abash dari aku.”


“Siapa yang merebut Pak Abash dari kamu?” tanya Amel yang sudah berada di dekat Sifa.


“Eh? Mel? Kamu di sini?” tanya Sifa dengan terkejut.


“Kamu kenapa nolak saat aku ajak ke kantin?” tanya Amel yang sudah duduk di dekat Sifa.


“Gak papa, kok. Lagi pingin sendiri aja,” jawab Sifa sambil mengaduk mie instan goreng yang ada di dalam kotak bekal makanannya.


Amel yang melihat bekal makanan Sifa pun, langsung mengambil alih kotak bekal makanan itu dari tangan sang sahabat.


“Untuk itu aku ke sini, karena aku merasa khawatir sama kamu,” ujar Amel dan memberikan satu bungkus lontong pecal kepada sahabatnya itu.


“Nih, lontong pecal. Kamu makan ya, biar kamu gak pusing berkunang-kunang karena hanya makan mie instan,” ujar Amel dengan tersenyum.


“Makasih, ya. Kamu memang sahabat aku yang terbaik.” Sifa pun memeluk sang sahabat baiknya itu.


“Sama-sama,” jawab Amel sambil mengusap punggung Sifa.

__ADS_1


“Ah ya, jadi siapa yang sudah merebut Mas Abash mu itu dari kamu?” tanya Amel penasaran.


Sifa pun menghela napasnya dengan pelan dan kasar. “Siapa lagi kalau bukan si Putri,” cicit Sifa dengan kesal.


Seketika senyuman licik pun terbit di wajah Amel. “Oh ya, kenapa lagi dia?” tanya Amel sengaja memancing emosi Sifa.


“Hmm, kamu tau gak sih, Mel. Mas Abash kan semalam kecelakaan, terus si Putri malah pelukan sama Mas Abash di ruangan. Kalau gak ada apa-apa, kenapa mereka bisa pelukan coba?” kesal Sifa tanpa sadar mengungkapkan rasa kesalnya kepada Amel.


“Apa? Pak Abash kecelakaan? Kenapa?” tanya Amel terkejut.


Mendengar suara Amel yang sedikit berteriak kepadanya, membuat Sifa tersadar dengan ucapannya. Gadis itu pun mengerjapkan matanya cepat. Seharusnya dia tidak perlu memberitahu kepada siapa pun tentang Abash yang masuk ke dalam rumah sakit karena mengalami kecelakaan. Siapa pun orangnya.


“I-itu …”


“Pak Abash kenapa, Fa?” tanya Amel mendesak gadis itu.


Sifa pun menghela napasnya dengan pelan. “Hmm, sebenarnya aku gak boleh kasih tau ini kepada orang lain. Tapi—.”


“Kamu meragukan aku?” tanya Amel yang mana di jawab gelengan dengan Sifa.


“Aku gak akan bilang ke siapa-siapa, Fa. Katakan, Pak Abash kenapa?” tanya Amel kembali mencoba mendesak Sifa untuk berkata jujur.


“Pak Abash kecelakaan mobil tadi malam,” jawab Sifa dengan mata yang berkaca-kaca.


“Astaghfirullah, bagaimana bisa?” tanya Amel khawatir.


“Haah, itu juga yang aku gak tau, Mel. Namanya juga sudah naas,” jawab Sifa sambil menundukkan wajahnya.


“Kamu gak jenguk Pak Abash?” tanya Amel lagi.


“Semalam aku udah jenguk, tapi yaitu ….”


“Kenapa?” tanya Amel penasaran. “Jangan bilang kamu di usir sama keluarga Pak Abash?” tebak Amel yang berharap apa yang gadis itu pikirkan adalah benar.


“Bukan, tapi—.”


“Tapi apa, Fa?” tanya Amel gak sabaran.


Sifa lagi-lagi menghela napasnya denga berat dan kasar, sehingga membuat Amel merasa sedikit kesal menunggu jawaban dari gadis itu.


“Hmm, aku melihat Putri memeluk Mas Abash di ruang inap beliau,” cicit Sifa yang mana membuat Amel membelalakkan matanya.


Rasa kecewa terhadap dugaannya yang salah pun, akhirnya terbalaskan dengan kenyataan di mana Sifa melihat dengan kepala sendiri jika Abash bersama dengan gadis lain. Hal itu membuat Amel merasa puas, karena Sifa akhirnya juga merasakan apa yang dia rasakan.


Tangan Amel pun terulur untuk mengusap punggung sang sahabat untuk menguatkannya.


“Kamu yang sabar, ya, Fa,” ujar Amel dengan tersenyum licik.


Lagi, sifa kembali menghela napasnya dengan berat. Harus bersabar seluas apa lagi yang harus Sifa siapkan untuk berhadapan dengan Putri. Selama ini Sifa memang terkenal sebagai gadis penyabar. Bahkan, jika ada orang yang membully nya sekali pun, itu bukanlah hal yang bisa membangkitkan amarahnya. 


Tapi, saat Putri bersama dengan Abash, emosi Sifa pun naik ke permukaan, sehingga membuat gadis itu sering merasa lelah dengan pikiran dan perasaannya. Bahkan, rasa takut untuk kehilangan Abash pun semakin besar di rasakan oleh gadis itu.


Apakah Sifa memang benar-benar sudah jatuhu terlalu dalam dengan pesona Abash? Sehingga membuat gadis itu merasa tak sanggup untuk kehilangan sang kekasih?


“Fa, kalau lo butuh bantuan untuk memberikan pelajaran kepada Putri. Aku siap kok membantu kamu. Kamu tinggal bilang, apa yang ingin kamu lakukan untuk memberikan pelajaran kepada Putri,” bisik Amel yang mana membuat Sifa menoleh ke arahnya.


“Apa boleh aku memberikan pelajaran untuk Putri?” tanya Sifa merasa ragu.

__ADS_1


“Kenapa tidak? Putri sudah merebut apa yang seharusnya menjadi milik kamu. Jadi, gak ada salahnya jika kamu memberikan sedikit pelajaran untuknya,” ujar Amel mencoba memperngaruhi Sifa.


Sifa pun terlihat berpikir dengan apa yang di katakan oleh Amel. Haruskah dia memberikan sedikit pelajaran kepada Putri?


__ADS_2