Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 122 - jalur Doa


__ADS_3

"Terima kasih," ujar Putri dengan pelan.


"Untuk?" tanya Arash.


"Karena sudah menyelamatkan saya."


Arash pun menoleh ke arah Putri, hingga gadis itu menghentikan langkahnya dan membalas tatapan mata pria itu.


"Jika keluarga saya meminta kepada Anda untuk bertanggung jawab, atas apa yang terjadi di dalam lift, maka Anda tidak perlu melakukannya," ujar Putri, gadis itu pun menarik napasnya dengan pelan dan membuangnya secara perlahan. "lagai pula, di antara kita tidak ada yang terjadi apa pun, kan? Anda hanya menyelamatkan saya, itu saja."


Hening, Arash pun membuang napasnya secara perlahan. "Baiklah," jawab Arash.


"Hmm." Putri pun kembali melanjutkan lanagkahnya, sehingga membuat Arash ikut melanjutkan langkahnya.


Di sudut lain, Mama Kesya dan Mama Nayna pun memandanga ke arah dua anak manusia yang memakai pakaian rumah sakit, berjalan sambil bergandengan tangan.


"Serasi sekali ya, Mbak," ujar Mama Kesya.


"Iya," jawab Mama Nayna dengan tersenyum. "Hah, Andai saja mereka memiliki hubungan yang serius," hela Mama Nayna.


"Gimana kalau kita jodohi aja, Mbak?" usul Mama Kesya.


Mama Nayna pun menoleh ke arah Mama Kesya, kemudian wanita paruh baya itu menggelengkan kepalanya.


"Tidaka, saya tidak mau menjodohkan anak-anak. Biarlah mereka mencari jodohnya sendiri. Lagi pula, umur mereka masih sangat terlalu muda. Juga, Papa anak-anak memang sudah menegaskan untuk tidak ada perjodohan dalam kehidupan mereka," ujar Mama Nayna.


"Oh ya? Kenapa?" tanya Mama Kesya penasaran.


"Cukup papa-nya aja yang mengalami namanya penjodohan tanpa cinta," ujar Mama Nayna dengan menatap jauh ke arah Putri.


"Maaf, saya tidak tau kalau Mbak dan Mas--,"


"Tidak apa-apa, sebaiknya kita lupakan saja pembicaraan ini ya," usul Mama Nayna.


"Iya, Mbak," jawab Mama Kesya dengan merasa bersalah.


"Tapi, jika kamu memang ingin anak kita berjodoh," bisik Mama Nayna. "Saya punya ide."


"Ide? Ide apa?" tanya Mama Kesya penasaran.

__ADS_1


"Kita minta mereka berjodoh, lewat jalur doa," kekeh Mama Nayna yang langsung di angguki oleh Mama Kesya.


"Iya, Mbak bener. Biar lebih manjur ya."


Dua wanita paruh baya itu pun terkekeh bersama, sehingga tidak menyadari kehadiran Putri dan Arash.


"Mama dan Tante kenapa?" tanya Putri yang mana membuat Mama Nayna dan Mama Kesya menoleh ke arah sumber suara.


"Loh, kalian berdua?" ujar Mama Nayna sambil menunjuk ke arah tangan Putri.


Putri dan Arash pun mengikuti arah tunjuk tangan Mama Nayna, di mana Putri sedang merangkul lengan Arash.


"Ah, ini. Tadi Pak Arash membantu Putri berjalan ke kamar mandi," ujar Putri dan melepasan pegangan tangannya.


"Oh begitu," lirih Mama Nayna.


"Hmm, kirain bantu Putri tunjuki jalan ke KUA," kekeh Mama Keysa yang mana membuat Arash menggelengkan kepalanya.


"Putri dan Arash lapar?" tanya Mama Nayna.


"Iya, Ma. Putri lapar," jawab Putri.


"Ya sudah kalau gitu, Mama telpon papa dulu ya, suruh bawa makanan untuk kalian," ujar Mamam Nayna.


"Gak tau, Ma. Saat Putri bangun, Bara gak ada di samping Putri," jelas Putri.


"Tumben?"


"Tadi saya lihat, Bara sedang menerima telepon dan keluar dari IGD," ujar Arash.


"Ooh, ya sudah kalau begitu. Hmm, mau Mama bantu jalan ke bed?" tawar Mama Nayna yang langsung di angguki oleh Putri.


Mama Kesya, Mama Nayna, Putri dan Arash pun kembali menuju bed mereka masing-masing.


"Eh tunggu, perasaan tadi Mbak Nayna bilang gak mau ada perjodohan, cukup suaminya aja yang di jodohi. Apa mereka menikah tanpa cinta?" batin Mama Kesya yang melihat betapa miripnya Nayna dan Putri.


*


Abash dan Sifa berjalan menuju lift dengan tangan yang saling bergandengan. Sedari tadi, di wajah mereka tak lepas senyuman yang begitu menghiasi wajah keduanya.

__ADS_1


Ting ....


Pintu lift pun terbuka, Abash pun mempersilahkan Sifa untuk masuk ke dalam lift.


"Kenapa Bapak terus senyum-senyum melihat saya?" tanya Sifa dengan malu-malu.


"Kenapa memangnya? Emangnya ada yang salah mandangi pacar sendiri?" ujar Abash yang mana membuat wajah Sifa pun merona.


"Dih, baapk udah pinter ngegombal sekarang ya," Sifa pun memukul pelan lengan Abash dengan malu-malu.


"Siapa yang ngegombal? Habisnya kamu saya ajak nikah, malah gak mau," ujar Abash dengan sedikit cemberut.


"Bukan gak mau, Pak. Tapi, saya kan masih kuliah," lirih Sifa. "Lagi pula, saya masih ingin fokus ke karir saya dulu," sambung gadis itu dengan menundukkan kepalanya.


"Iya, saya ngerti kok. Tapi kan, sebenarnya gak masalah kok bagi saya, kalaua kamu sudah menjadi istri saya, terus kamu mau melanjutkan kuliahnya. Saya gak masalah. Bahkan, kuliah kamu bisa saya yang biayain. Seperti yang saya katakan tadi."


"Eh, gak mau ah. Saya gak mau Bapak biayain kulilah saya. Saya masih mampu untuk membiayai biaya kuliah saya kok," tolak Sfa. "Lagi pula, saya suka sama Bapak, bukan karena latar belakang Bapak. Tapi, ya karena saya udah jatuh cinta aja dengan pesona bapak," ujar Sifa dengan malu-malu.


"Sejak kapan?" tanya Abash penasaran.


"Emm, sejak kapan ya? Saya juga gak tau, Pak," jawab Sifa.


"Masa sih, kamu gak ingat sejak kapan kamu suka saya?" tanya Abash.


"Ya saya gak tau, Pak. Tiba-tiba aja perasaan itu muncul sendiri," cibir Sifa. "Sekarang saya tanya, Bapaka kapan mulai tertarik dengan saya?" tanya Sifa.


"Sejak kamu cium saya di kamar," jawab Abash.


"Apa? Kapan saya cium Bapak di kamar?" tanya Sifa yang tak merasa pernah mencium bos yang sudah menjadi pacarnya itu di dalam kamar.


"Saat kamu jatuh dari kursi dan menimpa saya. Sejak saat itu, saya mulai menyadari perasaan saya ke kamu. Tapi, saya mencoba untuk menolak perasaan itu, karena saya takut, jika kamu tidak menyukai saya," jawab Abash.


"Oh, sejak itu," lirih Sifa dengan wajah merona.


"Hmm, sejak itu," bisik Abash.


"Ih, Bapak. Jangan dekat-dekat, ada cctv," bisik Sifa yang mana membuat Abash terkekeh pelan.


Ya, Sifa memang menolak untuk di ajak menikah dengan Abash. Karena gadis itu masih ingin melanjutkan kuliah dan juga berkarir di bidang yang dia geluti saat inni.

__ADS_1


Sifa tidak mau, jika dia menerima Abash saat ini, maka orang-orang akan menuduhnya hanya memanfaat kekayaan pria itu saja. Tidak, Sifa tidak mau hal itu terjadi. Untuk itu, Sifa menolak memiliki hubungan dengan bosnya itu, walaupun dia mencintai pria itu.


Akan tetapi, Abash yang keras kepala pun, memaksa Sifa untuk menjadi pacarnya, hingga Sifa pun terpaksa menyetujui permintaan Abash dengan beberapa syarat, yaitu menyembunyikan hubungan mereka saat ini, sampai gadis itu benar-benar siap mengungkapkan hubungan mereka berdua.


__ADS_2