
"Aaakhhh ....."
Putri berteriak di saat melihat penampilannya. Semalam dia lupa mencuci wajahnya saat baru tiba di apartemen, di tambah lagi gadis itu menangisi nasibnya yang sungguh memalukan. Sehingga membuat eyeliner yang belum sempat gadis itu bersihkan, belepotan ke seluruh matanya. Jadilah matanya mirip seperti mata panda.
"Putriiiiii ... habis sudah harga diri kamu!" lirih Putri sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
Dengan langkah yang gontai, gadis itu berjalan menuju ke dapur untuk mencuci celananya yang kotor.
*
Arash sudah bersiap untuk menarik ojek online, dengan penampilannya yang jauh berbeda dari biasanya.
Saat pria itu keluar dari apartemen, bersamaan juga dengan Putri yang keluar dari apartemen.
"Sial, kenapa harus ketemu dia, sih? Padahal aku sengaja berangkat cepat," batin Putri.
"Mau berangkat kerja?" sapa Arash dengan tersenyum lebar.
"Hmm," jawab Putri tanpa ingin menatap wajah Arash.
Gadis itu masih merasa malu dengan kejadian tadi malam dan juga subuh ini. Arash dan Putri pun berdiri berdampingan di depan pintu lift.
"Rasa pingin naik tangga aja," batin Putri.
Ting ...
Pintu lift terbuka, Arash pun mempersilahkan Putri untuk masuk ke dalam lift, barulah dia masuk.
Tak ada pembicaraan di antara mereka berdua. Arash memaklumi jika gadis yang sedang berdiri di sebelahnya itu sedang malu dengan kejadian yang menimpanya.
__ADS_1
Putri terus menggerutu di dalam hati, karena merasa pergerakan lift saat ini terasa begitu lama.
Ting ...
Saat pintu lift terbuka, bergegas Putri keluar dari lift, sehingga membuat gadis itu menjatuhkan tas laptop yang di jinjingnya saat ini bersamaan dengan beberapa map.
"Sial," gumam Putri pelan dan memungut barangnya.
"Ayo," ajak Arash yang ternyata sudah duluan memungut laptop Putri dan berkasnya.
"Ke mana?" tanya Putri bengong.
"Aku antar ke kantor. Kali ini gratis," ujar Arash sambil tersenyum dan berjalan di depan Putri.
"Eh, saya bisa pergi sendiri," ujar Putri sambil berjalan mengejar Arash.
Sebenarnya gadis itu merasa bingung, apa hubungannya dengan dirinya mau di antar ke kantor atau tidak, dengan pendapat Mama Kesya.
"Ayo," ajak Arash lagi yang mana mengambil atensi Putri.
"Kenapa kamu suka maksa, sih?" lirih Putri sambil mengambil helm yang di ulurkan oleh Arash.
"Karena keluarga kita rekan kerja, dan juga keluarga kita saling mengenal satu sama lain. Jadi, sudah seharusnya saya memberikan tumpangan ke kamu," ujar Arash.
"Ah, ternyata itu alasannya," lirih Putri.
"Ayo," ajak Arash lagi yang kali ini di turuti oleh Putri.
Putri memakai helmnya dan berusaha mengancing pengait helm. Lagi-lagi gadis itu terlihat kesusahan.
__ADS_1
"Mau aku bantu?" tawar Arash.
"Boleh," jawab Putri pelan mendekat ke arah Arash.
"Sudah," ujarnya sehingga membuat Putri naik ke atas motor.
Saat di perjalanan, tak ada percakapan yang terjadi. Putri menikmati udara pagi yang menghembus kulit wajahnya.
Ciiiitttt .....
Tiba-tiba Arash mengerem mendadak, di saat ada pemotor lain yang menyelip mereka, sehingga membuat tubuh Putri meluncur ke depan dan menempel di punggung Arash.
Arash menelan ludahnya dengan kasar, di saat merasakan sesuatu yang empuk menubruk punggungnya.
"Anda sengaja?" kesal Putri.
"Ti-tidak," jawab Arash dengan gugup.
"Dasar mesum," kesal Putri dan turun dari motor.
"Eh, tunggu, aku bisa jelasin," ujar Arash berusaha menenangkan kemarahan Putri.
"Anda ini benar-benar nyebelin, ya," pekik Putri dengan tertahan, bahkan wajahnya saat ini sudah memerah.
"Bukan gitu, tadi ada yang menyelip kita," ujar Arash.
"Alasan," cibir Putri dan mengambil tas laptop yang di gantung oleh Arash di gantungan motornya.
"Put, maaf," ujar Arash yang sudah menahan lengan Putri.
__ADS_1