
Berita pertunangan Abash dan Sifa pun tersebar di seluruh penjuru siaran berita di televisi dan juga internet. Sifa yang berasa dari kalangan biasa, di juluki sebagai cinderella yang masa kini. Namun, tak sedikit juga yang mengatakan jika Sifa sengaja menggoda mantan bosnya itu. Bahkan ada yang terang-terangan memberikan komentar, jika Sifa sengaja memakai guna-guna untuk menaklukkan bosnya.
Hal ini sebelumnya sudah di wanti-wanti oleh Mama Kesya, sehingga membuat wanita paruh baya itu pun menyuruh calon menantunya untuk menutup mata, telinga, dan harus kebal akan ceriwisan komentar-komentar netizen yang taunya hanya mencibir kehidupan orang lain saja, tanpa ingin berkaca kepada dirinya. Seolah kehidupan mereka sudah sangat benar.
"Kamu baik-baik aja, kan?" Abash bertanya kepada calon tunangannya itu melalui panggilan video.
"Iya, Mas. Aku baik-baik aja." Sifa tersenyum dengan manis, seolah mengatakan jika dirinya memang baik-baik saja akan berita yang sedang tersebar saat ini.
Padahal kenyataannya Sifa tidak sekuat yang terlihat. Ada rasa minder dan tersentil di dalam hatinya, saat orang-orang mengatakan jika dirinya hanya memanfaatkan kecantikan dan kepolosan dirinya yang terlihat, padahal dia tidak sepolos itu.
Apalagi sampai ada yang menjuluki jika dirinya adalah dukun polos. Tak sedikit pula yang bertanya, di mana Sifa mendapatkan sesajen untuk memikat Abash. Pria tampan idaman sejuta umat wanita.
Tapi, semua itu harus Sifa terima, kan? Karena sudah menjadi resiko yang harus dia tanggung sebagian calon tunangan atau istri dari anak kolongmerat yang mungkin hartanya tidak akan habis jika sampai tujuh. Salah turunan sekalipun.
__ADS_1
Abash tahu, jika saat ini Sifa hanya mencoba untuk tegar dan tidak membuatnya merasa khawatir. Untuk itu, Abash memilih untuk diam dan mempercayai perkataan calon tunangannya itu.
Ah ya, jika kalian bertanya, kenapa Abash dan Sifa memilih bertunangan dari pada langsung melaksanakan pernikahan?
Jawabannya adalah karena Sifa harus melanjutkan studinya ke luar negeri. Dan juga, gadis itu sudah menandatangi kontrak untuk bersedia tidak menikah selama tiga tahun, sejak dia bergabung ke dalam tim Cobra.
"Apa kamu sudah makan?" tanya Abash mengalihkan perhatian dan pikiran Putri.
Amel tidak mendengar apa yang Sifa dan Abash bicarakan, karena dia saat ini menggunakan headset untuk menjaga privasi Sifa yang sedang berbincang sedang calon tunangannya itu.
"Rajin amat dia?" kekeh Abash.
Berhubung sebentar lagi Amel akan menyusul Sifa untuk mendapatkan gelas sarjananya, untuk itu Amel sering meminta bantu Sifa untuk mengajarinya banyak hal. Persahabatan Sifa dan Amel pun sudah kembali seperti semula, seolah tak pernah ada selisih paham di antara mereka. Walaupun Tuan Albert masih tidak terima dengan keputusan yang telah di buat oleh Amel–putrinya sendiri, di mana ingin berdamai dengan Sifa dan melupakan ambisinya untuk mendapatkan Abash.
__ADS_1
Bagi Amel, sudah di terima di perusahaan Abash saja, gadis itu sudah sangat beruntung sekali, karena banyak ilmu yang bisa dia pelajari. Dan juga, mendapatkan maaf dari Sifa, adalah sebuah kesempatan kedua yang tidak akan pernah terulang kembali. Ibarat kata, Amel seolah kembali dapat merasakan segarnya air di tengah Padang pasir yang luas dan panas.
"Ya sudah kalau gitu, jangan lupa istirahat yaa. Karena nanti malam akan menjadi salah satu malam bersejarah bagi kita," ujar Abash yang ingin mengakhiri panggilannya.
"Iya, Mas. Kamu juga ya, jangan lupa makan dan istirahat."
Panggilan pun berakhir, Sifa kembali meletakkan ponselnya ke atas meja. Gadis itu mengernyitkan kening, di saat melihat Amel terlihat serius dalam membalas pesan dengan seseorang.
Merasa penasaran, Sifa pun mengintip ke layar laptop yang sedang di gunakan oleh Amel. Terihat laman sebuah aplikasi pesan singkat yang berwarna hijau.
"Kamu lagi dekat sama Mas Bimo?" tanya Sifa yang mana membuat Amel terkejut dan menoleh ke arahnya.
"Sifaaaa …." rengek Amel dengan wajah yang merona.
__ADS_1