
Zia melihat pergerakan Jimi yang mencurigakan, di saat tangan pria itu terus saja merogoh ke arah karung goni yang pria itu bawa. Benar saja dugaan gadis itu, jika pastinya Jimi ingin mengeluarkan benda tajam dan mengarahkannya ke arah Abash.
Zia tidak sempat memberikan kode kepada Abash, hingga gadis itu memilih untuk mendorong tubuh Abash menjauh dari Jimi. Namun sialnya, kaki Zia malah tersandung batu kerikil dan membuatnya terjatuh di dalam pelukan Abash. Saat Zia terjatuh di dalam pelukan Abash, pria itu langsung memutar badan Zia, untuk menghindari tusukan pisau yang di arahkan oleh Jimi. Tapi sayangnya pergerakan Abash kalah cepat dari Jimi, sehingga membuat pisau yang ada di tangan pria itu menancap di pinggang Zia.
Andai saja Abash tidak memutar sedikit tubuh Zia. Mungkin luka yang di dapat oleh gadis itu akan sangat fatal dan mengenai organ dalam tubuhnya.
"Mbak, tolong jangan hubungi papa, ya?" mohon Zia kepada Putri.
Terlambat.
Memang Putri tidak menghubungi Papa Satria dan Mama Nayna, akan tetapi Arash sudah duluan menghubungi mertuanya itu, jika Zia masuk ke rumah sakit karena mengalami kecelakaan.
Ya, Arash hanya mengatakan jika Zia mengalami kecelakaan.
"Tapi kenapa?" tanya Putri dengan kening mengkerut.
"Aku gak mau Mama dan Papa merasa khawatir, Mbak. Lagi pula, ini salahku yang tidak langsung pulang ke Bandung untuk menemui mereka. Aku lebih memilih untuk menemui kamu dulu, Mbak," ujar Zia dengan memohon kepada sang kakak.
"Kamu sudah dewasa ya, Zia. Dulu saja, kalau ada luka sedikit, pasti kamu langsung mencari perhatian semua orang. Tapi sekarang, kamu malah tidak ingin membuat semua orang merasa khawatir." Putri mengusap air matanya dan tersenyum kepada sang adik.
"Janji ya, Mbak, untuk tidak menghubungi papa dan mama," pinta Zia lagi.
"Baiklah, tapi Mbak tetap harus memberitahukan kabar ini kepada Bara," ucap Putri.
"Tapi, Mbak---"
"Gak ada tapi. Bara harus tahu kondisi kamu sekarang, Dek."
"Mbak, Mas Bara banyak kerjaan. Aku gak mau mengganggu konsentrasi pekerjaannya, Mbak."
"Baiklah kalau begitu, kamu tinggal pilih saja. Mau Mbak menghubungi Bara atau Papa?" ujar Putri memberikan pilihan kepada sang adik.
Ya, setidaknya Zia butuh seseorang yang dapat menemaninya di rumah sakit. Sebenarnya Putri sangat ingin sekali menemani Zia di rumah sakit. Akan tetapi, readers tahu sendiri kan bagaimana kondisi Putri saat ini? Lagi pula, mana mungkin Arash akan memberikan izin kepadanya untuk menginap di rumah sakit.
__ADS_1
"Hmm, baiklah, aku tidak punya pilihan lain," ujar Zia dengan bibir yan mengerucut ke depan.
"Bara? Atau Papa?" tanya Putri lagi.
"Mas Bara."
Saat bersamaan, Papa Satria dan Mama Nayna pun masuk ke dalam ruang tindakan.
"Sayang." Mama Nayna langsung berlari menghampiri si bungsu.
Zia mengernyitkan keningnya menatap sang kakak. Putri mengendikkan bahunya pelan, seolah mengatakan jika bukan dirinya yang menghubungi Mama Nayna dan papa Satria.
"Kamu gak papa, sayang?" tanya Mama Nayna dengan mata yang sudah sangat basah.
"Ya, Zia gak papa, Ma." Zia pun merelai pelukannya dengan sang mama. "Mama dari mana tau jika Zia berada di rumah sakit?" tanyanya merasa penasaran.
"Tadi Arash yang menghubungi. Kebetulan sekali Papa dan Mama sedang berada di Jakarta hari ini," jawab Mama Nayna. "Lagian, kamu kembali ke Jakarta kok gak kasih kabar, sih?" rajuk Mama Nayna.
"Maaf, Ma. Tadinya Zia cuma mau kasih kejutan spesial buat Mbak Putri aja," ujar Zia sambil menarik tangan sang mama dan memeluknya.
Mama Nayna menghela napasnya dengan pelan. "Tentu saja. Tapi, lain kali jangan di ulangi lagi, ya?" ujar Mama Nayna yang diangguki oleh Zia.
Papa Satria mendekat ke arah sang putri dan memberikan ciuman hangat di pucuk kepala Zia.
"Papa dan Mama sayang sama kamu, Zia," bisik Papa Satria yang mana membuat Zia merasa bersalah.
*
"Jadi, malam ini kamu gak bisa bertemu dengan seseorang itu, dong?" goda Putri.
"Gak papa, Mbak. Lagi pula tidak terlalu penting kali juga kok."
"Yakin gak penting?" tanya Putri memastikan.
__ADS_1
"Iya, Mbak. Gak penting kok."
Zia tersenyum, berusaha agar sang kakak mempercayai semua perkataannya. Ya, walaupun apa yang dikatakan oleh Zia memang benar. Jika pertemuannya dengan seseorang malam ini tidaklah terlalu penting. Hanya teman lama yang ingin melepas rindu saja. Tapi, berhubung Zia tidak hadir, mungkin dia akan dikatakan sebagai orang yang telah mengingkari janjinya.
Arash masuk ke dalam ruang inap Zia, di belakang pria itu ada Abash dan Sifa. Ya, gadis itu sudah dipindahkan ke ruang inapnya sendiri yang lebih nyaman.
"Bagaimana keadaan kamu, Zia?" tanya Abash merasa khawatir dan juga berterima kasih.
"Baik, Mas. Aku gak papa kok."
"Syukurlah," ujar Abash dengan lirih. "Lain kali jangan melakukan hal itu, Zia. Itu sangat berbahaya," tegur Abash.
"Sebenarnya aku hanya ingin mendorong tubuh Mas aja agar menjauh dari pria itu. Eh, malah kaki aku yang tersandung batu," kekeh Zia.
"Walau bagaimana pun dan apa pun alasannya, tetap saja kamu jangan melakukan hal itu lagi."
Ya, Abash dan Arash sudah melihat hasil rekaman saat Jimi ingin menusukkan pisau ke arah Abash. Saat itu terlihat Zia berlari hingga kakinya tersandung dan membuat tubuhnya jatuh ke dalam pelukan Abash. Awalnya Arash sempat berpikir, jika Zia sengaja ingin memeluk Abash untuk menyelamatkan pria itu. Arash menebak jika Zia memiliki hati kepada Abash, karena sudah beberapa kali pria itu melihat Zia dan Abash terlihat bersama.
Dari cara Zia menatap mata Abash, siapa saja bisa menduga jika gadis itu menyukai pria itu. Padahal, sedikit pun Zia tidak memiliki rasa terhadap Abash. Hanya saja, garis mata Abash membuat Zia teringat akan seseorang yang telah memberikannya sapu tangan. Untuk itulah, saat bersama Abash, Zia selalu menatap mata pria itu.
Pernah sekali Zia mencoba menatap mata Arash, akan tetapi gadis itu tidak mendapatkan garis pandangan mata yang teduh, yang pernah dia lihat dulu. Karena merasa jika Abash dan Arash bukanlah si pemilik sapu tangan, Zia pun membawar seseorang untuk menyelidiki siapa si pemilik sapu tangan dengan ukiran yang spesial.
Zia mencari pria itu karena ingin mengembalikan sapu tangan tersebut. Dan juga, ingin mengakhiri rasa penasarannya dari siapa si pemilik sapu tangan itu.
"Tapi Zia, aku juga ingin berterima kasih kepada kamu, karena telah menyelamatkan aku," ujar Abash dengan bersungguh-sungguh.
"Iya, Mas. Bukan masalah besar, kok," jawab Zia.
"Oh ya, tadi ini terjatuh di dalam mobil aku," ujar Abash sambil memberikan beberapa barang Zia yang ada di dalam tas dan terjatuh di dalam mobilnya. Termasuk sapu tangan yang Zia simpan selama ini.
Zia mengambil paper bag yang diberikan oleh Abash, kemudian gadis itu memeriksa isi yang ada di dalamnya.
Hal pertama yang Zia keluarkan adalah sapu tangan dengan ukiran spesial di bagian sisinya. Melihat ekspresi Abash yang terlihat biasa saja, gadis itu menebak jika bukan Abash-lah si pemilik sapu tangan tersebut. Zia tersenyum kecil, gadis itu pun menyimpan kembali sapu tangan yang ada di tangannya ke dalam papar bag.
__ADS_1
Tanpa Zia sadari, jika saat ini Arash sudah menatap gadis itu dengan tajam.
"Aku harus mengambil sapu tangan itu dan membuangnya," batin Arash.