Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 418


__ADS_3

Abash sedang membayar menu makanan yang sudah mereka nikmati, sedangkan Arash menemani Putri untuk kembali ke dalam mobil bersama dengan Zia dan Sifa.


"Jadi ini beneran kamu gak mau kasih tau, siapa orang yang akan kamu temui nanti malam?" tanya Putri sekali lagi.


Zia tidak lagi naik satu mobil dengan Arash dan Putri, karena gadis itu sudah memesan taksi online untuk menuju ke tempat tujuannya selanjutnya.


"Ada masanya aku akan cerita, Mbak," sahut Zia dengan tersenyum.


"Hmm, baiklah kalau begitu." Putri pun akhirnya pasrah dengan keputusan sang adik.


"Sifaa ..." lirih seroang pria yang membawa karung goni berwarna putih di punggungnya.


Dapat dilihat jika isi dari karung goni itu adalah barang-barang bekas, seperti botol minuman bekas dan juga kertas karton bekas.


Sifa, Zia, Putri, dan Arash pun menoleh ke arah sumber suara.


"Kamu kenal, Fa?" tanya Putri yang di jawab gelengan pelan oleh Sifa.


"Aku gak kenal, tapi---" Sifa mengernyitkan keningnya, di saat merasa tak asing dengan wajah pria pemulung tersebut.


"Sifa, ini aku. Jimi," seru pria itu yang semakin berjalan mendekat ke arah Sifa.


Arash langsung berdiri di depan tiga wanita yang ada di dekatnya saat ini, dia siap menjadi pagar pelindung bagi tiga wanita yang ada bersamanya, terutama Putri yang sedang mengandung buah cintanya.

__ADS_1


"Siapa kamu?" tanya Arash.


"Kau ... Kau orang yang sudah membuat aku seperti ini. Apa kau tidak mengingatnya?" ujar pria itu dengan penuh kebencian saat melihat Arash.


"Aku?" Arash mengernyitkan keningnya, dia berusaha mengingat pria yang ada di hadapannya saat ini.


"Aku tidak mengenalmu," tegas Arash.


"Dasar orang kaya sombong. Setelah kau membuat aku begini, kau malah mengatakan jika tidak mengenalku?" geram Jimi.


"Aku memang tidak mengenalmu," sahut Arash lagi.


"Sifa, aku tau aku banyak salah denganmu dulu. Tapi, aku mohon, tolong katakan kepada suamimu ini untuk mengembalikan semua nama baikku," pinta Jimi.


"Apa maksud dari perkataan dia, Sifa?" tanya Arash yang sudah menoleh ke arah iparnya itu.


Suaminya telah mengambil nama baik Jimi? Apa itu maksudnya Abash sudah merusak nama baik dari mantan kakak letingnya itu?


"Kamu mengenalnya? Siapa dia?" tanya Arash kepada Sifa.


"Dia adalah kakak kelasku saat di kampus. Tapi, aku benar-benar tidak mengerti apa yang dimaksud oleh perkataannya barusan. Apakah Mas Abash merusak nama baiknya? Tapi untuk apa? Karena apa?" tanya Sifa kepada Arash.


"Karena suamimu ingin membalas semua perbuatan yang sudah aku perbuat kepada kamu, Sifa," sahut Jimi.

__ADS_1


"Sifa, aku mohon, tolong kamu kembalikan nama baikku. Aku butuh pekerjaan yang baik untuk menghidupi keluargaku, Sifa," pinta Jimi.


"Ini semua karena ulah dari perbuatan suamimu yang kaya itu. Sehingga membuat aku kehilangan semua pekerjaanku. Aku minta kepada kamu, Sifa, untuk kembalikan nama baikku," geram Jimi.


"Atau aku akan membalas semua perbuatan kalian kepadaku. Aku akan menyumpahi kehidupan kalian yang enak saat ini, aku bersumpah, jika suatu saat nanti kehidupan kalian akan semenderita aku. Bahkan lebih menderita lagi," geram Jimi.


"Astaghfirullah. Jaga omongan anda, Pak. Jangan suka menyumpahi orang," tegur Putri yang merasa geran mendengar perkataan Jimi untuk Sifa.


"Aku hanya ingin nama baik dan pekerjaanku kembali. Dan juga, kalian harus ganti rugi atas apa yang telah aku alami selama beberapa bulan ini," ujar Jimi menatap Sifa dengan penuh kebencian.


"Apa yang sudah anda tanam, itulah yang anda petik." Suara bariton Abash pun mengambil alih perhatian Sifa, Zia, Putri, Arash, dan Jimi.


"Kau?" Jimi merasa bingung, pria itu melihat dua orang yang sangat mirip sekali.


Jimi sendiri merasa kebingungan, karena dia tidak tahu yang mana suami Sifa saat ini. Pisau yang ada di tangan pria itu itu pun, kembali dia sembunyikan. Padahal, Jimi sudah bersiap untuk menusukkan pisau yang ada ditangannya ke arah pria yang ada di dekat Sifa saat ini.


Tapi, melihat ada dua pria yang berwajah sama, membuat Jimi merasa bingung harus menusukkan pisau itu ke arah siapa.


"Siapa kau?" tanya Jimi menatap ke arah Abash.


"Akulah suami Sifa. Orang yang sudah membaut hidupmu seperti saat ini," sahut Abash dan berjalan mendekat ke arah Jimi.


Ah, ternyata nasib baik sedang berpihak kepada Jimi. Di saat kebingungan sedang melanda dirinya, Abash langsung memberitahu siapa identitas pria itu sebenarnya. Dan satu hal lagi, Jimi tidak perlu mendekat ke arah Abash, karena pria itu sendiri yang mendekat ke arahnya.

__ADS_1


"Aku sumpahi, jika kau akan hidup menderita sepertiku." pekik Jimi dan langsung menusukkan pisau ke perut Abash.


Akkhh ....


__ADS_2