
"Enak banget ini capcaynya, siapa yang masak, Tante?" tanya Bang Fatih kepada Mama Nayna.
"Sifa yang masak," jawab Mama Nayna.
"Waah, memang masakan kamu gak ada duanya ya, Fa," puji Bang Fatih.
"Bisa aja, Bang Fatih. Mbak Raysa kan masakannya juga enak," ucap Sifa sambil tersenyum.
"Oh jelas, selalu nomor satu," sahut Bang Fatih. "Kalau di depan Layca ya, kalau di belakang layca mah, tetap masakan Bunda dan Mami Vina yang nomor satu," kekeh Bang Fatih yang mana membuat Sifa menggelengkan kepalanya.
"Awas loh, Bang, Mbak Raysa-nya denger," goda Sifa.
"Sstt … jangan bilang-bilang dia, ya," pinta Bang Fatih sambil mengedipkan matanya sebelah.
Sifa kembali menggelengkan kepalanya, kemudian dia menoleh ke arah sang suami. "Masakan aku nomor brapa, Mas?" bisik Sifa kepada Abash.
"Nomor satu," jawab Abash dengan berbisik pula.
"Yang bener?" tanya Sifa sambil memicingkan matanya.
"Iya, beneran, nomor satu," jawab Abash lagi. Sifa tersenyum di saat mendengar jawaban suaminya itu.
"Tapi kalau di depan kamu, sayang. Kalau di belakang kamu, masakan Mama yang nomor satu," sambung Abash yang mana membuat Sifa kembali menoleh ke arah sang suami.
Abash tersenyum miring, pria itu pun mengedipkan matanya sebelah karena sudah berhasil menggoda sang istri. Tapi, apa yang di katakan oleh Abash memang benar sih adanya. Menurut Sifa, masakan Mama Kesya, Mami Vina, dan Bunda Sasa memang nomor satu. Karena setiap masakan itu selalu ada ciri khas dari rasanya sendiri, walaupun menu masakannya itu sama.
Zia melihat bagaimana Abash dan Sifa yang terlihat sangat romantis sekali, sehingga membuat sudut hatinya merasa cemburu.
Ya, Zia merasa cemburu, bukan karena dia menyukai Abash, bukan. Akan tetapi, dia merasa cemburu kepada pasangan yang terlihat begitu sempurna. Zia selalu bertanya-tanya, kapan saat itu tiba datang kepadanya?
Zia pun jadi teringat kepada Ibra yang sedang dinas di Papua. Zia tersenyum kecil, di saat pria itu melamarnya. Boleh kan Zia mengatakan jika pada hari itu Ibra datang dan melamarnya.
"Zi, kenapa senyum-senyum?" tegur Mama Nayna yang mana membuat Zia terkejut.
"Hmm? Enggak kok, Ma," bohong Zia dengan wajah yang merona.
"Hayoo, pasti lagi mikirin sesuatu kan? Lagi mikirin apa?" tanya Mama Nayna dengan nada yang menggoda.
"Enggak mikirn apa-apa kok, Ma, beneran."
"Bohong, Tante, pasti lagi mikirin pangeran kodok, iya kan?" goda Bang Fatih yang mana membuat mata Zia membulat sempurna.
"Ih, Bang Fatiih .. mana ada … Siapa juga yang mikirin dia?" kesal Zia sambil memanyunkan bibirnya.
Bang Fatih pun tertawa terbahak-bahak, pria itu sungguh suka menggoda Zia.
"Duh, Mama jadi penasaran deh sama pangeran kodok kamu, Zi," ucap Mama Nayna.
"Ih, Mama! Gak usah penasaran-penasaran deh, seriusan, Ma, beneran. Orangnya itu jelek banget, nyebelin juga. Ntar Mama nyesel kalau udah lihat dia," jawab Zia sambil mencibir.
"Masa sih? Duh, semakin penasaran Mama. Memangnya sejelek apa ya?" tanya Mama Nayna dengan tersenyum menggoda.
"Gampang, Tante, ntar Fatih kenalin," sahut Bang Fatih.
"Iih, Bang Faatiih …" rengek Zia yang lagi-lagi membuat Bang Fatih tertawa.
Sedang asyik bercanda dan bercerita, tiba-tiba saja ponsel Mama Nayna berdering, membuat wanita paruh baya itu pun meraih ponselnya. Mama Nayna bergegas menggeser tombol hijau di saat melihat nama Arash yang tertera di sana.
"Assalamualaikum, Rash?" sapa Mama Nayna saat panggilannya sudah tersambung.
"Walaikumsalam, Ma. Mama di mana?" tanya Arash dengan suara yang terdengar bergetar dan serak.
"Mama di kantornya Fatih. Ada apa, Rash?" tanya Mama Nayna dengan degup jantung yang berdetak sangat cepat sekali.
"Putri … Putri sudah siuman, Ma. Putri sudah sadar."
"Apa?" Mama Nayna pun menjatuhkan sendok yang ada di tangannya, sehingga membuat semua orang yang ada di sana pun merasa penasaran.
"Putri sudah siuman?" tanya Mama Nayna.
Pertanyaan yang baru saja Mama Nayna lontarkan pun, membuat Zia meletakkan sendoknya, gadis itu merasa senang, karena akhirnya sang kakak kembali dari tidur panjangnya.
"Mbak Putri!" gumam Zia dengan mata yang berkaca-kaca.
Sifa pun mengulurkan tangannya, untuk menggenggam tangan Zia, sehingga membuat gadis itu pun menoleh ke arahnya.
"Alhamdulillah, Zi," ucap Sifa. Kalimat yang terdengar sangat melegakan itu pun akhirnya membuat Zia meneteskan air matanya.
"Alhamdulillah."
Kabar baik ini pun membuat Bang Fatih membatalkan rapat lanjutan mereka. Zia harus kembali ke rumah sakit untuk melihat kondisi sang kakak. Untungnya para klien pun dapat memahami keputusan yang telah Bang Fatih buat.
Zia, Mama Nayna, Sifa, dan Abash pun pergi ke rumah sakit setelah mendapatkan kabar baik itu. Akhirnya, keajaiban pun kembali terjadi kepada Putri. Sungguh wanita yang sangat beruntung.
*
Putri menatap bayi mungilnya yang terlihat sangat cantik sekali. Benar apa yang di katakan oleh Arash, jika putrinya itu sangat mirip dengan dirinya. Tidak, Putri merasa jika Yumna tidak mirip dengannya, akan tetapi lebih mirip dengan Zia.
Ya, kemungkinan itu bisa saja terjadi, kan? Secara Zia dan Putri memiliki wajah yang lumayan mirip. Bedanya, Zia lebih terlihat muda, dan pastinya lebih cantik dari Putri. Eh?
"Kamu benar, Mas, kalau putri kita mirip denganku," ujar Putri yang mana membuat Arash mengernyitkan keningnya.
Seingat Arash, pria itu belum mengatakan apa pun tentang putri mereka, selain namanya saja. Saat Putri baru tersadar dari komanya, Putri langsung bertanya tentang keberadaan putrinya. Setelah mendapatkan pemeriksaan, barulah Putri di izinkan untuk melihat bayi yang sudah dia lahirkan dengan mempertaruhkan nyawa.
__ADS_1
"Sayang, dari mana kamu tahu kalau Yumna mirip kamu?" tanya Arash penasaran.
Pria itu memang tidak pernah mengatakan jika Yumna mirip dengan Putri, di saat wanita itu sudah sadarkan diri. Akan tetapi, Arash pernah mengatakan hal tersebut di saat Putri sedang dalam keadaan koma.
"Kamu sendiri kan yang bilang?" jawab Putri.
"Aku?"
"Iya, aku pernah mendengar kamu mengatakan jika putri kita mirip denganku," ujar Putri yang mana membuat jantung Arash berdetak dengan cepat.
Ternyata apa yang di katakan oleh Lucas memang benar, jika komunikasi yang terjalin antara pasien dan keluarganya sangat di butuhkan. Apa lagi komunikasi itu berbentuk sebuah penyemangat hidup.
Arash tersenyum di saat apa yang disarankan oleh Lucas ternyata sangat berpengaruh untuk kesehatan Putri. Pria itu pun mengulurkan tangannya untuk membelai wajah sang istri yang terlihat cantik, walaupun masih berwajah pucat.
"Iya, sayang. Kamu benar, kalau aku yang pernah mengatakannya," ucap Arash dengan wajah yang dihiasi senyuman. "Terima kasih, sayang, karena kamu telah mendengarkan ceritaku."
Putri tersenyum, menatap wajah sang suami yang terlihat begitu tampan. Tapi, entah mengapa wanita itu merasa jika dia tidak akan pernah lagi melihat wajah sang suami. Seolah dirinya akan pergi sangat jauh sekali.
Tiba-tiba saja Putri teringat akan sesuatu, di mana saat dia tertidur, hanya satu suara yang tidak pernah dia dengar. Bahkan, suara isak tangis gadis itu pun tak pernah dia dengar.
"Rash, apa Zia tidak pernah menjengukku?" tanya Putri dengan wajah yang sedikit sedih. "Apa kamu melarangnya lagi untuk bertemu denganku?"
Arash sedikit terkejut mendengar pertanyaan sang istri. Sekali pun dia tidak pernah melarang Zia untuk melihat sang istri. Apa mungkin Putri merasa memiliki firasat yang di masa lalu? Apa Putri berpikir jika Arash akan menyalahkan Zia lagi? Atas apa yang terjadi dengan istrinya itu?
Tidak, Arash tidak menyalahkan Zia. Bahkan, pria itu merasa sangat bersyukur sekali kepada Zia. Karena gadis itu, akhirnya Putri bisa cepat di bawa ke rumah sakit.
"Tidak, sayang, aku tidak melarang Zia untuk bertemu kamu."
"Lalu? Kenapa aku tidak pernah mendengar suaranya?" tanya Putri.
"Sayang, kamu harus tau, jika Zia selalu datang untuk menjenguk kamu. Zia selalu menyempatkan dirinya untuk melihat kamu, sayang. Dia selalu ada untuk kamu," ujar Arash memberitahu. "Bahkan, saat aku tidak ada untuk anak kita--" Arash sedikit terbata-bata di saat mengucapkan kalimat selanjutnya.
Putri terlihat menunggu kalimat selanjutnya yang akan di ucapkan oleh suaminya itu.
"Maafkan aku, sayang. Di saat aku tidak ada untuk putri kita, Zia lah yang selalu menimang anak kita, sayang. Zia yang selalu menenangkan Yumna, di saat putri kita menangis," ungkap Arash. "Aku juga baru tahu, sayang, Mbak Anggel baru mengatakannya kepadaku pagi ini. Di saat aku ingin menimang putri kita yang sedang menangis tadi pagi, Yumna tidak juga kunjung diam. Mbak Anggel pun mengatakan jika biasanya Zia yang menimangnya," sambung Arash.
Terlihat Putri menghela napasnya dengan pelan dan lega. Ternyata, apa yang dia takutkan tidaklah benar.
"Kita sangat berhutang budi sekali dengan Zia, Mas. Tanpa dia, mungkin putri kita akan merasa asing di dunia ini."
Ya, apa yang di katakan oleh Putri benar. Yumna akan merasa sendiri, karena sang ayah tidak memperdulikannya. Walaupun Oma, Opa, dan Tantenya selalu ada, akan tetapi Yumna terlihat lebih nyaman berada di dalam pelukan Zia.
"Ya, kamu benar. Zia selalu ada untuk Yumna."
Pintu ruangan Putri pun terbuka, di mana terlihat Mama Nayna muncul di balik pintu itu.
"Sayang, putriku!" lirih Mama Nayna dan berlari untuk menghampiri Putri.
Mama Nayna pun memeluk sang putri dengan penuh kerinduan dan kasih sayang.
"Iya, Ma. Terima kasih atas doa-doa yang selalu Mama panjatkan."
Manik mata Putri pun bergerak untuk melihat siapa yang kembali masuk ke dalam ruangannya. Di mana terlihat Sifa yang sedang mendorong kursi roda Zia. Senyum Putri pun terbit di saat melihat kehadiran sang adik, bersamaan dengan itu, Yumna pun terlihat bergerak dan menangis.
"Sepertinya Yumna mengenali siapa yang datang," ujar Putri tersenyum kepada Zia. "Terima kasih, Zia. Terima kasih banyak."
*
Zia melihat bagaimana perhatian dan setianya Arash kepada sang kakak, sama halnya seperti apa yang dilakukan oleh Abash. Gadis itu berharap, jika suatu saat nanti dirinya bisa menemukan pria yang sangat mencintainya dengan tulus, seperti Arash dan Abash. Tapi, siapa pria itu?
Cling ..
Sebuah pesan pun masuk ke dalam ponsel Zia, sehingga membuat gadis itu meraih ponselnya dan melihat siapa orang yang mengirimkan pesan kepadanya.
"Ibra?" gumam Zia pelan.
Zia pun membuka pesan yang di kirimkan oleh Ibra, di mana di tertulis jika pria itu akan segera kembali dan menagih janjinya kepada Zia.
"Lima bulan lagi aku akan kembali. Aku harap, kamu sudah menyiapkan jawaban atas lamaranku, Zia."
Zia menghela napasnya pelan, sampai detik ini gadis itu belum menemukan chemistry yang cocok denagn Ibra. Rasa cinta pun belum tumbuh di dalam hatinya, akan tetapi, harus Zia akui, jika gadis itu menganggumi ketulusan anak dari Bunda Sasa dan Daddy Bara.
"Haruskah aku menerimanya?" tanya Zia kepada dirinya sendiri.
Mengingat Ibra berasal dari keluarga yang harmonis dan penuh cinta, pastinya Ibra akan memberikan cinta yang tulus kepadanya. Dan mungkin karena perasaan Ibra yang tulus kepadanya, Zia bisa benar-benar jatuh hati kepada pria tersebut.
Lagi pula, rasanya tidak susah kan untuk jatuh cinta kepada pria yang baik, tampan, perhatian, dan juga penyayang seperti Ibra? Siapa saja pasti akan jatuh cinta kepada pria itu dengan waktu yang sangat cepat. Di tambah lagi, latar belakang Ibra yang sangat di dukung dengan keluarga yang sangat ramah-ramah dan baik, pastinya siapa saja akan merasa nyaman berada di dalam circle pria itu kan?
Tapi, ada hal yang menggangu dalam pikiran Zia. Pria bermasker yang dia cari beberapa tahun lalu, kembali muncul dan menghubunginya. Pria itu kembali mengajak Zia untuk bertemu. Haruskah Zia menemuinya?
*
Arash tak tahu, bagaimana caranya dia bisa mengukir kebahagiaan ini. Putri telah kembali berkumpul bersama dirinya. Ucapan rasa syukur yang biasa saja rasanya tidak cukup bagi Arash ucapkan kepada sang pencipta. Pria itu pun bersedekah ke tujuh mesjid, tujuh panti asuhan, dan tujuh panti jompo yang ada di daerah tempatnya tinggal. Arash benar-benar mengucap rasa syukur yang sebesar-besarnya kepada sang pencipta, karena telah memberikan kesempatan kepada sang istri untuk kembali bersama keluarganya.
Sudah dua minggu Putri di rawat di rumah sakit, akhirnya wanita itu sudah di perbolehkan pulang. Walaupun sebenarnya kondisi Putri belum benar-benar pulih dan harus tetap menjalankan perawatan. Akan tetapi Putri tetap bersikeras untuk pulang, karena dirinya sudah sangat merindui putra pertamanya.
Arash dan Putri pun pulang ke rumah Mama Kesya, karena di sana lebih banyak orang yang akan memperhatikan Putri. Sedangkan di rumah Bara, hanya ada Mama Nayna dan di bantu oleh si beberapa asisten rumah tangga saja. Mama Nayna juga harus merawat Zia yang masih membutuhkan perhatiannya, karena kondisi Zia yang belum bisa berjalan dan masih membutuhkan bantuan orang lain untuk keperluan tertentu. Untuk itulah, Putri pulang ke rumah Mama Kesya, di mana nantinya ada Mama Kesya yang bisa memperhatikan menantu dan cucunya itu lebih ekstra.
"Ya Allah, Sifa. Alhamdulillah .. Aku senang banget mendengarnya," ucap Putri kepada Sifa.
"Iya, Put, alhamdulillah."
"Aku senang banget dengarnya," ulang Putri lagi. "Eh, ngomong-ngomong, kamu ada mabuk atau ngidam, gak?" tanya Putri merasa penasaran. "Atau Abash yang ngidam?" tanyanya lagi.
__ADS_1
Sifa pun menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku tidak merasa mual atau pun ngidam. Mas Abash juga tidak merasa mual. Tapi, napsu makan dan di ranjangnya Mas Abash, jadi meningkat, Mbak," bisik Sifa dengan wajah yang merona.
"Hah? Benarkah?" tanya Putri terkejut. "Bukannya hawa napsu kamu yang bertambah?" goda Putri dengan senyuman nakalnya.
"Ih, beneran, Mbak. Aku gak bohong," jawab Sifa.
"Berarti di kamu nya tidak merasa ada perubahan sama sekali, ya?" tanya Putri.
"Iya, Mbak. Aku gak merasa ada perubahan dalam diri aku. Rasanya tuh ya kayak biasa aja. Gak ada kepingin ini itu, gak ada rasa mual, pusing, atau ciri-ciri umum seperti orang hamil lah, Mbak. Padahal aku kepingin merasakannya," ujar Sifa dengan wajah yang sedih.
"Gak papa, Fa. Yang terpenting itu kamu sehat-sehat aja."
"Humm, kamu benar, Mbak. Aku harus tetap bersyukur dengan kondisi aku yang baik-baik saja."
*
Tiga bulan berlalu, kondisi Putri yang awalnya sudah terlihat membaik, tiba-tiba saja kembali memburuk. Arash, Lucas, dan yang lainnya sudah mencari pendonor hati yang cocok untuk Putri. Akan tetapi, belum ada satu pun donor hati yang cocok untuk wanita itu. Ada satu pasien yang hatinya cocok untuk Putri. Lagi pula, pasien itu juga sudah meninggal dunia akibat kanker usus. Istri dari pasien itu sudah menyetujui pendonoran hati yang di imbali uang oleh keluarga Moza. Namun, tiba-tiba saja pihak keluarga pasien tidak menyetujui hal itu, sehingga pendonoran hati pun kembali gagal.
Arash menatap wajah Putri yang terlihat semakin kurus dan memucat, pria itu rasanya ingin sekali memberikan semua hatinya untuk Putri, agar wanita yang dia cintai itu dapat bertahan hidup kembali.
"Rash, boleh aku minta sesuatu sama kamu?" ujar Putri tiba-tiba, di saat pria itu baru saja selesai menyuapi Putri makan.
"Ya, kamu mau minta apa, sayang?" tanya Arash dengan menunjukkan senyumnya. Senyum yang terpaksa dia tampilkan agar Putri tak kembali bersedih.
"Jika aku tiada nanti, aku minta kamu menjaga Zia, ya? Tolong jaga dia, hingga dia menemukan pria yang tepat seperti kamu, Rash," pinta Putri dengan tatapan memohon.
Arash menggelengkan kepalanya, pria itu tidak ingn mendengar hal-hal buruk keluar dari mulut sang istri.
"Sayang, aku mohon, jangan berkata seperti itu. Kamu pasti akan sembuh, sayang. Kamu pasti akan segera sembuh. Aku akan mencari pendonor hati yang cocok untuk kamu, sayang," ujar Arash dengan mata yang berkaca-kaca.
"Rash, tolong jangan alihkan permintaan aku. Cukup kamu katakan 'ya' untuk menjaga Zia, sayang. Aku mohon," pinta Putri.
"Sayang, aku---"
"Rash, andai aku pergi nanti. Kamu jangan terlalu bersedih, ya? Aku harap, kamu bisa menemukan pasangan yang tepat untuk kamu, sayang."
Arash pun menutup mulut Putri, pria itu tidak ingin mendengar apa pun lagi dari sang istri. Dengan tangan yang lemah, Zia menurunkan tangan Arash yang menutupi mulutnya.
"Jangan cari ibu tiri yang kejam, Rash, aku gak ikhlas kalau ibu sambung anak-anakku hanya mencintai kamu, tidak mencintai anak-anak aku, sayang. Atau, bagaimana kalau kamu menikah saja dengan Zi---hmmpp …" Arash dengan cepat menutup mulut Putri, pria itu tidak ingin mendengar kalimat atau permintaan apa pun lagi yang keluar dari mulut sang istri.
"Tidak ada ibu sambung, tidak ada istri baru, dan tidak ada yang bisa menggantikan tempat kamu, sayang. Sampai kapan pun dan untuk selamanya, hanya ada kamu," tegas Arash tanpa ingin di bantah.
Putri tersenyum wanita itu terlihat menganggukkan kepalanya pelan.
"Aku akan mencari pendonor hati untuk kamu secepatnya, agar kamu bisa merawat anak-anak kita dan menemani hari tuaku," ucap Arash dengan sungguh-sungguh.
Arash pun membersihkan pangkuan Putri yang terdapat beberapa tisu kotor, pria itu akan membuang tisu-tisu tersebut dan membawa piring bekas makan sang istri ke dapur.
"Rash, katakan kepadaku, apa pria bermasker yang di cari oleh Zia beberapa tahun lalu adalah kamu?" tanya Putri yang mana membuat pergerakan Arash terhenti.
"Apa yang kamu bicarakan, sayang? Aku tidak mengerti," ujar Arash dengan nada tak suka.
"Ternyata benar, pria itu adalah kamu," ucap Putri dengan lirih.
"Sayang—"
"Zia adalah cinta pertama kamu dulu, iya kan?" tebak Putri.
Terlihat perubahan wajah Arash, pria itu kali ini benar-benar kesal dengan pertanyaan sang istri.
"Sebaiknya kamu istirahat," titah Arash dan bangkit dari tempat duduknya.
Arash pun pergi meninggalkan Putri yang berada di dalam kamar.
"Ternyata benar, kalau Zia adalah cinta pertama kamu, sayang," ucap Putri lirih dengan senyuman yang terukir di wajahnya pucatnya.
Putri menghela napas pelan, beberapa minggu lalu, dia tidak sengaja menemukan sebuah foto yang terlihat di ambil dari potongan cctv. Saat Putri ingin melihat foto-foto di masa lalu sang suami. Di sana, Putri melihat wajah yang tak asing dari dua orang yang sedang terlihat percakapan. Putri melihat seorang pemuda yang memakai masker memberikan sapu tangan kepada seorang gadis yang menggunakan seragam sekolah putih biru. Wajah gadis itu pun terlihat tidak asing di mata Putri. Walaupun kualitas gambar dari foto itu tidak terlalu bagus, akan tetapi Putri dapat mengenali siapa gadis yang ada di dalam foto itu.
Ya, gadis itu adalah Zia. Orang yang ada di dalam foto lama itu adalah Zia dan Arash.
Di tempat lain.
Bunda Sasa di kejutkan dengan kabar yang di berikan oleh Ibra dari seberang panggilan, di mana sang putra meminta kepada Bunda Sasa untuk mempersiapkan lamaran atas Zia.
"Ibra? Kamu yang bener, sayang?" tanya Bunda Sasa memastikan.
"Iya, Bunda. Ibra serius. Zia baru saja mengirimkan pesan kepada Ibra, kalau dia akan menerima lamaran Ibra, Bun, saat Ibra pulang dari Papua. Rasanya Ibra ingin pulang sekarang, Bun," ucap Ibra dengan nada suara yang penuh dengan getaran cinta.
"Masih dua bulan lagi, sayang. Sabar dong!" goda Bunda Sasa.
"Bun, kalau lamarannya di percepat, bisa gak ya?" tanya Ibra dengan malu-malu.
Bunda Sasa pun terkekeh pelan mendengar permintaan sang putra.
"Tentu, sayang. Nanti Bunda akan bicarakan hal ini dengan Daddy, ya?"
"Terima kasih banyak, Bunda. Terima kasih banyak. Bunda yang terbaik.," puji Ibra sebelum memutuskan panggilan.
"Ada apa, Sa?" tanya Oma Shella di saat melihat sang menantu rasa anaknya itu tersenyum-senyum.
"Ibra, Mi. Ibra meminta kita melamar Zia untuknya," ujar Bunda Sasa memberitahu.
"Apa? Alhamdulillah. Akhirnya gosip itu menjadi nyata ya! Mami senang banget mendengarnya. Ayo, cepat hubungi Bara suruh pulang, kita harus membicarakan hal ini segera dengan keluarga Pak Satria."
__ADS_1
"Iya, Mi, kita tunggu Mas Bara pulang dulu, ya."
Ya, Zia akhirnya memutuskan untuk menerima Ibra menjadi pendamping hidupnya. Gadis itu berharap, jika keputusannya ini adalah keputusan yang tepat.