Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 332


__ADS_3

"Haii ...." sapa Bang Fatih sambil melambaikan tangannya, saat Sifa dan Abash tiba di toko cake milik Mama Kesya.


"Bang," sapa Sifa balik dengan ramah.


"Gimana, terharu gak dengan hadiah yang Abash berikan?" goda Bang Fatih sambil menaik turunkan alisnya.


Sifa pun tersenyum malu sambil menganggukkan kepalanya.


"Kamu tau sayang, kenapa aku ajak kamu ketemuan sama Bang Fatih?" tanya Abash.


Sifa menggelengkan kepalanya. "Memangnya ada apa, Mas? Mas mau bicarakan bisnis dengan Bang Fatih?" tanya Sifa.


Abash tersenyum, tangan pria itu pun terangkat untuk mengusap kepala Sifa dengan lembut.


"Bisnisnya sama kamu, bukan sama aku," jawab Abash.


"Hah? Kok sama aku?" Sifa terlihat bingung, kemudian gadis itu menoleh ke arah Bang Fatih yang sedang terkekeh pelan.

__ADS_1


"Sifa, coba deh kamu lihat-lihat gambar ini." Bang Fatih pun mengulurkan sebuah buku gambar, di mana di dalamnya sudah terdapat beberapa sketsa bentuk rumah yang sekiranya akan di sukai oleh Sifa.


Kalau dari lima gambar yang ada di buku itu, tidak ada yang Sifa suka, maka Bang Fatih siap untuk menggambarkan sketsa yang lain, seperti apa yang Sifa suka.


"Kok malah bengong sih, sayang? Ayo, kamu buka deh bukunya, terus kamu lihat, mana yang bagus dan kamu suka," tegur Abash.


Sifa menoleh ke arah Abash, saat pria itu menganggukkan kepalanya, dengan pelan Sifa mengulurkan tangan untuk mengambil buku gambar yang ada di atas meja. Gadis itu pun membuka satu persatu lembaran kertas yang sudah terisi dengan gambar-gambar sketsa rumah yang sangat cantik-cantik dan minimalis.


"Cantik-cantik banget gambarnya?" puji Sifa saat melihat sketsa gambar yang ada di dalam buku.


"Jadi, yang mana yang kamu suka, Sifa?" tanya Bang Fatih.


"Untuk apa, Bang?" tanya Sifa dengan wajah yang terlihat kebingungan.


"Bash, kamu gak bilang ke Sifa?" tanya Bang Fatih.


"Enggak, Bang. Mau kasih kejutan aja," kekeh Abash.

__ADS_1


"Kejutan apa nih?" tanya Sifa menoleh ke arah Abash.


"Jadi gini, sayang. Rumah sewa kamu yang dulu, mau aku bangun rumah untuk kita berdua nanti setelah menikah. Jadi, aku minta tolong sama Bang Fatih, untuk menggambarkan sketsa rumah impian kamu," ujar Abash. "Jadi, kamu tinggal pilih, yang mana sketsa rumah yang kamu suka. Atau, kamu punya rumah impian sendiri?" tanya Abash.


Sifa menggelengkan kepalanya. "Enggak, aku gak punya rumah impian seperti ini, Mas. Rumah impian yang ada di dalam pikiranku adalah, rumah yang hangat dan penuh dengan kebahagiaan. Selalu merasa kenyang dan berkecukupan." Sifa menjeda kalimatnya, gadis itu menarik napas dan menghelanya secara pelan.


Rumah yang selu terasa hangat, tanpa ada rasa kedinginan di saat hujan. Tanpa ada setetes air pun yang mengganggu tidur, Mas. hisk ... dan tanpa ada tikus yang menggerogoti lemari ataudapru, sehingga menimbulkan bunyi berisik yang mengganggu tidur di malam hari, juga, tanpa harus was-was jika tikus itu naik ke atas tempat tidur dan menggigit rambut, baju, atau anggota tubuh yang lain, Amas, hiks ... aku hanya ingin punya rumah yang nyaman, hangat, dan hiks ... dan hiks ..." Sifa sesenggukan, hingga Abash menarik tubub gadis itu ke dalam pelukannya.


"I-itulah adalah rumah impian aku, Mas," lirih Sifa dengan mata yang berkaca-kaca. "Walaupun kecil, tapi jika rumahnya nyaman, maka sudah cukup bagi aku."


Abash merelai pelukan mereka, kemudian pria itu mengulurkan tangannya untuk mengusap air mata calon istrinya itu.


"Insya Allah, kamu tidak akan merasa kedinginan saat malam, tidak akan kejatuhan tetesan air hujan saat di musim hujan, dan tidak akan ada binatang yang akan mengganggu tidur kami, sayang. Karena aku akan memberikan tempat yang paling ternyaman untuk kamu, dan anak-anak kita. Tanpa kurang satu apapun, sayang."


"Hiks ... terima kasih, Mas. Terima kasih."


Abash Kembali menarik tubuh Sifa ke dalam pelukannya, pria itu pun meneteskan air mata, di saat membayangkan jika Sifa harus tidur dengan di ganggu oleh tikus, kecoa, atau binatang lainnya.

__ADS_1


Sungguh, Abash tidak bisa membayangkan, bagaimana hidup calon istrinya dulu. Saat ini, Abash pun berjanji kepada dirinya sendiri, jika dia tidak akan pernah membiarkan Sifa hidup dalam kesusahan lagi. Kehidupan Sifa akan mulai berubah, bahkan Abash akan menjadikan calon istrinya itu sebagai ratu.


Ya, ratu dalam hidupnya.


__ADS_2