
Arash baru saja turun dari lift, pria itu pun melihat rekannya yang berada di dekat resepsionis .
“Ko,” sapa Arash yang mana membuat pria itu terkejut.
“Pak Abash,” kekehnya pelan karena ketahuan sedang menggoda reseptionis yang sedang bertugas.
“Sudah siap semua?” tanya Arash.
“Sudah, Pak. Beberapa tim kita juga sudah meluncur ke sana,” ujar Joko memberi tahu.
“Bagus,” lirih Arash sambil melihat tab yang di berikan oleh Joko barusan.
Malam ini mereka akan menyamar sebagai orang kaya raya dan sangat menggilai judi masino. Setelah Arash mengembalikan tabnya kepada Joko, pria itu pun melihat seorang wanita yagn menggunakan pakaian sedikit terbuka di bagian atas tubuhnya.
Tidak terlalu terbuka sih, karena bentuk pakaian gadis itu terkenal dengan gaun sabrina, jadi wajar saja jika bahu dan leher gadis itu terekspose dan tak tertutupi.
“Putri?” lirih Arash menajamkan matanya.
Di saat melihat gadis itu menyapa para satpam, Arash semakin yakin jika gadis yang menggunakan gaun sabrina berwarna dongker itu adalah Putri. Gadis yang sudah memporak porandakan hatinya beberapa jam yang lalu.
“Mau ke mana dia?” lirih Arash dan terus memperhatikan Putri hingga masuk ke dalam mobil mewah.
“Jangan bilang kalau dia?” gumam Arash yang merasa yakin, jika Putri pasti akan pergi ke tempat yang sama dengan dirinya.
“Joko, apa semua sudah siap?” tanya Arash yang tidak ingin kehilangan jejak Putri.
“Sudah, Pak,” jawab Joko.
“Ayo, kita berangkat sekarang,” titah Arash yang di angguki oleh Joko.
Joko pun langsung menghubungi rekannya untuk membawa mobil ke lobi apartemen, kemudian mereka bergegas masuk ke dalam mobil tersebut.
“Pak, ini identitas dan juga topeng milik Bapak,” ujar Joko sambil mengulurkan barang yang dia berikan itu kepada Arash.
“Terima kasih.”
Arash pun melihat ID card miliknya, kemudian menyimpannya ke dalam jas yang dia kenakan.
Tunggu, kenapa warna jas dan kemeja yang dia kenakan saat ini sangat serasi sekali dengan warna gaun yang Putri kenakan tadi? Setelan jas yang berwarna dongker.
Seketika Arash pun menyunggingkan senyumnya, pria itu merasa malam ini akan menjadi malam yang sangat menarik sekali.
*
Mobil yang di tumpangi oleh Putri pun tiba di sebuah hotel megah yang di hadiri oleh penguasa-penguasa di dunia perbisnisan. Tak hanya pebisnis, tetapi juga ada pejabat-pejabat tinggi yang datang untuk menikmati judi masino ini.
Putri pun turun dengan elegant, saat pelayan membuka kan pintu mobilnya. Gadis itu sudah mengenakan topeng nya, agar tak ada yang mengenali wajahnya. Tidak hanya dia, tetapi semua orang yang datang ke hotel tersebut, sudah menggunakan topeng nya untuk menutupi identitas nya yang sebenar nya.
Putri pun memberikan ID card dan juga undangan resmi yang di tujukan untuk nya. Gadis itu pun menyunggingkan sedikit senyuman di saat penjaga mempersilahkan kan diri nya untuk masuk ke dalam hotel. Lebih tepatnya ke ballroom yang sudah di sulap menjadi tempat perjudian yang elit dan berkelas.
Putri menyisir seluruh ruangan untuk mencari keberadaan Om Martin, hingga gadis itu akhirnya menemukan orang yang dia cari.
Putri pun menerima kode dari Om Martin, kemudian dia berjalan mendekat ke salah satu meja judi yang tersedia. Gadis itu masih memantau dan melihat-lihat siapa yang akan bermain di meja judi kartu tersebut.
“Mau main?” tawar seseorang yang ada di samping Putri.
Gadis itu menoleh dan menebak-nebak siapa pria yang mengajaknya bermain itu.
“Tidak, ini terlalu mudah,” jawab Putri dan berlalu dari meja judi tersebut.
Gadis itu pun kembali melihat-lihat meja yang lain, mencari pemain yang bisa membuat Yosi tertarik dengan permainan nya dan keluar dari persembunyian nya.
*
Mobil yang di tumpang Arash pun tiba, pria itu turun dengan elegant di saat seorang pelayan membuka kan pintu mobil untuk nya.
Arash membenarkan jas nya dan berjalan dengan gagah menuju meja tamu. Pria itu mengulurkan ID Card nya dan juga undangan resmi yang dia dapat entah dari mana.
Penjaga pun mempersilahkan Arash untuk masuk ke dalam, sehingga membuat pria itu melangkahkan kaki nya dengan mantap untuk masuk ke dalam hotel.
Arash berdecak kagum dengan decor yang di buat oleh Yosi untuk mengubah ballroom yang biasa di jadikan tempat pesta, menjadi tempat perjudian. Ruangan ini benar-benar terlihat seperti kasino yang sesungguh nya.
Arash pun mencoba menerka-nerka, berapa banyak nya uang yang di keluarkan oleh pria itu untuk membuat tempat judi semalam ini.
__ADS_1
Hal pertama yang Arash cari saat ini adalah keberadaan Putri. Ya, pria itu merasa khawatir dengan keselamatan gadis itu, sehingga membuat fokus utama nya adalah mencari keberadaan Putri.
Arash terus mencari, hingga dia mendengar suara tepuk tangan yang gemuruh di salah satu meja. Meja yang sudah ramai di kelilingi oleh orang-orang yang merassa penasaran dengan si pemain yang sedang duduk di kursi panas itu.
Arash memicingkan matanya, di saat melihat siluet gadis yang sedang dia cari.
“Benarkah itu Putri?” batin Arash dan menerobos masuk ke dalam kerumunan orang.
Arash pun membelalakkan matanya, di saat melihat jika wanita yang tengah bermain judi itu adalah Putri. Gadis itu terlihat sangat ahli dalam memainkan kartu, sehingga di mejanya pun sudah terdapat banyak chip yang jika di rupiahi, mungkin berkisaran miliaran rupiah.
“Wow, sungguh luar biasa,” puji seseorang yang di tunggu-tunggu oleh Putri.
Putri tersenyum kecil, gadis itu hanya mengendikkan bahu nya cuek di saat melihat kedatangan Yosi dan memuji bakat nya dalam berjudi.
“Mau bermain dengan ku?” tantang Yosi.
“Sure,” ujar Putri yang sudah merubah nada suaranya.
Pelayan pun mulai mengocokkan kartu dan membagikannya kepada Putri dan juga Yosi. Mereka pun mulai memainkan permainan mereka dan menunjukkan bakat masing-masing.
Arash terlihat kagum, di saat Putri berhasil mengeluarkan kartu-kartu emasnya, hingga gadis itu memenangkan permainan pertama mereka.
“Aku akui kamu sungguh luar biasa,” puji Yosi.
“Terima kasih,” jawab Putri dengan logat yang berbeda dari biasanya.
“Bagaimana kalau kita bermain sekali lagi, dan aku akan mempertaruhkan semua yang aku punya,” tantang Yosi sambil mendorong semua chip yang pria itu punya.
“Woow, ini sangat menarik,” ujar Putri dan ikut mendorong semua chip yang dia punya, sehingga membuat semua orang yang ada di sana pun bersorak melihat nya.
“Mari bagikan,” titah Yosi dengan tersenyum lebar.
Putri sudah berkeringat dingin, takut jika dirinya kalah kali ini. Karena memang begitulah permaianan Yosi, pria itu akan mengalah untuk permainan awalnya, kemudian mengajak bermain di ronde kedua dengan semua chip yang dia punya. Dan saat itu lah, Yosi selalu memenangkan permaianan.
“Tenanglah, Putri, yakinkan diri kamu akan menang,” ujar Om Martin yang berbicara melalui microfon gigi geraham nya.
“Tetap fokus dan kalahkan lawan,” sambung Om Martin lagi yang sedang bermain di meja yang lain.
Semua orang yang juga menonton sudah merasa ikut tegang, di saat melihat kartu yang di keluarkan Putri adalah kartu-kartu rendah dan tak beraturan, sehingga besar kemungkinannya untuk Yosi menang.
“Bagaimana ini? Sepertinya Anda kalah, Nona,” ujar Yosi sambil membuka kartu terakhirnya.
Semua penonton pun berdecak kagum, sehingga mereka udah memastikan jika Yosi lah pemenangnya.
Putri berdecih pelan, kemudian gadis itu tersenyum miring seolah mengejek Yosi.
“Kalau begitu aku ucapkan selamat kepada kamu,” ujar Putri dan membuka kartu terakhirnya, yang mana membuat semua orang pun terpelongo dan terkejut tak menyangka, jika Putri memenangkan permainan ini.
“Selamat atas kekalahan Anda, Tuan,” ujar Putri dengan tersenyum mengejek.
Terlihat perubahan dari wajah Yosi yang tak ramah, pria itu pun langsung bangkit dari duduk nya dan meninggalkan meja tersebut.
Hal inilah yang menjadi pembahasan Putri dan Om Martin. Di mana Yosi akan selalu bermain curang di saat permainan kedua atau ke tiganya. Pria itu akan mengeluarkan semua miliknya, sehingga lawannya pun juga ikut mengeluarkan semua miliknya. Saat itu lah Yosi bermain curang dan selalu memenangkan permainan. Sehingga membuat pria itu meraih keuntungan yang sangat luar biasa.
Putri pun mengambil semua chip tersebut dan membagikan nya kepada penonton dengan cara melemparkan chip-chip tersebut, sehingga membuat orang-orang serakah itu berebutan untuk mendapatkan chip yang di lemparkan oleh Putri.
Putri bangkit dari duduknya, gadis itu merasa haus dan berjalan menuju bartender.
Putri sudah tahu jika orang yang berjaga di bartender saat ini adalah orang Om Martin, sehingga gadis itu pun di berikan minuman putih yang di tambah sedikit soda non alkohol, agar terlihat jika gadis itu juga menikmati minuman haram yang tersedia.
Putri menoleh ke arah pria yang ada di sebelahnya. Pria yang mengenakan topeng wajah yang hampir menutupi keseluruhan wajahnya. Pria itu terus memandang lurus ke arah Putri, sehingga membuat gadis itu merasa risih dan menjauh.
“Ternyata kamu tidak mengenali aku, Put,” batin Arash yang berdiri di samping Putri.
Putri terus berjalan-jalan sambil menikmati suasana yang tersajikan, sekalian dia mencari bukti lain yang bisa menjatuhkan Yosi dengan mudah.
Dan, keberuntungan pun berpihak kepadanya, di saat Putri ingin pergi ke kamar mandi, gadis itu mendengar suara teriakan dari salah satu kamar. Putri yang merasa penasaran pun mengintip ke kamar tersebut, sehingga dia dapat melihat jika Yosi tengah memaksa seorang perempuan untuk di setubuhi.
Putri menutup mulutnya di saat melihat pemandangan tersebut, sehingga membuat dirinya bergegas merekam kejadian itu.
Kreeek ..
Sialnya pintu yang Putri jadikan pegangan untuk mengintip pun, terbuka dan berbunyi, sehingga membuat keberadaannya ketahuan.
__ADS_1
“Siapa itu?” pekik Yosi dan menyuruh anak buahnya untuk melihat ke luar ruangan.
Putri bergegas berlari, hingga sebuah tangan menarik tubuhnya dan membekap mulutnya.
“Diamlah,” bisik suara yang tak asing di telinga Putri.
Di saat keadaan terlihat aman, Pria itu pun membawa Putri ke tempat aman yang lain, tetapi sialnya penjaga Yosi masih berkeliaran di sana, sehingga membuat mereka terpaksa masuk ke dalam kamar mandi.
“Siapa kamu?” tanya Putri saat mereka sudah berada di dalam kamar mandi yang kecil.
Arash membuka topengnya, sehingga membuat Putri memekik tertahan.
“Arash?”
“Sttt.. jangan berisik, kalau tidak ingin ketahuan” bisik Arassh sambil menutup mulut Putri.
Tiba-tiba terdengar suara pintu di tendang, sehingga membuat Arash mendudukkan diri nya di atas toilet dan menarik tubuh Putri ke atas pangkuan nya.
Putri memekik pelan, hingga Arash terpaksa menutup mulutnya. Pria itu pun perlahan mengangkat kaki Putri ke atas, agar tak terlihat dari luar jika ada seorang wanita di dalam kamar mandi tersebut.
“Putri, apa yang terjadi?” tanya Om Martin yang tidak dapat di dengar oleh Arash.
“Arash, kenapa kamu di sini?” bisik Putri.
“Aku sedang menari bukti agar kamu terbebas dari jeratan Yosi,” jawab Arash dengan berbisik pula.
“Tapi?”
“Put, apa kamu sedang berada dalam bahaya?” tanya Om Martin.
“Ya,” jawab Putri pelan.
“Di mana kamu saat ini? Apa kamu bersama dengan Arash? Tadi Om mendengar kamu menyebut namanya,” tanya Om Martin.
“Ya, kenapa kita bersembunyi di kamar mandi? Dengan posisi aku di pangkuan kamu?” tanya Putri kepada Arash yang sengaja memberi kode kepada Om Martin.
“Ini cara yang aman, Put, biar gak ketahuan. Jadi, jika mereka melihat dari bawah, hanya ada satu pasang kaki,” ujar Arash yang di dengar oleh Om martin.
“Putri, cara itu tidak akan berhasil. Kamu harus mendesah,” titah Om Martin.
“Apa? Mendesah?” tanya Putri terkejut yang mana membuat Arash mengernyitkan keningnya.
“Iya, lakukan jika saat ini kalian tengah bercinta. Dan mendesah lah, Put,” titah Om Martin lagi.
“Om, jangan gila,” geram Putri.
“Put, kamu bicara dengan siapa?” tanya Arash.
Putri pun menunjukkan telinganya, di mana dia sedang terhubung dengan seseorang.
“Siapa?” tanya Arash.
“Om Martin.” jawab Putri.
“Apa katanya?” tanya Arash lagi.
“Aku di suruh mendesah, seolah saat ini kita sedang bercinta,” ujar Putri dengan wajah merona.
“Tidak hanya kamu, Put, tapi Arash juga,” ujar Om Martin yang mana membuat Putri kembali menoleh ke arah Arash.
“Kamu juga di suruh mendesah,” ujar Putri.
“Apa? Aku? Bagaimana caranya?Aku tidak bi–Akhh …” desah Arash di saat Putri mengecup lehernya.
Putri mengulum bibirnya di saat Arash menatapnya dengan tajam.
“Mendesahlah,” bisik Putri sambil terkikik pelan.
Arash menggeram kesal di saat Putri meniup telinganya, sehingga membuat pria itu ingin kembali mendesah.
“Pak, keluarkan saja, jangan di tahan,” ujar Joko dari alat pendengar yang di gunakan oleh Arash.
Sial, saat ini adegan berpura-pura mendesah mereeka pun di dengar oleh banyak orang. Terutama anggota Arash.
__ADS_1