Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 98 - Maling


__ADS_3

Abash sedari tadi sudah menunggu kehadiran Sifa bersama Quin, akan tetapi kedua wanita itu pun belum juga menampakkan batang hidungnya dari kamar.


"Kenapa? Kok gelisah begitu?" tanya Papa Arka.


"Hah? Oh, gak kok," ujar Abash dan mencoba untuk tak merasa panik.


Tunggu, kenapa Abash harus merasa panik di saat Sifa bersama dengan Quin?


Tak berapa lama orang yang di tunggu-tunggu oleh Abash pun tiba, kemudian dia pun berdiri dan menghampiri Sifa.


"Ayo," ajak Abash kepada Sifa.


"Mau ke mana?" tanya Quin.


"Mau antar Sifa pulang," ujar Abash kepada Quin.


"Loh? Kenapa harus pulang? Sifa sudah setuju untuk menginap di sini, iya kan Sifa!" tanya Quin.


"Iya, Mbak," cicit Sifa dengan pelan.


"Nah, kalau kamu mau pulang, ya pulang aja. Sifa bisa Mbak yang antar kalau dia mau pulang," ujar Quin dan membawa Sifa untuk ikut bersamanya.

__ADS_1


Abash pun terdiam dan hanya bisa menatap kepergian Sifa dan Quin.


"Nginap di sini?" lirih Abash pelan.


Di tempat lain, Arash baru saja mengganti seragam kepolisiannya dengan jaket kulit. Pria itu akan menyamar sebagai preman pasar, yang mana baru saja dia mendapatkan kabar jika ada bandar narkoba yang sedang beraksi.


"Pak, gak ikut tujuh belasan?" goda anak buahnya.


"Ya mau gimana lagi? Namanya juga sudah tugas," kekeh Arash.


"Semangat, Pak. Semoga tugas kali ini kembali sukses."


Arash pun pergi bersama timnya untuk menggagalkan transaksi bandar narkoba bersama timnya, sehingga membuat pria itu gak bisa mengikuti perlombaan tujuh belasan di rumahnya.


Dan lagi, Arash kembali berhasil menggagalkan transaksi dari bandar narkoba.


"Wah, Pak Arash memang hebat," puji Saipul, anak buahnya.


"Kalian juga. Tanpa kalian, saya mana mungkin bisa menggagalkan transaksi tersebut. Intinya, karena kerja sama Tim yang kompak, maka kita berhasil menggagalkan rencana kita. Selamat untuk kita semua," ujar Arash dan menepuk semua bahu anak buahnya.


"Siap, Pak."

__ADS_1


"Udah sore, gimana kalau kita cari cemilan? Saya yang traktir," ajak Arash yang langsung di setujui oleh ke empat anak buahnya.


Arash dan timnya pun mencari makanan di dekat pasar tersebut, sedangkan bandar narkoba telah di bawa oleh anak buahnya yang lain ke kantor polisi.


"Pak, sekali-sekali makan di sini, boleh, Pak?" pinta Saipul, mewakili anak buahnya yang lain.


"Baiklah, mumpung hari kemerdekaan, kita merdeka kan perut kita hari ini," Ujar Arash yang langsung di sambut sorak Sorai oleh anak buahnya.


Arash pun menghubungi timnya yang lain, yang sedang membawa komplotan bandar narkoba, untuk datang ke restoran di mana mereka akan merayakan keberhasilan kali ini.


"Maliing ...." pekik seseorang yang mana membuat Arash menoleh.


Melihat seorang pria menggunakan jas lengkap pun, membuat Arash menghentikan prianm tersebut, sehingga membuat orang salah paham karena pakaian yang saat ini di pakai oleh Arash, di tambah lagi di tangan pria itu sedang menggunakan tato tiruan yang bisa hilang saat di cuci.


"Maliing, pria itu maling," peki seorang ibu-ibu.


Arash pun sempat berkelahi dengan pria yang memakai jas, di mana sebenarnya pria itu lah maling sebenarnya. Akan tetapi, karena pakaian Arash yang terlihat lebih seperti preman, membuat seorang wanita salah paham dan malah menghajar Arash.


Buug ..


"Woh, kenapa gue di pukul? Dia malingnya, bukan gue," pekin Arash dengan kesal terhadap wanita yang memukulnya

__ADS_1


__ADS_2