
Braakk ...
"Apa lift ini akan jatuh?"
Arash menoleh ke arah Putri, pria itu pun sedikit mengernyitkan keningnya di saat kembali melihat betapa hebatnya gadis itu mengontrol emosinya.
Jika gadis lain, mungkin mereka akan mengeluarkan ponsel dan mencoba mencari signal. Padahal, jika lift dalam keadaan mati begini, maka signal pun tak bisa menolong mereka.
Putri pun berdiri dengan tegak, dia menarik napasnya secara perlahan dan kembali membuat tubuhnya kembali rileks.
"Anda yakin baik-baik aja?" tanya Arash.
Putri melirik ke arah pria yang saat ini sedang menatapnya dengan tatapan khawatir.
"Hmm, ya. Anda sendiri?" tanya Putri balik.
"Anda tidak takut?" tanya Arash tanpa menjawab pertanyaan putri.
"Takut? Karena?"
"Ya karena lift ini akan jatuh," ujar Arash.
"Oh ...." lirih Putri.
__ADS_1
"Oh?"
"Lalu?"
"Kamu sedikit pun gak takut?" tanya Arash dengan sedikit terkejut.
Putri menghela napasnya pelan, gadis itu pun berdiri tegap dengan tangan yang terlipat di atas perutnya.
"Untuk apa saya takut? Jika lift ini jatuh, berarti itu adalah takdir yang sudah harus saya terima," ujar Putri dengan santai.
Arash sedikit membuka mulutnya mendengar ucapan yang di katakan oleh Putri.
"Waah, Anda benar-benar gadis pemberani," puji Arash.
Hening, tidak da lagi percakapan antar Arash dan Putri, hingga empat puluh lima menit pun telah berlalu tanpa terasa. Arash yang memakai jas dengan rapi pun, sudah membuka jas dan juga dasinya, bahkan dua kancing teratas baju pria itu telah terlepas.
"Apa Anda tidak merasa kepanasan?" tanya Arash yang melihat jika seluruh tubuh Putri juga sudah basah. Bahkan rambut indahnya sudah terlihat sangat lepek.
"Sebaiknya simpan rasa khawatir Anda untuk diri anda sendiri," jawab Putri yang masih dengan kondisi tenang, tangan terlipat di perut dengan mata yang tertutup.
"Baiklah, saya akui jika pengendalian diri Anda sangat baik," puji Arash lagi.
Lima belas menit pun kembali berlalu, wajah Putri mulai terlihat pucat, bahkan keringat yang ada di dahinya sudah sebesar biji jagung. Mungkin lebih besar lagi.
__ADS_1
"Ahh ..." lirih Putri pelan dengan menahan tubuhnya yang hampir kehilangan kesadaran.
"Anda baik-baik saja?" tanya Arash yang sudah membuka sepatu dan kaos kakinya.
"Hmm, ya ..." jawab Putri dengan lemah. "Aahh ..." lirih Putri dan kali ini gadis itu tidak mampu lagi menahan bobot tubuhnya, sehingga membuat dirinya harus terduduk di lantai.
Arash bergegas mendekati Putri dan membantu gadis itu membuka blazer yang dia kenakan.
"Apa yang Anda lakukan?" lirih Putri dengan nada yang lemah, dengan sisa tenaganya dia pun mendorong tubuh Arash, akan tetapi tenaga gadis itu tak mampu membuat Arash menjauh darinya.
"Anda harus membuka blazer ini, jika tidak ingin kehilangan kesadaran dengan cepat," ujar Arash mencoba tenang.
"Tap---"
"Sudah, jangan keras kepala. Saya tidak akan melakukan hal yang tidak senonoh dengan Anda. Lagi pula, lift ini di lengkapi dengan cctv. Anda bisa menuntut saya, jika saya berani menyentuh Anda," ujar Arash panjang lebar.
Arash pun membuka dua kancing teratas kemeja yang digunakan oleh Putri, agar gadis itu tidak kepanasan.
Melihat jika Putri mulai terlihat bernapas dengan sulit, Arash pun mencoba membujuk Putri untuk melepaskan salah satu pengait yang ada di tubuhnya.
"Em, anu.. Anda sebaiknya membuka pengait br* yang anda gunakan," ujar Arash dengan gugup.
"Apa?"
__ADS_1