
Penolakan Zia membuat Ibra semakin membenci Arash. Andai saja Arash tidak pernah mencoba untuk menodai Zia, mungkin hari ini akan menjadi hari bahagia bagi Ibra dan Zia. Di mana seharusnya malam ini akan menjadi salah satu malam paling berarti bagi Zia dan Ibra. Malam lamaran.
Tapi, semua rencana Ibra pun gagal, karena perbuatan keji Arash kepada Zia. Tidak hanya menolak tawaran Ibra yang ingin bertanggung jawab atas apa yang Arash perbuat, akan tetapi Zia juga menolak untuk bertemu dengannya.
"Arash brengseekk!!" maki Ibra sambil memukul setir mobil.
Ibra pulang dengan perasaan penuh kekecewaan, tak ada senyum di wajah cerianya.
"Bra!" tegur Bunda Sasa, saat Ibra baru saja masuk ke dalam rumah.
"Apa yang terjadi, sayang?" tanya Bunda Sasa yang melihat wajah murung sang putra.
"Zia menolak tawaran Ibra untuk bertanggung jawab, Ma," ujar Ibra memberitahu. "Dan Zia juga menolak untuk bertemu dengan Ibra."
Bunda Sasa yang melihat kesedihan di wajah sang putra pun langsung menarik Ibra ke dalam pelukannya.
"Semua akan baik-baik saja, sayang. Zia pasti butuh waktu untuk sendiri," bisik Bunda Sasa sambil mengusap pelan punggung Ibra.
"Ini semua gara-gara Arash, Bun. Gara-gara Arash, Zia juga tidak ingin bertemu dengan Ibra. Semua itu gara-gara si brengsek Arash," geram Ibra dengan tangan yang terkepal erat.
"Sstt ... Kamu gak boleh bilang begitu, sayang. Walau bagaimana pun juga, Arash adalah saudara kamu. Kamu tidak boleh mengata-ngatainya," tegur Bunda Sasa mengingatkan.
"Ibra benci Arash, Bun. Ibra sangat membencinya."
__ADS_1
*
Hari pun berlalu, kondisi Yumna yang awalnya sudah baik-baik saja, tiba-tiba kembali drop dengan suhu tubuh yang sangat tinggi bagi seorang anak bayi.
"Bagaimana keadaan Yumna?" tanya Mama Kesya khawatir.
"Demamnya naik lagi, Ma," jawab Anggel yang sedang menggendong Yumna.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang? Jangan sampai Yumna kejang-kejang lagi," ujar Mama Kesya dengan suara yang lirih.
Drrrrtt .... Ddrrttt ....
Ponsel Mama Kesya pun berbunyi, wanita paruh baya itu meraih benda pipi yang ada di atas nakas. Terlihat nama Quin tertera di sana, membuat Mama Kesya bergegas menggeser tombol hijau.
"Walaikumsalam, Ma," jawab Quin di mana suaranya terdengar panik.
"Ada apa, Quin?" tanya Mama Kesya. "Apa terjadi sesuatu di rumah?"
"Ma, Rayyan, Ma. Rayyan," ucap Quin.
"Rayyan kenapa?"
"Rayyan demam, Ma. Demamnya tinggi banget. Dari tadi Rayyan terus memanggil nama uti-nya."
__ADS_1
Serrr ...
Darah Mama Kesya pun berdesir, wanita paruh baya itu merasa jika ikatan batin yang di bangun oleh Zia, tidak hanya kepada Yumna, akan tetapi juga kepada Rayyan.
"Segera bawa ke rumah sakit, Mama tunggu," titah Mama Kesya.
"Iya, Ma."
Quin pun memutuskan panggilannya, kemudian dia meminta kepada Mbak yang menjaga Rayyan untuk menyiapkan pakaian balita tersebut.
Di rumah sakit.
"Ada apa, Ma?" tanya Anggel.
"Rayyan demam, sedari tadi dia terus memanggil nama Zia," ujar Mama Kesya memberitahu.
"Sebegitu kuat ikatan batin yang di bangun oleh Zia kepada anak-anak almarhum Putri," lirih Anggel yang diangguki oleh Mama Kesya.
"Ya, kamu benar. Ikatan batin mereka sangat kuat."
"Ma, bagaimana jika Mama mencoba menghubungi Tante Nayna? Minta Zia datang ke sini, Ma?" usul Anggel.
"Mama gak bisa, An. Walaupun Yumna dan Rayyan membutuhkan Zia, akan tetapi kita juga harus memikirkan harga diri Zia, An," tolak Mama Kesya. "Dan juga, Mama merasa malu dengan apa yang telah dilakukan Arash kepada Zia. Mama sudah tidak punya muka lagi untuk meminta Zia datang ke sini."
__ADS_1
Mama Kesya menghela napasnya berat, wanita itu meneteskan air matanya karena merasa tidak berdaya saat ini. Hanya satu harapan Mama Kesya, semoga Rayyan dan Yumna baik-baik saja.