Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
S2 - Bab. 22 - Pindah


__ADS_3

Mama Nayna tersenyum, di saat melihat Arash dan Zia keluar dari kamar secara bersamaan. Senyuman Mama Nayna pun semakin melebar di saat melihat rambut Zia yang terlihat masih setengah mengering. Ya, walaupun Mama Nayna tahu jika Arash dan Zia tidak mungkin melakukan malam pertama. Tapi, melihat rambut Zia yang masih setengah mengering membuat Mama Nayna merasa bahagia. Siapa yang menyangka, jika putri kecilnya sudah tumbuh dewasa dan sudah menjadi seorang istri.


"Pagi, Ma, Pa!" sapa Zia sambil mendudukkan bokongnya di kursi.


"Pagi, Ma, Pa!" sapa Arash pula yang sudah duduk di samping sang istri.


"Pagi, sayang," sahut Mama Nayna dan Papa Satria secara bersamaan.


"Rayyan dan Yumna belum bangun?" tanya Mama Nayna kepada Zia.


"Belum, Ma. Mereka masih di kamar, di temani sama encus," jawab Zia sambil mengambil nasi goreng yang sudah tersedia di meja makan.


Mama Nayna pun mengernyitkan keningnya, di saat melihat jika sang putri hanya mengambil nasi goreng untuk dirinya sendiri dan tidak mengambilkan untuk Arash.


"Loh, kamu kok cuma nuangin nasi goreng ke piring kamu aja sih? Kenapa piring Arash gak kamu tuangi juga?" tegur Mama Nayna yang mana membuat Zia melirik ke arah Arash, begitu pun sebaliknya.


"Gak papa, Ma. Arash bisa ambil sendiri kok," jawab Arash dengan tersenyum.


"Mama tahu kamu bisa ambil sendiri, Rash. Tapi, berhubung Zia sudah menjadi istri kamu, jadi sudah seharusnya dia melayani kamu," ujar Mama Nayna memberitahu.


"Arash gak papa kok, Ma. Arash juga tidak keberatan jika Zia tidak mengambilkan nasi untuk Arash."


"Tidak bisa begitu, Rash. Sudah menjadi kebiasaan di keluarga kami, di mana seorang istri harus melayani suaminya. Itu semua bentuk rasa hormat dari seorang istri kepada suaminya," ujar Mama Nayna sambil tersenyum. "Lain kali, kamu harus mengambilkan nasi untuk Arash ya, Zia!" tegur Mama Nayna yang diangguki oleh Zia/.


"Iya, Ma." Zia tidak ingin berdebat atau membantah. Gadis itu memilih diam dan menyetujui saran Mama Nayna agar permbahasan ini segera selesai.


Zia pun langsung mengambil alih sendok nasi yang ada di tangan Arash, kemudian menuangkan nasi ke dalam piring suaminya itu.


"Terima kasih," cicit Arash pelan yang diangguki oleh Zia.

__ADS_1


"Oh ya, malam ini kalian menginap lagi di sini, kan?" tanya Mama Nayna yang mana membuat Arash tersedak makanannya.


Menginap di rumah ini, itu artinya kalau dirinya harus berada di dalam kamar yang sama dengan Zia. Jujur saja, Arash semalam menahan dirinya agar tidak mendekati Zia dan memandang wajah gadis itu. Arash benar-benar tersiksa, karena dia harus melihat wajah Putri di wajah Zia.


Arash takut, jika dia kembali khilaf dan berakhir menyentuh Zia, di mana pria itu sedang membayangkan wajah Putri. Tentu saja Arash tidak ingin hal itu terjadi, karena pastinya akan menambah luka di dalam hati Zia.  Hanya satu harapan pria itu, semoga semua ini cepat berakhir.


"Emm, maaf, Ma, sepertinya---"


"Tinggallah seminggu lagi di sini. Mama belum siap untuk jauh dari Zia," mohon Mama Nayna dengan tatapan sendunya.


Arash menghela napasnya berat, pria itu pun akhirnya menyetujui permintaan sang mertua. Semoga saja dalam seminggu ini bisa membuat Arash terbiasa memandang wajah Zia tanpa mengingat Putri.


"Baiklah, Ma," jawab Arash akhirnya dan membuat Mama Nayna bersorak pelan dengan senang.


"Terima kasih, Rash."


Seminggu bersama di kamar yang sama. Zia menghela napasnya dengan pelan. Lagi pula dia harus terbiasa untuk berada di ruangan yang sama dengan suaminya kan? Secara nantinya mereka pasti akan mendapatkan momen bersama di dalam satu ruangan yang sama. Anggap saja jika dalam seminggu ini adalah simulasi untuk mereka berdua.


Seminggu telah berlalu dengan begitu cepat. Zia bernapas lega karena ternyata Arash sedikit pun tidak menyentuh dirinya. Bahkan, untuk mencuri-curi menyentuh dirinya saja, Arash tidak melakukan hal itu. Ya, Zia bisa menjamin jika Arash tidak melakukan hal tersebut.


"Hmm, padahal Mama berharap kalian tinggal di sini aja," ujar Mama Nayna dengan wajah cemberutnya.


Zia tersenyum dengan begitu manis. Gadis itu pun menghamburkan tubuhnya ke dalam pelukan sang mama.


"Zia janji, Zia akan sering main-main ke sini," bisik Zia.


"Bagaimana jika Mama yang sering datang ke tempat kamu?? Boleh??" izin Mama Nayna. "Lagi pula, di saat kamu bekerja, kan Rayyan dan Yumna bisa sama Mama," ujar Mama Nayna dengan terkekeh pelan.


Zia tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Tentu boleh, Ma. Tapi, coba Mama tanya sama Mas Arash," bisik Zia di akhir kalimatnya.

__ADS_1


Mama Nayna mengusap pipi Zia dengan penuh kelembutan, memandang lekat wajah sang putri kecilnya yang seolah sedang menanggung sebuah kesalahan. Tapi, Mama Nayna tidak tahu, kesalahan apa yang di perbuat oleh sang putri.


"Rash," panggil Mama Nayna.


"Ya, Ma?" Arash yang sedang berbincang dengan Papa Satria pun, menoleh ke arah sang mama.


"Kalau kalian sudah tinggal di apartemen? Apa Mama boleh sering-sering datang ke sana?" izin Mama Nayna. "Mama bisa menjaga Rayyan dan Yumna di saat Zia sedang pergi bekerja nantinya."


Arash tersenyum dengan tulus. "Tentu, Ma. Rayyan dan Yumna itu adalah cucu Mama. Jadi, kapan pun Mama mau datang ke apartemen, pintu apartemen kami akan selalu terbuka untuk Mama," jawab Arash.


"Baiklah kalau begitu, terima kasih, Rash." Mama Nayna benar-benar terlihat sangat senang. Sebenarnya, ada alasan lain yang membuat Mama Nayna ingin terus mengunjungi Rayyan dan Yumna.


Tapi, apa alasan lain itu? Hanya Mama Nayna lah yang tau.


Setelah berpamitan kepada Mama Nayna dan Papa Satria, Zia dan Arash pun pergi meninggalkan kediaman Bara. Berhubung Bara sedang berada di Bandung, jadi Zia dan Arash tidak berpamitan kepada pria itu.


"Hati-hati di jalan, Rash," ujar Mama Nayna mengingatkan.


"Iya, Ma."


Arash pun melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, menjauh dari rumah yang minimalis tapi terlihat sangat mewah.


"Kita ke mana sekarang? Apa kita akan ke rumah Tante Kesya?" tanya Zia memastikan ke mana arah tujuan mereka saat ini.


"Langsung ke apartemen," jawab Arash tanpa menoleh.


"Tapi, bukankah Tante Kesya sudah berpesan agar kita langsung ke rumah beliau?" ujar Zia mengingatkan.


"Besok saja. Ntar malam aku harus dinas," jawab Arash yang lagi-lagi tidak menoleh ke arah Zia.

__ADS_1


Zia hanya bisa menganggukkan kepalanya pelan, gadis itu pun akhirnya memilih untuk melihat Yumna dan Rayyan yang sedang berada di bangku penumpang bagian belakang bersama dengan encus. Zia tersenyum kepada Rayyan yang juga melihat ke arahnya.


Zia melihat wajah Rayyan yang terlihat begitu mirip dengan Arash. Gadis itu berharap, jika sifat putra sulung almarhum Putri tidak memiliki sifat yang ketus seperti sang ayah.


__ADS_2