Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 127 - Mas?


__ADS_3

Sarapan pagi ini sungguh sangat spesial bagi Abash dan Sifa, di mana mereka memasak di dapur berdua. Ya, walaupun hanya memasak satu porsi nasi goreng dan satu porsi omelet yang lezat.


Jika kalian bertanya kenapa menu-nya berbeda, maka jawabannya adalah, Sifa memasakkan nasi goreng untuk Abash, sedangkan Abash memasakkan omelet spesial untuk Sifa.


Sungguh romantis, bukan?


"Gimana?" tanya sifa saat Abash memasukkan nasi goreng ke dalam mulutnya.


"Heemm, lumayan," jawab Abash.


"Bapak serius?" tanya Sifa yangtidak yakin dengan jawaban sng kekasih.


"Heum, lumayan," jawab Abash lagi. "Lumayan asin," sambung pria itu.


"Hah? Bapak serius?" tanya Sifa dengan terkejut.


"Iya, saya serius. Mau cobain?" tawar Abash.


"Tidak, saya takut sakit kalau makan nasi," tolak Sifa dengan rasa tak enak hati.


"Omeletnya gimana?" tanya Abash kepada Sifa.


Sifa pun memasukkan sepotong omelet ke dalam mulutnya.


"Hmm, enak, Pak," ujar Sifa sambil tersenyum.


"Syukurlah kalau begitu, ayo di habiskan," titah Abash.


"Saya buat omelet aja ya untuk Bapak." Sifa sudah siap berdiri, akan tetapi Abash melarang gadis itu untuk bergerak dari duduknya.


"Kamu duduk aja di situ, biar saya makan nasi goreng ini aja," ujar Abash.


"Tapi kan rasanya asin."


"Iya, hanya sedikit aja asinnya," ujar Abash. "Tapi masih bisa di makan kok, lagian sepertinya hanya garamnya saja yang kurang rata teraduk," sambung pria itu lagi. "Ada beberapa suapan yang gak terasa asin juga kok."


"Tapi tetap aja gak enak untuk di makan," ujar Sifa.


"Memangnya saya ada bilang kalau nasi goreng ini gak enak?" tanya Abash yang di jawab gelengan oleh Sifa. "Saya kan cuma bilang kalau nasi gorengnya lumayan asin, tapi rasanya tetap enak kok," sambbung pria itu lagi.

__ADS_1


"Lagi pula, membuang-buang makanan itu namanya mubazir, kan?" tanya Abash yang di jawab anggukan lagi oleh Sifa.


"Iya sih, Pak. Tapi---,"


"Gak ada tapi-tapi. Masakan kamu ini enak, cuma hanya sedikit asin aja, tapi masih bisa di makan kok," ujar Abash dan kembali memasukkan sesuap nasi ke dalam mulutnya.


"Bapak yakin bisa makan itu? Gak takut sakit perut?" tanya Sifa khawatir.


"Hm, saya yakin. Kamu tenang aja."


Sifa pun menghela napasnya pelan, gadis itu pun akhirnya menuruti apa yang di katakan oleh sang kekasih.


Setelah sarapan selesai, Abash pun menyuruh Sifa mandi, sedangkan dirinya yang akan memberekan perlengkapana makan mereka. Tentu saja Sifa menolak, sehingga terjadi sedikit perdebatan antara Sifa dan Abash, yang mana akhirnya membuat kedua insan itu pun membersihkan piring secara bersama.


"Ternyata punya pacar itu begini ya rasanya," ujar Abash.


"Begini bagaimana?" tanya Sifa.


"Ya begini, bisa makan bersama, mengobrol, bercanda. Pokoknya gitu lah," ujar Abash.


"Ooh, hmm. Jujur saja, saya itu gak tau gimana rasanya pacaran dan harus bagaimana kalau punya pacar," ujar Sifa. "Lagi pula gak ada bayangan saya kalau akan punya pacar," kekeh gadis itu.


"Kenapa?" tanya Abash penasaran.


Abash pun memandang dan mendengarkan apa yang Sifa sampaikan kepadanya.


"Bukannya saya bermaksud untuk menjadi sombong. Tapi, saya ingin mematahkan apa yang telah mereka semua katakan kepada saya. Bukannya juga saya ingin membalas dendam, tapi saya hanya ingin membuktikan, jika anak yatim piatu dan seorang pekerja kebersihan seperti saya, juga mampu meraih cita-cita saya seperti yang lainnya," ujar Sifa dengan tersenyum kecut.


"Walaupun saya sebenarnya sangat takut sekali, jika dunia akan menertawakan impian saya ini."


Abash meraih tangan SIfa, sehingga membuat gadis itu pun menoleh ke arah sang kekasih. "Kamu harus percaya kepada diri kamu sendiri. Saya tau apa yang kamu rasakan, karena saya juga pernah merasakannya," ujar Abash.


"Bapak pernah merasakannya? Merasakan orang-orang meremhkan Bapak gitu maksudnya?" tanya Sifa penasaran.


"Hmm, kamu benar. Seperti yang kamu ketahui, jika latar belakang saya selalu menjadi bayangan saya, ke mana pun saya pergi. Termasuk saat saya membangun perrusahaan ini," lirih Abash.


"Asal kamu tau, Sifa. Saat saya membangun perusahaan ini, saya menghapus nama belakang saya," ujar Abash. "Kamu tau kenapa?"


Sifa pun menjawab dengan gelengan kepala.

__ADS_1


"Itu karena saya ingin membangun perusahaan ini degnan hasil kerja keras saya sendiri tanpa bantuan nama belakang keluarga saya." Abash pun terkekeh pelan.


"Ternyata, walaupun saya sudah berhasil memajukan perusahaan ini hingga seperti sekarang dan tanpa bantuan nama belakang keluarga saya, tapi tetap saja orang-orang mengatakan jika keberhasilan yang sudah saya raihi ini, berkat nama belakang saya," kekeh pria itu sambil menggelengkan kepalanya.


Sifa pun mengulurkan satu tangannya yang bebas ke bahu Abash, gadis itu pun mengusap lembut bahu pria itu dan tersenyum di saat sang kekasih menatap ke arahnya.


"Semalam saya suddah berpikir tentang hubungan kita. Awalnya saya ingin mengumumkan hubungan kita ini ke semua orang dan menolak ke inginan kamu untuk menyembunyikan hubungan ini. Tapi, setelah di pikir-pikir, kit amemang harus menyembunyikan hubungan ini dari semua orang. Itu semua demi kamu, agar tidak ada yang mengkucilkan kamu dengan kesuksesan yang akan kamu dapatkan nanti," ujar Abash.


"Terima kasih, karena Bapak sudah menerima keputusan saya," jawab Sifa.


"Ah ya, ada satu hal lagi," ujar Abash.


"Apa?" tanya Sifa penasaran.


"Kamu mau sampai kapan manggil saya dengan sebutan Bapak?" tanya Abash.


"Hah? I-itu ..."


"Kamu gak kepingin manggil saya dengan panggilan yang lebih manis gitu? Selain kata Bapak?" tanya Abash dengan tersenyum.


"I-itu ..."


"Bagaimana dengan panggilan 'Mas?" tawar Abash sambil menaik turunkan alisnya.


"Mas?" ulang Sifa.


"Heum, coba di ulang lagi," pinta Abash.


"M-mas? Mas Abash?" ucap Sifa.


"Duh, manis baget sih di dengar," Abash pun mencuil hidung Sifa, sehingga membuat gadis itu kembali berwajah semu.


"Hah? Ya ampun, sudah jam tujuh lewat empat puluh lima menit," kejut Sifa yang tak sengaja melihat ke arah jam dinding.


"Astagfirullah, saya ada rapat pagi ini," ujar Abash sambil menepuk keningnya.


"Sebaiknya Bapak pulang dan bersiap, saya juga akan bersiap," usir Sifa.


"Iya, kamu benar. Sebaiknya saya kembali ke apartemen. Nanti kita pergi bareng ya," titah Abash yang di angguki oleh Sifa.

__ADS_1


Setelah Abash keluar dari apartemen Sifa, gadis itu pun bergegas masuk ke dalam kamarnya.


"Duh, harus mandi kilat ini," lirih Sifa dan bergegas mengambil handuknya.


__ADS_2