Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 94 - saya yang bayar


__ADS_3

Abash menatap tangannya yang di genggam oleh Sifa. Pria itu pun menarik sudut bibirnya, membentuk sebuah senyuman.


"Loh, mau kemana? Mbak sama Mas-nya belum bayar loh," ujar penjual lontong.


"Hah? Oh ya, maaf Buk. Berapa semuanya?" tanya Sifa dan merogoh tasnya.


"Tiga puluh lima ribu aja, Mbak."


Sifa pun mengeluarkan uang sebesar tiga puluh lima ribu rupiah, Sedangkan Abash juga mengeluarkan uang sebesar seratus ribu rupiah.


"Sifa, biar saya aja yang bayar," cegah Abash sambil menahan tangan Sifa yang ingin memberikan uang kepada si penjual.


Sifa yang melihat lembaran uang yang di pegang Abash pun, merasa semakin resah, karena takut terlalu lama menerima uang kembalian, sehingga membuat dirinya menolah permintaan Abash.


"Bapak simpan aja duitnya, pakai duit saya aja. Kalau Bapak yang bayar, ntar kelamaan tunggu kembaliannya," ujar Sifa sambil memberikan uang sebesar tiga puluh lima ribu rupiah kepada si penjual.


"Makasih, Mbak, Mas" ujar penjual tersebut.


"Sama-sama. Ayo, Pak," ajak Sifa yang kembali menarik tangan Abash.


Abash pun kembali tersenyum, pria itu pun mengikuti langkah Sifa yang saat ini berada di hadapannya. Abash mengernyitkan keningnya di saat melihat Sifa terlihat kebingungan dan melihat ke kiri dan ke kanan.

__ADS_1


"Kamu cari apa?" tanya Abash.


"Ojek," jawab Sifa tanpa menoleh ke arah Abash.


"Untuk?" tanya Abash lagi.


"Ya untuk kita pergi ke rumah Bapak," jawab Sifa yang kalo ini sudah menoleh ke arah Abash.


Abash pun terkekeh pelan melihat keunyuan Sifa.


"Saya bawa mobil, Sifa. Jadi untuk apa lagi ojek?" tanya Abash yang mana membuat Sifa membulatkan matanya.


"Oh iya, saya lupa, Pak," jawab Sifa sambil menepuk keningnya.


Abash pun menarik tangan Sifa dengan lembut dan merubah posisi pegangan tangan mereka. Sifa mengerjapkan matanya dan menatap tangannya yang di genggam lembut oleh Abash.


"Ayo," ajak Abash menuju mobilnya.


Sifa pun mengikuti langkah Abash dengan mata yang terus menatap ke arah tangannya yang di genggam oleh Abash.


"Ayo naik," titah Abash yang sudah membukakan pintu mobil untuk Sifa.

__ADS_1


"Hah? Ah ya," ujar Sifa yang baru menyadari jika Abash sudah membuka pintu mobil untuknya.


Sifa pun masuk ke dalam mobil dengan jantung yang berdebar dengan cepat.


"Ya Allah, apa ini yang di namakan jatuh cinta?" lirih Sifa sambil terus menatap ke arah Abash yang berlari pelan di luar mobil, menuju pintu mobil yang lain.


Abash masuk ke dalam mobil, tak lupa pria itu menampilkan senyum terbaiknya kepada Sifa.


"Duh, bisa gak sih jangan senyum gitu, Pak? Jantung saya gak aman ini," batin Sifa sambil mengalihkan perhatiannya.


Abash pun melajukan mobilnya dengan kecepatan 60km/jam. Hingga tak butuh waktu lama mobil yang di kendarai oleh Abash pun tiba di kediaman Papa Arka.


Di sana, seluruh para pekerja dan keluarga besar telah berkumpul untuk mengikuti perlombaan.


"Apa kita terlambat?" lirih Sifa.


"Tidak, karena saya sudah mengatakan ke Mama untuk menunggu kamu," ujar Abash dengan tersenyum.


Deg ...


"Duh, lama-lama liat senyum pak Abash, bisa kena diabetes nih," batin Sifa dengan menggigit bibirnya.

__ADS_1


Abash dan Sifa pun turun dari mobil, kedatangan mereka pun langsung di sambut oleh Mama Kesya.


"Sifa sudah datang, ayo kita mulai perlombaannya."


__ADS_2