Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 329


__ADS_3

Sifa, kamu jangan berbohong.  Jangan kamu berkata seolah kami tidak ada untuk kamu dulu," bentak Bukde.


Sifa tersenyum miring. "Jika aku yang berbohong, bisakah Bukde mengatakan di mana kalian saat aku membutuhkan kalian semua? Di saat aku dan nenek kelaparan dan hanya meminta segenggam beras untuk di masak, tapi kalian malah melempar beras itu ke tanah dan menyuruh kami untuk memungutnya," lirih Sifa dengan air mata yang bercucuran.


"Di saat aku dan nenek kehujanan dan kedinginan di saat malam, tak ada satu pun dari kalian yang memberikan selimut dan malah membiarkan kami tidur di gudang belakang rumah. Di mana tempat ayahku menyimpan barang-barang hasil mulungnya."


Sifa sudah terisak, Abash pun merangkul calon istirnya itu untuk menenangkan. Bukan ini sebenarnya yang Abash inginkan. Abash tidak berniat membuat Sifa kembali terluka dengan masa lalunya. Tapi, niat Abash mengundang sanak saudara Sifa, itu di karenakan dia ingin membuat perhitungan dengan mereka semua. Ingin menunjukkan jika Sifa bukan lagi anak yatim piatu yang bisa ditindas dan diremehkan.


Tapi, melihat apa yang terjadi saat ini, membuat Abash merasa bersalah dan menyesal karena telah mengundang semua sanak saudara Sifa. Rasanya ingin sekali Abash menendang mereka semua saat ini.


"Sifa, kamu mungkin lupa, kalau kami yang merawat kamu dulu," ujar Pakde dengan suara yang lebih lembut.


"Merawat?" tanya Sifa dengan tersenyum miring. "Jika Pakde yang merawat Sifa, kenapa Pakde biarkan Sifa pergi saat diusir dari rumah dengan bukde? Padahal rumah yang Pakde tempati, di sana juga terdapat hak Sifa untuk tinggal di sana."


"Sifa, Pakde sudah mencari kamu ke mana-mana, tapi nenek kamu itu malah membawa kamu pergi entah ke mana dan membuat kami kehilangan kamu," lirih Pakde mencoba mengambil hati Sifa.


"Benarkah?"


Seseorang muncul dari belakang Pakde dan Bukde, sehingga mereka semua serentak membulatkan matanya saat melihat siapa yang datang.

__ADS_1


"Rohaye?" lirih Pakde dengan terkejut.


"Aku adalah saksi, di mana kalian menganiaya anak ini," ujar wanita paruh baya yang  bernama Rohaye itu.


Ya, Rohaye adalah orang yang membantu Sifa dan nenek mencari tempat tinggal. Buk Rohaye juga yang membantu nenek untuk mencari pekerjaan sebagai tukang buruh cuci. Tapi, semenjak sang suami meninggal, membuat Buk Rohaye harus kembali ke kampung halaman bersama anak-anaknya. Maka dari itu, Sifa tidak terlalu mengingat tentang Buk Rohaye, karena mereka hanya sekali bertemu. Sifa hanya mengingat, jika ada seorang wanita yang memberikan tempat untuk tidur dan makanan pada malam itu. Tapi Sifa tidak mengingat wajah dan siapa namanya. Sifa hanya mengingat, jika wanita itu mengantarkan mereka ke rumah di mana dia tempati bersama dengan sang nenek keesokan harinya.


Pakde dan Bukde pun terdiam, karena kali ini mereka tidak bisa lagi berkutik. Buk Rohaye dulu sangat di takuti dan di segani, karena suaminya yang seorang tentara. Jadi, keluarga mereka tidak berani berurusan dengan keluarga Buk Rohaye.


"Semua sudah jelas," ujar Abash mengakhiri obrolan itu. "Jadi, kebohongan apa lagi yang akan kalian ciptakan?" tanya Abash dengan menatap tajam ke arah pakde dan bukde.


"Sebenarnya apa mau kamu, mengundang kami ke sini hanya untuk di permalukan?" tanya anak bukde yang cowok.


"Untuk itu, jangan pernah kalian sekali-kali menjual nama Sifa untuk kepentingan pribadi kalian sendiri. Mau itu kalian mengatakan jika Sifa memiliki hubungan saudara sama kalian di akun konten kalian yang tidak jelas itu, atau di ketikan komentar kalian yang mengatakan jika Sifa bisa sehebat itu berkat bantuan kalian semua," geram Abash.


"Sifa bisa sampai di sini karena usahanya sendiri, bukan karena bantuan kalian. Untuk itu, jangan pernah menjual nama Sifa demi kepentingan kalian. Apapun itu," geram Abash. "Jika kalian ketahuan menjual nama Sifa dan mengaku-ngaku sebagai saudara atau orang yang telah membantu Sifa di saat susah, maka siap-siap mendapatkan surat panggilan dari kantor polisi, atas tuduhan palsu yang kalian buat," ancam Abash.


Mereka semua terlihat menelan ludahnya dengan kasar. Terlihat sangat jelas sekali, jika mereka sangat takut dengan ancamana yang Abash berikan. Sudah menjadi hukum alam, kan? Jika kita yang tidak memiliki uang, tidak akan bisa menang melawan orang yang memiliki kekuasaan. Tapi, kali ini karena Abash yang memiliki keuasaan, bukan berarti Abash menyalahgunakan kekuasaannya, melainkan Abash hanya ingin melindungi calon istrinya itu. Dan juga, memberikan pelajaran serta rasa sesal yang mendalam di dalam diri pakde dan bukde Sifa.


"Dengan tidak mengurangi rasa hormat saya, silahkan kalian tinggalkan tempat ini," ujar Abash, sehingga membuat Pakde dan Bukde merasa malu.

__ADS_1


Sanak saudara Sifa pun keluar dari ballroom itu dengan wajah yang merah padam menahan rasa malu.


"Sifa, tolong maafkan Pakde," ujar Pakde dan bersimpuh di kaki Sifa.


Abash dengan cepat menyembunyikan Sifa di balik tubuhnya. Pria itu tahu, jika Sifa tidak akan tega membiarkan pakdenya itu memohon kepadanya.


"Mas---" lirih Sifa dari balik tubuh Abash.


"Sifa sudah memaafkan kalian, tapi ingat, jangan pernah menemui Sifa lagi," kesal Abash dan menyuruh Pakde untuk pergi.


"Sifa, ingat, kita masih saudara. Kamu hanya bisa menikah dengan pria ini, jika pakde mu yang menikahkan. Pakde mu ini adalah wali sah kamu, Sifa. Kamu harus ingat itu, kamu jangan sombong, karena suatu saat nanti, hanya pakde mu yang bisa menikahkan kamu," ujar Bukde dengan penuh emosi.


"Benarkah?" tanya Abash. "Apakah Pakde tidak pernah meminum alkohol? Atau Pakde sampai detik ini sholatnya tidak pernah tinggal?" tanya Abash dengan tersenyum miring, sehingga membuat Bukde terdiam.


"Sifa bisa menikah dengan diwakilkan penghulu, karena pakde-nya tidak bisa bertanggung jawab atas dirinya sendiri di hadapan sang pencipta, jadi, bagaimana bisa dia menjadi wali nikah Sifa nantinya?" sambung Abash dengan penuh penekanan. "Jadi, jangan mencari-cari alasan untuk mempersulit pernikahan kami."


Bukde merasa kesal, sehingga membuat wanita paruh baya itu pun semakin merasa malu.


Ya, dalam islam sendiri. Hal yang paling wajib menjadi seorang wali nikah adalah, menjaga sholatnya lima waktu. Jika itu saja tidak bisa di jaga, maka wali nikah pun dapat di ganti dengan wali nikah hakim.

__ADS_1


__ADS_2