
Ibra dan Zia menikmati makan siang mereka bersama, setelah Zia melakukan pemeriksaan.
"Oh ya, kamu ada menjenguk Sifa gak tadi?" tanya Ibra.
"Niatnya sih pingin jenguk, karena sudah di rumah sakit juga kan. Tapi karena aku baru selesai melakukan check up, aku gak berani menjenguk, takut membawa virus," sahut Zia.
"Ooh, gitu." Ibra terlihat mengangguk-anggukan kepalanya. "Gimana kalau besok kita jenguk Sifa?" ajak Ibra.
"Besok?"
"Iya. Besok, gimana? Rayyan dan Yumna kan juga belum lihat adik sepupunya kan?" ujar Ibra.
"Iya sih. Mama aku juga belum lihat anaknya Mbak Sifa," ujar Zia memberitahu.
"Tante Nayna lagi di sini? Kapan tiba di sini?" tanya Ibra.
"Kemarin sore."
"Oh ya udah kalau gitu, besok biar aku jemput aja, kita pergi bareng dengan Tante Nayna," ajak Ibra lagi.
"Em, boleh. Tapi---" Zia menggantung ucapannya, di saat mendengar suara ponselnya berdering.
"Panjang umur mama," ujar Zia sambil menunjukkan layar ponselnya kepada Ibra.
Zia menggeser tombol hijau agar panggilan tersebut tersambung.
"Assalamualaikum, Ma!" sapa Zia.
"Walaikumsalam. Zi, kamu lagi di mana sekarang?" tanya Mama Nayna.
"Lagi di restonya Mami Vina, Ma. kenapa, Ma?" Zia merasa tidak enak perasaan, takut terjadi sesuatu dengan Rayyan dan Yumna.
"Kamu sama siapa di sana?" tanya Mama Nayna lagi.
"Sama Ibra, Ma. Tadi gak sengaja ketemu di rumah sakit," ucap Zia memberi tahu.
"Oh sama Ibra. Memangnya siapa yang sakit, Zi? Kok gak bilang-bilang ke rumah sakit?" tanya Mama Nayna di mana suaranya terdengar khawatir.
"Enggak, Ma. Zi hanya melakukan pemeriksaan rutin aja kok," bohong Zia.
"Loh, Arash gak temani kamu?" tanya Mama Nayna. "Bukannya Arash sudah berjanji untuk selalu menemani kamu?"
Seperti yang dijanjikan Arash pada awal pernikahan mereka, jika Arash akan memperlakukan Zia dengan baik. Lalu, apakah ini bisa dikatakan memperlakukan secara baik?
Bahkan, Arash seolah tidak menjalankan apa yang sudah pria itu janjikan sebelumnya.
Tidak masalah. Zia merasa tidak masalah akan hal itu. Karena apa? Karena yang terpenting bagi Zia adalah keberadaan dirinya tetap dekat dengan Rayyan dan Yumna. Ya, hanya itu yang Zia harapkan.
__ADS_1
"Mas Arash kebetulan lagi banyak kerjaan, Ma. Lagi pula, Mas Arash gak tahu kalau Zia ke rumah sakit," jelas Zia.
"Tetap saja, Zi. Kamu itu tetap saja harus kasih tahu Arash," ujar Mama Nayna menasehati.
"Iya, Ma. Lain kali Zia akan kasih tahu Mas Arash kalau mau pergi check up."
"Oh ya, kenapa bisa ada Ibra di sana? Kamu gak janjian dengan dia 'kan?" tanya Mama Nayna penuh intimidasi.
"Enggak, Ma. Kebetulan aja kami ketemu di sini saat Zia sedang melakukan check up," ujar Zia memberitahu.
"Oh begitu. Ah ya, kamu nanti ada balik ke kantor atau gimana?" tanya Mama Nayna.
"Emm, mungkin langsung pulang, Ma. Kenapa, Ma?"
"Gak papa. Kalau langsung pulang, titip rujak yang di rumah sakit, ya. Kangen Mama sama bumbu rujaknya," kekeh Mama Nayna.
"Mama gak lagi ngidam kan?" goda Zia.
"Husss ... Ada-ada aja kamu kalau ngomong, Zi. Ya gak lah. Memangnya orang yang kepingin rujak itu hanya orang yang ngidam aja apa? Kan gak, Zi."
"Iya, Ma, iya. Zia cuma bercanda aja kok," ujar Zia sambil terkekeh. "Ya udah kalau gitu, ntar Zia beliin ya."
"Nanti minta tolong sama Ibra aja pas belinya, ya? Biar kamu gak capek jalan," titah Mama Nayna.
"Iya, Ma. Nanti Zia bilang ke Ibra."
Setelah berbincang sesaat, panggilan pun akhirnya terputus.
"Oh, Mama suruh minta tolong ke kamu, untuk membelikan rujak di dekat rumah sakit," jawab Zia.
"Oh, oke. Gak masalah. Apa ada lagi yang mau dibeli?" tanya Ibra yang dijawab gelengan oleh Zia.
Setelah selesai makan siang, Zia dan Ibra pun membeli apa yang dipesankan oleh Mama Nayna, setelahnya pria itu mengantarkan Zia pulang ke apartemen.
"Aku ikut masuk boleh? Mau ketemu sama Tante Nayna, Rayyan dan Yumna juga," izin Ibra.
"Boleh. Lagi pula kalau kamu gak mampir, pasti Mama bakal tanyain kamu."
Zia dan Ibra pun masuk ke dalam lift menuju di lantai mana apartemen Zia dan Arash berada.
Sesampainya di apartemen, kedatangan Ibra pun di sambut dengan tangan terbuka oleh Mama Nayna. Ah ya , saat diperjalanan tadi Ibra tak lupa membelikan mainan untuk Rayyan.
"Duh, jadi ngerepotin kamu, Bra," ujar Mama Nayna sambil menepuk pelan lengan Ibra.
"Enggak ngerepotin kok, Tante. Selagi Ibra bisa membantu, maka Ibra akan membantu."
"Oh ya, tadi Tante bikin puding. kamu cobain ya!" Mama Nayna pun menyuruh Ibra untuk duduk, kemudian dia pergi ke dapur untuk mengambil puding buatannya.
__ADS_1
"Aku ke kamar dulu ya, Bra!" pamit Zia yang diangguki oleh Ibra.
Sebelum memeluk Rayyan dan Yumna, Zia harus mengganti pakaiannya dulu. Dia tidak ingin buah hatinya itu terserang virus yang dia bawa dari luar rumah.
Setelah berganti pakaian, Zia keluar kamar dan bergabung dengan Mama Nayna, Ibra, Rayyan, dan Yumna.
"Puding buatan Tante selalu bikin ngangenin," puji Ibra sambil tersenyum.
"Ah, kamu bisa aja. Bilang kangennya ke puding buatan Tante, tapi ntar yang dikangenin yang lain?" goda Mama Nayna.
"Kalau misalnya yang itu masih boleh di kangenin, pasti Ibra akan selalu kangen dengan dia, Tante. Tapi sekarang udah gak boleh dikangenin lagi," kekeh Ibra sambil tersenyum melirik ke arah Zia.
Mama Nayna tersenyum sambil melirik ke arah Zia dan Ibra secara bergantian. "Semoga kamu segera bertemu dengan wanita yang telah di jodohkan untuk kamu ya, Bra!"
"Amin, semoga saja Tante."
Di saat Ibra, Mama Nayna, dan Zia sedang asik mengobrol, tiba-tiba saja bel apartemen berbunyi. Asisten rumah tangga pun bergegas membukakan pintu untuk orang yang menekan bel tersebut, setelah melihat siapa orang yang menekan bel.
"Assalamualaikum, Ma," sapa Arash saat masuk ke dalam apartemen.
"Walaikumsalam, Rash. Loh, kamu sudah pulang?" Mama Nayna pun melirik ke arah jam yang ada di dinding.
"Iya, Ma. Kebetulan lagi gak banyak kerjaan," jawab Arash yang mana membuat Mama Nayna melirik ke arah sang putri.
Tadi, bukannya Zia mengatakan jika Arash lagi banyak kerjaan? Maka dari itu Arash tidak bisa menemani Zia melakukan check di rumah sakit?
"Bra, udah lama?" sapa Arash dengan ramah.
"Gak juga kok."
"Oh, iya. Aku ganti baju dulu, ya!" pamit Arash dan berlalu menuju kamarnya.
Setelah berganti pakaian, Arash kembali keluar kamar dan bergabung dengan Mama Nayna, Zia, Ibra, Rayyan dan Yumna.
"Mau puding, Rash?" tawar Mama Nayna.
"Boleh, Ma."
Mama Nayna pun menghidangkan puding untuk Arash. Pria itu pun menikmati puding buatan mertuanya.
"Emm, enak, Ma. Manisnya Pas."
"Syukurlah kalau kamu suka. Nanti Mama akan berikan resep dan cara buatnya kepada Zia. Jadi, kalau kamu kepingin makan puding ini, kamu tinggal minta Zia buatkan saja, ya?"
Arash tersenyum dengan puding yang masih ada di dalam mulutnya. Mungkinkah dia meminta di masakkan puding oleh Zia? Sedangkan memakan masakan Zia saja, Arash tidak mau.
Ibra, Zia, Rayyan dan Yumna pun terlihat bermain bersama, seolah mereka ada keluarga yang bahagia dengan dikarunia sepasang anak.
__ADS_1
Arash yang sedang menikmati puding dan tak sengaja melihat pemandangan tersebut pun, merasa tidak suka melihat kedekatan anak-anaknya dengan Ibra.
"Rayyan mau puding?" tawar Arash mengambil atensi Rayyan dan semuanya.