
Mulai sekarang, tak akan ada lagi terong di antara dirinya dan Putri. Ya, Arash sudah bertekad akan hal itu. Dia tidak ingin kembali tersiksa karena tak bisa melepaskan empus ke dalam sangarnya yang sebenarnya.
Arash kembali di saat Putri sedang menonton film drama korea dari ponselnya. Pria itu merasa bersalah, karena telah meninggalkan Putri sendirian secara tiba-tiba. Ya, walaupun Arash sempat menyuruh pelayan untuk mengatakan jika dirinya sedang sakit perut dan harus ke kamar mandi secara tiba-tiba. Tapi tetap saja, terlihat jelas dari wajah Putri jika gadis itu terlihat sangat kesal sekali.
"Maaf, sudah membuat kamu menunggu lama," ujar Arash merasa tak enak dan juga bersalah.
"Hmm." Putri hanya berguman tanpa ingin repot-repot ingin menoleh ke arah pria itu.
"Kamu sudah selesai makannya?" tanya Arash yang melihat jika di piring Putri masih terdapat sisa makanan.
"Aku sudah kenyang," jawab Putri dan lagi-lagi tak menoleh ke arah Arash.
Gadis itu merasa kesal kepada Arash, karena pria itu pergi berlalu tanpa kata dengan wajahnya yang jutek, kemudian memberikan kabar jika pria itu sakit parut hanya dari seorang pelayan. Padahal kan Arash punya ponsel dan pria itu bisa mengirimkan pesan singkat kepada Putri. Putri merasa jika apa yang di katakan oleh Arash tadi hanya bualan semata. Padahal, gadis itu sudah berniat untuk menerima cinta Arash, jika saja pria itu mengungkapkan perasaannya lagi.
Dan ini semua gara-gara terong. Ya, semua ini salah si terong. Ngapain dia ada di situ? Kalau gak ada terong kan, gak mungkin suasana romantis yang sedang terjadi, berubah menjadi se-menyebalkan ini.
__ADS_1
Putri melirik ke arah sisa terong yang masih ada di atas meja, gadis itu pun seketika merasa benci dan tidak menyukai sayur yang berwarna ungu itu.
"Kamu mau terongnya lagi?" tawar Arash di saat menangkap basah jika Putri sedang memandang ke arah terong bakar.
"Gak, dah kenyang," jawab Putri dengan nada yang jutek.
Arash mengangguk-anggukan kepalanya. Mendengar nada jutek dari gadis yang dia cintai pun, membuat selera makannya seketika lenyap begitu saja. Arash tahu, jika Putri saat ini sedang kesal dengannya, karena pergi tanpa pamit dan hanya menitip pesan kepada pelayan.
Arash menghela napasnya pelan, untuk mengosongkan ruang di dalam dadanya.
"Put," panggil Arash, tetapi gadis itu tidak menoleh ke arahnya.
"Apa?" tanya Putri masih dengan wajah kesal dan nada juteknya.
Arash meraih tangan Putri yang ada di atas meja, pria itu menggenggam tangan gadis yang sudah memporak-porandakan perasaannya dengan hangat.
__ADS_1
"Maafin aku, ya," pinta Arash dengan tatapan matanya yang sendu.
Putri menghela napasnya dengan sedikit kasar. Dia tidak ingin lagi terjatuh dalam pesona tatapan mata Arash yang begitu membuatnya merasa nyaman. Gadis itu pun menarik tangannya dari genggaman tangan Arash.
"Aku mau pulang, besok ada sidang," ujar Putri sambil mematikan ponselnya yang masih menyala.
"Kamu gak jadi kasih pertanyaan sama aku?" tanya Arash yang menahan lengan Putri.
"Lupa harus tanya apa," ketus Putri dan bergegas memasukkan ponselnya ke dalam tas.
"Put—"
"Kalau kamu masih mau di sini, silahkan. Aku mau pulang," ketus Putri dan berlalu meninggalkan Arash yang menyesali perbuatannya.
Arash menatap terong yang ada di atas piring, pria itu pun melempar terong tersebut bersama piring-piringnya, meluapkan kekesalan kepada sayuran berwarna ungu tersebut.
__ADS_1
"Ini semua karena lo, dasar terong bantet," geram Arash bergegas mengejar Putri.
Andai saja terong bisa ngomong. Maka dia akan berkata, "Kok salah gue, Rash? Lo yang mesum, gue yang salah."