Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 327


__ADS_3

Sifa terlihat sangat cantik sekali malam ini. Saat gadis itu memasuki ruangan ballroom, semua mata pun langsung tertuju kepadanya. Fotografer yang bertugas langsung mengabadikan momen tersebut, di mana saat Sifa masuk ke dalam, di dampingi oleh Amel dan juga Naya.


Abash yang melihat kedatangan Sifa pun, hanya bisa memandang ke arah sang kekasih dengan mulut yang sedikit terbuka.


"Tutup mulutnya anak muda," tegur Papa Arka saat melihat putranya itu malah bengong menatap ke arah Sifa.


Menyadari hal itu dari teguran sang papa, membuat Abash dengan cepat langsung menutup mulutnya, sebelum cairan bening keluar dan menetes dari mulutnya.


"Ayo, Sifa," panggil Mama Kesya untuk naik ke atas panggung.


Naya pun mendampingi Sifa untuk naik ke atas panggung, sedangkan Amel sudah melepaskan tangan Sifa, saat gadis itu menaiki tangga.


"Kamu cantik malam ini," puji Bimo sambil berbisik di sebelah Amel.


Amel tersenyum malu, sehingga hal itu pun tertangkap oleh Quin. Quin sudah tersenyum penuh arti kepada Amel, hingga saat gadis itu tanpa sengaja bertemu tatap dengan Quin, ibu dari satu anak itu pun mengedipkan matanya sebab, seolah memberikan sebuah sinyal dan kode rahasia kepada Amel.


Melihat hal tersebut, Amel membulatkan matanya sambil menggeleng pelan. Tapi sayangnya, Quin sudah berbisik kepada Kayla dan Anggel, hingga mereka berdua menoleh ke arah Amel sambil mengacungkan jempol, tanpa setuju jika Sifa bersama Bimo.


Ya, siapa yang tidak kenal Bimo? Pria manis dan pintar. Bahkan dia selalu di andalkan oleh Abash, untuk membantu pria itu saat menyelesaikan pekerjaan yang lumayan berat.


"Cocok," bisik Anggel kepada Quin, kemudian dia mengacungkan jempol kepada Amel.

__ADS_1


Abash mengulurkan tangannya kepada Sifa, untuk menyambut kedatangan calon tunangannya. Sifa mengulurkan tangannya dengan senyuman yang terukir sangat indah di wajah gadis itu. Senyuman malu-malu yang membuat Abash merasa gemas melihatnya.


"Kamu terlihat sangat cantik," puji Abash, yang mana membuat wajah Sifa semakin merona.


"Terima kasih, Mas juga terlihat sangat tampan," balas Sifa dengan malu-malu.


Berhubung Sifa tidak memiliki sanak saudara yang dekat dengannya. Atau bisa di katakan jika Sifa tak di anggap oleh keluarga dari orang tuanya, maka tak ada satu orang pun yang datang mewakili Sifa dari keluarganya.


Apa Sifa terlihat menyedihkan?


Tentu saja tidak, karena keluarga Moza adalah keluarga Sifa saat ini. Sifa tidak sendirian, karena ada sepupu-sepupu Abash yang mendampinginya. Terutama Amel, sahabat sejatinya itu.


Amel tidak pernah meninggalkan Sifa. Bahkan, gadis itu terlihat sangat antusias saat membantu Sifa menyambut pertunangannya.


Jadi, untuk apa Sifa bersedih, jika saudara yang masih memiliki hubungan darah dengannya, tidak memperdulikannya. Lagi pula, Sifa sudah terbiasa kan untuk hidup dan berjuang sendirian.


Tapi, bukan Abash namanya, jika tidak mengetahui siapa saja saudara-saudara Sifa yang masih memiliki ikatan hubungan saudara, sehingga pria itu sengaja mengundang mereka dan menunjukkan, jika gadis yang mereka remehkan itu saat ini bukanlah gadis biasa.


Sudah menjadi hukum alam kan, jika kita memiliki uang, maka saudara pun ada di mana-mana. Tapi, jika kita tidak memiliki uang, maka saudara pun entah berada di mana.


Begitu pun seperti saat ini, di mana orang-orang yang berdatangan, mengaku sebagai saudara Sifa. Jangan di tanya lagi berapa banyak yang datang, mungkin bisa di katakan satu kampung kali yaa ...

__ADS_1


Acara pun di mulai, MC mengambil atensi semua orang yang ada di sana. Pujian-pujian pun terlontarkan untuk Sifa dan Abash yang hari ini terlihat cantik dan tampan. Bahkan mereka terlihat sangat serasi sekali.


Acara yang paling di tunggu-tunggu oleh Abash adalah, menyematkan cincin ke jadi manis Sifa.


"Arash mana? Udah datang?" bisik Mama Kesya kepada Papa Arka.


"Belum kelihatan, Ma," jawab Papa Arka sambil berbisik pula.


Keluarga Papa Satria pun juga sudah berada di ballroom hotel, terlihat mereka sedang berbincang-bincang dengan anggota keluarga yang lainnya.


"Baiklah, mari kita persilahkan kepada Mas Abash untuk menyematkan cincin di jari manis calon istrinya," ujar MC.


Terlihat Naya membawa sebuah kotak perhiasan dengan berukuran sebesar telapak tangan, di mana di dalamnya terdapat dua buah cincin pertunangan yang sangat indah sekali.


Abash pun menyematkan cincin tersebut ke jari manis Sifa, begitu pun dengan sebaliknya. Tak lupa, sebuah kecupan kecil di punggung tangan Sifa pun Abash daratkan.


"Selamat yaa, Sifa," ujar Amel memberikan selamat kepada sahabatnya itu.


"Makasih, ya." Sifa pun memeluk Amel dengan erat. Air mata pun mulai mengalir dari mata Sifa dan juga Amel secara bersamaan.


"Bagimu, kamu tidak hanya sebagai sahabat, tapi juga saudara untuk aku, hiks .." bisik Sifa.

__ADS_1


"Terima kasih, karena kamu sudah menganggap aku sebagai saudara kamu. Terima kasih juga, Karena kamu sudah mau memaafkan aku," balas Amel dengan berbisik.


Yang membuat keduanya bersedih, bukan karena pertunangan Sifa dan Abash, melainkan dia hari lagi, Sifa harus berangkat ke London, untuk melanjutkan studinya.


__ADS_2