Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 210 - Jangan Lukai Sifa


__ADS_3

Sifa baru saja turun dari motor, tak lupa gadis itu mengucapkan terima kasih kepada mbak ojek yang di tugaskan oleh Abash untuk mengantar dan menjemput dirinya.


“Kenapa aku jadi gak enak perasaan gini, ya?” lirih Sifa saat dia sedang menunggu pintu lift terbuka.


Sifa mengambil ponselnya yang ada di dalam tas, kemudian dia mengecek apakah ada pesan yang masuk atau pun sebuah panggilan yang tidak terjawab.


“Hmm, apa nih ponsel udah rusak, ya? Atau habis paketnya? Atau sinyal gak bisa nangkap sinyal, lagi. Masa iya satu pesan pun gak ada yang masuk?” irihnya sambil menaikkan ponselnya ke udara.


Cling …


Sifa tersenyum di saat ada sebuah pesan yang masuk ke dalam ponsel mahalnya yang di belikan oleh sang kekasih. Gadis itu pun bergegas membuka pesan yang masuk ke dalam layar pipihnya itu.


“Maaf, ya. Aku lembur tadi, makanya gak bisa antar kamu pulang.” Sebuah pesan yang masuk dari Amel.


Sifa pun membalas pesan tersebut. “Gak papa kok, lagi pula aku udah di jemput sama mbak ojek.” send.


Sifa menghela napasnya dengan berat, dia pikir ponselnya memang rusak dan tidak bisa menangkap sinyal dengan baik, ternyata memang kekasihnya itu saja yang tidak mengirimkan pesan kepadanya.


“Mas, kamu ingat aku gak sih? Masa saattu pesan pun tidak kamu kirimkan ke aku?” gumam Sifa dengan perasaan kesal.


Pintu lift terbuka, Sifa pun hanya memandang pintu itu dengan tatapan nanar.


“Mbak, gak masuk?” tanya penghuni apartemen yang sudah berada di dalam lift.


Sifa kembali tersadar, gadis itu pun meneteskan air matanya.


“Maaf, silahkan di tutup pintunya,” ujar Sifa dan berlari menuju keluar gedung apartemen.


Gadis itu pun langsung menyetop taksi yang baru saja menurunkan penumpangnya.


“Pak, ke rumah sakit HH,” titah Sifa yang di angguki oleh supir taksi tersebut.


Sifa pun mengusap air matanya yang mengalir membasahi pipi, sesakit dan sekecewa apa pun Sifa saat ini kepada Abash, tetapi gadis itu masih mengkhawatirkan keadaan kekasihnya itu.


Sifa pun mengalahkan egonya yang tidak ingin bertemu dengan kekasih. Nyatanya, rasa cinta dan khawatir yang dia miliki untuk Abash, lebih besar dari apa pun.


“Terima kasih, Pak,” ujar Sifa sambil memberikan ongkos taksi yang dia tumpangi.


Sifa pun berlari menuju kamar Abash. Gadis itu sudah tahu di mana letak kamar sang kekasih karena semalam dia sudah mendatanginya sekali.


Dia tidak peduli jika saat ini menjadi pusat perhatian orang banyak, karena berlari sambil menangis. Yang Sifa pikirkan saat ini adalah bertemu dengan sang kekasih dan melihat kondisinya.


Sifa mengatur napasnya saat sudah berada di dekat kamar Abash, gadis itu perlahan memajukan langkahnya untuk semakin dekat dengan pintu kamar. Tangannya terulur untuk menekan handle pintu, tetapi mata gadis itu malah menangkap sileut Putri yang sedang membantu Abash untuk berbaring.


“Apa ini alasan kamu untuk tidak mengirimkan pesan kepada aku, Mas? Apa kamu tidak membutuhkan kehadiran aku lagi?” lirih Sifa dengan air mata yang jatuh mengalir di pipinya.


Tiba-tiba saja, ucapan Quin terniang di telinganya, jika Putri adalah salah satu perempuan yang masuk ke dalam kategori calon istri idaman Abash.


“Seharusnya kamu katakan kepada aku, Mas, kalau kamu sudah menemukan pasangan hidup yang seperti apa kamu inginkan,” lirih Sifa dan berbalik menjauh meninggalkan kamar inap sang kekasih.

__ADS_1


*


“Anda tidak salah, Put. Saya yang salah. Tapi, saya tidak bisa mengatakan yang sebenarnya kepada dia,” ujar Abash frustasi.


“Anda tahu, jika saat ini saya berada di posisi Sifa, maka saya akan merasa tidak di anggap dan tidak di hargai oleh Anda. Seharusnya Anda bisa lebih peka dengan perasaan dia. Saya tau, jika Sifa sudah mengetahui semuanya dan ikut terlibat, maka dirinya juga akan berada di dalam bahaya. Tapi, apa saat ini dia juga tidak berada di dalam bahaya?” tanya Putri.


“Bahkan, akan lebih sakit rasanya jika dia tidak tahu apa-apa, tapi juga ikut menanggung getah yang kita tumpahkan.”


Putri menghela napasnya dengan berat. Berbicara dengan Abash ternyata lebih sulit dari pada berbicara dengan rivalnya. Apakah Abash pernah memposisikan dirinya pada diri Sifa?


Tidak, pria itu terlalu fokus untuk melindungi gadis itu, sehingga mengabaikan hal yang paling penting dalam sebuah hubungan. Yaitu menaruh rasa kepercayaan satu sama lain.


Jika begini, bukankah Abash seolah tidak mempercayai Sifa? Sehingga pria itu tidak mengatakan apa masalah yang sedang dia hadapi saat ini?


“Lupakan ancaman itu. Jika pun ancaman itu terjadi, seharusnya dari dulu sudah mulai terjadi, bukan sekarang. Kasih Sifa tempat ternyaman untuk Anda berkeluh kesah. Izinkan dia masuk ke dalam kehidupan Anda, bukan hanya ke dalam hati Anda. Berikan dia tempat untuk Anda percayai, maka dia akan lebih merasa di hargai,” ujar Putri.


Gadis itu pun memotong-motong buah apel dengan cepat, kemudian meletakkannya di atas pangkuan Abash.


“Makanlah, dan pikirkan apa yang saya katakan tadi.”


Putri berbalik dan mengambil tasnya yang ada di sofa. Gadis itu berlalu tanpa pamit keluar dari ruangan Abash.


“Hah, sungguh menyebalkan,” geram Putri. “Bagaimana bisa Sifa jatuh cinta dengan orang keras kepala seperti itu.”


Putri pun melangkahkan kakinya untuk meninggaljan rumah sakit. Dia sengaja tidak mengabari Arash, karena dia pikir pasti pria itu sedang sibuk mengurus kakeknya yang baru saja masuk ke rumah sakit.


*


“Haruskah aku mengabaikan ancaman itu? Tapi, bagaimana jika Sifa terluka?” lirih Abash dengan bingung.


*


Di tempat lain.


Amel menatap tajam kepada sang papi. Gadis itu benar-benar tidak menyangka, jika papinya itu akan berbuat hal sekeji ini untuk menyingkirkan Sifa.


Tidak, Amel tidak ingin menyingkirkan Sifa. Dia hanya ingin gadis itu tahu, kalau Abash lebih pantas untuknya, bukan untuk gadis itu.


“Ini semua demi kamu, sayang,” ujar Papi Robert kepada sang putri.


“Demi Amel? Di mana letaknya demi Amel, Pi? Kak Abash saat ini terbaring dengan kakinya yang patah,” geram Amel kepada sang papi.


“Amel, ayolah. Jangan terlalu berlebihan. Kaki Abash tidak patah, hanya tulangnya saja sedikit retak.”


“Sama aja, Pi. Sama aja. Papi udah membahayakan nyawa Kak Abash,” kesal Amel.


“Amel, Papi hanya menyuruh orang untuk menyerempet mobil Abash, bukan menabraknya hingga berguling-guling seperti itu. Lagi pula, Papi juga sudah menyuruh orang untuk mengancam Abash, agar menjauhi sahabat kamu yang miskin itu.”


“Pi, jangan hina Sifa,” ujar Amel tak suka.

__ADS_1


“Loh, kenapa, sayang? Bukannya kamu ingin menyingkirkan dia?” tanya Papi Robert merasa bingung dengan sikap sang putri saat ini.


“Amel sungguh-sungguh menyayangi Sifa, Pi. Amel sungguh-sungguh menyayangi dia,” lirih Amel dan tubuhnya meluruh ke lantai. “Jangan lukai Sifa dan Kak Abash, Pi, Amel mohon.”


Papi Robert pun mendekati sang anak dan menyamakan tingginya.


“Ada apa, Mel? Kenapa kamu berubah pikiran begini?” tanya Papi Robert dengan bingung.


Seingat pria paruh baya itu, sang putri memohon-mohon untuk di masukkan ke dalam perusahaan Abash, agar dia bisa mendekati pria itu. Lalu, Amel juga meminta agar mengikuti Abash dan membuat gosip tentang Putri dan pria itu, agar Sifa tersakiti.


Setelah semuanya terwujud, kenapa saat ini Amel malah meminta untuk tidak menyakiti mereka berdua? Apa yang sebenarnya terjadi?


“Sayang, apa sebenarnya yang terjadi, kenapa kamu sampai berubah pikiran begini?” tanya Papi Robert dengan bingung.


“Pi, Amel hanya meminta Papi untuk mengirimkan semua foto-foto mesra yang terjadi dengan Kak Abash dan juga Putri. Bukan untuk mencelakai mereka, Pi. Sifa tidak pernah menyakiti Amel secara fisik, dia hanya melukai Amel secara batin, Pi. Jadi, Amel minta, jangan lukai Sifa,” lirih Amel dengan tulus.


“Lalu, apa rencana kamu selanjutnya? Membiarkan mereka bersama?” tanya Papi Robert.


“Sekeras apa pun Amel memisahkan mereka, tetapi tetap saja kan mereka bersama? Jadi, cukup lukai Sifa dengan foto-foto mesra antara Kak Abash dan juga Putri. Agar Sifa tahu, bagaimana sakitnya hati Amel saat melihat mereka bersama.”


Papi Robert pun sekarang paham, apa yang di inginkan oleh sang anak. Pria paruh baya itu pun mengambil sesuatu yang ada di dalam saku jasnya. Sebuah kotak beludru yang terdapat cincin cantik dan mahal di dalamnya.


“Ini, ambil dan simpanlah. Kamu berhak untuk cincin ini, Nak. Setidaknya, obati rasa sakit kamu dengan cincin ini,” ujar Papi Robert sambil memberikan cincin yang seharusnya untuk Sifa itu.


Amel pun mengulurkan tangannya dan mengambil kotak beludru itu dari tangan sang papi. Dia membuka tutup kotak itu dan melihat betapa cantiknya cincin lamaran yang akan di berikan oleh Abash untuk Sifa.


“Kamu gadis yang beruntung, Sifa,” lirih Amel sambil menatap cincin yang sangat indah itu.


*


Kayla yang mendapatkan kabar tentang Kakek Farel pun, langsung bergegas menuju rumah sakit bersama sang suami. Saat sedang melewati taman, wanita itu melihat Sifa yang sedang duduk sendirian di taman dengan menangis sesenggukan.


“Kak, itu bukannya Sifa?” tanya Kayla yang menghentikan langkah sang suami.


“Sepertinya, tapi kenapa dia di sini dan menangis? Apa terjadi sesuatu kepadanya?” tanya Zein dengan kening mengkerut.


“Aku juga gak tau, Kak. Tapi, Sifa terlihat sangat terpukul dan sedih,” ujar Kayla yang merasa iba melihat gadis itu menangis sesenggukan.


“Sayang, kamu coba samperin Sifa. Biar aku yang lihat keadaan Kakek,” ujar Zein.


“Iya, Kak.”


Kayla pun melangkahkan kakinya menuju Sifa yang sedang duduk di taman, wanita itu tanpa menyapa langsung duduk di sebelah gadis itu.


“Hiks .. Maaf,” cicit Sifa dan menggeser duduknya untuk memberi ruang kepada orang yang duduk di sebelahnya.


“Apa yang terjadi, Sifa?” tanya Kayla yang mana membuat Sifa terkejut dan langsung menoleh ke sebelahnya.


“Mbak Kayla?” lirih Sifa, gadis itu seolah tidak bisa menahan air matanya, sehingga langsung berhambur ke dalam pelukan Kayla.

__ADS_1


“Menangislah, Sifa.” bisik Kayla sambil mengusap punggung gadis itu.


__ADS_2