Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 357


__ADS_3

Arash mengusap kepala Putri yang  berada di dalam pelukannya  saat ini. Setelah menenangkan sang istri, akhirnya pria itu berhasil membuat Putri tertidur dengan pulas.


"Apa aku butuh bantuan Naya? Untuk membuat Putri menghilangkan rasa traumanya?" batin Arash menatap wajah tenang Putri.


Tapi, jika Arash melakukan hal itu, dia takut jika Putri akan tersinggung dan menyakiti perasaannya. Hanya ada satu cara yang bisa membuktikan jika dia masih suci, yaitu dengan melakukan hubungan yang sah antara suami dan istri. Tapi, bagaimana cara Arash melakukannya tanpa memaksa Putri? Sedangkan wanita itu terlihat sangat ketakutan jika Arash akan menyentuh Putri.


"Sabar, Rash, kamu harus sabar. Pasti semuanya akan baik-baik saja," lirih Arash sangat pelan sekali.


Perlahan, mata Arash pun ikut terasa kantuk, hingga pria itu pun secara perlahan menutup matanya, menyusul Putri ke alam mimpi.


Beberapa jam kemudian.


"Ma, ini sudah jam berapa? Apa pelayan sudah mengantarkan makanan dan cemilan ke kamar Putri?" tanya Papa Satria kepada sang istri.


"Tadi Mama sudah meminta pelayan untuk mengantarkan makanan, Pa," jawab Mama Nayna.

__ADS_1


"Oh, baguslah kalau begitu. Berarti mereka sudah makan saat ini. Kalau nanti malam pastinya akan sangat sulit sekali untuk makan, karena banyak tamu yang ingin bersalaman dan berfoto," ujar Papa Satria.


"Iya, Pa."


Mama Nayna pun mengeluarkan sebuah kotak perhiasan yang akan dia berikan kepada Putri nantinya.


"Apa itu, Ma?" tanya Papa Satria.


"Ini?" ujar Mama Nayna sambil mengangkat kotak tersebut.


Perlahan, Mama Nayna membuka tutup kotak tersebut, sehingga apa yang ada di dalam kotak itu terlihat. Papa Satria membulatkan matanya, di saat melihat betapa indahnya mahkota dan satu set perhiasan seperti kalung, anting, dan cincin. Ukiran yang sangat berbeda dari yang lain dan terlihat sangat spesial sekali.


"Mama serius? Bukankah Zia mengambil jurusan bisnis?" tanya Papa Satria memastikan.


"Hmm, ya. Tapi, dia diam-diam meminta bantuan temannya untuk menciptakan mahkota dan satu set perhiasan ini untuk Zia kenakan malam ini. Dia sengaja bergadang demi membuat sketsa mahkota ini, Pa," ujar Mama Nayna memberitahu.

__ADS_1


Ya, selama Mama Nayna di Swiss, di mana Zia berada. Mama Nayna terus memperhatikan apa yang sedang di kerjakan oleh sang putri. Banyak coretan pinsil di atas kertas putih, dengan ukiran-ukiran yang begitu indahnya. Mama Nayna awalnya tidak percaya, jika semua itu adalah hasil karya Zia, karena gadis itu terlihat sangat tidak menyukai menggambar. Ya, hal itu di lihat oleh Mama Nayna, saat beliau ingin mengajak Zia untuk menghias cake pernikahan atau pun ulang tahun. Zia pasti akan menolak, karena hal itu sangat membosankan baginya, berbeda dengan Putri yang menyukai hobi yang sama dengan Mama Nayna.


Karena hal itu, membuat Mama Nayna berpikir, jika Putri tidak tertarik dengan menggambar. Tapi ternyata, gadis itu memiliki bakat terpendam yang sangat berbeda dan berkualitas. Bahkan Zia pernah mengatakan kepada sang mama, jika dirinya ingin memiliki sebuah perusahaan jewelry milik dirinya sendiri. Namun, Zia harus bersabar untuk hal itu, karena dirinya sudah berjanji dengan sang abang, jika akan membantu Bara di perusahaan, selama pria itu mengambil S3-nya di Swiss juga.


"Siapa yang menyangka, Ma, jika putri bungsu kita ternyata sangat berbakat sekali," puji Papa Satria dengan mata yang berkaca-kaca.


"Iya, Pa. Mama telah banyak melewatkan pertumbuhan Zia, karena terlalu perhatian dengan Putri. Dulu Mama sangat takut jika Putri akan merasa kehilangan dan di abaikan, saat Zia lahir, karena kita telah memiliki seorang putri yang tak kalah cantiknya dari Putri. Karena rasa takut jika Putri akan terabaikan, Mama sampai melupakan memberikan perhatian kepada Zia, sehingga gadis itu tumbuh dengan rasa kesepian, Pa. Mama sangat merasa bersalah," lirih Mama Nayna yang sudah meneteskan air matanya.


"Iya, Ma. Papa juga. Karena terlalu sibuk mengurus klien dan menyerahkan keseluruhan tanggung jawab soal anak kepada Mama, membuat Papa juga merasa bersalah dengan Bara, di mana dia harus mengorbankan masa mudanya demi menjadi seorang pemimpin yang hebat, Ma," ujar Papa Satria yang sudah meneteskan air matanya.


"Padahal dulu, saat Papa masih muda, Papa benar-benar tidak peduli dengan perusahaan dan lebih mengejar impian Papa menjadi seorang pengacara. Tapi, Papa malah mengorbankan masa muda Bara, demi menggantikan posisi Papa menjadi pemimpin perusahaan, Ma. Papa sungguh merasa kejam terhadap Bara." Papa Satria pun tidak bisa lagi menahan isak tangisnya, sehingga membuat pria paruh baya itu meneteskan air matanya dengan begitu deras.


"Pa, semuanya telah berlalu. Hal yang telah berlalu tidak bisa kita ulangi lagi, Pa, semuanya terlanjur terjadi. Yang harus kita lakukan saat ini adalah memperbaiki semuanya, Pa. Di mana Mama harus mengganti semua waktu-waktu Mama yang sudah mama biarkan berlalu begitu saja untuk berada di sisi Zia, saat ini adalah saatnya bagi Mama untuk mengganti waktu itu, Pa. Begitu juga dengan Papa. Di mana saat ini Papa harus ada untuk Bara, mendampingi dia menjadi pria yang lebih kuat dan bijaksana, Pa. Hanya itu yang bisa kita lakukan demi menebus kesalahan kita yang telah berlalu," lirih Mama Nayna sambil mengusap air mata Papa Satria yang mengalir di pipi pria paruh baya itu.


"Iya, Ma. Mama benar. Kita harus membayar semua waktu yang telah terabaikan dulu."

__ADS_1


Papa Satria menghela napasnya pelan, pria paruh  baya itu pun kembali melihat ke arah mahkota yang akan di pakai oleh Putri malam ini.


"Sangat cantik sekali. Zia benar-benar gadis yang berbakat," puji Papa Satria dengan penuh rasa bangga.


__ADS_2