
Pesawat yang di naiki oleh Arash akhirnya telah mendarat di London. Pria itu pun langsung menuju hotel dengan menggunakan taksi yang tersedia di sana.
"Hmm, akhirnya aku kembali ke sini," lirih Arash sambil memandang ke arah luar jendela.
Entah mengapa, Arash merasa ada sesuatu dengan negara yang saat ini dia datangi. Seolah ada sesuatu yang harus dia bawa pulang kembali.
Cling ....
Arash mengambil ponselnya, sebuah notif pesan masuk dari Sifa pun tertera di layar ponselnya itu.
Sifa baru saja menanyakan kabar Arash, di mana pria itu saat ini menginap.
Arash kembali menyimpan ponselnya setelah membaca isi pesan yang di kirimkan oleh calon iparnya itu, kemudian dia kembali melihat-lihat kota London dari luar jendela.
Arash tersenyum, saat dia melewati sebuah restoran ayam cepat saji. Pria itu kembali teringat dengan Putri, di mana mereka menyebut restoran cepat saji itu dengan sebutan ayam kakek.
"Hmm, kenapa sulit banget lupain kamu sih, Put?" lirih Arash sambil memijit pangkal hidungnya yang tiba-tiba saja berdenyut.
Sesampainya di hotel, Arash langsung membersihkan diri, agar pria itu bisa tidur dengan nyenyak.
Niat hati ingin tidur setelah mandi, akan tetapi Arash merasakan jika perutnya lapar. Pria itu pun berniat untuk mencari makanan di restoran hotel.
__ADS_1
Arash melangkahkan kakinya, hingga tanpa sadar pria itu telah sampai di sebuah restoran makanan cepat saji.
"Kenapa aku di sini?" lirih Arash yang ternyata sudah berjalan cukup jauh dari hotel di mana tempat dia menginap.
Kriiuukk ...
Merasa jika perutnya itu terasa lapar, Arash pun memutuskan untuk makan di restoran ayam cepat saji tersebut.
Arash harus menunggu beberapa menit, hingga pesanannya siap di goreng. Sambil menunggu pesanannya telah selesai di masak, pria itu pun memesan kentang goreng sebagai teman cemilannya.
"Miska ... Please deliver this order to table number 24."
Deg ...
Langkah Miska terhenti, saat melihat siapa orang yang duduk di meja nomor dua puluh empat.
"Bagaimana bisa dia di sini?" batin Putri yang sudah menggenggam nampan dengan erat.
"Miskaa .." tegur manager restoran tersebut, saat melihat gadis itu hanya berdiri di tempat.
Miska menoleh ke arah sumber suara, bersamaan dengan Arash yang juga menoleh ke arah gadis yang berada tak jauh darinya.
__ADS_1
Miska pun menarik napasnya panjang dan menghelanya dengan pelan, jantungnya berdegup dengan kencang saat melihat Arash saat ini sedang menatap ke arahnya. Miska aka Putri pun menelan ludahnya dengan pelan.
"Tenang, Put, tenang. Arash pasti tidak akan mengenali kamu," batin Putri dan berjalan menuju ke arah Arash.
Putri meletakkan pesanan Arash ke atas meja, kemudian dia tersenyum tipis sambil mengucapkan 'selamat menikmati.'
Arash terlihat cuek terhadap gadis yang baru saja mengantarkan pesanannya, pria itu pun mengabaikan pelayan yang bernama Miska dan memilih menikmati pesanannya.
"Huff, syukurlah Arash tidak mengenali aku," batin Putri bernapas dengan lega.
Arash sedang menikmati ayam cepat saji itu dengan perasaan bahagia. Bahkan, pria itu terlihat tersenyum sendirian sambil memandang ponselnya.
"Apa dia sedang berkirim pesan dengan seorang gadis?" batin Putri yang memandang Arash dari kejauhan.
"Apa yang kamu harapkan, Put? Apa kamu berharap Arash mengenali kamu? Setelah kamu berharap dia tidak mengenali kamu?" tanya Putri kepada dirinya sendiri.
"Hmm, moodku benar-benar tidak baik."
Sudah hampir satu jam Arash berada di resto tersebut. Selama itu, Putri pun memerhatikan Arash dari kejauhan.
"Miska, it's tiime to change sifts," ujar manager yang melihat Putri sedari tadi terlihat malah memperhatikan pelanggan yang duduk di meja nomor dua puluh empat.
__ADS_1