
Arash sudah memasukkan semua baju-baju Putri ke dalam koper. Pria itu akan mengajak Putri untuk tinggal bersamanya dalam beberapa waktu, hingga mereka menemukan tempat tinggal yang aman bagi gadis itu. Mungkin, hal yang paling terbaik untuk Putri saat ini adalah pindah ke tempat Arash.
Arash juga sudah menghubungi Om Martin dan mengatakan jika Putri kembali mendapatkan sebuah ancaman. Pria itu pun juga menghubungi sang kembaran untuk menanyakan keadaannya. Syukurlah, tidak ada yang terjadi apa pun dengan Abash, sehingga membuat Arash bisa bernapas dengan lega.
Namun, aada hal yang sangat menjanggal saat ini di dalam hati pria itu. Kenapa hanya Putri?
Tak butuh waktu lama untuk Om Mratin tiba ke apartemen Arash, karena pria paruh baya itu langsung bergegas berangkat untuk melihat anak dari sahabat baiknya. Om Martin sudah menganggap jika anak-anak dari Papa Satria adalah anaknya juga.
"Minumlah dulu," ujar Arash sambil menyodorkan segelas air hangat kepada Putri.
Gadis itu pun menerima gelas tersebut dengan tangan yang bergetar.
"Terima kasih," lirih Putri dan menempelkan gelas berisi air hangat itu ke bibirnya.
"Emm, ini manis sekali?" kernyit Putri sambil mengembalikan gelas tersebut kepada Arash.
"Minumlah sedikit lagi. Aku sengaja membuat air gula agar tenaga kamu kembali," ujar Arash dan memaksa Putri untuk meminum beberapa tegukan lagi.
"Tapi ini sangat manis sekali," tolak Putri.
"Di paksa sedikit ya," bujuk Arash yang akhirnya diangguki oleh Putri.
Pintu apartemen Arash pun berbunyi, pria itu bangkit dari duduknya dan bergegas untuk membukakan pintu.
"Mana Putri?" tanya Om martin yang sudah tiba di depan apartemen Arash.
"Ada di dalam, Pak. Mari masuk," titah Arash dan memberi jalan untuk pria paruh baya tersebut.
"Putri," lirih Om Martin saat melihat anak dari sahabatnya itu.
Puttri menoleh, mata gadis itu pun kembali berkaca-kaca. "Om, hiks ..."
Om Martin pun langsung membawa Putri ke dalam pelukannya.
"Tenang, sayang. Om di sini. Kamu aman sekrang," bisik Om Martin dan mendaratkan sebuah kecupan di pucuk kepala sang anak.
*
Putri sudah tertidur tiga puluh menit yang lalu. Sedari tadi Om Martin tidak meninggalkan gadis itu sedetik pun, karena Putri terus saja menggenggam tangan pria itu. Arash sudah menghubungi Desi untuk membantu Putri menyiapkan segala keperluan gadis itu untuk membersihkan diri. Bahkan, Desi pun juga ikut masuk ke dalam kamar mandi, di saat menemani gadis itu mandi.
"Tangan siapa itu?" tanya Om Martin saat mereka sudah berada di luar kamar yang di tempati oleh Putri. "Apa ada tulisan yang mengatakan jika itu adalah sebuah ancaman?"
Arash menghela napasnya pelan, pria itu sudah tahu tangan siapa yang berada di dalam lemari pendingin Putri. Memang, di dekat tangan itu tidak di temukan surat ancaman seperti sebelumnya, sehingga membuat mereka tak bisa mengatakan jika hal itu adalah sebuah ancaman.
CCTV pun tidak menunjukkan sebuah kejanggalan, bahkan tak terlihat jika ada yang masuk ke dalam apartemen Putri untuk meletakkan tangan tersebut. Jadi, semua ini seolah di rekayasa agar membuat Putri tertuduh sebagai manusia kanibal.
"Tangan itu adalah tangan milik nara pidana yang pernah memukul Josi saat di penjara," jawab Arash yang mana membuat Om Martin terkejut.
__ADS_1
"Apa? Bagaimana bisa?"
Desi masih diam menyimak semua apa yang dibicarakan oleh Om Martin dan juga Arash.
"Sepertinya tidak ada yang tidak bisa di lakukan oleh Yosi. Pihak kepolisian sedang mencari tahu bagaimana napi tersebut bisa kehilangan tangannya," terang Arash.
"Hmm, sepertinya kita tidak boleh lengah sedikit pun mulai dari sekarang," ujar Om Martin yang diangguki oleh Arash.
Malam ini, Om Martin akan menginap juga di apartemen Arash, begitu pun dengan Desi yang akan menemani Putri. Walaupun gadis itu merasa penasaran dengan apa yang terjadi saat ini, tetapi dia masih diam dan menunggu semua penjelasan dari Arash.
*
"Kamu beneran gak papa kan?" tanya Abash yang sudah menghampiri Sifa di apartemen gadis itu.
"Iya, kenapa, Mas?" tanya Sifa dengan bingung.
Bagaimana tidak bingung? Mereka baru saja tiba di apartemen tiga puluh menit yang lalu, tetapi Abash tiba-tiba kembali dengan napas yang memburu dan menerobos masuk ke dalam apartemennya. Untungnya Sifa sudah selesai mengganti pakaiannya di saat Abash menerobos masuk ke dalam kamarnya.
Aku akan tidur di sini malam ini. Kamu tidurlah di kamar," titah Abash yang diangguki oleh Sifa.
Sebenarnya Sifa sangat ingin bertanya, apa yang sedang terjadi, tapi Abash mengatakan jika dirinya akan menceritakan semuanya esok hari. Pria itu sengaja mengatakan hal tersebut karena tak ingin membuat sang kekasih menjadi kepikiran dan khawatir kepada Putri. Tanpa Abash tahu, jika saat ini Sifa tak bisa tidur karena memikirkan hal apa yang sedang terjadi saat ini kepada kekasihnya.
*
Desi menghampiri Arash yang sedang melakukan panggilan telepon dengan sang kembaran di balkon apartemennya. Gadis itu pun membiarkan Arash menyelesaikan panggilannya dan memilih diam di sampingnya.
"Ada apa? Kenapa kamu belum tidur?" tanya Arash yang sudah memutuskan panggilannya dengan Abash.
Arash menghela napasnya dengan pelan, pria itu pun mengajak Desi untuk duduk di kursi yang ada di balkon apartemennya. Arash pun menceritakan apa yang terjadi dengan Putri dan Abash.
"Ya ampun, hanya masalah sepele, tetapi berimbas sampai sebesar ini?" lirih Desi dengan terkejut.
"Iya," jawab Arash dan kembali menghela napasnya dengan berat. "Mau bagaimana lagi? Mereka bertemu dengan orang yang berbahaya dan licik."
*
Pagi menyapa, Sifa sudah terbangun dari tidurnya dan bergegas mencuci wajahnya. Gadis itu pun keluar dari dalam kamar dan melihat keberadaan sang kekasih yang masih tertidur dengan posisi duduk dan menyandarkan punggungnya di sandaran sofa.
Sifa pun berjalan mendekati sang kekasih, gadis itu menatap wajah lelah Abash yang sedang tertidur. Dia kembali teringat akan perkataan Abash saat mereka berada di bianglala.
"Apapun yang terjadi, aku mohon, kamu tetap harus percaya sama aku," pinta Abash. "Apapun yang kamu dengar dan apapun yang kamu lihat, aku mohon, jangan percaya semuanya, cukup kamu percaya sama aku," mohon Abash lagi. "Karena saat ini yang aku butuhkan adalah kepercayaan kamu terhadap aku."
Sifa menghela napasnya pelan, hal itulah yang membuat dirinya mengurungkan niat untuk menanyakan perihal foto tersebut.
"Apapun yang terjadi, aku akan percaya sama kamu, Mas," lirih Sifa sambil menatap wajah Abash yang tertidur.
Sifa pun bangkit dari duduknya, gadis itu pun berjalan menuju dapur untuk menyiapkan sarapan mereka pagi ini.
__ADS_1
Abash membuka matanya perlahan, sebenarnya pria itu tidak tertidur. Dia hanya berpura-pura tertidur karena ingin mengetahui sesuatu hal yang Sifa tidak ketahui.
"Kenapa kamu tidak tanyakan perihal foto itu, Sifa? Apa kamu benar-benar percaya sama aku? Atau kamu mulai meragukan aku dan enggan menanyakan hal tersebut kepada aku," lirih Abash sambil menatap punggung sang kekasih.
Sifa sudah selesai memesan sarapan untuk dirinya dan juga Abash, gadis itu pun menghampiri sang kekasih yang masih tertidur di sofa.
"Mas, bangun." Sifa menggoyangkan lengan sang kekasih.
"Mas," panggil Sifa lagi dengan menggoyangkan lengan sang kekasih dengan sedikit kuat, akan tetapi pria itu masih saja tidak bergeming.
"Mas---aammpp ..." kejut Sifa di saat dirinya sudah di tarik kedalam pelukan sang kekasih.
"Apa kamu tidak tahu cara membangunkan pangeran tidur?" tanya Abash dengan suara seksinya.
"Ca-cara membangunkan pangeran tidur? Bagaimana caranya?" tanya Sifa yang berusaha untuk melepaskan dirinya dari pelukkan sang kekasih.
"Apa kamu pernah membaca buku dongeng? Dongeng tentang putri tidur," ujar Abash dengan menatap wajah sang kekasih yang ada di dalam pelukannya saat ini dengan tatapan mata yang sayu.
"Dongeng tentang Putri tidur?" tanya Sifa yang diangguki oleh Abash. "Pernah, kenapa memangnya?"
"Berarti kamu tahu 'kan bagaimana cara pangeran membangunkan putri tidur?" ujar Abash dengan tersenyum penuh arti.
"Pangeran memberikan ciuman kepada Putri tidur," jawab Sifa dengan malu-malu.
"Huum ,terus? Apa yang kamu tunggu? Ayo, bangunkan pangeran kamu ini dengan sebuah ciuman," pinta Abash yang mana membuat Sifa membelalakkan matanya.
"Hah? Ke-kenapa harus membangunkan pangeran dengan sebuah ciuman? Kan di cerita tidak ada hal seperti itu, Mas," ujar Sifa dengan malu.
"Karena ini bukan dunia dongeng. Aku pangenan yang tertidur, sedangkan kamu adalah putrinya yang akan membangunkan aku dari tidur," ujar Abash dengan tersenyum manis.
"Ta-tapi 'kan Mas lagi gak tidur. Jadi, Mas bukan pangeran tidur," cicit Sifa yang mana membuat Abash memiliki ide untuk menjahili sang kekasih.
"Baiklah kalau begitu, aku akan tertidur agar kamu membangunkan aku dengan ciuman." Abash pun menutup matanya dengan rapat, seolah dia sedang tertidur saat ini. "Aku tidak akan bangun sebelum kamu memberikan sebuah ciuman," ujar Abash lagi.
"Mas," panggil Sifa dengan menatap keseluruhan wajah sang kekasih yang sudah menutup matanya.
Abash tidak menggubris, pria itu masih diam dan tidak bergerak seolah dirinya memang sedang tertidur.
"Mas Abash." panggil sifa dengan lembut, tetapi, Abash masih bertahan untuk tak membuka matanya.
"Hmm, baiklah kalau begitu. Kalau Mas gak mau bangun, ya sudah. Aku mau mandi," ujar Sifa dan bangkit dari pelukan Abash.
Sifa mengernyitkan keningnya, di saat sang kekasih tak lagi menahan tubuhnya di dalam pelukkan pria itu.
"Mas," panggil Sifa lagi. Melihat ada pergerakan pada dada Abash, di mana membuktikan jika sang kekasih masih bernapas pun, membuat Sifa bernapas dengan lega.
"Hmm, baiklah. Selamat tidur," ujar Sifa dan berlalu masuk ke dalam kamarnya.
__ADS_1
Abash membuka matanya di saat mendengar suara pintu kamar yang tertutup.
"Sungguh menyebalkan," kesal Abash di saat Sifa tak memberikan kecupan selamat pagi untuknya.