
Acara pesta pernikahan Abash dan Sifa pun tiba. Sifa terlihat sangat cantik dengan kebaya hijau sage yang dia kenakan. Bahkan, wajah gadis itu terlihat bagaikan boneka hidup yang sangat cantik sekali saat ini.
"Ini beneran Sifa?" tanya Quin dengan menggoda.
Terlihat Sifa tersenyum malu mendengar pujian dari calon kakak iparnya itu. "Mbak bisa aja."
"Emang dasar pengantinnya aja yang cantik, Mbak, jadi make up tipis pun langsung membuat wajahnya berubah," sahut perias yang baru saja menyelesaikan finishing pada wajah Sifa.
"Iya, bener. Sifa ini bisa dikatakan gak pernah dandan. Makanya sekali dandan wajahnya berubah, ya. Karena kita kan gak pernah lihat wajah Sifa pakai make up," tutur Quin yang diangguki oleh Anggel.
"Iya, cantiknya alami. Pinter banget emang Abash cari yang bening-bening," kekeh Anggel.
"Kalian ngapain di sini? Kok malah pada ngerumunin Sifa?" tegur Mama Kesya yang sudah terlihat sangat cantik sekali.
"Sifa cantik kan, Ma?" ujar Quin yang mana membuat Mama Kesya mengernyitkan keningnya.
"Sifa mana? Kok gak ada di sini?" tanya Mama Kesya. "Ini siapa? Kok cantik banget? Sifa-nya mana?" tanya Mama Kesya kepada perias, Quin, dan Anggel. Terlihat jika wanita paruh baya itu menahan senyumnya.
"Mama," lirih Sifa dengan malu-malu.
"Oh, ini Sifa?" kejut Mama Kesya yang sengaja dibuat-buat. "Masya Allah, cantik banget kamu, sayang." Mama Kesya pun langsung membawa Sifa ke dalam pelukannya.
"Mama." Terdenger suara Sifa yang bergetar dan di susul dengan isak tangis yang tertahankan.
Mama Kesya merelai pelukannya, kemudian menangkup pipi calon menantunya itu. "Sayang, kamu kenapa, hmm? Kok nangis?" tanya Mama Kesya.
Sebenarnya Mama Kesya sudah dapat menebak, apa penyebab yang membuat Sifa menangis. Sifa menangis pasti karena merindukan sosok orang tuanya, seperti hal dulu yang Mama Kesya rasakan.
"Terima kasih, Ma, karena sudah menerima Sifa sebagai seorang anak dan juga menantu," lirih Sifa dengan tersedu-sedu.
Mama Kesya menghapus air mata yang membasahi pipi gadis cantik yang sebentar lagi akan menjadi menantunya itu.
"Terima kasih juga, karena kamu sudah hadir di dalam hidup Abash," ujar Mama Kesya dan mendaratkan sebuah kecupan di kening Sifa.
Mama Kesya pun kembali membawa Sifa ke dalam pelukannya, karena gadis itu kembali menangis.
"Sstt, udah dong nangisnya, ntar make up-nya luntur loh, terus wajahnya gak mirip boneka berbi lagi, melainkan mirip boneka chaki," goda Mama Kesya.
__ADS_1
Mendengar candaan Mama Kesya pun, membuat Sifa ikut tertawa. Gadis itu merelai pelukannya dan menghapus air mata yang kembali jatuh membasahi pipinya.
"Jangan dong, Ma, mirip sama boneka chaki, ntar Mas Abash lari lagi saat lihat aku," sahut Sifa sambil tersenyum.
"Makanya, kamu jangan nangis lagi, ya. Untung make up-nya mahal punya dan gak mudah luntur, jadi aman deh kalau nangis," ujar Mama Kesya sambil mengusap air mata Sifa.
"Kalau gak mudah luntur, itu tandanya Sifa boleh nangis dong, Ma?" canda Sifa.
Mama Kesya membulatkan matanya, membuat Sifa kembali tertawa. "Kamu ini, kalau kamu nangis, ntar matanya bengkak loh. Saat di foto malah mirip ikan mas koki yang di make up."
Sifa pun tertawa mendengar candaan dari Mama Kesya. "Sifa gak mau terlihat seperti ikan mas koki, Ma. Karena hari ini adalah hari yang sangat berarti buat Sifa, jadi Sifa ingin terlihat cantik," ujar Sifa dengan tersenyum malu.
"Harus itu, sayang. Ini baru menantu Mama."
Mama Kesya pun mempersilahkan perias untuk membenarkan riasan di wajah calon menantunya itu.
*
Abash terlihat tegang, sehingga membuat Bang Fatih membisikkan sesuatu kepadanya. Hal itu pun membuat Abash membulatkan mata dan menatap Bang Fatih dengan tatapan penuh arti.
Apa kalian ingin tahu, apa yang dikatakan oleh Bang Fatih?
Hmm, baiklah, emak kasih tau ya. Bang Fatih bilang : Jangan tegang, Bash, cukup rudal aja yang tegang ntar malam.
Nah, wajarkan Abash membulatkan mata dan menatap Bang Fatih dengan tatapan seribu artian?
"Santai aja. Yang penting bisa sah," kekeh Bang Fatih.
Suara MC pun mengambil atensi semua orang yang ada di ruangan tersebut, sehingga membuat mereka menoleh ke arah Sifa yang baru saja datang bersama Naya, Putri, dan Luna, ada Zia juga di belakang gadis itu yang sedang membawakan cincin untuk dikenakan oleh pengantin nantinya.
"Di mohon kepada pengantin prianya, untuk menutup mulut, agar lalat tidak masuk ke dalamnya."
Kalimat yang dilontarkan oleh MC pun membuat semua orang tertawa. Memang benar adanya, jika Abash terlihat membuka mulutnya di saat melihat betapa cantiknya Sifa. Bahkan, pria itu hampir saja meneteskan air matanya.
Abash pun dipersilahkan untuk duduk di meja yang telah disediakan, begitu pun juga dengan Sifa yang dipersilahkan untuk duduk di sebelah Abash. Akad nikah pun akan segera di mulia dan untuk pembukaan akan dibacakan ayat suci al-quran.
Setelah serangkaian akad nikah selesai, Wali hakim yang akan menikahkan Sifa dengan Abash pun, mengulurkan tangannya. Semua orang yang ada di sana langsung menutup mulut masing-masing untuk mendengarkan prosesi ijab qabul tersebut.
__ADS_1
Wali hakim pun memulai prosesi ijab qabul tersebut dengan menjabat tangan Abash, hingga saat hentakan tangan sebagai kode untuk Abash menjawab ijab tersebut, pria itu pun dengan penuh kesiapan dan suaranya yang lantang, langsung mengucapkan qabul yang akan mengikat dirinya dan Sifa dalam sebuah tali pernikahan dalam satu tarikan napas.
"Saya terima nikah dan kawinnya Sifa Agustina dengan mas kawin cincin berlian dan uang tunai sebesar lima ratus juta di bayar tunai."
SAAAAHHH ....
"Alhamdulillah ...."
Sifa menoleh cepat ke arah Abash, sepengetahuan dia, tidak tertulis jika Abash akan memberikan sejumlah uang untuknya. Tapi ini?
Abash ikut menoleh ke arah Sifa, kemudian pria itu tersenyum dengan begitu lembutnya.
MC pun mempersilahkan Abash dan Sifa saling mengenakan cincin pernikahan mereka satu sama lainnya, hingga cincin yang Sifa gunakan untuk melamar Abash, akhirnya kembali melingkari jari manis pria itu, begitu pun sebaliknya.
Ya, cincin yang Abash dan Sifa gunakan sebagai cincin lamaran, mereka gunakan sebagai cincin pernikahan mereka berdua.
"Silahkan untuk kedua mempelai pengantin saling bersalaman sebagai tanda sah sudah menjadi suami istri," titah MC.
Sifa pun mencium punggung tangan Abash, sedangkan tangan Abash yang lain menyentuh kepala Sifa dan tak lupa membacakan sebuah doa. Setelah cium tangan selesai, Abash pun mendaratkan ciuman di kening Sifa, hingga sorak sorai dari para saudara Abash pun terdengar bergemuruh.
"Bash, turun dikit lagi tuh ke bibir," pekik Bang Fatih yang langsung di hadiahi pelototan oleh Mami Mili.
"Dasar anak ini, kenapa bisa sih sampai nurunin pikiran kotor daddynya," geram Mami Mili dengan pelan.
"Yah, mau gimana lagi, Mil? Buah jatuh gak jauh dari pohonnya," sahut Mama Kesya yang diangguki oleh Mama Puput.
Ya, mereka sangat tahu bagaimana sahabat laki-lakinya itu yang sudah menjadi iparnya sekarang.
Sifa dan Abash pun saling memandang dengan bibir yang mengukir sebuah senyuman.
"Apa boleh?" pinta Abash sambil menujuk ke arah bibir Sifa dengan matanya.
"Masss?" tegur Sifa dengan mata melotot. Abash hanya bisa terkekeh, permintaan pria itu hanya sebuah candaan saja untuk menggoda sang istri.
Ya, istri.
Rasanya sungguh perjuangan yang manis sekali kan? Demi mendapatkan gelar tersebut?
__ADS_1
Suami dan Istri.