
Satu tahun kemudian.
Zia mengernyitkan keningnya di saat melihat sebuah paket untuknya. Gadis itu merasa jika dirinya tidak pernah memesan barang atau akan mendapatkan kiriman dari seseorang. Lalu, dari siapa paket itu? kenapa di tujukan untuknya? Mana nama si pengirim?
"Paket dari siapa, sayang?" tanya Mama Nayna.
"Gak tau, Ma. Gak ada nama pengirimnya," sahut Zia.
"Oh, ya sudah kalau gitu. kalau merasa paket itu mencurigakan, mending kamu suruh satpam aja yang buka," titah Mama Nayna.
"Iya, Ma."
Zia pun berpikir apa yang di katakan oleh Mama Nayna ada benarnya. Gadis itu merasa curiga dengan paket yang di tujukan untuknya, karena tidak ada nama si pengirim.
Merasa curiga dengan isi paket tersebut, tetapi juga ingin tahu apa isinya, Zia pun menghampiri satpam yang sedang berjaga di pintu pagar.
"Non Zia? Ada apa? Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya satpam.
"Ini, Pak, ada yang kirim paket untuk saya. Tapi gak ada nama pengirimnya," ujar Zia sambil menunjukkan paket yang ada di tangannya.
"Bisa tolong Bapak bukain? Saya takut isi paketnya dari orang iseng," pinta Zia.
"Oh, iya, Non. Biar saya yang buka." Pak satpam pun mengambil paket yang ada di tangan Zia, pria paruh baya itu pun perlahan membuka satu persatu pembungkus paket tersebut.
"Non, isinya hanya sebuah buku," ujar Pak Satpam sambil menunjukkan isi dari paket itu.
"Apa ada yang lain, Pak?" tanya Zia penasaran.
"Gak ada, Non, cuma buku aja. Tapi, buku ini sepertinya sudah di tanda tangani," ujar Pak Satpam sambil menunjukkan halaman pertama pada buku tersebut.
Zia mengernyitkan keningnya, gadis yang baru saja lulus sekolah menengah atas itu pun mengambil sebuah buku novel yang ada di dalam kotak paket tersebut. Zia melihat nama penulis dari buku novel itu, beserta tanda tangannya yang asli.
__ADS_1
"I-ini?" lirih Zia dengan jantung yang berdebar-debar.
"Ada apa, Non Zia?" tanya Pak Satpam penasaran, karena melihat Zia yang terlihat pucat dengan mata yang berkaca-kaca.
"Hah? Ah, ti-tidak apa-apa," lirih Zia dengan gugup. "Kalau begitu saya permisi dulu, Kak, terima kasih banyak." Zia langsung berbalik, gadis itu pun berjalan cepat sambil memeluk buku novel karya Rira Syaqila yang sudah di bubuhi oleh tanda tangan si penulis.
"Ada apa, sayang? Kenapa kamu terlihat pucat? Apa paket itu sebuah ancaman?" tanya Mama Nayna yang melihat Zia baru saja masuk ke dalam rumah.
"Hah? Oh, ti-tidak, Ma. Hanya sebuah novel saja," jawab Zia. "Zia permisi ke kamar ya, Ma," pamit Zia dan langsung bergegas masuk ke dalam kamarnya.
Mama Nayna pun mengernyitkan keningnya, saat melihat tingkah Zia terlihat sedikit aneh. Mama Nayna pun berniat untuk menyusul Zia ke dalam kamar, akan tetapi suara Papa Satria menahan langkah kakinya. Mama Nayna pun mengurungkan niatnya untuk menyusul ke kamar Zia, wanita paruh baya itu pun memilih untuk menghampiri sang suami yang sudah memanggil dirinya.
Di dalam kamar.
Air mata Zia terjatuh, di saat melihat buku novel yang ada di hadapannya saat ini.
CINTA YANG TULUS, karya Rira Syaqila. (Jangan tanya judul bukunya rilis di mana, ya. karena ini akan menjadi seson 2 dari cerita twins). Di mana dalam lembaran pertama buku tersebut, terdapat sebuah tanda tangan si penulis.
"Hiks ... kamu masih hidup, Mbak?"
Dua tahun yang lalu.
"Kenapa wajahnya? Kok kesel gitu?" tanya Putri kepada Zia.
"Itu loh, Mbak, novel yang rilisnya limited edition dari karyanya penulis Rira Syaqila, udah habis terjual. Aku gak dapat, kesel deh," adu Zia dengan manja.
"Terus, kenapa memangnya gak dapat? Kan kamu bisa ikut PO selanjutnya?"
"Itu dia masalahnya, Mbak. Buku itu hanya akan di cetak sebanyak 100 eksemplar. Buku itu kan mau di filmkan jadi drama serial mini di Korea, makanya bukunya itu di jual dengan cetakan yang terjangkau. Hanya orang-orang yang beruntung aja yang mendapatkan buku tersebut," Rajuk Zia.
"Hmm, jadi kamu kehabisan bukunya?"
__ADS_1
"Iya, Mbak... Aku tuh penasaran sama cerita kisah cintanya. Di mana cinta si pria itu terus saja di uji. Sedih sih, tapi aku penasaran sama endingnya."
"Duh, adik Mbak yang kecil ini udah tau cinta-cintaan, ya?" goda Putri sambil mencubit pipi Zia dengan gemas.
"Ih, Mbaaak ... Zia kan cuma suka dengan ceritanya aja, penasaran gitu, Mbak. Jadi, Zia kan juga bisa belajar untuk memilih pria yang baik itu bagaimana," ujar Zia membela diri.
"Ya kali, Dek, memilih seorang pria dari sebuah novel? Mana ada di dunia nyata ada pria yang seperti di tokoh-tokoh novel. Daeinbenci jadi bucin, dari brengsek jadi alim. Kalau ada pun, seribu satu di dunia. Hanya orang-oranb saja yang beruntung mendapatkan pria tersebut," sahut Putri.
"Hmm, kan gak ada salahnya, mbak, mencari referensi dari buku novel," kekeh Zia.
"Ada-ada aja kamu." Putri pun menggelengkan kepalanya, merasa lucu dengan pemikiran sang adik.
"Memangnya judul buku novelnya apa?"
"Cinta yang tulus, karyanya emak Rira Syaqila."
Air mata Zia semakin berlinang, di saat mengingat percakapannya dengan Putri beberapa tahun yang lalu.
"Mbak, hiks .. apa kamu masih hidup?"
Zia pun terus memikirkan kemungkinan tersebut, hingga sebuah ketukan di pintu membuat dirinya tersadar.
"Sayang, Mama boleh masuk?" izin Mamw Nayna.
Zia mengusap air matanya dengan cepat.
"Ya, Ma. Silahkan."
Pintu kayu itu pun terbuka, hingga menampilkan wajah Mama Nayna yang tersenyum lebar kepadanya, dengan susu hangat yang ada di tangan wanita paruh baya itu.
"Haruskah aku mengatakan tentang kecurigaan aku ini kepada Mama?" batin Zia
__ADS_1