
Putri melangkahkan kakinya menuju pintu apartemen dengan tergesa, karena orang yang ada di balik pintu itu terdengar tak sabaran dalam menekan bel sampai-sampai harus menggedor pintu apartemen tersebut.
"Siapa sih?" gerutu Putri kesal, di saat orang yang ada di balik pintu apartemen itu tak juga mau berhenti menekan bel dan menggedor pintu. Benar-benar sangat tak sabaran sekali.
Putri pun melihat siapa orang yang ada di balik pintu apartemen melalui layar monitor yang ada di dekat pintu.
"Bara?" lirih Putri terkejut di saat melihat siapa orang yang ada di balik pintu apartemen Arash.
"Put, aku tau kamu di dalam, cepat buka pintunya," titah Bara dengan nada suara yang terdengar tak ramah.
"Dari mana dia tau aku di sini?" lirih Putri dengan bingung.
Putri menggeram kesal, di saat dia sudah menduga jika Bara masih mengawasinya selama ini. Tapi, kenapa baru sekarang Bara datang? Kenapa tidak dari awal saja?
Dan juga, jika ada yang mengawasinya selain Awal—pengawal bayangannya. Pastilah Awal sudah tahu dan memberikan laporan kepada dirinya atau pun Abash.
"Siapa?" tanya Arash yang sudah berdiri di samping Putri.
Putri menoleh ke arah Arash, membiarkan pria itu melihat sendiri siapa orang yang ada di balik pintu apartemennya.
Tanpa berkata apa pun, Arash langsung membuka pintu apartemennya dan membiarkan orang yang ada di balik pintu masuk dengan mendorong pintunya lebih kuat, sehingga membuat Arash pun memundurkan langkahnya dengan cepat.
"Woowww, pelan-pelan, dong," ujar Arash karena dirinya hampir saja terjatuh.
Bara menatap tajam ke arah Arash, kemudian dia menoleh ke arah sang kakak yang berdiri tak jauh darinya.
"Ayo pulang," titah Bara yang terdengar tak ingin di bantah.
"Ba-bara, aku bisa jelas—"
"Aku tidak ingin mendengar penjelasan apa pun, Mbak. Ayo pulang," titah Bara dengan nada suara yang terdengar sangat dingin.
"Hmm, aku bereskan barang-barang aku dulu," ujar Putri dan berlalu meninggalkan Bara dan juga Arash di depan pintu apartemen.
Arash mempersilahkan Bara untuk masuk dan duduk di sofa, tamunya itu pun menuruti apa yang di perintahkan oleh si tuan rumah.
"Apa kabar, Pak Bara?" tanya Arash sopan hanya untuk sekedar memecah kecanggungan yang ada di antara mereka.
"Apa saya terlihat sakit saat ini?" tanya Bara yang mana membuat Arash mengerjapkan matanya.
"Tidak sih," lirih Arash pelan.
Pria itu tidak ingin menyerah, dia pun kembali mencari pertanyaan yang tepat untuk mengusir kesunyian di antara mereka berdua.
"Emm, mau minum apa? Biar saya buatkan," tawar Arash.
"Apa ini cafe? Atau hotel?" ujar Bara yang mana lagi-lagi membuat Arash mengerjapkan matanya.
Pria yang ada di hadapannya saat ini sangatlah berbeda dengan Putri. Bara terlihat dingin dan tidak ramah, berbeda dengan Putri dan Papa Satria atau pun Mama Nayna yang terlihat sangat ramah sekali. Cukup di lihat dari wajahnya saja, Arash sudah bisa melihatnya.
Tanpa Arash ketahui, jika dulu Papa Satria bukanlah orang yang ramah kepada siapa pun, sampai pria itu bertemu kembali dengan cinta pertamanya yang dia cari selama ini, yaitu Mama Nayna.
Arash pun menggaruk alisnya yang tak gatal. Dia merasa bingung harus berbicara apa dengan adik dari wanita yang sudah menghancurkan perasaannya saat ini. Tapi, melihat Putri yang keluar dari kamar dengan membaca koper miliknya, membuat hati Arash semakin hancur.
"Apa dia akan pergi?" batin Arash yang bodohnya tidak perlu lagi pria itu tanyakan hal itu.
Tentu saja Putri akan pergi, karena Bara telah menjemputnya.
Namun, yang menjadi pertanyaan Arash lainnya adalah, apakah dia masih bisa bertemu dengan Putri?
Entahlah, dia sendiri tidak tahu, apakah dia masih bisa bertemu dengan Putri atau tidak. Arash sudah mencari tahu sebelumnya tentang Putri, termasuk Bara yang terlalu over protektif kepadanya. Bara sangat menjaga Putri, tidak ada orang yang bisa melukaia kakaknya itu sehujung kuku pun. Namun, semenjakk Putri berada di Jakarta, dia sudah mengancam adiknya itu untuk tidak mengawasinya lagi. Putri ingin hidup normal layaknya orang yang lain. Tanpa ada yang mengawasi dan juga selalu melindunginya, seperti apa yang Bara lakukan kepadanya.
Untuk itulah, Bara tak lagi mengawasi Putri dengan menempatkan pengawal bayangan untuknya. Kalau tidak, kakaknya itu akan memilih pergi ke luar negeri untuk menjalani kehidupannya yang normal.
"Aku sudah siap." Suara Putri pun membuyarkan lamunan Arash, sehingga membuat pria itu ikut berdiri di saat Bara berdiri.
"Berpamitanlah, aku beri kamu waktu tiga menit, Mbak," titah Bara dan keluar dari apartemen Arash tanpa berpamitan kepada si pemilik apartemen.
Bara hanya mengambil koper yang ada di tangan Putri dan membawanya keluar dari apartemen tersebut.
__ADS_1
Sekarang, hanya tinggallah Putri dan Arash saja berdua. Waktu Putri pun tidak banyak untuk berbicara dengan Arash.
"Rash, terima kasih ya, karena sudah mengizinkan aku tinggal di sini," ujar Putri mengeluarkan suaranya.
"Emm, mungkin jika kamu tidak menolong aku, aku tidak tau apakah aku bisa menjalani hari-hariku seperti saat ini atau tidak. Dan juga, berkat kamu aku dapat mengenal teman baru yang baik seperti Desi. Terima kasih untuk semuanya, Rash. Aku sangat bersyukur karena bisa mengenal kamu," ungkap Putri, yang mana membuat Arash merasa jika dirinya benar-benar tidak akan bertemu lagi dengan gadis itu.
"Put, apa kita tidak bisa bertemu lagi?" tanya Arash dengan jantung yang berdebar-debar.
"Kamu tau nomor ponsel aku. Jadi, kita masih bisa bertemu, Rash," jawab Putri dengan tersenyum lega.
Arash pun bernapas lega, itu tandanya dia masih ada kesempatan untuk bertemu dengan Putri.
"Kalau begitu aaku permisi, ya? Titip salam untuk Desi," pamit Putri yang mana membuat Arash kembali tersadar dari lamunannya.
"Putri, tunggu," tahan Arash yang mana membuat Putri kembali berbalik dan menghadap ke arah Arash.
"Ya?"
"Ada yang ingin aku katakan. Aku—"
"Mbak, tiga menit telah berlalu. Aku tidak bisa memberikan waktu tambahan lagi. Ayo." Suara Bara pun membuat Arash menggantung ucapannya.
"Kalau begitu aku permisi dulu, Rash. Lain kali kita bicara lagi," pamit Putri dan berlalu meninggalkan Arash sendiria.
Baam ...
Terdengar suara pintu apartemen tertutup, sehingga membuat Arash pun kembali terkejut dan menyadari jika Putri telah pergi dari hadapannya.
"Aku mencintaimu, Put. Tidak bisakah kamu mendengarkan dulu sampai aku mengatakan hal itu?" lirih Arash dengan tubuh yang terkulai lemas di saat menyadari jika Putri tak lagi ada di hadapannya.
Di luar apartemen.
Baamm ...
Putri baru saja menutup pintu apartemen, gadis itu pun menghampiri sang adik yang berdiri di dekatnya.
"Ayo," ajak Putri dengan raut wajah yang sedih.
"Dasar pria bodoh yang lamban," gumam Bara dan menyusul sang kakak yang sudah berjalan menuju lift.
*
Putri melihat rumah yang saat ini ada di hadapannya.
"Kita akan tinggal di sini?" tanya Putri kepada sang adik.
"Huum, ya. Dan aku juga akan tinggal di sini," ujar Bara dengan tersenyum lembut. "Ayo, masuk," ajak Bara yang mana membuat Putri tersadar dari lamunannya.
"Rumah siapa ini, Bar?" tanya Putri yang sudah menyamakan langkahnya dengan sang adik.
Tadi, saat di perjalanan pulang dari apartemen Arash. Tak ada yang satu patah kata pun yang keluar dari Bara, selian kata 'Aku baru tiba, jadi biarkan aku tidur sebentar', untuk itulah Putri tidak ingin mengganggu adiknya itu tidur di dalam mobil, hingga mereka tiba di rumah yang terlihat tidak terlalu besar di bandingkan rumahnya di Bandung, tetapi memiliki dua lantai dan juga halaman depan rumah yang besar.
Cukup terlihat sangat cantik, karena rumah ini terbilang tipe rumah impian Putri. Mungkin tidak hanya Putri, tetapi masih banyak wanita yang lainnya juga.
"Rumah aku. Gimana, kamu suka?" tanya Bara dengan tersenyum manis.
"Dasar pembohong. Sejak kapan kamu punya rumah di sini?" cibir Putri yang mana membuat Bara tertawa terbahak-bahak.
"Jadi, apa kamu berpikir jika aku menyewanya?" ujar Bara yang mana membuat Putri menggelengkan kepalanya.
Tentu saja mana mungkin pria itu ingin menyewa sesuatu yang ingin dia miliki atau tempati. Prinsip hidup Bara adalah jika mampu membeli, ngapain sewa atau meminjam?
Dan sedari dulu, Bara tak pernah menyewa atau meminjam apa yang ingin pria itu inginkan. Tetapi, sisi baik dari diri Bara adalah pria itu tidak pelit untuk meminjamkan barang miliknya kepada teman-temannya. Misalnya, dia baru saja membeli buku, kemudian buku itu di pinjam oleh temannya. Bara akan meminjamkannya dan malas untuk meminta di saat temannya itu sudah lupa untuk mengembalikannya. Tetapi, di saat waktu yang tiba. Bara mengumpulkan mereka semua dan meminta untuk semua barang yang telah di pinjam harus di kembalikan. Jadi, pria itu tidak perlu berulang kali berbicara dengan orang yang berbeda untuk meminta barang-barangnya di kembali.
Begitulah Bara.
"Jangan bilang kalau kamu memaksa untuk membeli rumah ini?" tebak Putri yang mana membuat Bara tertawa terbahak-bahak.
"Aku tidak memaksanya, hanya sedikit mengancam saja," kekeh Bara yang mana membuat Putri membulatkan matanya.
__ADS_1
"Tidak, akau berbohong," kekeh Bara. "Rumah ini aku dapatkankan karena si pemiliknya memang ingin menjualnya tiga tahun yang lalu. Jadi, aku sengaja membelinya karena berpikir jika suatu saat nanti pasti salah satu di antara kita akan memerlukan tempat tinggal di Jakarta. Untuk itu, aku membeli rumah ini," ujar Bara yang memang tidak ada kebohongan di dalamnya.
"Lalu, kenapa kamu tidak mengatakannya saat aku pindah ke Jakarta?" tanya Putri dengan kening mengkerut.
"Rumah ini masih di renovasi. Saat aku mendengar kamu ingin pindah ke Jakarta, maka aku bergegas menyuruh orang untuk merenovasinya. Setidaknya ada beberapa perubahan di sudut ruangan ini yang aku ubah," ujar Bara memberitahu.
"Ooh, begitu," lirih Putri sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Ah ya, apa Mama dan Papa tau kalau kamu ke sini?" tanya Putri dengan penasaran. Tadi, Bara sempat mengatakan jika dirinya baru saja tiba kan?
Setau Putri, adiknya itu berada di luar negeri. Memang, sejak Bara sedang menempuh pendidikannya, mereka jarang berkomunikasi karena Bara yang harus fokus pada pelajarannya. Bahkan, pria itu tidak di berikan izin oleh Papa Satria untuk memegang pekerjaannya, yang mana semua pekerjaan sudah di ambil alih oleh Papa Satria.
Ya, walaupun terkadang Bara sering mencuri laporan dan mengerjakannya untuk mengurangi pekerjaan sang papa.
"Dasar sok kecantiakan," cibir Bara yang mana membuat Putri membulatkan matanya.
"Apa kamu bilang?"
"Kamu pikir aku langsung terbang ke sini untuk melihat kamu yang pertama? Tanpa bertemu dengan bidadariku yang paling cantik?" ujar Bara yang mana membuat Putri merasa kesal.
"Kamu membohongi aku?" kesal Putri.
"Tidak, aku tidak membohongi kamu, pesek," ujar Bara sambil mencuil hidung Putri yang tidak semancung dirinya.
"Aku beneran baru tiba tadi pagi. Jadi aku masih merasa mengantuk," ujar Bara dengan tersenyum manis.
"Sunggung menyebalkan," kesal Putri yang sudah menatap tajam ke arah sang adik.
"Haa .. ha ... haa ... Sekarang pergilah mandi dan bersihkan iler yang ada di sudut bibir kamu itu," ujar Bara sambil menunjuk wajah Putri. "Dasar jorok, pantas saja si bodoh Arash enggan untuk menyukai orang seperti kamu, Mbak?" kekeh Bara dan berlalu menuju kamarnya.
"Apa kamu bilang?" pekik Putri yang mana bersiap untuk mengejar Bara.
"Kamar kamu berada di sebelah sana, Mbak," pekik Bara dan berlari masuk ke dalam kamarnya sebelum mendapatkan amukan dari sang kakak.
"Baraaaa ... buka pintunyaaa ..." pekik Putri sambil menggedor pintu kamar sang adik.
"Aku mau tidur, Mbak. Sebaiknya kamu pergi mandi dan bersihkah iler kamu," pekik Bara dari balik kamar dengan tertawa puas.
"Dasar menyebalkan," geram Putri dan menendang pintu kamar sang adik.
Purti pun melihat ke sekitar, ada sebuah papan nama yang tertuliskan namanya di pintu, sehingga membuat Putri dapat mengetahui jika itu adalah kamarnya.
"Pria menyebalkan," geram Putri dan berjalan menuju kamarnya.
Putri masuk ke dalam kamar yang sudah di siapkan oleh Bara, gadis itu pun cukup terpesona dengan dekorasi yang adiknya itu siapkan.
"Luar biasa, mungkin aku bisa berubah menjadi Elsa dan membekukan adik laki-lakiku satu-satunya saat ini juga," geram Putri, yang mana kamarnya saat ini benar-benar di dekorasi seperti kamar salah satu tokoh kartun yang sangat terkenal dan memiliki kekuatan es.
"Dia pikir aku anak kecil, apa?" geram Putri, tetapi sebenarnya di dalam lubuk hatinya saat ini cukup tersanjung dengan apa yang adiknya itu siapkan untuknya.
"Haah, aku menyukai kamar ini," lirih Putri sambil merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Cling ...
Sebuah pesan pun masuk ke dalam ponselnya, sehingga membuat Putri dengan malasnya meraih ponsel dan membuka isi pesan yang masuk.
Sonia: [Tiga puluh menit lagi kita rapat, jangan sampai terlambat.]
Putri pun melihat jam yang ada di ponselnya.
"Ya ampun, sudah jam tujuh lewat," pekik Putri, gadis itu pun bergegas masuk ke dalam kamar mandi.
Putri cukup terkesan untuk desain kamar mandinya yang lagi-lagi tak jauh dari frozen, sehingga membuat Putri benar-benar merasa berada di dunia dongeng.
"Westafle yang cantik," gumam Putri saat gadis itu ingin menggosok giginya.
"Aaaaaa ......" pekik Putri di saat melihat apa yang di katakan oleh Bara benar.
Di sudut bibirnya terdapat noda putih yang bisa di tebak jika itu adalah noda bekas air liur.
__ADS_1
"Batu belah, batu bertangkup, makan saja aku," lirih Putri dengan tubuh yang sudah melorot ke lantai di saat menbayangkan penampilannya sungguh sangat kacau di hadapan Arash.