Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 64 - Ke mana kamu Sifa?


__ADS_3

Sifa menatap pintu kamar yang tertutup. Wanita itu pun menghela napasnya pelan. Di letakkannya semua buku-buku yang tadi ingin di pinjamnya di atas meja.


Sifa berdiri dan berjalan menghampiri kamar sang bos. Di ketuknya pintu kamar itu dengan pelan tiga kali.


"Pak, saya pulang ya," pamit Sifa dan langsung membalikka badannya.


Abash yang saat ini masih berdiri di balik pintu pun hanya terdiam membeku dengan perasaannya yang kesal.


"Sebau itu kah aku? Sehingga kamu enggan untuk dekat denganku, Sifa?" lirih Abash.


Terdengar suara pintu yang tertutup, kemudian Abash membuka pintu kamar dan keluar dari tempat persembunyiannya.


Abash menatap pintu yang tertutup itu, kemudian dia menoleh ke arah di mana tempat Sifa duduk tadi. Terlihat di mata Abash reka ulang kejadian di mana Sifa menyuruhnya untuk menjauh.


Abash menghela napasnya pelan, kemudian pandangan mata pria itu teralihkan ke atas meja, di mana buku-buku yang sengaja pria itu beli untuk Sifa masih berada di atas meja.


"Dasar bodoh," geram Abash.


"Jika kamu tak menyukai aroma tubuhmu, maka setidaknya kamu harus membawa buku-buku itu," kesal Abash dan mengambil semua buku-buku itu, di masukkan ya ke dalam paper bag dan di bawanya ke luar apartemen.


Abash berjalan dengan cepat, kemudian pria masuk ke dalam lift lalu menekan tombol di lantai di mana apartemen Sifa berada.


Di saat pintu lift terbuka, Abash langsung bergegas menuju apartemen lamanya yang saat ini telah di tempati oleh Sifa.

__ADS_1


Berkali-kali Abash menekan bel, namun tak ada yang membukakan pintunya.


"Ke mana dia?" gumam Abash.


Tiba-tiba saja Abash terbayang jika Sifa menyusun semua baju-bajunya dan pergi meninggalkan apartemen miliknya karena merasa sedih atas perbuatannya yang telah mengusir gadis itu dari apastemenya.


"Dasar bodoh," geram Abash lagi dan membuka pintu apartemen dengan menggunakan password lamanya.


Abash bernapas lega, karena Sifa tak mengganti password apartemen itu. Dengan langkah yang besar, Abash memasuki apartemen dan mencari keberadaan Sifa.


"Sifaaa ..." pekik Abash, namun ruangan itu terasa hening dan bergema.


Abash bergegas menuju kamar Sifa, dia mencari keberadaan Gadis itu hingga ke dalam kamar mandi.


Abash menatap lemari yang ada di dalam kamar itu, dengan langkah besar pria itu membuka pintu lemari untuk mengecek isi dari dalam lemari.


Abash bernapas lega di saat melihat jika baju-baju dari Sifa masih tersusun rapi di dalam lemari.


"Ke mana dia?" gumam Abash, kemudian pria itu memiliki pikiran jika Sifa pergi tanpa membawa satu lembar pakaiannya.


"Gadis ini, benar-benar membuat pusing," geram Abash dan berlari keluar apartemen.


Tak lupa Abash meninggalkan buku yang di bawanya tadi dan meletakkannya di atas meja.

__ADS_1


Abash berlari keluar lift dan menanyakan keberadaan Sifa kepada satpam yang berjaga saat ini.


"Nona Sifa? Oh, beliau tadi ke arah sana, Pak," ujar Satpam menunjuk ke arah luar menuju baseman.


"Terima kasih," jawab Abash dan berlari menuju arah tunjuk satpam.


Abash bernapas lega di saat melihat Sifa baru saja ingin mengeluarkan sepedanya dari sana.


"Sifa .." panggil Abash yang mana membuat gadis itu menoleh.


"Pak Abash?" seru Sifa.


Dengan napas yang ngos-ngosan, Abash berjalan mendekati Sifa dan menarik gadis itu menjauh dari sepedanya.


"Eeeh, ada apa, Pak?" tanya Sifa bingung.


Abash berbalik dan menatap dalam ke mata Sifa.


"Ja___"


Baru saja Abash ingin mengatakan kepada Sifa, untuk jangan pergi. Tiba-tiba saja gadis itu sudah menariknya dan bersembunyi di balik tembok.


Abash terus menatap ke arah wajah Sifa yang terlihat waspada dengan seseorang.

__ADS_1


" Ada apa?" tanya Abash yang mana membuat Sifa meletakkan jari telunjuknya di bibir pria itu.


__ADS_2