
Putri sudah membereskan meja kerjanya.Dia sudah bersiap untuk pulang kerja.
Cling ...
Putri pun meraih kembali ponselnya yang sudah di masukkan ke dalam tas. Gadis itu pun meliha siapa nama ID yang mengirimkannya pesan.
Soni.
Ya, pria itu lah yang telah mengirimkannya pesan singkat.
"Aku sudah berada di bawah." Bunyi pesan yang di kirimkan oleh Soni.
Putri tersenyum membaca pesan tersebut, gadis itu pun langsung membalas pesan yang di kirimkan oleh Soni.
"Oke, aku turun sekarang." send.
Setelah memastikan semuanya telah tersusun rapi dan beberapa berkas yang ingin di abawa pulang sudah di masukkan ke dalam tas, Putri pun melangkahkan kakinya keluar dari ruangannya.
"Hai, Put," sapa Sonia yang berpas-pasan dengan Putri.
"Hai," balas Putri dengan tersenyum kecil.
"Kamu mau pulang?" tanya Sonia yang sebenarnya hanya sekedar basa basi saja. Wanita itu sudah cukup tahu jika Putri akan segera pulang, karena melihat tas dan juga barang bawaan gadis itu. DI tambah lagi ini sudah waktunya jam pulang kerja.
"Iya, kamu?" tanya Putri balik yang bisa dia tebak jika Sonia pasti akan lembur hari ini. Melihat jika gadis itu sedang membawa beberapa cemilan yang ada di tangannya.
"Biasalah, lembur bagai kuda," ujar Sonia sambil tertawa kecil.
"Semangat ya, sampai jam berapa nih lemburnya?" tanya Putri.
"Emm, belum tau. Kayaknya sih sampai jam sebelas," ujar Sonia sambil menghela napasnya dengan pelan.
"Huuf, semoga gak lebih dari jam itu deh, capek banget harus lembur tiga hari berturut-turut. Mana aku lagi datang bulan lagi," lirih Sonia yang terdengar seperti sebuah keluhan.
"Semangat, jangan lupa makan makanan yang bergizi," ujar Putri memberi semangat kepada teman seprofesinya itu.
"Ah ya, nanti aku kirimin makanan deh untuk kamu, ya. Biar kamunya semakin semangat," ujar Putri yang mana membuat Sonia menaikkan alisnya sebelah.
"Serius?" tanya Sonia memastikan.
"Huum, kamu mau makan apa?" tanya Putri.
"Waah, kalau begini sih makin semangat aku kerjanya," kekeh Sonia. "Aku bisa makan apa aja kok, asal yang penting enak dan bergizi," sambung Sonia.
__ADS_1
"Oke, nanti aku pesanin makan malam untuk kamu, ya. Kalau begitu aku duluan, ya, soalnya udah di tungguin," pamit PUtri.
"Cie, sekarang di antar jemput terus, ya. Perhatian banget pacarnya," goda Sonia.
"Eh, bukan pacar aku. Cuma teman aja kok," ujar Putri sambil menggelengkan kepalanya.
"Teman apa teman?" goda Sonia lagi. "Masa iya teman tiap hari antar jemput begitu? Atau teman calon pacar?" sambung Sonia lagi.
"Gak kok, beneran teman. Ya dah kalau begitu, ya. Aku duluan, bye ... Semangat lemburnya," Putri pun melambaikan tangannya dan berlalu meninggalkan Sonia.
"Aku tunggu kiriman makan malamnya, ya," pekik Sonia sambil tertawa.
"Oke," jawab Putri sambil mengacungkan jempolnya.
Putri pun masuk ke dalam lift, dia teringat akan ucapan Sonia yang mengatakan jika yang menjemput dan mengantarnya ke kantor beberapa minggu ini adalah pacaranya. Andai saja ...
Putri pun keluar dari lift, dia pun melangkahkan kakinya menuju lobi kantor dan mencari keberadaan Soni, akan tetapi langkahnya terhenti di saat melihat Arash sudah berada di sana dengan gaya bersandar d pintu mobil, kemudian melambaikan tangannya saat melihat Putri.
Putri menelan ludahnya dengan kasar, di saat melihat betaa tampannya pria yang saat ini sedang berjalan menuju ke arahnya.
Tunggu ...
Saat ini tidak hanya Arash yang sedang berjalan ke arahnya, tetapi ada pria lain yang juga sedang berjalan ke arahnya.
Pesan?
Pesan yang mana? Pesan yang menanyakan makan siang?
Putri pun mengerjapkan matanya, dia merasa bingung harus menjawab apa saat ini.
"Hai, Nces," sapa suara bariton lain yang mana membuat Arash menoleh ke arah sumber suara.
Arash pun mengernyitkan keningnya, di saat melihat pria yang tak kalah tampan darinya menatap ke arah Putri dengan tatapan yang memuja.
Tunggu, perasaan apa ini? Kenapa Arash merasa tak menyukai cara pria itu menatap Putri dengan tatapan penuh binar?
"Hai," sapa Putri dengan tersenyum manis.
Arash pun langsung merubah ekspresi wajahnya di saat melihat Putri menyambut kedatangan pria tak di kenal itu dengan sebuah senyuman, sedangkan menyambut kedatangannya dengan wajah datar dan terbengong.
"Kita pulang sekarang?" ajak Soni yang di angguki oleh Putri.
"Oke."
__ADS_1
Soni hendak mengambil barang yang ada di tangan Putri, hingga Arash dengan cepat menahan tangan pria itu sehingga tak bisa menggapai Putri.
Soni pun menoleh ke arah Arash dengan kening mengkerut, tidak dengan Arash yang menatapnya dengan tatapan yang sangat dingin. Bahkan bisa membuat Soni beku saat itu juga hanya dengan tatapan matanya.
He ... He .. He.. Begitulah kira-kira rasanya.
"Anda siapa?" tanya Arash dengan tatapan matanya yang dingin kepada Soni.
"Emm, Rash," ujar Putri dan menyentuh tangan pria itu untuk melepaskan tangan Soni.
Arash pun menurut dan membiarkan tangan Soni lepas dari genggaman tangannya.
"Perkenalkan, dia ini Soni. Soni, dia ini Arash," ujar Putri memperkenalkan dua pria yang sedang saling menatap dengan tatapan mata yang dingin.
Mungkin, bukan Arash atau Soni yang kedinginan dan menggigil, tetapi Putri yang sudah merasa kedinginan dan menggigil saat ini yang berada di tengah-tengah mereka berdua.
Arash dan Soni masih saling menatap, tanpa ingin mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. Merasa jika saat ini suasana terasa canggung, Putri pun kembali mengambil atensi kedua pria tersebut.
"Eng, Son, Arash ini orang yang memberikan tumpangan untuk aku di apartemennya," ujar Putri menjelaskan. "Dan, Rash, Soni ini adalah teman kecil aku. Dia juga keponakan dari Om Martin, pengacara aku," jelas PUtri.
"Oh, teman kecil," jawab Arash dengan tersenyum miring.
"Ya, saya teman kecil Putri, sekaligus orang yang akan melindungi Putri," ujar Soni sambil mengulurkan tangannya kepada Arash.
Arash pun membalas uluran tangan Soni, mereka saling berjabatan dengan tangan yang saling menggenggam erat satu sama lainnya.
"Oh, teman kecil," ujar Arash yang terdengar seperti sedang mengejek. "Saya Arash, orang yang melindungi Putri," balas pria itu dengan tersenyum lebar.
Putri mengerjapkan matanya di saat mendengar kalimat yang keluar dari pria itu.
"Apa katanya? Orang yang melindungi aku?" batin Putri.
"Sadar, Put. Sadar. Arash melindungi kamu karena dia seorang polisi. Jadi, sudah sewajarnya dan menjadi kewajiban dia untuk menjaga dan melindungi kamu," sambung Putri dalam hatinya.
"Em, aku rasa sudah cukup kenalannya," ujar Putri sambil berusaha melepaskan jawaban tangan Arash dan juga Soni, hingga akhirnya mereka pun melepaskan genggaman tangan mereka.
"Kita balik sekarang?" ajak Soni lagi kepada Purti, yang mana membuat gadis itu menganggukkan kepalanya.
"Kalau begitu, kami permisi dulu," pamit Soni kepada Arash.
"Tunggu, kamu gak bisa pergi, Put," tahan Arash sambil memegang lengan Putri, sehingga membuat langkah gadis itu pun tertahan.
"Kenapa Nces gak bisa pergi sama?" tanya Soni yang sudah ikut memegang tangan Putri yang lain.
__ADS_1
"Karena Putri dalam pelindungan saya," ujar Arash seolah sedang menantang Soni.