Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 308


__ADS_3

"Mas mau pergi ke pesta?" tanya Sifa yang saat ini sedang menikmati makan siangnya bersama sang kekasih.


Pastinya hal ini dilakukan di ruangan Abash, ya. Dengan dalih kalau mereka sedang membahas tentang perpindahan Sifa ke perusahaan Farhan. Jadi, sebelum gadis itu pindah, Sifa harus membantu Abash dan menyelesaikan beberapa pekerjaan yang belum selesai.


"Iya, kamu mau ikut?" ajak Abash.


"Tidak." Sifa kembali memasukkan makanan sepotong sayuran brokoli ke dalam mulutnya.


Walaupun mulut Sifa berkata tidak, akan tetapi hati gadis itu sebenarnya sangat ingin ikut dengan sang kekasih. Dia ingin melihat, bagaimana yang namanya pesta dari kalangan para kolongmerat. Apakah benar seperti apa yang Sifa dengar dari mulut rekan kerjanya? Di mana jika banyak wanita-wanita cantik dan juga para pengusaha yang membawa anak-anak mereka, kemudian ingin menjodohkannya dengan pebisnis muda yang lainnya.


Sungguh, Sifa ingin sekali ikut bersama Abash, di mana dia tidak ingin jika ada satu orang wanita pun yang berani mendekati kekasihnya itu.


"Kalau kamu mau ikut, aku bisa membawa kamu," ujar Abash, di mana pria itu bisa menebak jika sang kekasih terlihat risau dan ingin ikut bersamanya.


"Untuk apa aku ikut? Lagi pula hubungan kita masih harus dirahasiakan. Apa kata orang kalau aku ikut kamu, Mas?" Sifa pun mengerucutkan bibirnya, tanda jika gadis itu sedang merajuk dan menginginkan sesuatu.


"Aku bisa membawa kamu tanpa ada yang mengetahui status hubungan kita, gimana?" tawar Abash.


Sifa melirik ke arah Abash, gadis itu menatap lurus dan menelisik ke dalam mata sang kekasih, mencari kebohongan di sana, tetapi Sifa melihat jika Abash berkata dengan bersungguh-sungguh, jika pria itu benar-benar bisa membawa dirinya ke pesta tanpa ada satu orang pun yang mengetahui tentang hubungan mereka.


"Mas yakin?"


"Huum, aku bisa membawa kamu ikut ke pesta, tanpa ada satu orang pun yang mengetahui tentang hubungan kita sebenarnya," ujar Abash sekali lagi untuk meyakinkan sang kekasih.


"Bagaimana caranya?" tanya Sifa penasaran.


Abash hanya tersenyum sambil menaikkan alisnya sebelah.


"Mas, bilang dong. Kok malah senyam senyum, sih?" kesal Sifa.


"Aku akan mengatakannya, tetapi kamu harus ikut aku nanti," ujar Abash dengan penuh arti.


Sifa menghela napasnya dengan pelan, haruskah dia ikut bersama sang kekasih dan mempercayai Abash, jika pria itu bisa membawanya tanpa mengungkapkan identitas mereka?


*


Di tempat lain, Putri sedang mencoba beberapa gaun yang akan dia pakai untuk ke pesta. Gadis itu terlihat sangat cantik sekali dengan gaun sabrina yang melekat pada tubuhnya.


Tidak terlalu terbuka, tetapi baju itu tetap saja membuat Putri terlihat sangat seksi dan cantik.


"Ganti."


Putri terkejut, di saat mendengar suara bariton yang tiba-tiba saja muncul dari belakangnya.


"Sayang, kamu?"


Arash melangkahkan kakinya penuh keyakinan tanpa ada satu senyum pun yang mengukir wajahnya. Pria iitu mengikis jarak di antara dirinya dan juga sang tunangan.


"Ada apa?" tanya Putri dengan gugup, karena jarak di antara mereka sangatlah dekat. Bahkan, jika orang yang ada di belakang Arash melihat, maka mereka terlihat seakan sedang berpelukan.


"Ganti pakaian ini," bisik Arash dengan suara yang dingin dan terdengar sangat menakutkan.

__ADS_1


"Kenapa? Me-memangnya apa yang salah dengan baju ini?" tanya Putri.


"Aku tidak suka, jika kemolekan tubuh kamu di pandang oleh pria lain."


Melihat tatapan tajam Arash, biisa Putri yakini jika saat ini pria itu sedang terbakar api cemburu entah kepada siapa.


Putri mengulum senyumnya. Rasanya sungguh sangat menarik sekali melihat wajah sang tunangan yang sedang cemburuan seperti saat ini.


"Kenapa? Baju ini sangat bagus dan sedang ngetrend saat ini. Aku menyukainya," ujar Putri yang sengaja memancing rasa cemburu sang kekasih.


"Kamu---"


"Bagaimana, Putri? Apa kamu menyukainya?" tanya Mama Ara yang muncul tiba-tiba entah dari mana.


Arash yang mendengar suara sang tante pun, langsung saja memberi jarak dengan sang tunangan.


"Loh, Arash? Kamu di sinii?"


Arash pun hanya menyengir kuda, pria itu menggaruk tengguknya yang tidak gatal.


"Iya, Mi. Mas Veer suruh aku gantiin dia pergi ke pesta."


Putri pun akhirnya bisa menebak, bagaimana sang tunangan bisa berasa di butik saat ini. Ternyata, pria itu juga membutuhkan baju untuk pergi ke pesta.


Tunggu, apa pesta yang akan di datangi oleh Arash adalah pesta yang sama dengannya?


"Kamu mau pergi ke pesta juga? Di mana?" tanya Putri penasaran.


"Ke puncak, sama seperti kamu."


"Beneran?" tanya Putri memastikan.


"Iya, untuk itu, kamu jangan memancing kemarahan aku, ya? Aku tidak suka kamu memakai gaun ini," ujar Arash  dan menyuruh sang tunangan untuk menggantinya.


"Baiklah, aku akan mencari gaun yang lain."


Dengan penuh semangat. Putri meminta kepada Mami Ara untuk mengganti gaunnya seperti apa yang di ingiinkan oleh sang tunangan.


*


Senyuman Putri sedari tadi tidak pernah luntur dari wajahnya. Gadis itu pun merangkul lengan Arash dengan penuh percaya diri. Bahkan, beberapa partner yang pernah bekerja sama dengan mereka pun, sempat bertanya apa hubungan keduanya.


Cukup mengejutkan memang, di saat mereka mengakui jika mereka adalah sepasang tunangan yang sebentar lagi akan menyelenggarakan pernikahannya.


"Selamat ya, semoga kalian bahagia."


Begitu lah ucapan yang diberikan oleh beberapa orang yang memberikan selamat kepada mereka berdua.


"Sayang, itu bukannya Abash dan Sifa?" Putri pun menunjuk ke arah sepasang sejoli yang terlihat sedang berjalan bergabung dengan para tamu undangannya yang lain.


"Iya, kenapa mereka bersama?" tanya Arash. "Apa mereka ingin mempublikasikan hubungan mereka berdua?"

__ADS_1


Arash menoleh ke arah Putri, seolah bertanya kepada gadis itu, apakah dugaannya benar atau tidak.


"Aku tidak tau," jawab Putri sambil menggelengkan kepalanya pelan.


Di tempat lain.


"Pestanya meriah banget?" puji Sifa yang baru pertama kali mendatangi pesta semeriah ini.


"Jangan tersenyum, karena kamu akan terlihat sangat cantik jika tersenyum," tegur Abash yang mana membuat Sifa segera menghilangkan senyuman dari wajah cantiknya.


Ya, sebelum mereka tiba di pesta, Abash memberikan syarat kepada sang kekasih, jika gadis itu tidak boleh bersalaman atau pun berkenalan dengan pria manapun yang mengajaknya berkenalan. Dan satu lagi, Sifa tidak boleh menjauh dari Abash, apapun itu alasannya.


"Baiklah."


Abash menghentikan langkahnya di saat ada seorang pria yang menegurnya. Ya, pria itu adalah salah satu partner kerjanya.


"Wah, Pak Abash dengan siapa, nih?"


Abash melirik ke arah Sifa yang hanya memasang wajah datarnya. Pria itu pun kembali menoleh ke arah lawan bicaranya saat ini.


"Perkenalkan, ini adalah asisten pribadi saya," ujar Abash memperkenalan Sifa kepada pria yang ada dihadapannya saat ini.


"Hai, saya Dika."  Sambil mengulurkan tangannya kepada Sifa.


"Sifa," ujarnya sambil menangkup kedua tangannya di dapan dada.


Dika pun terlihat kesal, karena Sifa mengabaikan uluran tangannya. Pria itu menelisik penampiilan Sifa dari ujung rambut sampai ujung kaki.


"Hanya sebatas asisten, tapi lagaknya sok jual malah," batinnya dengan kesal.


Abash yang seolah bisa membaca pikiran Dika pun, langsung memasang tatapan matanya yang tajam.


"Permisi," pamit Abash dan mengajak Sifa untuk menjauh dari pria itu.


Dika menatap kepergian Abash dan Sifa yang semakin menjauh dari pandangannya.


"Lihat saja, sejauh apa gadis itu bisa jual mahal sama gue," gumamnya.


Dika tersentak, di saat ada seseorang yang menepuk bahunya.


"Jangan cari gara-gara. Ingat, gadis itu bekerja dengan siapa. Keluarga Moza tidak akan tinggal diam jika ada bagian dari karyawannya yang diihina," tegur pria yang menepuk bahu Dika.


Dika berdesak kesal, apa yang dikatakan oleh temannya itu ada benarnya.


"Haah, beruntung banget tuh cewek. Kalau gak? Habis gue bikin," geramnya.


"Lo tenang aja, gue punya pekerjaan untuk lo."


Dika pun mendengarkan apa yang di katakan oleh pria itu, sehingga membuat Dika tersenyum miring mendengarnya.


"Ide yang sangat bagus. Gue setuju."

__ADS_1


Dika menatap ke arah Sifa dan Abash yang sedang menemui kembaran pria itu.


"Lihat saja, gue bakal bikin lo bertekuk lutut dihadapan gue," batin Dika dan menatap tajam ke arah Sifa dan Abash.


__ADS_2