
"Kaki kamu kenapa?" tanya Lucas.
"Hah? Oh i-ini___" Sifa terlihat enggan untuk memberitahukan apa yang terjadi dengan betisnya itu.
Sifa memejamkan matanya, kepingan-kepingan kejadian itu pun kembali terniang dalam benaknya.
Ya, waktu kecil Sifa sedang bermain sepeda dengan teman-temannya pernah di kejar oleh anjing, hingga kakinya di gigit dan meninggalkan bekas seumur hidup pada kakinya.
Betis Sifa di gigit hingga dagingnya hancur karena gigitan dari anjing tersebut hingga tulangnya retak.
Sifa harus menjalani operasi berkali-kali demi menutupi betisnya yang sudah termakan oleh anjing tersebut. Kulit paha Sofa sudah di ambil untuk menutupi betisnya, namun, luka tetaplah luka, luka tersebut akan terus membekas dan mengurangi kecantikan Sifa.
Trauma pun terjadi saat Sifa bertemu dengan dokter yang sombong dan tak ada kelembutan sedikit pun saat mengganti perbannya, sehingga luka Sifa kembali mengeluarkan darah. Sifa harus menderita selama hampir satu tahun hanya untuk menumbuhkan daging pada betisnya.
Mungkin, jika saat itu tidak ada warga yang melintas dan menolong Sifa, mungkin saat ini sudah tak ada lagi di dunia.
Sifa tak takut dengan rumah sakit, Sifa juga tak takut dengan dokter, tapi Sifa takut, jika dirinya lah yang sakit dan harus bertemu dengan dokter.
"Hei, kalau gak mau cerita juga gak papa, jangan terlalu di ambil pusing. Yang pasti yang harus kamu tahu, hidup bukan karena kita harus terlihat sempurna, melainkan untuk menjadi nyata," ujar Lucas dan menepuk bahu Sifa.
Sifa sedikit menaikkan sudut bibirnya mendengar ucapan Lucas, 'hidup bukan karena harus terlihat sempurna, melainkan untuk menjadi nyata.'
Ah, sebuah kalimat yang sangat manis terdengar.
Sejak memiliki luka di kaki, Sofa memang sering di kucilkan karena kekurangannya. Saat Sifa masih memiliki orang tua yang selalu menghiburnya, akan tetapi kecelakaan yang merenggut orang tua Sifa, membuat Sifa semakin terpuruk.
Sifa menjadi pendiam, bahkan diabtak ingin berbicara kepada siapa pun, akan tetapi, melihat sang nenek yang berjuang demi kesembuhannya, membiayai kebutuhan mereka sehari-hari, juga melunasi semua hutang-hutang orang tuanya untuk biaya rumah sakit saat Sifa di rawat, asofa bertekad untuk menjadi Sofa yang baru.
Sifa menutup telinganya dan menjauhi orang yang hanya akan membuatnya kembali terpuruk. Sifa tak butuh teman di dunia ini, Jiak mereka hanya memanfaatkan kecerdasannya dan juga kelemahannya.
Sifa tak butuh teman yang baik di depannya namun suka membicarakannya di belakang. Apalah arti sebuah teman bagi Sifa, toh dia bisa bertahan hidup selama ini bukan karena dukungan temannya, melainkan orang-orang yang benar-benar tulus menyayanginya.
Hingga saat itu, Sifa pun bertemu dengan Amel yang benar-benar tulus berteman dengannya. Hanya Amel yang ingin berteman dengannya tanpa memandang status sosial, walaupun sebenarnya Sifa sudah curiga, jika Amel pasti berasal dari keluarga yang kaya. Yang terpenting bagi Sifa, teman yang tak mengkucilkannya dan menerima semua keadaannya saja, serta tak ikut campur dengan urusan pribadinya, itu sudah cukup.
Ya, walaupun tak suka menceritakan tentang kehidupan pribadinya, karena Sifa bukanlah orang yang suka mengeluh pada manusia yang suatu saat akan menjatuhkannya. Sifa lebih suka mengeluh kepada sang pencipta, yang selalu ada dan menolong dirinya.
"Mau minum apa?" tawar Abash.
Suara Abash pun menyentak kembali diri Sifa ke dunia nyatanya. Sifa baru menyadari jika Abash dan Dokter Lucas telah menjauh darinya.
__ADS_1
"Gue laper," rengek Lucas.
Abash membuka kulkasnya, hanya ada pizza belum di sana.
"Ini mau?" tanya Abash.
"Punya berapa hari?"
"Lima tahun yang lalu," ujar Abash dengan kesal.
Karena lapar, Lucas pun mengambil pizza tersebut dan memasukkannya ke dalam microwave.
"Jadi, siapa dia?" tanya Lucas kepada Abash.
"Hanya karyawan aku,"
"Oh ya? Karyawan spesial?" ledek Lucas.
"Gak, semua sama di mata aku."
"Hmm, jadi setiap ada karyawan kanunyang sakit, kamu bawanke apartemen?"
"Dan dia yang pertama? Wow, ini sungguh menakjubkan. Seorang Abash membawa seorang wanita ke apartemen nya." Lucas tiba-tiba menatap Abash dengan tajam. "Jangan bilang awalnya lo mau tidur dengan dia,"
"Iih, gak lah. Abash tau dosa. Lagian, Abash cuma bantu dia aja kok,"
"Oh ya? bantu atau karena kamu naksir dia?"
"Naksir? Ya gak lah, lagian, Sifa bukan tipe cewek yang Abash mau jadikan istri."
Tanpa Abash sadari, jika Sifa mendengar ucapannya. Ya, lagi pula siapa yang berharap untuk menjadi pasangan hidup Abash? Tak sekali pun dalam pikiran Sifa untuk memikirkan hal tersebut.
Lagi pula, Abash sudah berbaik hati untuk menolongnya saja sudah syukur Alhamdulillah. Sifa sadar diri kok, jika gadis itu tak pantas untuk Abash. Mustahil bagi Sifa bisa jatuh cinta dengan Abash, tak setinggi itu calon suami yang Sifa inginkan, atau Sifa memang tak memiliki kriteria calon suaminya.
"Ngapain kamu berpikir di sini?" tanya Abash yang menemukan Sifa berdiri tak jauh dari dapur.
Tadi Abash sudah mengatakan jika orang yang akan di tolong oleh Lucas, pasti membutuhkan tongkat, untuk itu Lucas membawa tongkat sekalian bersamanya. Sifa pun tak akan kesusahan untuk berjalan ke kamar mandi atau ke dapur di saat Abash meninggalkannya nanti. Gak mungkin kan Abash tinggal dalam satu ruangan denagn seorang gadis yang bukan muhrimnya.
"Oh, sa-saya mau minum," ujar Sifa dengan gugup.
__ADS_1
Abash kembali ke dapur dan membawa segelas air untuk Sifa.
"Ini, minumlah,"
Sifa pun kembali ke kursi dan meminum airnya. "Terima kasih," ujar Sifa sembari mengembalikan gelas tersebut kepada Abash.
"Oke, malam ini kamu tidur di sini aja, kamar itu kamar tamu, kamu boleh tidur di sana. Ingat, jangan pernah memasuki kamar yang itu." ujar Abash sambil menunjuk kearah pintu kamar yang dia maksud.
Sifa menganggukkan kepalanya. "Bapak tidur di mana?" tanyanya polos.
"Saya akan kembali pulang, besok pagi saya akan kembali," ujar Abash.
"Kalau kamu masih lapar atau haus, kamu bisa mengambil apapun yang ada di dalam kulkas."
Setelah mengatakan hal tersebut, Abash mengambil kunci mobilnya dan pergi bersama Lucas meninggalkan Sifa sendirian di apartemen yang luas.
Sifa menghela napasnya pelan, dia memandangi pintu kamar yang Abash tunjuk tadi.
"Ingat Sifa, kamu hanya numpang tidur, jangan menyusahkan." gumam Sifa dan berjalan kearah sofa panjang.
Ya, Sifa akan tidur di sofa yang cukup untuk menampung tubuhnya yang ramping.
*
"Dari mana?" tanya Abash saat melihat sang kembaran yang baru saja turun dari mobil.
"Ada kecelakaan tadi, jadi gue ngecek aja."
Abash dan Arash pun masuk ke dalam rumah berbarengan.
"Hai Empus," sapa Abash.
Empus pun mengikuti Abash masuk kedalam kamarnya.
"Tumben?" gumam Arash yang melihat sang kembaran membawa peliharaan sang kakak kedalam kamarnya.
\=\= Jangan upa Vote, Like, and komen ya ..
Salam sayang dari ABASH dan ARASH
__ADS_1