Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
S2 - Bab. 17 - Ibu sambung


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul empat sore. Yumna dan Rayyan juga belum berada di kediaman Mama Kesya.


"Ck, kenapa belum di antar sih?" geram Arash yang baru saja pulang kerja dan melihat jika Rayyan dan Yumna belum juga berada di rumah.


Arash pun bergegas mengganti pakaiannya dan bersiap untuk menjemput Rayyan dan Yumna.


"Mau ke mana, Rash?" tanya Mama Kesya yang melihat sang putra terlihat seperti terburu-buru.


"mau jemput Rayyan dan Yumna, Ma," jawab Arash sambil membenarkan jaketnya.


"Ngapain di jemput, sih? Nanti juga di antar pulang sama Zia. Kan dia sudah janji akan membawa pulang Rayyan dan Yumna," ujar Mama Kesya yang sudah memandang ke arah sang putra.


"Kalau iya di antar, Ma? Kalau tidak?" sahut Arash.


"Kok kamu ngomong gitu sih, Rash?" Mama Kesya mengernyitkan keningnya, di saat melihat gelagat aneh dari sang putra. Di tambah lagi, Arash terlihat marah karena Rayyan dan Yumna belum pulang.


"Mama mau temani Arash untuk menjemput Rayyan dan Yumna tidak?" tanya Arash. "Kalau tidak, Arash pergi sendiri."


Mendengar nada suara sang putra yang terdengar kurang bersahabat, Mama Kesya pun bergegas mendekati sang putra.


"Ada apa, Rash? Kenapa kamu terlihat kesal begini, sih? Apa terjadi sesuatu lagi antara kamu dan Zia?" tanya Mama Kesya memastikan.


"Bukan begitu, Ma. Tapi, Arash hanya tidak suka jika Rayyan dan Yumna ketergantungan dengan Zia. Rayyan dan Yumna harus terbiasa hidup tanpa Zia, Ma. Mereka harus tahu, jika Zia bukan ibu mereka," jawab Arash.


"Astaghfirullah, Arash. kenapa kamu bicara seperti itu, Rash? Rayyan dan Yumna itu masih membutuhkan perhatian dari seorang ibu! Wajar saja jika Rayyan dan Yumna berpikir jika Zia adalah ibu mereka!" ujar Mama Kesya mencoba memberikan pengertian kepada sang putra.


"Zia bukan ibu Rayyan dan Yumna, Ma. Mama harus ingat itu."


Arash menarik napas dan menghelanya secara perlahan.


"Mama mau ikut, tidak? Kalau tidak, Arash bisa pergi sendiri."


"Eh, tunggu, Rash. Mama ikut." Mama Kesya pun bergegas mengambil tas, dompet, dan ponselnya.


"Ayo!"


Mama Kesya sengaja ikut pergi dengan Arash untuk menjemput Yumna dan Rayyan, karena dia takut jika Arash akan lepas kendali dan membuat Zia tersinggung dengan ucapan-ucapannya itu.


Sepanjang perjalanan, Mama Kesya memperhatikan putranya. Melihat jika gelagat Arash terlihat sangat berbeda sekali. Seolah-olah pria itu takut jika Zia akan merebut Rayyan dan Yumna darinya.


Ingin Mama Kesya bertanya apa yang sedang terjadi kepada putranya itu, akan tetapi melihat sang putra yang masih di selimuti oleh emosi pun, membuat Mama Kesya mengurungkan niatnya untuk bertanya kepada Arash, apa yang sebenarnya sedang terjadi kepada pria itu


Sesampainya di rumah Bara, Arash dan Mama Kesya pun turun dari mobil. Kedatangan mereka langsung di sambut oleh Mama Nayna.


"Ayo, masuk," titah Mama Nayna sambil tersenyum lebar.


"Zia baru saja selesai mandi, dia dan Ibra rencana mau mengantar Rayyan dan Yumna pulang. Eh, gak taunya udh keburu di jemput duluan," ujar Mama Nayna memberi tahu kepada Arash dan Mama Kesya sambil tertawa pelan.


"Masih rencana kan, Ma? Bisa aja gak niat ngantar. Apa lagi di luar hujan lebat," sahut Arash yang mana membuat Mama Kesya merasa tidak enak dengan besannya itu.


"Maksud kamu, Rash?"


Arash tersenyum, di saat melihat Rayyan berlari ke arahnya.


"Owwhh ... Anak Papa udah pinter lari yang kencang, ya?" ujar Arash dan menggendong Rayyan.


"Pa .. Ain bil. Agus tan?" Rayyan pun menunjukkan mainan yang dibelikan oleh Ibra.


"Huum, iya .. siapa yang beli?" tanya Arash yang kemudian pria itu menoleh ke arah Ibra, karena Rayyan menunjuk ke arah pria itu.


Arash tersenyum kecil kepada Ibra yang sedang menggendong Yumna, lalu dia kembali melihat ke arah sang putra.


"Kita pulang, yuk ...." ajak Arash kepada Rayyan.

__ADS_1


"Ulang?"


"Iya, pulang ke rumah Oma Kesya. Yuukk ...." ajak Arash lagi.


"Ndak au ... Yan au di cini ... Yan au ma Uti ja ..." rengek Rayyan.


"Rayyan, kita harus pulang ya? Udah cukup nginapnya di tempat Uti," bujuk Arash.


"Ndak au ... Yan au di cini ... Yan au di cini .. Utiiiii ...." Rayyan pun menangis sambil mengulurkan tangannya ke arah Zia yang baru saja keluar dari kamar.


"Ada apa, Mas? Kenapa Rayyan nangis?" tanya Zia yang sudah menghampiri Arash dan Rayyan.


"Yan au ma Uti ...." rengek Rayyan sambil mengulurkan tangannya kepada Zia.


Berhubung Zia berjalan dengan menggunakan tongkat, Arash pun menahan tubuh Rayyan dengan kuat di dalam gendongannya, agar kejadian kemarin malam tidak terjadi lagi.


"Ada apa, Mas?" tanya Zia lagi kepada Arash.


Zia merasa tidak tega, di saat melihat Rayyan harus menangis seperti saat ini.


"Aku akan membawa Rayyan dan Yumna pulang sekarang," ujar Arash mengabaikan suara tangisan Rayyan.


"Iya, Mas. Tapi, Rayyan kenapa? Kenapa dia menangis seperti itu?" tanya Zia lagi.


"Bukan urusan kamu," ketus Arash yang mana membuat Zia mengernyitkan keningnya.


"Mbaakk!!" Arash pun memanggil baby sister yang bertugas untuk menjaga Yumna.


"Ya, Pak?"


"Bereskan semua barang Yumna, kita pulang sekarang," titah Arash.


"Baik, Pak." Dengan perasaan bingung, baby sister yang menjaga Yumna pun mengambil tas bayi milik Yumna dan Rayyan yang ada di dekat Ibra.


"Rash! apa harus begini cara membawa anak-anak kamu pulang?" tanya Mama Kesya yang tidak menyukai cara Arash membawa kedua cucunya itu pulang.


Gak salah memang jika Arash ingin membawa Rayyan dan Yumna kembali pulang, tapi cara putranya itu yang salah, seolah dia sedang merebut Rayyan dan Yumna secara paksa dari Zia. Padahal, bisa secara baik-baikkan?


"Ma, bukannya Mama ke sini untuk menemani Arash membawa pulang Rayyan dan Yumna?" ujar Arash dengan penuh tekanan.


"Mas, kenapa kamu berkata seperti itu dengan Tante Kesya? Kalau kamu ingin membawa Yumna dan Rayyan pulang, silahkan, Mas. Tapi gak begini caranya!" geram Zia.


"Kenapa memangnya? Apa hak kamu melarang-larang saya untuk membawa Yumna dan Rayyan pulang? Apa kamu ibunya?" geram Arash.


"Mas! Seharusnya kamu bersikap sopan saat berada di rumah orang, Mas!" bentak Zia.


"Sopan? Siapa yang gak sopan di sini, hah? Kamu atau aku? Siapa yang duluan memonopoli anak-anak aku, Hah?" bentak Arash balik.


"Kamu berlaku seolah kamu adalah ibu mereka, Zia. Apa kamu tidak sadar? Sikap memonopoli kamu itu membuat Rayyan dan Yumna menjauh dari aku!"


"Mas, aku tidak pernah memonopoli Rayyan dan Yumna, Mas. Mereka sendiri yang memang ingin bersama aku!" sahut Zia.


"Dan karena mereka yang meminta, jadi kamu seolah memiliki hak asuh atas mereka berdua? Begitu?" tanya Arash sambil tersenyum miring. "Kamu pasti sudah meracuni pikiran Rayyan dan Yumna saat di rumah sakit, kan? Agar mereka meminta pulang bersama kamu. Kamu pasti juga sebagai bekerja sama dengan dokter kan untuk mengatakan jika Rayyan dan Yumna harus berada di dekat kamu pasca pemulihan? Dan kamu pasti juga membujuk Mama Kesya dan Mama Nayna, kan? membujukku agar memberikan izin untuk Yumna dan Rayyan bisa tinggal bersama kamu?" tuduh Arash yang mana membuat Mama Kesya dan Mama Nayna serentak beristighfar dan mengelus dada.


"Jaga omongan kamu, Mas! Aku tidak pernah melakukan apa yang kamu tuduhkan itu!" geram Zia.


"Jangan bohong kamu, Zia. Aku tahu apa yang ada di dalam pikiran kamu!"


"Tau apa kamu tentang aku, Mas?" tanya Zia.


"Aku tahu banyak tentang kamu, Zia. Aku tahu kalau kamu sudah terobsesi dengan sesuatu, maka kamu akan meraihnya sesuai keinginan kamu. Iya kan? Dan kamu sangat terobsesi dengan Rayyan dan Yumna. Iya kan?"


Zia menggenggam semakin erat tongkatnya, untuk menahan emosinya yang sudah mencuat ke hatinya.

__ADS_1


"Ya, aku memang sangat terobsesi dengan Yumna dan Rayyan, Mas. Kenapa memangnya?" ujar Zia dengan mata yang sudah memerah. "Terus bagaimana dengan kamu, Mas? Apa kamu sudah becus menjaga Yumna dan Rayyan?" tanya Zia dengan tersenyum miring.


"Jika kamu becus menjaga Yumna dan Rayyan, maka tidak akan mungkin mereka bisa sakit, Mas. Tapi sayangnya Yumna dan Rayyan sakit karena kamu tidak becus menjadi seorang ayah!" geram Zia.


"Zia, Arash ... Sudah ... sudah cukup. Tidak baik di dengar oleh anak-anak jika kalian bertengkar, Arash, Zia!" tegur Mama Kesya.


"Iya, Zia, sudah, Nak. Jangan di bahas lagi, ya?" bujuk Mama Nayna.


"Gak bisa, Ma. Zia harus di berikan peringatan agar tidak menjauhkan Rayyan dan Yumna dari Arash," tolak Arash.


"Siapa yang menjauhkan Rayyan dan Yumna dari kamu, Mas? Aku tidak pernah melakukan hal itu!"


"Jangan munafik kamu, Zia. Aku tahu, jika kamu sedang mencari jalan kan untuk mengambil hak asuh Rayyan dan Yumna dari aku!" tuduh Arash yang mana membuat Zia tertawa.


"Oh ya? Memangnya bisa, Mas? Memangnya aku bisa mengambil hak asuh Rayyan dan Yumna dari kamu?" tanya Zia sambil tertawa kecil.


"Dan aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi."


"Dan jika aku bisa mengambil hak asuh atas Rayyan dan Yumna, maka aku akan memperjuangkannya!" tegas Zia.


Arash terkekeh, pria itu menertawakan Zia yang sedang mengernyit saat ini menatap ke arahnya.


"Kamu pikir, kamu bisa melakukannya?" tanya Arash sambil tertawa.


"Aku tidak akan membiarkan kamu mendapatkan hak asuh atas Rayyan dan Yumna."


"Kamu yang bilang, Mas, bukan aku!"


Rayyan kembali menggeliat kesakitan, karena Arash memeluknya dengan erat.


"Mas, lepaskan Rayyan. Kamu terlalu kuat memeluknya, Mas. kamu menyakitinya!" pinta Zia.


Arash kembali tertawa, membuat Zia, Mama Kesya, Mama Nayna, dan Ibra mengernyitkan keningnya.


"Sebegitu inginkan kamu menjadi ibu untuk Rayyan dan Yumna?" tanya Arash sambil tertawa menatap ke arah Zia.


"Mas, lepaskan Rayyan. Biarkan dia turun, Mas" pinta Zia lagi yang tidak tega melihat Rayyan terus menangis di dalam pelukan Arash.


"Aku peringatkan kepada kamu, Zia. Jangan berlaga seolah kamu adalah ibunya Rayyan. Kamu bukan ibunya!" tegas Arash.


"Asal kamu tahu, Mas. Secara tak langsung aku juga termasuk ibunya Rayyan!" geram Zia.


"Benarkah?" Arash kembali tertawa terbahak-bahak.


"Jika kamu seingin itu untuk menjadi ibu Rayyan! Kenapa kamu tidak menjadi ibu sambungan saja, Zia?" tanya Arash yang mana membuat Zia membulatkan matanya.


"Kenapa kamu tidak menjadi ibu sambung saja untuk Rayyan dan Yumna?" ujar Arash yang kali ini menatap Zia dengan serius.


"Kenapa? Kamu gak bisa jawab? Kamu gak bersedia?" tanya Arash lagi sambil tersenyum miring.


"Aku tahu, Zia. Kamu sangat membenci aku. Untuk itu, kamu ingin menjauhkan aku dari anak-anak aku, kan?" ujar Arash kembali memberikan tuduhan kepada Zia.


"Jika kamu memang tulus menyayangi Rayyan dan Yumna, seharusnya kamu tidak keberatan untuk menjadi ibu sambung bagi mereka."


"Arash, apa yang kamu katakan?" tegur Mama Kesya yang merasa tidak enak dengan Ibra.


"Kenapa diam? Kamu tidak bisa menjawabnya?" ujar Arash mengabaikan teguran dari Mama Kesya.


"Sudah aku duga, jika kamu hanya---"


"Aku bersedia!" jawab Zia yang mana membaut Arash terdiam dan mengernyitkan keningnya.


"Aku bersedia menjadi ibu sambung untuk Rayyan dan Yumna."

__ADS_1


__ADS_2