Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 65- berdetak dengan cepat


__ADS_3

Sifa meletakkan jari telunjuknya di bibir Abash, namun mata wanita itu menatap ke arah dua wanita yang baru saja turun dari mobil.


"Bapak jangan berisik, saya gak mau kalau dua wanita itu melihat saya bersama bapak," ujar Sifa tanpa menoleh ke arah Abash, matanya masih mengawasi dua wanita yang pernah di temuinya di dalam lift. Dua wanita yang sedang mengincar bosnya itu.


Abash menurunkan tangan Sifa yang menyentuh bibirnya. Jangan di tanyakan lagi bagaimana jantungnya saat ini. Bahkan pria itu takut jika Sifa dapat mendengar detak jantungnya yang berdegup dengan sangat cepat sekali.


"Emangnya kenapa kalau mereka lihat saya sedang bersama kamu?" tanya Abash yang masih menatap dalam ke mata Sifa.


Saat Abash menurunkan tangannya, Sifa menolehkan kepalanya ke arah sang bos. Wanita itu mengerjapkan matanya sekali di saat tatapan matanya berhasil bertemu dengan manik mata legam milik Abash.


"Kenapa kalau mereka melihat kita?" Abash mengulang pertanyaannya.


"Hah? oh, waktu itu mereka pernah berbicara tentang Bapak saat ada saya. Lalu mereka bertanya, apa saya mengenal Bapak? Saya bilang kalau saya tidak mengenal Bapak. Jadi, maka dari itu saya gak mau terlihat bersama Bapak," ujar Sifa.


"Maaf, saya baru memberitahukan nya sekarang, karena saya tidak punya kesempatan untuk memberitahukan Bapak, dan juga, saya lupa akan kejadian itu," ujar Sifa sambil menyengir.


Abash menghela napasnya pelan, pria itu sebenarnya sudah tau kalau dia wanita itu sedang mengincarnya. Tapi, Abash adalah Abash, pria dingin yang tak bisa di sentuh oleh sembarang orang.

__ADS_1


"Mereka ke sini," ujar Sifa dan menarik jas yang di kenakan oleh Abash.


Sifa menyembunyikan wajahnya di dalam jas milik Abash. Wanita itu menarik jas Abash dan membukanya lebar agar wajahnya tertutupi dan tak terlihat oleh dua wanita yang saat ini berjalan ke arah mereka.


Abash menundukkan wajahnya, pria itu merasakan jika jantungnya berdetak dengan sangat kencang sekali. Dia takut jika Sifa akan mendengarkan detak jantungnya yang begitu cepat.


Sifa mengintip sedikit dari jas yang di pegangnya.


"Mereka ke arah sini, gimana ini?" lirihnya dengan takut.


Sudut bibir Abash tiba-tiba saja tertarik ke atas, entah kenapa dia sangat menyukai wajah panik gadis itu.


"Belum, bahkan saat ini mereka semakin menjalan mendekat ke arah sini," ujar Abash.


"Apa? Tidak ... tidak .. Bapak juga tidak boleh terlihat dengan mereka. Gimana ini?" lirih Sifa dengan panik.


Tiba-tiba saja Abash membalikkan posisi mereka, di mana saat ini yang bersandar di pilar tembok adalah Sifa, bukan Abash.

__ADS_1


Abash menundukkan sedikit kepalanya dengan posisi miring, sedang Sifa masih dengan posisi awalnya yang memegangi jas milik Abash.


"Jika begini mereka tidak akan melihat wajah ku dan juga wajah kamu," bisik Abash tepat di depan wajah Sifa.


Sifa meremas kuat jas tersebut, jangan di tanyakan lagi bagaimana detak jantungnya saat ini. Di mana tadinya hanya berdetak dengan cepat, namun saat ini dia merasa jika jantungnya ingin melompat keluar.


"A-apa mereka sudah pergi?" tanya Sifa dengan gugup, karena jarak mereka yang sangat dekat sekali.


Abash melirik ke arah dua wanita yang sudah memasuki apartemen. Tapi, pria itu tak ingin memberitahu kepada Sifa, jika mereka telah pergi. Abash masih ingin merasakan posisi sedekat ini dengan gadis yang ada di dalam kungkungannya saat ini.


"Belum," jawab Abash.


Sifa semakin meremas erat jas milik Abash.


"Kenapa lama sekali?" tanya Sifa.


"Gak tau, mereka sedang berbincang di dekat kita," ujar Abash berbohong.

__ADS_1


Sifa semakin erat menggenggam jas milik Abash, bahkan wanita itu sudah menarik jas tersebut hingga membuat tubuh Abash ikut tertarik semakin mendekat ke arah Sifa. Bahkan saat ini, ujung hidung Abash telah mengenai rambut halus milik Sifa.


'Jangan sampai dia mendengarnya,' batin Abash yang mana takut jika Sifa dapat mendengar detak jantungnya yang berdetak dengan cepat.


__ADS_2