
Abash melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Kali ini pria itu menggunakan mobil sport mahalnya yang hanya memiliki dua pintu dan hanya bisa di naiki oleh dua orang saja, yang mana mobil tersebut cukup jarang dia gunakan. Pria itu ingin menjadikan Sifa yang pertama setelah Mama Kesya pastinya untuk duduk di sebelahnya.
Bahkan, Quin pun belum pernah naik mobil sport pria itu. Karena memang Abash jarang menggunakannya. Dia lebih suka mobil besarnya yang seharga miliaran rupiah itu.
Abash menekan pedal rem, di saat lampu merah mulai menyala. Pria itu pun mengambil cincin yang ada di dalam saku jasnya dan memandang keindahan cincin tersebut.
"Aku harap ini awal dari hubungan kita, Sifa. Mulai saat ini, aku tidak akan membiarkan kamu pergi dari aku lagi. Aku tidak akan membuat kamu cemburu, karena aku hanya milik kamu sepenuhnya."
Lampu merah pun kembali berubah menjadi hijau. Abash bergegas menyimpan kembali kotak cincin tersebut ke dalam jasnya, barulah pria itu kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Tiiiiiiiiiiinnn .....
Bruaaakkk ...
Sebuah truk melaju kencang menerobos lampu merah, sehingga membuat mobil yang di kendarai Abash pun terpental jauh berguling.
Tidak hanya mobil Abash, tetapi ada beberapa kendaraan lain juga yang menjadi korban kecelakaan lalu lintas tersebut.
Para pengendara lain yang berada di lokasi pun bergegas mengamankan supir truk, beberapa yang lainnya pun bergegas menyelamatkan para korban kecelakaan lalu lintas.
*
Praaang ...
Mama Kesya yang sedang membuat susu untuk si bungsu pun, tiba-tiba kecipratan air panas, sehingga membuat gelas yang ada di tangan Mama Kesya terjatuh ke lantai hingga pecah.
"Ada apa, Ma?" tanya Papa Arka yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi dan menghampiri sang istri yang ada di dapur saat mendengar suara pecahan kaca.
"Gak tau, Pa. Tiba-tiba aja tangan Mama kecipratan air panas, makanya gelasnya jatuh," lirih Mama Kesya yang tiba-tiba memiliki firasat tak enak.
"Coba Papa lihat tangan Mama."
Papa Arka pun meraih tangan Mama Kesya yang terkena cipratan air panas, kemudian Papa Arka membimbing sang istri untuk duduk di kursi. Pria paruh baya itu pun mengambil kotak P3K yang ada di dapur dan mengoleskan salep di tangan Mama Kesya yang terlihat memerah.
"Ada apa, Ma? Pa?" tanya Shaka yang juga mendengar suara pecahan kaca dan menyusul sang papa dan mama ke dapur.
"Tangan Mama kecipratan air panas," jawab papa Arka sambil menunjukkan tangan sang istri kepada si bungsu.
Shaka pun langsung menghampiri sang mama, pria yang masih duduk di bangku sekolah menengah awal itu pun berlutut di hadapan sang mama dan mengecup punggung tangan Mama Kesya yang terkena cipratan air panas.
"Maafin Shaka, Ma, karena Shaka, tangan Mama jadi terluka," ujar si bungsu dengan menyesal.
"Jangan minta maaf, ini bukan salah Shaka, Mama nya aja yang kurang hati-hati." Mama Kesya mengusap pipi sang anak dengan tangan yang lain.
Shaka pun bangkit dari berlututnya, kemudian dia mengambil sapu dan juga sedokan untuk membersihkan pecahan gelas.
"Den, biar bibi aja," ujar Bik Ijah yang baru saja tiba di dapur dan langsung mengambil alih sapu yang di pegang oleh Shaka.
"Pa, coba hubungi Abash, kok perasaan Mama gak enak, ya?" titah Mama Kesya.
"Iya, Ma."
Papa Arka pun berjalan menuju lving room, dengan di ikuti oleh Mama Kesya dan juga Shaka. Pria paruh baya itu meraih ponselnya yang ada di atas meja, kemudian pria paruh baya itu mencoba mendial nomor sang putra.
"Gak aktif, Ma," ujar Papa Arka yang mana membuat Mama Kesya semakin memiliki perasaan tak enak yang semakin tak karuan.
"Di coba lagi, Pa," pinta Mama Kesya yang di turuti lagi oleh Papa Arka.
"Gak aktif juga, Ma," ujar Papa Arka yang mulai memiliki firasat yang sama dengan Mama Kesya, tetapi pria paruh baya itu lebih pintar menyimpan perasaannya dan tidak menunjukkannya kepada orang lain.
__ADS_1
"Duh, kenapa bisa gak aktif sih? Coba Papa cek di mana lokasi dia," titah Mama kesya.
"Mas Abash kan gak pernah pakai alat pelacak, Ma," jawab Shaka yang mana membuat Mama Kesya seketika lemas dan jatuh tertduduk.
"Ma," lirih Papa Arka yang langsung menyambut tubuh sang istri.
"Pa, hiks ... Perasaan Mama gak enak, Pa. Mama takut terjadi sesuatu kepada Abash," tangis Mama Kesya.
"Mama jangan berpikiran negatif dulu, ya. Papa akan coba hubungin Arash."
"Sifa, hubungi Sifa, Pa," titah Mama Kesya.
"Sifa?" tanya Papa Arka dengan kening mengkerut.
"Iya, Abash ingin bertemu dengan Sifa, Pa. Abash ingin melamar Sifa. Coba Papa hubungi Sifa, mungkin saja dia sedang bersama dengan Sifa saat ini."
Papa Arka pun kembali mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi gadis yang bekerja di perusahaan sang putra.
Terdengar nada sambung beberapa kali, hingga sambungan tersebut pun di jawab oleh Sifa.
"Assalamualaikum, Om."
Sifa sudah tahu, jika yang menghubunginya saat ini adalah orang tua dari sang kekasih. Abash sengaja menyimpan nomor seluruh keluarganya di ponsel gadis itu. Takut-takut jika Sifa membutuhkan salah satu nomor keluarganya.
"Walaikumsalam, Sifa, ini Om Arka," ujar Papa Arka.
"Iya, Om, ada apa?" tanya Sifa dengan perasaan bingung. Tumben sekali papa dari kekasihnya itu menghubungi dirinya.
"Apa Abash ada bersama kamu?" tanya Papa Arka langsung tanpa berbasa basi.
"Pak Abash? Tidak, Om, beliau tidak di sini," jawab Sifa.
"Iya, Om. Sifa malam ini memang ada janji bertemu dengan seseorang, tetapi bukan dengan Pak Abash," jawab Sifa yang mana membuat Papa Arka menoleh kepada sang istri.
"Jadi Abash tidak pergi menemui kamu?" tanya Papa Arka sekali lagi.
"Tidak, Om."
"Ya sudah kalau begitu, jika kamu mendapatkan kabar tentang Abash, tolong kamu hubungi Om dengan segera, ya," pinta Papa Arka.
"Iya, Om."
Panggilan pun di tutup setelah Papa Arka mendengar jawaban salam dari Sifa.
"Bagaimana, Pa? Apa kata Sifa?" tanya Mama Kesya harap-harap cemas.
"Hmm, kata Sifa dia tidak ada janjian ketemu dengan Abash, Ma."
"Apa? Bagaimana mungkin? Tadi Abash bilang---"
Tiba-tiba saja Mama Kesya merasa sesak di dada, sehingga membuat wanita paruh baya itu pun kesulitan bernapas.
"Ma, sadar, Ma." Papa Arka menepuk pelan pipi Mama Keysa.
"Shaka, siapkan mobil," titah Papa Arka.
Tanpa di suruh dua kali, pria tanggung itu pun langsung bergegas memanggil supir untuk menyiapkan mobil.
"Ya Allah, Ma, kenapa bisa sampai begini?" lirih Papa Arka dengan cemas.
__ADS_1
*
Sifa baru saja memutuskan panggilan teleponnya dengan Papa Arka, gadis itu pun mengerutkan keningnya di saat mengingat pertanyaan Papa Arka tentang keberadaan Abash.
"Ke mana Mas Abash?" lirih Sifa dengan jantung berdebar-debar.
Sifa di kejutkan dengan panggilan masuk dari Didi--asisten sang kekasih. Gadis itu pun langsung menggeser tombol hijau dan bersiap untuk keluar dari apartemennya.
"Ya, Pak, saya sudah naik lift."
Abash sengaja menyuruh Didi untuk menjemput Sifa. Pria itu sengaja mengatakan kepada sang asisten untuk tidak mengatakan kepada Sifa, jika malam ini mereka akan makan malam bersama. Abash hanya ingin membuat kejutan kepada sang kekasih.
"Maaf, Pak, menunggu lama," ujar Sifa yang sudah berdiri di samping mobil Didi.
"Masuklah," titah Didi yang langsung di turuti oleh Sifa.
Mobil yang di kendarai Didi pun langsung melaju pelan meninggalkan pelantaran apartemen. Pria itu langsung menuju restoran yang sudah dia reservasi untuk bos dan juga kekasiih bosnya itu.
"Pak Didi, kita mau ke mana?" tanya Sifa penasaran.
Didi hanya tersenyum sambil melirik ke arah Sifa. "Nanti kamu juga akan tahu."
Sifa masih kepikiran dengan Abash, di mana pria itu sehingga Papa Arka mencarinya. Apa Didi tau di mana kekasihnya itu?
"Pak DIidi, boleh saya tanya sesuatu?" tanya Sifa yang tidak bisa menyimpan rasa penasaran dan juga kegelisahannya.
"Ya? Silakan."
"Pak Didi tau di mana Pak Abash sekarang? Soalnya tadi Pak Arka telpon saya dan mencari keberadaan Pak Abash," ujar Sifa yang mana membuat Didi mengernyitkan keningnya.
"Tuan Arka menghubungi kamu?" tanya Didi denga kening mengkerut.
"Iya, Pak."
Didi pun semakin mengernyitkan keningnya. Setau dia, tak ada seorang pun yang tahu hubungan Sifa dengan Abash.Tapi, kenapa orang tua bosnya itu sampai bisa menghubungi Sifa? Apa mereka sudah tahu yang sebenarnya?
Dan, kenapa juga orang tua Abash tidak menghubungi Didi seperti biasanya.
Tak berapa lama ponsel Didi pun berdering, pria itu merogoh kantongnya dan melihat ID si pemanggil.
"Tuan Arka," lirih Didi, padahal dia baru saja kepikrian, kenapa bos besarnya itu tidak menghubungi dirinya untuk menanyakan keberadaan Abash? Kenapa duluan menghubungi Sifa.
Tak ingin membuat orang tua bosnya menunggu lama, Didi pun langsung menggeser tombol hijau.
"Assalamualaikum, Tuan?"
"Walaikumsalam, Didi, kamu tau di mana Abash?"
"Pak Abash?" Didi melirik ke arah Sifa, haruskah dia mengatakan keberadaan sang bos di hadapan Sifa. Bisa-bisa semua rencana Bosnya itu berantakan.
"Kenapa kamu diam saja?Apa kamu tau di mana Abash?" tanya Papa Arka dengan suara yang terdengar lantang.
"Pak Abash ada di restoran Indah, Pak," jawab Didi akhirnya.
"Pastikan kalau dia benar-benar berada di sana atau tidak. Dan segera hubungi saya kalau kamu bertemu dengannya."
"Baik, Pak."
Sifa pun menatap ke arah Didi, gadis itu merasa jika ada sesuatu yang di sembunyikan oleh asaisten kekasihnya itu.
__ADS_1
"Di mana Pak Abash sebenarnya. Apa yang kalian rencanakan sebenarnya?"