
"Tante, Putri baru saja keluar dari kamar hotel bersama seorang pria yang sudah berumur.
"Makasih banyak ya, Om," ujar Putri dengan tersenyum lebar.
"Iya, sama-sama ya. Kalau kamu butuh bantuan di Jakarta, tinggal bilang aja sama Om," ujar pria paruh baya itu.
"Iya, Om. Kalau begitu Putri permisi dulu ya."
"Hmm, hati-hati. Maaf ya, Tante gak bisa ikut antar kamu, tiba-tiba aja kepalanya pusing."
"Iya Om, gak papa kok. Kalau begitu saya permisi. Assalamualaikum." Putri pun mencium punggung tangan pria paruh baya yang ada di hadapannya saat ini.
"Walaikumsalam."
Pintu kamar yang berada di belakang Putri pun tiba-tiba terbuka, di mana menampilkan sosok Arash di sana. Mood gadis itu pun tiba-tiba langsung berubah, sehingga dia pun langsung berjalan menuju lift dan kembali pamit kepada pria paruh baya yang sedang menggunakan piyama tidur tersebut.
"Permisi, Om," ujar Putri dan berlalu begitu saja.
Arash sempat menaikkan alisnya sebelah, di saat melihat sosok pria yang di panggil 'om' oleh gadis bernama Putri itu pun masih menggunakan piyama tidur berbahan sutra berwarna hitam.
"Apa dia baru saja keluar dari dalam sana?" batin Arash.
"Pak Arash, sekali lagi terima kasih. Maaf, karena kita harus mengadakan meeting ini di kamar saya," ujar klien Arash.
"Ah ya, tidak apa-apa, Pak. Kalau begitu saya permisi dulu."
Arash pun bersalaman dengan kliennya dan berjalan menuju lift.
"Ekhem," Arash pun berdehem saat sudah berada di dekat Putri yang masih berdiri di sana menunggu pintu lift terbuka.
Putri pun mengabaikan keberadaan Arash yang sedang berdiri di sebelahnya.
"Soal di parkiran tadi, saya mau----,"
Ting ....
__ADS_1
Pintu lift pun terbuka, Putri langsung bergegas masuk ke dalam lift tanpa ingin mendengar apa yang Arash katakan.
Arash pun hanya menatap Putri yang sudah masuk ke dalam lift dengan terbengong.
"Anda gak mau masuk?" tanya Putri sambil menahan pintu lift itu untuk tetap terbuka.
"Hah? Oh ya."
Arash pun masuk ke dalam lift, pria itu pun berdiri tepat di belakang Putri.
"Maaf," ujar Arash membuka percakapan. Kebetulan sekali di dalam lift hanya ada mereka berdua.
"Untuk?" tanya Putri tanpa menoleh.
"Soal di Mall tadi. Saya gak----,"
"Oke, di maafkan. Anggap saja hal tersebut tidak pernah terjadi," ujar Putri memotong ucapan Arash.
"Oke. Dan ya, terima kasih." Arash tersenyum menatap wajah Putri dari pantulan di dinding lift.
"Sudah membantu saya membayar denda. Saya janji, saya akan meng---,"
Gubraaakk ....
Tiba-tiba saja lift berhenti dengan di susul lampu lift yang berkedap kedip, hingga menjadi lampu lift yang sedikit redup.
"Apa yang terjadi?" tanya Putri dengan tenang.
Gadis itu pun menekan tombol darurat yang bergambar lonceng untuk meminta bantuan kepada operator.
"Halo, apa yang terjadi? Kenapa liftnya berhenti?" tanya Putri.
"Bisa di sebutkan Ibu terjebak di lantai berapa?" tanya operator tersebut
"Saat ini kami berada di antara lantai 12 dan 11," jawabnya.
__ADS_1
"Baik Buk, maaf atas ketidaknyamanannya. Mohon tunggu sebentar, tim kami akan segera menuju ke sana."
"Baiklah."
Putri pun memundurkan langkahnya dan bersandar ke dinding. Gadis itu masih terlihat tenang seolah tak terjadi apa pun saat ini. Arash terus memandang ke arah Putri, merasa takjub dengan keberanian gadis itu. Jika wanita lain, mungkin saat ini mereka sudah berteriak dan merasa panik.
"Apa yang Anda lihat?" tanya Putri tanpa menoleh ke arah Arash.
"Anda," jawab Arash masih dengan memandang ke arah Putri.
Putri mendengus pelan dan tersenyum dengan tipis. Gadis itu sudah berpikir jika Arash akan melakukan hal tak senonoh dengan dirinya, jadi dia akan mempersiapkan diri untuk melawan pria yang ada di dekatnya itu.
Putri menoleh ke arah Arash dab menatapnya tajam.
"Jika Anda ingin berbuat mesum kepada saya, maka anda salah mencari mangsa," ujar Putri dengan tersenyum miring.
"Berbuat mesum?" lirih Arash dengan kening mengkerut, kemudian pria itu pun terkekeh pelan.
"Dengar, saya tidak bermaksud untuk berbuat mesum dengan Anda. Saya hanya merasa takjub dengan sikap tenang yang anda tunjukkan saat ini," ujar Arash masih dengan senyum tawa di wajahnya.
"Dasar pria mesum," cibir Putri pelan.
"Apa? Siapa? Saya? Mesum?" tanya Arash tak percaya dengan apa yang dia dengar barusan.
"Iya, lalu kalau bukan Anda, siapa lagi?" tanya Putri.
"Mbak, dengar ya. Saya ini bukan pria mesum. Saya ini pria terhormat dan pria baik-baik, jadi jangan menilai saya sembarang jika tidak mengenal saya. Saya ini seorang perwira polisi, seorang yang menegakkan hukum Jadi tidak mungkin jika saya akan berbuat yang tidak-tidak dan mencoreng seragam saya," kesal Arash.
"Emangnya semua polisi itu suci, apa? Banyak juga polisi yang suka korupsi dan---,"
Braakk ...
Arash dan Putri pun sama-sama berpegangan dengan pegangan besi yang ada di dinding lift.
"Apa lift ini akan jatuh?"
__ADS_1