Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab 403


__ADS_3

Sifa dapat merasakan perbedaannya, di saat dirinya belum merasa menjadi istri sesungguhnya Abash, tapi kali ini dia menjadi istri yang utuh. Rasanya sudah lengkap, tugas Sifa sebagai menjadi seorang istri bagi sang suami.


Sifa berjalan dengan pelan, karena dia merasa bagian intinya terasa perih saat dirinya berjalan. Sudah pasti jika di bawah sana lecet, dan rasanya ada yang mengganjal.


"Kenapa, sayang?" tanya Abash kepada sang istri yang terlihat seperti kesusahan berjalan. Lebih seperti seekor penguin yang lucu cara berjalannya.


"Hmm? Gak papa kok, Mas," Sifa menunjukkan senyuman termanisnya. Padahal di bawah sana dia menahan rasa sakitnya.


Hari ini adalah hari kedua mereka berada di Bali. Mereka tidak berhenti untuk saling memadu kasih. Terus bergerak hingga lutut gemetar. Abash sangat keterlaluan sekali, menggarapnya lagi dan lagi seakan laki-laki itu tidak ada lelahnya sama sekali.


"Sakit, ya?" tanya Abash lagi.


Sifa takut, jika dia mengatakan 'ya', maka Abash tidak akan menyentuh dirinya lagi. Sedangkan dirinya masih menginginkan hal itu. Ya, Sifa menginginkan di sentuh oleh Abash, agar dirinya bisa mengandung buah cinta mereka. Meskipun dia harus menahan sakit lagi, tapi tak apa. Dia hanya ingin memberikan sesuatu yang indah dan berkesan untuk suaminya itu.


"Hmm? Enggak kok," bohong Sifa dengan tersenyum.


"Kalau gak sakit, kenapa begitu jalannya, sayang? Pasti kamu bohong sama aku, kan?" tebak Abash tak suka.


"Gak kok, Mas. Gak sakit. Hanya saja, kaki aku sedikit pegal," lagi-lagi Sifa memilih berbohong.


"Yang bener?" selidik laki-laki itu.


"Iya, Mas. Aku gak bohong, kok." Sifa tersenyum, wanita itu pun mendaratkan bokongnya di kursi yang sama dengan sang suami. Lebih tepatnya Sifa duduk di sebelah Abash. Duduk dengan perlahan dan sangat hati-hati sekali.


"Apa aku mainnya terlalu lama? Makanya membuat kaki kamu pegal?" tanya Abash sambil mengurut pelan paha Sifa. Di sana memang sakit, bahan saat Abash memijitnya, SIfa ingin berteriak karena pegal rasanya.


"Em, bisa jadi sih, Mas. Tapi, bisa jadi juga karena aku tidak terbiasa," jawab Sifa tersenyum malu.


"Gitu ya?" Abash pun terlihat berpikir.


Jika di ingat-ingat, istrinya itu terbilang jarang untuk berolah raga, Mungkin hal itu berpengaruh dengan kekuatan kakinya saat sedang bercinta dengannya. Ya, menurut pakar cinta kan begitu.


"Emm, gimana kalau mulai sekarang kamu ikut olah raga sama aku, sayang? Setiap pagi saja?" usul Abash.


"Hah? maksudnya gimana, Mas?" Sifa merasa bingung dengan apa yang di katakan oleh sang suami. Apa maksud Abash mereka setiap pagi harus melakukan hubungan suami istri? Olah raga tukar keringat maksudnya?


"Maksud aku, setiap pagi kan aku selalu lari pagi, tuh. Atau treadmill di ruangan nge-gim aku. Jadi, kamu bisa ikut berolah raga juga, sayang," jelas Abash.


"Ah, begitu ya." Sifa pun terkekeh pelan. Malu rasanya karena telah memikirkan hal yang diluar nurul. Kenapa pikirannya jadi mesum begini? Haruskah dia melakukan hal itu?


"Iya, sayang. Setiap pagi kamu bisa menggunakan treadmill untuk melatih otot-otot kaki kamu," saran Abash.


"Emm, aku gimana baiknya sama kamu aja, Mas," jawab Sifa pasrah akhirnya.


"Ya sudah kalau begitu, sepulang dari sini, kita mulai, ya?" usul Abash yang langsung di angguki oleh Sifa. Sifa tidak suka berolah raga, tapi jika dengan Abash mungkin lama-lama dia akan suka juga. Apa lagi jika nanti saat olah raga ....

__ADS_1


"Kalau begitu ayo, kita cari sarapan," ajak Abash yang sudah bersiap untuk berdiri, menbangunkan lamunan Sifa yang lagi-lagi menjerumus pada hal yang tidak baik. Eh, mantap-mantap.


"Emm, Mas, gimana kalau sarapan pagi ini kita di dalam kamar saja? Rasanya aku masih lelah berjalan," rengek Sifa yang langsung di angguki oleh sang suami.


"Sarapan kamu?" goda suaminya.


"mas!" Sifa melotot, Abash tertawa terkekeh.


"Iya, iya. Baiklah kalau begitu, aku pesan makanan dulu, ya." Abash pun berdiri di saat mendapatkan anggukan dari sang istri. Pria itu berjalan menuju telepon yang ada di dalam kamar hotel, di mana telepon tersebut sudah terhubung dengan pihak reseptionis.


Abash meminta pesanan makanan untuk pagi ini di antarkan ke kamar. Di mana menu untuk pagi ini pastinya berbeda dengan menu makan siang dan makan malam yang mereka makan kemarin. Abash ingin Sifa tetap mendapatkan nutrisi dan vitamin yang baik dari buah dan sayur-sayuran, maka dari itu Abash memesan salad buah dan sayur spesial untuk sang istri. Sedangkan untuknya, Abash memilih sarapan pagi yang lebih ringan, misalnya seperti sandwich. Ya, tergantung yang mana di sediakan oleh pihak hotel pada pagi ini.


"Sebentar lagi pelayannya tiba mengantarkan sarapan kita," ujar Abash memberitahu kepada sang istri dan kembali duduk di samping Sifa.


"Iya, Mas."


Sifa pun langsung bergelayut manja di dada bidang sang suami.


"Emm, enaknya sekarang kita ngapain ya, Mas?" tanya Sifa yang merasa sedikit bosan jika tidak melakukan apapun.


"Emm, ngapain ya?" tanya Abash balik. "Ah ya, gimana kalau kita nonton film aja?" usul Abash.


"Film apa, Mas?" tanya Sifa memastikan sekiranya film apa yang ingin Abash tunjukkan kepadanya.


"Gimana kalau film kartun aja, Mas?" usul Sifa.


"Kartun? Kartun apa yang kamu mau nonton, sayang?" tanya Abash. Abash berharap, jika film kartun yang Sifa pilih tidak akan membuatnya bosan. AH, rasanya akan lebih baik jika film manta-mantap, kan?


Abash merasa aneh dengan dirinya sendiri. Dia jadi sering berpikiran mesum sekarang ini.


"Apa ya? Ah ya, gimana kalau film kartun korea yang pemeran utamanya anak cewek yang duduk di kelas tiga. Filmnya lucu, Mas, pemerannya juga gemesin," kekeh Sifa.


"Oh ya, memangnya kamu pernah menontonnya di mana?" tanya Abash penasaran.


"Di rumah Mami Vina," kekeh Sifa.


Kalau sudah begitu, maka Abash tahu siapa yang menyalakan siaran kartun tersebut.


"Baiklah, judulnya apa?" tanya Abash dan memberikan ponselnya kepada sang istri.


Sifa pun mengetik judul film kartun yang ingin dia tonton di laman pencarian, hingga film itu pun muncul. Sifa memilih salah satu episode film kartun tersebut, kemudian memberikan sang suami mengambil alih ponsel yang ada di tangannya. Abash memegang ponsel miliknya, agar Sifa bisa menonton film dengan nyaman di dalam pelukannya.


Lima belas menit kemudian, pintu kamar hotel mereka pun di ketuk.


"Pegang dulu sayang, ponselnya. Biar aku bukain pintu," ujar Abash sambil memberikan ponsel miliknya kepada Sifa.

__ADS_1


Abash pun bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah pintu kamar. Dia membuka pintu tersebut dan melihat ada seorag pelayang yang mengantarkan sarapan mereka, tak lupa dengan dia memberikan tips kepada pelayan. Abash mengambil troly makanan miliknya dan membawanya masuk. Pria itu tidak akan mengizinkan siapapun masuk ke dalam kamar, selagi dirinya dan Sifa berada di dalam kamar. Apa lagi dia melihat jika Sifa hanya mengenakan pakaian yang tipis.


"Ayo, sayang, kita makan," ajak Abash yang mendorong troli makanan ke dekat Sifa.


"Kamu pesan apa,  Mas?" tanya Sifa penasaran.


"Oh, ini …" Abash meletakkan salad buah dan sayur untuk Sifa.


"Wow, kelihatan lezat, Mas," seru Sifa dan menelan ludahnya dengan kasar. Memang cocok untuk pagi ini dia memakan salad sayur yang terlihat masih sangat segar.


Sifa pun mengaduk salad sayur hingga menyatu dengan dengan mayones dan yang lainnya. Setelah memastikan semuanya rata, Sifa pun memasukkan sesendok sayur ke dalam mulutnya.


"Emm, ini enak banget, Mas," seru Sifa dengan mulut yang penuh.


"Iya, sayang. Makannya pelan-pelan, ya." Abash membersihkan sudut bibir Sifa yang sedikit berlepotan terkena saos.


Cling …


Sebuah pesan tiba-tiba masuk ke dalam ponsel Sifa, sehingga membuat wanita itu melirik ke arah ponselnya yang terletak di atas meja.


"Dari siapa?" tanya Abash, di saat melihat Sifa langsung mengambil ponselnya.


"Amel, Mas." Sifa membaca pesan yang dikirimkan oleh sahabat baiknya itu, hingga sudut bibirnya terangkat untuk membentuk sebuah senyuman.


"Ada apa, sayang?" tanya Abash kepada sang istri yang terlihat bahagia. Abash tentu saja penasaran dengan pesan dari tean Sifa tersebut sehingga dia menghentikan kunyahannya.


"Oh, ini Mas, Amel di lamar oleh Mas Bimo," ujar Sifa memberitahu dan menunjukkan foto cincin yang melingkar di jari manis sahabatnya itu.


"Alhamdulillah, syukurlah kalau begitu, Akhirnya mereka akan melepas masa lajang juga," ujar Abash yang diangguki oleh Sifa.


"Iya, Mas. Aku ikut senang, di saat melihat Amel akhirnya menemukan kebahagiaannya juga."


"Tentu dong, sayang. Karena pada dasarnya Amel itu orang yang baik. Jadi, dia juga pantas mendapatkan pendamping yang baik dan kebahagiaan dalam hidupnya."


"Kamu benar, Mas. Amel adalah orang yang baik. Dialah satu-satunya sahabat aku selama ini, Mas. Dia tidak pernah memandang rendah siapa diri aku dan selalu memberikan perhatian yang lebih layaknya saudara terhadap diriku, Mas," ujar Sifa di mana matanya sudah berkaca-kaca, di saat mengingat bagaimana Amel selalau ada untuk dirinya.


Ya, memang di antara Amel dan Sifa pernah terjadi kesalahahpahaman karena seorang pria. Tapi, kesalahpahaman itu akhirnya terjelaskan sudah. Bukan berarti karena mereka menyukai pria yang sama, lantas mereka harus bermusuhan hingga saat ini. Tidak, hal itu tidak perlu dilakkukan. Karena bagi Sifa, tali persahabatan yang telah mereka jalin selama ini lebih penting dari egonya untuk membenci Amel. Memaafkan lebih baik, kan? Walaupun untuk tidak melupakannya. Tapi, khusus untuk Amel, Sifa akan melupakan masalah itu. Semuanya demi persahabatan mereka.


"Mas, gimana kalau kita kasih hadian untuk pertunangan mereka nanti?" usul Sifa.


"Ide bagus, sayang. Sekarang, kamu makan dulu ya. Nanti pikirkan lagi ingin membeli hadian apa untuk Bimo dan Amel," putus Abash dan mengambil ponsel sang istri kemudiana meletakkannya di atas meja.


"Iya, Mas."


Sifa menurut dan kembali melanjutkan makannya. Tubuhnya butuh asupan nutrisi yang banyak, agar bisa melayani sang suami nantinya, jika Abash meminta kembali hak pria itu. Ya, jika laki-laki itu tidak lelah. Dia pasti akan menjadi makanan penutup setelah ini.

__ADS_1


__ADS_2