Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 45 - Seluruh Moza


__ADS_3

"Gimana keadaannya?" tanya Mama Kesya.


"Cuma shock aja." ujar Lucas.


"Shock? Shock kenapa?"


Lucas mengangkat kedua bahunya.


"Duh, Mama harus bilang apa sama keluarganya? Karena buat anaknya pingsan gini?" ujar Mama Kesya dengan khawatir.


"Mama gak perlu bilang apa-apa," ujar Abash sambil mendengarkan sang Mama.


"Kenapa gitu? Gak bisa gitu dong sayang, karena Mama, Sifa terluka dan sekarang, dia malah pingsan."


"Ya memang gak ada yang harus di jelaskan dengan siapapun. Sifa itu yatim piatu," ujar Abash yang mana membuat Mama Kesya membelalakkan matanya.


"Kamu serius?"


"Iya, Ma. Sifa itu karyawan Abash, jadi tentu saja Abash sudah menyelidiki latar belakangnya. Dan satu hal lagi, Mama tau? gadis yang beasiswanya di cabut karena satu masalah? Dan ternyata masalah tersebut hanya sebuah fitnah?" tanya Abash.


Mama Kesya mengerutkan keningnya, kemudian menganggukkan kepalanya saat mengingat tentang gadis malang yang di fitnah sehingga kehilangan beasiswa penuhnya.


"Gadis itu adalah Sifa."


Mama Kesya kembali membelalakkan matanya. "Kamu serius?"


"Iya, Ma. Seperti yang sudah Abash bilang tadi, Abash sudah menyelidiki latar belakang Sifa."


"Untuk apa kamu nyelidiki latar belakang dia?" tanya Veer.


"Dia anak magang pertama yang berhasil di terima di kantor aku. Sepeti yang Mas tau, kalau di perusahaan aku gak terima yang namanya anak magang. Tapi Sifa berbeda, dia memiliki kepintaran yang luar biasa."


"Iya, Abash benar. Papa sudah membuktikannya sendiri," sambung Papa Arka.


"Ooh, jadi dia gadis yang luar biasa itu?" tanya Mama Kesya.


Veer, Quin, dan yang lainnya menatap Mama Kesya dengan kening berkerut.


"Luar biasa?" tanya mereka serentak.


"Iya, Papa terus saja memuji gadis yang magang di kantor Abash. Kata Papa, gadis itu memiliki keahlian di atas tingkatnya. Sifa ini belum tamat S1 kan? Tapi dia sudah bisa menciptakan sebuah anti virus yang luar biasa. Bahkan anti virus itu di atas rata-rata. Semua data akan tetap aman dan bisa di kembalikan. Iya kan, Pa?" tanya Mama Kesya.


"Iya, Farhan bahkan berharap jika Sifa bergabung dengan tim cobra."


"Tim cobra? Papa Serius?" tanya Veer.


"Iya."


Di keluarga Moza, siapa yang tak mengenal tim cobra. Saat penangkapan Riki, tim cobra menyamar dengan berbagai profesi. Bahkan mereka bisa memasang infus pada pasien. Sungguh luar biasa kan?


"Kesya," Oma Shella, Bunda Sasa, Opa Roy, dan Daddy Bara, Opa Nazar, Mama Rosa, dan Kayla pun datang saat mendengar kabar yang menimpa Mama Kesya.


"Mi," Mama Kesya memeluk sang Mami.


"Kamu gak papa, sayang?"


"Key, gak papa kok. Sifa yang nolongin Key tadi."


"Sifa?"


Mama Kesya mengangguk dan menunjuk ke arah brankar, di mana seorang gadis tergeletak di sana.


"Gadis itu? Gadis yang nyelamatin aku kan, Mas?" tanya Bunda Sasa keoada Daddy Bara.

__ADS_1


"Iya,"


Bunda Sasa mendekat dan mengusap kepala Sifa dengan lembut.


"Keluarganya udah di kabari?" tanya Bunda Sasa.


"Sifa gak punya keluarga, Bun," jawab Abash.


"Maksud kamu?"


"Sifa yatim piatu dan gak punya sanak saudara,"


Bunda Sasa merasa terenyuh, dia menatap Sifa yang tergeletak. Mata Bunda Sasa langsung berkabut, saat melihat dirinya pada tubuh Sifa. Nasib Sifa sama persis dengannya, bedanya, Bunda Sasa masih memiliki seorang nenek hingga dirinya dewasa.


Daddy Bara mengusap bahu Bunda Sasa, tahu jika sang istri merasa tersentuh dengan keadaan Sifa yang hampir sama dengannya.


Sifa mengerutkan keningnya, sehingga membuat seluruh keluarga berdiri menatap gadis itu dengan khawatir.


Perlahan, mata Sifa terbuka. Gadis itu langsung terduduk saat melihat betapa banyaknya malaikat cantik dan tampan dalam berbagai usia mengelilingi.


'Benarkah aku sudah meninggal?' batin Sifa.


"Sifa!!" panggil Abash saat melihat gadis itu mengerutkan keningnya.


Perlahan, Sifa menolehkan kepalanya dan menatap Abash yang berdiri di sebelahnya.


"Bapak? Bapak juga udah meninggal?" tanya Sifa.


Abash membelalakkan matanya saat mendengar ucapan gadis yang baru sadar dari pingsannya itu.


"Kamu doain saya cepet meninggal?" tanya Abash dengan nada sedikit kesal.


"Abash," tegur sang Mama.


Abash menghela napasnya dengan kesal. Pria itu mengambil tangan Sifa dan mencubit lengannya.


"Sakit kan? itu tandanya saya belum meninggal," ujar Abash dengan kesal.


Sifa mengerutkan keningnya, kemudian dia membelalakkan matanya saat seluruh ingatannya sudah kembali.


"Jadi!!" suara sifat tercekat. Gadis itu menatap satu persatu orang yang ada di ruangan tersebut.


"Be-beliau semua nyata? Bukan malaikat?" tanya Sifa yang mana mengundang tawa dari seluruh keluarga.


"Kami gak punya sayap, jadi mana mungkin kami ini malaikat," ujar Quin dengan senyum yang sangat cantik.


"Ya Allah, kuatkan jantungku." lirih Sifa yang masih di dengar oleh Quin.


"Kenapa jantungnya?" tanya Quin dengan kening mengkerut.


"Se-senyum ibu cantik banget, meleleh saya di buatnya." ujar Sifa dengan wajah polos.


"Ibu?" tanya Quin dengan nada merajuk. "Emangnya saya terlihat seperti ibu-ibu?"


"Eh, ma-maksud saya, Nona."


"Nona? Emangnya saya masih terlihat gadis? Saya sudah menikah loh,"


"Eh, Nyo-nyonya."


"Emangnya saya setua itu?"


Seluruh keluarga sudah mengulum senyumnya saat melihat Quin menggoda Sifa.

__ADS_1


"Eh, la-lalu saya harus memanggil Nona, eh, Nyonya, eh, eng anu, eng.. "


"Anu apa?" tanya Quin.


Melihat Sifa yang sudah mulai keringat dingin, Mama Kesya pun menegur Quin. Quin terkekh dan mengulurkan tangannya.


"Kamu lucu banget tau, panggil aku 'Mbak', Mbak Quin."


Sifa membuka mulutnya, pantaskah dia memanggil salah satu ratu Moza itu dengan sebutan 'Mbak'?


"Kamu gak mau terima uluran tangan sa__"


"Eh, maaf," Sifa langsung menyambut tangan Quin dan menciumnya.


Quin terkekeh. "Lucu banget sih, Nemu di mana yang beginian, Bash?" tanya Quin kepada sang adik.


Abash hanya memutar bola matanya malas mendengar pertanyaan sang kakak.


"Datang sendiri, gak di undang gak di jemput juga," ujar Abash.


"Jelangkung dong," kekeh Quin.


"Udah, jangan goda Sifa lagi," ujar Bunda Sasa menengahi.


"Lucu banget dia, Bun."


"Kamu kenapa pingsan?" tanya Lucas.


"Lah, dokter apaan kasih pertanyaan begituan?" ledek Quin.


Lucas mencebikkan bibirnya mendengar perkataan sang sepupu.


"Pingsan?" tanya Sifa.


"Iya. Terakhir kali apa yang kamu ingat?" tanya Lucas.


Sifa terlihat berpikir. "Saya melihat tiba-tiba saja banyak malaikat yang masuk ke sini. Saya terkejut dan..."


"Dan pingsan," sambung Abash.


Lucas mengangguk-anggukan kepalanya. Sebenarnya yang membuat Sifa pingsan adalah, karena gadis itu menahan napasnya sehingga membuat pasukan oksigen ke otak menjadi tidak lancar, sehingga membuat gadis itu kehilangan kesadarannya.


"Mama," panggil Arash yang baru saja masuk ke ruangan IGD.


"Ya sayang,"


"Mama baik-baik aja?" tanya Arash melihat kondisi sang Mama.


Arash terlambat datang karena mengurusi laporan yang melibatkan sang Mama.


"Mama baik-baik aja."


"Syukurlah." Arash menoleh ke arah brankar.


"Loh, Sifa? Kamu kok di sini?" tanya Arash.


"Kalian kenal?" tanya Quin.


Arash menganggukkan kepalanya.


"Woow, luar biasa,"


...Jangan lupa Vote, Like, and komen ya .....

__ADS_1


...Salam sayang dari Abash n Sifa...


...Follow IG Author : Rira Syaqila...


__ADS_2