Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 86 – Lapar


__ADS_3

Sifa menggigit bibirnya di saat menyadari jika dia tertidur di dalam pelukan Abash. Bagaimana mungkin dia bisa tertidur dalam pelukan sang bos? Sifa pun mencoba mengingat hal apa yang terjadi sebelum dia tertidur dengan lelap.


Semua ingatan Sifa pun kembali bagaikan potongan-potongan puzzle yang kembali menyatu. Gadis itu pun membuka mulutnya secara tak sadar di saat kembali mendapatkan semua ingatannya itu dengan sempurna.


“Jadi? Aku tertidur sambil menangis?” lirihnya dengan pelan.


Kepala Sifa yang bergerak, sehingga membuat rambut gadis itu yang mengenai dagu Abash pun, membuat tidur pria itu terganggu, sehingga Abash membuka matanya secara perlahan. Abash pun tersenyum tipis, di saat


melihat kegalauan Sifa yang tertidur di dalam pelukannya. Kepala Sifa pun kembali bergerak dan mendongak ke atas untuk melihat wajah Abash, dengan cepat Abash kembali menutup matanya, seolah-olah dia masih tertidur.


“Syukurlah, Pak Abash masih tertidur,” gumam Sifa pelan yang masih di dengar oleh Abash.


Dengan perlahan, Sifa pun menjauhkan tubuhnya dari tubuh Abash. Gerakan itu sangat pelan sekali di lakukan oleh Sifa, karena dia tak ingin Abash terganggu dengan pergerakannya itu. Sifa bernapas lega, di saat tubuhnya telah berhasil menjauh dari Abash, tanpa membuat pria itu terbangun dari tidurnya.


Saat Sifa ingin berdiri, dia kembali di kejutkan dengan suara bariton yang ada di belakangnya saat ini.


“Kamu sudah bangun?” tanya Abash yang mana membuat Sifa terkejut dan refleks menoleh ke arah sang bos.


“Hah? Oh ya ...” cicit Sifa dengan wajah merona.


Abash mengerjapkan matanya sekali, kemudian pria itu menegakkan tubuhnya, sehingga membuat jarak antara dirinya dan Sifa sangatlah dekat. Bahkan, Sifa dapat merasakan hembusan napas Abash yang masih terasa


segar, walaupun pria itu sudah tertidur.


“Apa kamu lapar?” tanya Abash


“Hah? Oh, ya!” lirih Sifa.


Ya, bagaimana mereka tak merasa lapar, sejak pagi tadi mereka belum memasukkan makanan ke dalam perut mereka.


“Kamu bisa masak, kan?” tanya Abash.


“Iya.”


“Di kulkas ada bahan makanan, kamu bisa memasakkannya, kan?” tanya Abash.


“Baiklah, kalau begitu saya lihat dulu bahannya, menu apa yang bisa saya masak,” ujar Sifa dan bangkit dari duduknya.


Abash masih memperhatikan tubuh Sifa yang berjalan menjauh darinya, hingga bunyi bel pun membuat pria itu terpaksa bangkit dari duduknya.


Mata Abash membola di saat melihat Mama Kesya-lah yang berada di balik pintu apartemennya melau layar cctv yang ada di depan pintu..

__ADS_1


“Mama?” lirih Abash.


“Pak, Bapak mau di masakin apa?” tanya Sifa dari dapur.


“Sifa!” gumam Abash.


Pria itu pun bergegas berlari menuju dapur dan menarik tubuh Sifa yang sedang berdiri di depan lemari es.


“Kenapa, Pak?” tanya Sifa bingung di saat Abash menarik lengannya.


Ting .. tong ..


Sifa menoleh ke arah pintu apartemen.


“Ayo , cepat sembunyi,” lirih Abash dan menarik Sifa untuk mengikutinya.


Abash pun menutup pintu lemari es dengan menggunakan kaki jenjangnya, kemudian dia bergegas membawa Sifa ke dalam kamarnya.


“Ada apa, Pak? Kenapa saya harus bersembunyi? Memangnya siapa yang datang?” tanya Sifa dengan bingung.


“Mama saya datang, sebaiknya kamu diam di sini dulu,” ujar Abash dengan suara berbisik.


“Iya, jadi, kamu diam di sini dan jangan berisik,” ujar Abash memperingatkan.


Sifa menganggukkan kepalanya, hingga Abash menutup pintu kamarnya, membiarkan gadis itu bersembunyi di sana.


“Tas, tas Sifa,” lirih Abash dan bergegas mengambil tas milik Sifa yang berada di atas sofa. Abash pun berlali menuju kamar, kemudian dia kembali teringat dengan sepatu milik gadis itu yang masih berada di depan pintu.


“Akhh, sepatunya hampir kelupaan,” geram Abash dan berlari menuju depan pintu, kemudian mengambil sepatu Sifa dan membawanya kembali berlari menuju kamar.


Sifa menoleh ke arah pintu yang terbuka, hingga dia melihat Abash yang meletakkan barang-barang miliknya ke dalam kamar.


“Diam ya,” ujar Abash sebelum menutup pintu kamar itu kembali.


Suara bel terus berbunyi, Abash pun bergegas membuka pintu apartemennya itu.


“Ma,” sapa Abash sambil menghela napasnya dengan pelan.


“Kamu kenapa? Kok kayak habis lari maraton, sih?” tanya Mama Kesya dan masuk ke dalam apartemen Abash.


“Oh, itu. Engg .. Abash lagi dari kamar mandi, trus lari-lari deh ke sini buat bukain pintu,” ujar Abash berbohong.

__ADS_1


Mama Kesya membalikkan tubuhnya, kemudian memperhatikana wajah sang putra yang terluka.


“Ini kenapa?” tanya Mama Kesya sambil membelai pelan memar yang ada di wajah Abash.


“Eng .. ini, itu .. eng .. jatuh dari kamar mandi. Ya, Abash jatuh dari kamar mandi,” bohongnya lagi.


Mama Kesya menatap putranya itu dengan mata menyipit. “Beneran jatuh dari kamar mandi? Bukannya habis berkelahi?” tanya Mama Kesya.


“Iya, Ma, beneran, awww ..” ringin Abash di saat Mama Kesya menekan kuat memar yang ada di wajah Abash.


“Mama gak suka ya, kalau anak Mama berbohong dengan Mama,” kesal Mama Kesya dan mencebikkan bibirnya. Mama Kesya pun berjalan menuju dapur dengan membawa paper bag yang ada di tangannya sedari tadi.


Mama Kesya pun meletakkan paper bag tersebut ke atas meja, kemudian dia sedikit terkejut di saat Abash memeluknya dari belakang.


“Maafin, Abash ya, Ma,” lirih Abash di balik punggung Mama Kesya.


Mama Kesya mengusap punggung tangan sang putra, kemudian dia membalikkan tubuhnya dan melihat wajah anak laki-lakinya.


“Sekarang jujur deh sama Mama, ini kenapa?” tanya Mama Kesya sambil mengusap lembut wajah Abash yang memar.


“Abash memukul seseorang, Ma. Dia menghina Sifa tepat di depan Abash,” lirih Abash.


Abash pun akhirnya bercerita tentang kejadian di mana Sifa di hina oleh pria bertato, hingga berakhir dirinya memukul pria itu.


“Tunggu, Sifa ngapain pagi-pagi ada di apartemen kamu?” tanya Mama Kesya yang mana membuat Abash mengerjapkan matanya.


“Oh, itu .. Ah, dia pinjam buku cooding sama Abash,” ujar Abash cepat.


Mama Kesya menyipitkan matanya menatap sang putra. “Abash lagi gak bohong, kan?” tanya Mama Kesya.


“Enggak dong, Ma. Cukup tadi aja Abash berbohong,” ujar Abash dengan tersenyum lembut.


“Hmm, baiklah. Oh ya, tadi Mama beliin kamu makanan, rencana sih mau antarin makanan ke kantor kamu. Tapi, kata Pak satpam, kamu gak masuk hari ini, makanya Mama bawa ke sini. Kita makan yuk, udah agak dingin ini


lauknya,” ajak Mama Kesya.


“Hah? Ah, ya. Iya, Ma,” jawab Abash gugup dan menoleh ke arah pintu kamarnya.


Di dalam kamar, Sifa memeluk perutnya yang terasa lapar. Akan tetapi gadis itu tak tahu harus mengganjal perutnya itu dengan apa.


“Duuh, masih lama gak ya, Tante Kesya? lirih Sifa sambil memeluk perutnya yang terasa lapar.

__ADS_1


__ADS_2