
Sudah seminggu berlalu semenjak kejadian pengancaman pada mobil Abash. Seharusnya hari ini pria itu mengadakan familly gathering bersama dengan karyawan kantornya. Tetapi, demi keselamatan Sifa dan Putri yang juga ikut bergabung dalam acara tersebut, pria itu pun mengundurkan jadwal tersebutacra family gathering sampai pada waktu yang tidak bisa di tentukan.
Banyak yang kecewa dan bertanya-tanya tentang keputusan pria itu membatalkan acara family gathering, secara Abash tidak terlihat sedang berada di luar kota atau pun luar negeri. Pria itu masih terlihat mondar mandir di perusahaannya.
"Fa, kamu kira-kira tau gak sih? Kenapa acara familly gathering di batalin?" tanya Kak Uli.
"Sifa juga gak tau, Kak," jawab gadis itu yang juga merasa bingung dengan keputusan sang kekasih secara mendadak.
Lagi pula, sudah seminggu ini juga dia tidak bertemu dengan Abash. Bahkan untuk berkomunikasi melalui ponsel pun juga tidak. Abash benar-benar menjaga jarak dengannya.
"Hmm, gak biasa-biasanya sih di batalin mendadak gini. Tahun lalu, saat Pak Abash pergi ke luar negeri aja, acara family gathering tetap berjalan sesuai jadwal," ujar Kak Uli memberitahu.
Sifa terlihat berpikir, gadis itu juga tidak mengetahui pastinya apa alasan Abash membatalkan acara liburan tersebut. Apa karena ancaman itu?
"Hai?" sapa Amel yang sudah bergabung dengan Sifa dan Kak Uli di kantin.
"Hai, Mel," sahut Kak Uli dengan ramah.
Ya, mereka sudah saling mengenal satu sama lainnya. Sehingga membuat Amel pun tidak merasa canggung untuk bergabung bersama Sifa dan teman-temannya. Padahal, teman seruangan gadis itu juga ramah dan baik kepadanya.
Tapi, jika Amel tidak mengambil kesempatan ini untuk mendekati Sifa, maka gadis itu tidak bisa mencari tahu tentang Abash.
"Fa, aku bawain gado-gado kesukaan kamu," ujar Amel sambil memberikan bekal yang dia bawa kepada Sifa.
"Makasih, Mel." Sifa pun mengambil bekal yang diberikan oleh sahabatnya itu. Gadis itu pun membuka tutupnya dan langsung di sambut dengan aroma kacang yang sangat nikmat sekali dan mengunggah selera makannya.
"Mel, kamu ini benar-benar teman yang baik, ya," puji Kak Uli dengan tersenyum.
Amel pun hanya tersenyum sambil mengusap tengkuknya.
"Gak kok, Kak. Amel hanya teringat dengan Sifa aja yang gak makan nasi. Makanya Amel belikan ini buat dia, sekalian Amel juga lagi kepingin makan gado-gado," ujar Amel. "Kakak mau rasa?" tawar gadis itu sambil menyodorkan gado-gado miliknya yang diangguki oleh Kak Uli.
"Boleh." Kak Uli pun mencoba gado-gado yang ditawarkan oleh Amel, wanita itu pun langsung membulatkan matanya di saat merasakan betapa enaknya gado-gado yang dibawa oleh sahabat dari Sifa.
"Gimana kalau kita campur aja gado-gadonya? Biar banyak," usul Sifa yang diangguki oleh Amel dan juga Kak Uli.
Sifa pun menggabungkan gado-gado miliknya dengan milik Amel, kemudian mengaduknya hingga tercampur menjadi satu.
"Silakan makan!" seru Sifa dan di sambut tawa oleh Amel dan Kak Uli.
Mereka pun menikmati makan siang hari ini dengan penuh tawa dan canda.
Abash sengaja melewati kantin, hanya untuk melihat pujaan hatinya itu. Ada rasa lega di saat melihat Sifa masih bisa tertawa bersama teman-temannya.
"Pak," sapa Didi yang membuyarkan lamunan Abash.
"Ayo," ajak pria itu untuk menuju cafe yang sudah dia reservasi untuk bertemu dengan seseorang.
*
Absah dan Arash pun memicit pangkal hidungnya secara serentak, pria yang mencoret-coret mobil Abash sudah temukan, tetapi dalam keadaan tidak bernyawa.
"Apa segampang itu mengorbankan nyawa untuk orang lain?" lirih Arash tak habis pikir.
"Selidiki seluruh keluarganya," titah Arash kepada anak buahnya.
"Apa Kak Martin sudah memberikan kabar?" tanya Abash kepada sang kembaran.
"Ya, hari ini gue sudah membuat janji temu dengan Kak Martin. Lo mau ikut?" ajak Arash.
__ADS_1
"Jam berapa?"
"Ntar malam. Sekalian makan malam," jawab Arash.
"Oke, kabari aja di mana tempatnya."
Abash dan Arash pun berpisah, mereka menuju ketempat masing-masing.
Arash melajukan mobilnya menuju ke tempat kerja Putri. Pria itu sudah seminggu ini menjadi supir pribadai dan mengantar jemput gadis itu.
Arash menoleh ke arah jam tangan mewahnya, sudah sepuluh menit dia tiba di parkiran firma, tetapi Putri belum juga muncul.
Tok ... Tok ... Tok ...
Lamunan Arash pun buyar, pria itu pun membuka kunci pintu mobil untuk mempersilakan Putri masuk.
"Maaf ya, menunggu lama," ujar Putri saat sudah masuk ke dalam mobil.
"Gak papa," jawab Arash dengan tersenyum.
"Oh ya, mobil aku gimana? Apa sudah selesai di benarin? Aku merasa gak enak kalau harus terus-menerus di antar jemput sama kamu," ujar Putri merasa tak enak.
"Gak papa. Selagi aku bisa, ya aku bantu."
"Tapi---,"
"Kamu mau makan bakso, gak? Di sekitar sini ada bakso yang sangat enak sekali," ujar Arash memberitahu.
"Benarkah?" seru Putri dengan mata yang berbinar.
Dugaan Abash benar, ternyata semua perempuan itu sama. Jika sudah mendengar nama bakso, pasti segalanya akan lupa.
"Huum, kamu mau?" tawar Arash.
Arash pun melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, menuju rumah makan bakso yang dia katakan tadi.
"Ayo turun," ajak Arash saat mereka sudah berada di parkiran.
"Iya." Putri pun membuka seat bell-nya dan turun berbarengan dengan Arash.
"Kamu sering ke sini?" tanya Putri saat mereka sedang berjalan masuk ke dalam warung bakso.
"Tidak juga, tetapi di sini cukup terkenal baksonya," ujar Arash memberitahu.
Putri pun menganggukkan kepalanya. Mereka berdua pun memilih untuk duduk di meja yang berada di dekat dinding.
"Pesan apa, Mas?" tanya pelayan.
"Baksonya dua, minumnya?" Arash melihat ke arah Putri dan bertanya apa yang ingin di minum oleh gadis itu.
"Jeruk dingin aja, sama air hangat," ujar putri dengan tersenyum.
"Oke, jeruk dinginnya dua, air hangatnya dua." Arash menyebutkan pesanan dirinya dan juga Putri.
"Baik, di tunggu sebentar ya."
Putri melihat kesekelilingnya, tempat ini lumayan ramai, banyak muda-mudi yang berdatangan. Bahkan ada yang berpasangan juga.
Arash terus memperhatikan wajah Putri, entah mengapa, seminggu tinggal bersama gadis itu membuat dirinya merasa ada sesuatu yang aneh.
__ADS_1
Di tambah lagi, Putri cukup bisa di andalkan untuk urusan dapur. Setiap pagi gadis itu selalu membuat sarapan dengan Desi. Ya, mereka terlihat sangat akrab dan tidak ada rasa canggung diantara mereka berdua.
"Kamu biasanya ke sini sama siapa?" tanya Putri.
"Naya," jawab Arash yang masih memandang wajah cantik gadis yang ada di hadapannya saat ini.
Entah mengapa, dia sulit sekali mengalihkan perhatiannya dari wajah Putri.
"Dokter Naya?" ulang Putri memastikan pendengarannya.
"Iya."
Putri pun menganggukan kepalanya, kemudian dia menoleh ke arah lain.
"Eh, itu bukannya Sifa, ya?" tanya Putri sambil menunjuk ke arah orang yang baru saja masuk ke dalam gerai bakso.
Padahal tempat ini bisa di katakan cukup jauh dari kantor Abash. Sungguh kebetulan yang sangat langka sekali, bisa bertemu dengan Sifa di sini.
Arash pun menoleh ke arah yang di tunjuk oleh Putri.
"Iya, itu Sifa," ujar Arash dengan tersenyum lebar.
Arash pun berdiri dan menghampiri gadis itu.
"Eh, kamu mau ke mana?" tegur Putri, tetapi Arash mengabaikan panggilannya.
"Sifa," sapa Arash yang mana membuat gadis itu sedikit terkejut.
"Pak Arash?" lirih Sifa dengan terkejut.
Tak hanya Sifa, Kak Uli, Bimo, dan Afgan pun juga ikut terkejut melihat siapa yang menghampiri Sifa. Mereka pun berpikir jika pria yang ada di hadapan mereka saat ini adalah Abash.
Tetapi, kenapa bosnya sangat berbeda hari ini? Terlihat lebih ramah dan murah tersenyum.
Berbeda dengan Amel yang cukup melihat celana dan sepatu yang di kenakan oleh pria itu, dia sudah bisa menebak jika itu adalah Arash.
"Kalian mau makan bakso juga?" tanya Arash dengan tersenyum lebar.
Kapan lagi dia bisa makan bersama pujaan hatinya lagi, kan? Mengingat jika dirinya akhir-akhir ini harus menjaga Putri. Ya, entah sampai kapan dia harus menjaga Putri. Pria itu berharap, jika semua masalah ini pun bisa cepat selesai.
"Iya, Mas. Mas sama siapa ke sini?" tanya Sifa dengan gugup.
Sebenarnya dia tak ingin jika teman-temannya tahu, kalau dirinya mengenal keluarga bos mereka. Akan tetapi, dengan Arash yang menegurnya seperti ini, bukankah itu menimbulkan tanda tanya di kepala teman-temannya?
Sepertinya Sifa harus menacari alasan yang tepat untuk menjawab pertanyaan teman-temannya saat ini.
"Sama Putri," jawab Arash sambil menunjuk ke arah Putri yang sudah tersenyum dari jauh kepada Sifa.
"Ah ya, kalian mau makan bakso, bagaimana kalau kita satu meja saja? Biar saya yang traktir," tawar Arash.
Kak Uli pun bergeser untuk menekati Sifa.
"Fa, dia siapa?" bisik Kak Uli yang merasa bingung, karena pria yang ada di hadapannya saat ini sangat berbeda sekali dengan bos mereka. Ya, walaupun wajahnya terlihat sama, tetapi karakter mereka sangatlah berbeda.
"Oh, i-ini?"
"Ah ya, perkenalkan, nama saya Arash," ujar Arash sambil mengulurkan tangannya kepada kak Uli.
"Jangan bilang kalau Anda kembarannya Pak Abash?" tebak Kak Uli yang mana di jawab anggukan oleh Arash.
__ADS_1
Dan, bisa Sifa tebak. Cukup melihat dari wajah teman-temannya saja, dia sudah bisa menebak jika saat ini pasti mereka sedang berpikir, dirinya memiliki hubungan apa dengan Abash, sehingga sampai bisa mengenal kembaran bos mereka.
Sifa harus mencari beberapa jawaban dari beberapa pertanyaan yang kemungkinan akan di tanyakan oleh teman-temannya, kan?