
“Putri, Arash?”
Mendengar suara wanita paruh baya yang lembut dan menenangkan, membuat Putri dan Arash menoleh ek arah sumber suara dan berdiri.
“Ma,” sapa Arash.
“Tante,” sapa Putri.
“Kenapa kalian malah duduk di luar dan mengobrol? Kenapa gak masuk aja?” tanya Mama Kesya.
“Oh, keasyikan ngobrol, Tante,” kekeh Putri yang mana membuat Mama Kesya pun ikut tertawa.
“Ada-ada aja kalian ini.”
“Ah ya, Tante gimana kabarnya? Putri dengan Tante sempat di rawat di rumah sakit?” tanya Putri merasa khawatir.
“Tante baik-baik aja kok,” jawab Mama Kesya. “Ini past Arash yang bilang, kan?” ujar Mama Kesya yang mana membuat Putri menganggukan kepalanya.
“Ah ya, ini buat Tante,” ujar Putri sambil memberikan buket bunga anyelir kepada Mama kesya.
Tunggu … Kenapa buket itu di berikan kepada Mama Kesya? Bukannya buket itu di berikan untuk Abash?
Arash pun mengernyitkan keningnya di saat Putri memberikan buket bunga itu kepada Mama Kesya.
“Loh, kok untuk Tante?” tanya Mama Kesya.
“Iya, Tante. Putri ke sini karena memang ingin melihat keadaan Tante aja kok,” ujar Putri dengan tersenyum.
“Oh begitu, kirain kamu mau jenguk Abash,” kekeh Mama Kesya.
“Sekalian, Tante,” jawab Putri.
“Hmm, ya sudah kalau begitu, ayo masuk,” ajak Mama Kesya yang sudah merangkul bahu Putri.
“Iya, Tante.”
Dua wanita yang berbeda generasi itu pun berjalan bersama dan masuk ke dalam ruang inap Abash. Arash yang masih di luar pun hanya memandang kepergian dua wanita itu dengan kening yang mengkerut.
“Apa aku telah salah menilai?” lirihnya bingung. “Jadi bunga itu buat Mama? Bukan buat Abash?”
Arash pun terkekeh pelan sambil menggelengkan kepalanya. Ternyata dia salah menilai tentang buket bunga itu. Ya, wajar saja jika Putri memilih bunga Anyelir untuk menunjukkan rasa kagumnya kepada Mama Kesya.
Dalam lubuk hati Arash yang paling dalam, pria itu merasa lega yang luar biasa.
“Tunggu, perasaan apa ini? Kenapa aku merasa senang karena Putri memberikan bunga itu untuk Mama? Bukan untuk Abash?” lirihnya pelan dengan kening yang mengkerut.
*
Di dalam ruang inap,
Abash menoleh ke arah pintu yang terbuka, di mana muncullah Mama Kesya dengan Putri yang sedang berbincang. Entah apa yang mereka bicarakan, sehingga membuat Mama Kesya terlihat tersenyum bahagia.
Abash menghela napasnya pelan, dia padahal berharap jika yang datang adalah sang kekasih.
Tapi, kenapa Sifa juga belum datang? Apa gadis itu tidak tahu jika dirinya masuk rumah sakit?
__ADS_1
Tidak, Sifa tahu kok jika Abash masuk rumah sakit, secara Didi mengatakan jika semalam dirinya membawa Sifa ke rumah sakit untuk melihat keadaan pria itu.
Lalu? Di mana Sifa sekarang? Kenapa belum datang juga?
Abash meraih ponselnya, pria itu pun tidak mendapatkan satu pesan pun dari sang kekasih.
“Sifa? Kamu kenapa? Apa kamu tidak khawatir dengan keadaan aku saat ini?” batin Abash sambil menghela napasnya pelan.
“Ada apa, Bash?” tanya Mama Kesya yang kedapatan melihat sang anak menghela napasnya, seolah sedang memikirkan sesuatu.
“Hah? Oh, gak kenapa-napa kok, Ma,” jawab Abash yang mana membuat Mama Kesya menganggukkan kepalanya.
“Put, kamu duduk sini dulu, ya. Tante ke kamar mandi dulu,” pamit Mama Kesya.
“Iya, Tante,” jawab Putri dengan tersenyum tipis.
Sebenarnya gadis itu berharap ada orang lain di ruangan ini, sehingga tidak membuat siapa pun yang melihat dirinya berdua dengan Abash, berpikiran negatif. Cukup sekali kesalahpahaman yang terjadi, jangan sampai ada yang kedua kalinya.
“Bagaimana keadaan Anda?” tanya Putri untuk sekedar basa basi dan memecahkan suasana.
“Baik, Anda?” tanya Abash balik.
Putri menghela napasnya dengan berat. “Tidak baik,” jawab Putri dengan sendu, sehingga membuat Abash menegakkan punggung dan menatap Putri dengan lekat.
“Apa ada yang terjadi sesuatu kepada Anda?” tanya Abash merasa khawatir. “Apa Yosi juga mengancam Anda?” tanya Abash lagi dengan suara yang lebih pelan dari sebelumnya.
Belum lagi Putri menjawab, Mama Kesya pun keluar dari kamar mandi.
“Huff, leganya,” lirih Mama Kesya dengan tersenyum.
“Gak tau, Tante, kayaknya masih di luar deh,” jawab Putri.
“Hmm, ya sudah kalau gitu. Biarin aja dia di luar, ntar juga masuk sendiri.”
Mama Kesya pun berjalan menghampiri sang anak. “Gimana sayang? Apa masih terasa pusing?” tanya Mama Kesya kepada sang putra.
“Gak lagi, Ma,” jawab Abash.
“Kamu mau apa? Mau apel? Biar mama kupasin apelnya,” tawar Mama Kesya.
“Boleh, Ma,” jawab Abash.
Mama Kesya pun mengambil satu buah apel dan mengupas kulitnya.
“Abash ini kalau sakit manja banget tau, Put,” ujar Mama Kesya yang mana membuat Putri hanya tersenyum kecil.
“Tapi kalau lagi gak sakit? Duh, susah banget kalau di suruh pulang,” kekeh Mama Kesya. “Tapi untungnya dia masih mau pulang seminggu sekali dan menginap di rumah,” ujar Mama Kesya.
“Kalau Arash, Tante?” tanya Putri yang lebih tertarik dengan kembaran partner kerjanya itu.
“Kalau Arash sih dulu sering pulang. Cuma sesekali aja nginap di apartemennya. Apartemen yang satu gedung sama kamu,” ujar Mama Kesya yang mana memang tidak mengetahui jika Putri dan Arash saat ini tinggal bersama.
“Tapi, akhir-akhir ini dia udah jarang pulang. Padahal kan lagi gak dinas malam,” lirih Mama Kesya seolah sedang memprotes anaknya itu.
Putri hanya melirik ke arah Abash, kemudian dia kembali mengalihkan perhatiannya kepada Mama Kesya.
__ADS_1
“Mereka ini kembar, tapi sifatnya itu beda banget. Satu kulkas tiga pintu, satu lagi penghangat ruangan,” kekeh Mama Kesya di saat mengingat bagaimana berbanding terbaliknya sifat Abash dan Arash. Sangat berbeda dengan sifat Veer dan Quin yang juga kembar.
Veer dan Quin memiliki sifat yang hampir sama. Hanya saja, Quin lebih malas bergabung di dunia bisnis dan lebih suka mengelola toko kue Mama Kesya. Kalau soal keramahan, mereka berdua sangat ramah kepada siapa saja. Bahkan tidak gengsi untuk makan di pinggir jalan.
Berbeda sekali dengan Abash dan Shaka. Nah, kalau dua anak Mama Kesya itu, mereka memiliki sifat yang sama walaupun mereka tidak terlahir kembar. Bahkan, sifat Shaka terkesan lebih dingin dan cuek dari Abash. Lebih mirip dengan Kakek Farel. Sedangkan Abash, sifatnya lebih mirip dengan Papa Arka, yang mana hanya terlihat dingin pada orang yang tak kenal, tetapi terasa hangat di dalam keluarganya.
Ponsel Mama Kesya pun tiba-tiba berdering, hingga membuat Mama Kesya menghentikan pergerakannya dalam mengupas kulit apel.
“Assalamualaikum,” sapa Mama Kesya kepada orang yang berada di seberang panggilan.
“Waalaikumsalam, Ma, Kakek masuk rumah sakit, ini,” ujar Naya yang menghubungi Mama Kesya.
“Ya sudah, Mama ke situ sekarang.” Mama Kesya pun meminta tolong kepada Putri untuk menyelesaikan mengupas buah apelnya.
“Mama lihat keadaan kakek dulu, ya,” pamit Mama Kesya kepada Abash dan Putri.
Setelah kepergian Mama Kesya, tinggallah Putri dan Abash di ruangan itu.
Putri pun berpindah duduk menjadi ke samping brankar Abash, karena gadis itu akan menggantikan Mama Kesya untuk mengupas kulit apel.
“Apa yang terjadi, Put? Apa Yosi mengancam Anda?” tanya Abash merasa khawatir.
Putri menghela napasnya pelan, gadis itu pun menghentikan pergerakannya yang sedang mengupas kulit apel.
“Kemarin, saat Anda menangis dan memeluk saya,” lirih Putri dengan pelan, sehingga membuat Abash memasang telinganya baik-baik.
“Sifa melihat kita sedang berpelukan,” ujar Putri menyelesaikan kalimatnya.
“Astaghfirullah!” lirih Abash sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
“Lalu, apa Anda menjelaskan hal yang sebenarnya kepada dia?” tanya Abash
“Saya sudah berusaha ingin menjelaskannya kepada Sifa, tapi—.” Lagi, Putri menghela napasnya dengan lebih berat kali ini.
“Ada apa, Put? Apa yang terjadi?” tanya Abash semakin merasa penasaran.
“Sifa salah paham, dia bahkan tidak ingin mendengarkan penjelasan saya dan juga menuduh kalau kita—.” Putri menggantung kembali ucapannya, sehingga membuat Abash geram dan tak sabar ingin tahu apa yang di ucapkan oleh Sifa.
“Menuduh kita apa, Put? Cepat katakan. Jangan bikin saya penasaran,” mohon Abash dengan menggeram pelan.
“Putri menuduh kita berciuman saat di Bandung,” ujar Putri sambil memejamkan matanya.
“Apa?”
Abash kembali mengusap wajahnya dengan kasar, hingga pria itu kembali merasakan nyeri kepada kepalanya.
“Akkh … “ ringis Abash sambil memegangi kepalanya yang tiba-tiba saja berdenyit.
Putri pun bangkit dari duduknya dan mendekati Abash.
“Maaf, seharusnya saya tidak mengatakan hal ini kepada Anda. Tapi, saya juga tidak bisa menjelaskan apa pun kepada Sifa. Hanya Anda yang bisa meluruskan semua kesalahpahaman ini kepada Sifa. Hanya Anda, Pak Abash,” ujar Putri dengan tatapan memohon.
“Akkkh …” ringis Abash lagi sambil memegangi kepalanya yang berdenyut.
“Sebaiknya Anda berbaring,” titah Putri dan membantu Abash untuk berbaring, tanpa mereka sadari lagi jika ada seseorang yang melihat dari luar ruangan.
__ADS_1