Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 221 - I Love You, Mas Abash


__ADS_3

Putri dan Arash sudah tiba di apartemen Sifa. Mereka sudah menekan bel berkali-kali, tetapi pintu apartemen itu tetap tidak terbuka.


"Apa Sifa belum pulang?" tanya Putri kepada Arash.


"Aku punya nomor ponselnya, bagaimana kalau kita menghubungi dia saja?" usul Arash yang mana membuat Putri membuka mulutnya.


"Kenapa kamu gak bilang dari tadi?" tanya Putri.


"Kamu gak tanya," jawab Arash dengan wajahnya yang polos.


"Ya ampun, Arash," lirih Putri pelan sambil menghela napasnya pelan.


"Oke, coba kamu hubungi Sifa, tanya di mana dia sekarang," pinta Putri kepada Arash.


Arash pun meraih ponselnya dan menghubungi gadis yang sudah mencuri hati pria itu.


*


"Mas, lepasin, dong!" mohon Sifa kepada Abash dengan suara yang lembut.


Pria dewasa yang saat ini sedang ingin di manja oleh sang kekasih pun, sedari tadi tidak melepaskan genggaman tangannya. Semenjak dia mengumumkan kepada Papa Arka, Mama Kesya, Dokter Lucas, Veer, dan saudaranya yang lain, yang berada di rumah sakit tentang hubungannya dengan Sifa, membuat pria itu tanpa segan-segan menunjukkan kemesraan dan perasaannya.


"Kamu jangan pergi kerja, di sini aja temani aku," pinta Abash dengan manja.


"Ih, Mas, nanti kalau aku gak kerja, bos aku marah lo," ujar Sifa.


"Siapa yang berani marahi kamu? Sini biar aku sentil ginjalnya." candaan yang di berikan oleh Abash pun, membuat Sifa tertawa bahagia.


"Kamu bosnya," jawab Sifa sambil terkekeh. "Hayoo, gimana caranya kamu sentil ginjal kamu?" ledek Sifa.


"Kalau aku bosnya, berarti kamu gak perlu kerja. Aku berikan hak istimewa untuk kekasih hatiku, di mana dia boleh bekerja dan libur sesuka hatinya," ujar Abash yang mana membuat Sifa melototkan matanya.


"Mana bisa gitu, Mas. Itu namanya aku dan kamu gak profesional, dong," tolak Sifa.


"Gitu ya? Jadi gimana dong supaya kamu bisa tetap berada di sini temani aku?" tanya Abash dengan manja.


"Aku pergi kerja dulu, ya. Nanti sore aku ke sini lagi," mohon Sifa.


"Nginap di sini lagi, ya?" pinta Abash.


"Ih, jangan dong. Gak enak sama Tante Kesya," tolak Sifa.


"Biar enak gimana?" tanya Abash dengan tatapan menggoda.

__ADS_1


"Ya gak gimana-gimana."


"Aku tau cara biar enak kamu tidur di satu ruangan sama ku," ujar Abash yang mana membuat Sifa mengernyitkan keningnya.


"Gimanca caranya?" tanya Sifa penasaran.


"Nikah yuuk," ajak Abash yang mana lagi-lagi membuat wajah Sifa pun merona.


Pintu ruangan Abash pun terbuka, di mana menampilkan Mama Kesya dan Naya yang datang bersamaan. Sifa pun berusaha untuk melepaskan tangannya dari Abash, tetapi pria itu malah sengaja semakin menggenggam tangan sang kekasih denga erat.


"Mas," tegur Sifa merasa tak enak dengan Mama Kesya.


"Duh, yang baru jadian," goda Naya sambil melirik ke arah tangan Sifa dan Abash.


"Siapa bilang kami baru pacaran?" tanya Abash yang mana membuat wajah Sifa semakin merona.


"Iya deh, yang pacarannya diem-diem," goda Naya lagi. "Sampai tangan pun gak bisa lepas," kekehnya.


"Namanya juga baru baikan, masih kangen tau," cibir Arash.


"Tapi gak gitu juga, Bash. Masa ada Mama kamu begitu sih? Belum muhrim tau. Atau jangan-jangan kalian?" tebak Mama Kesya sambil menggantung ucapannya.


Abash pun menyengir kuda dan melepaskan genggaman tangannya dari sang kekasih.


"Abash? Kalian belum pernah melakukanya kan?" tanya Mama Kesya penuh selidik.


"Astaghfirullah, Ma. Abash masih ingat dosa, ya," ujar Abash sambil mengerucutkan bibirnya.


"Kalau masih ingat dosa, kenapa gak di resmikan aja hubungannya?" tanya Mama Kesya sambil menatap ke arah Sifa dan Abash bergantian.


"Kalau Abash sih mau-mau aja, Ma. Tapi nih, Sifa, masih belum siap katanya," ujar Abash sambail menunjuk ke arah sang kekasih dengan bibir manyunnya.


Sifa yang sudah merasa malu dan menundukkan kepalanya pun, tak berani memandang ke arah Mama Kesya.


"Kenapa, Sifa? Kok belum siap?" tanya Mama Kesya yang sudah menangkup wajah Sifa dan mengangkat wajah gadis itu untuk menatap ke arahnya.


"I-itu ----." Sifa pun menggigit bibirnya. Gadis itu merasa bingung harus menjawab apa dan bagaimana menjelaskannya.


"Jangan di jawab kalau kamu belum siap," ujar Mama Kesya sambil mengusap lembut pipi calon menantunya itu.


"Mama cuma mau ingatin sama kalian, untuk tidak melewati batas. Ingat, seorang pria yang berwibawa dan baik tidak pernah mencoba untuk menodai seorang wanita," ujar Mama Kesya kepada Abash. "Walaupun itu atas dasar cinta sama-sama cinta," sambungnya lagi.


"Iya, Ma. Abash janji, Abash akan menjaga Sifa dan menjaga kehormatannya."

__ADS_1


"Bagus, itu baru anak Mama. Mama harap kamu tidak mengingkari janji, ya," ujar Mama Kesya sambil mengusap lembut pipi Abash.


"Aah ya, kamu gak pergi kerja, Sifa?" tanya Mama Kesya.


"Sifa libur, Ma," jawab Abash dengan cepat, sehingga membuat sang kekasih menoleh ke arahnya.


"Bagus deh kalau kamu libur, Sifa. Jadi, tolong temani Abash di sini, ya. Soalnya Mama gak bisa temani Abash. Mama harus lihat keadaan kakek dan memastikan keadaan oma," ujar Mama Kesya.


"Iya, Ma. Mama tenang aja, Sifa bakal rawat Abash kok. Ya kan sayang?" ujar Abash kepada sang kekasih, yang mana membuat Sifa menatap bingung kepadanya.


"Mama jangan mikirin Abash, Sifa di sini untuk merawat Abash," tegas pria itu lagi sambil tersenyum kepada sang kekasih.


"Syukurlah kalau begitu. Mama rasanya lega sekali," ujar Mama Kesya sambil menghela napasnya dengan pelan.


"Ah ya, Arash belum ke sini lagi?" tanya Mama Kesya memastikan.


"Belum, Ma. Mungkin dia sibuk," jawab Abash.


Ya, dari seluruh keluarganya yang ada di rumah sakit, hanya Arash yang belum tau tentang hubungan SIfa dan Abash. Pria itu sengaja mengatakan kepada semua orang, untuk tidak memberitahu kan kabar tersebut kepada sang kembaran, karena Abash ingin memberitahunya sendiri.


Maka dari itu, dari semua keluarga Moza, hanya Arash lah yang belum mengetahui hubungan Sifa dan juga Abash.


Tapi, di mana pria itu? Kenapa pesan yang di kirimkan oleh Abash tidak di balas olehnya? Tanpa Abash ketahui, jika kembarannya sedang memikirkan tentang Putri. Bahkan pria itu sampai menggerutu kesal karena Putri tidak membalas pesannya.


Mama Kesya dan Naya pun sudah kembali ke ruangan Kakek Farel, sehingga menyisakan Sifa dan Abash kembali di ruangan tersebut.


"Aku mandi dulu, ya!" pamit Sifa kepada Abash.


Untungnya Naya membawa lebih dari sepasang baju untuk Sifa. Jadi, gadis itu bisa mengganti pakaiannya dengan yang lebih bersih.


"Jangan lama-lama, aku takut kamu rindu," ujar Abash mencoba menggombal.


"Kamu gak cocok jadi Dilan," kekeh Sifa yang sudah memeluk pakaian gantinya.


"Jadi, cocoknya jadi siapa?" tanya Abash.


"Jadi Mas Abash. Karena kamu gak akan pernah bisa di gantikan oleh yang lain. Bahkan gak akan ada bisa pria seperti kamu di dunia ini. Dingin, ak ada ekspresi, pelit senyum, cuek, tetapi kenyataannya sangat hangat. Dan hangatnya cuma sama aku," ujar Sifa sambil mengedipkan matanya sebelah.


"Dan karena sifat kamu itu, membuat aku jatuh cinta sama kamu, I love you, Mas Abash," ujar Sifa sambil berlari ke dalam kamar mandi.


"Sifa, awas kamu ya. Sudah berani menggoda aku dengan kata-kata kamu," pekik Abash sambil tertawa bahagia.


Ah, ternyata begini toh rasanya mengungkapkan perasaan tanpa menyembunyikan nya dari orang lain. Andai saja dari dulu mereka sudah mengumumkan hubungan mereka, mungkin sudah lama pula Abash merasakan rasa bahagia seperti saat ini.

__ADS_1


__ADS_2